16 January 2007

Roy Suryo dan Tikus Bandara Juanda

Saya tinggal di dekat Bandara Juanda Surabaya, yang berlokasi di Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Karena itu, saya sering mendengar cerita seputar penumpang yang kehilangan barang di atas pesawat. Bagasi hilang. Barang-barang berharga lenyap. Maskapainya, ya, itu-itu saja.

“Sulit memberantas tikus Juanda. Wong kerjanya kayak mafia,” kata Syaiful, warga dekat Bandara Juanda. “Sejak kecil, ya, cerita soal penumpang kehilangan bagasi itu sudah ada,” tambah pria kelahiran 1975 itu.

Saat cangkrukan di kedai kopi, malam hari (ini salah satu hobi saya), bisanya orang cerita tentang kehidupan pegawai di bandara yang wah, mewah. Gaji resminya kecil, tapi punya barang-barang mahal. Dari mana uangnya? Siapa yang kasih barang-barang berharga itu? Suara-suara sumbang ini, sayangnya, sulit diverifikasi.

Mirip kentut: baunya jelas tapi wujudnya tak ada.

Kanjeng Raden Mas Tumenggung ROY SURYO NOTODIPROJO adalah pakar teknologi informasi, telematika, terkenal di Indonesia. Pria asal Jogja ini beberapa waktu lalu pun menjadi korban kerakusan ‘tikus-tikus’ di Bandara Juanda.

Kepada saya dan beberapa rekan wartawan, Roy Suryo bercerita bahwa barang-barang berharganya hilang di pesawat Boeing 737-400 milik LION AIR rute Makassar-Surabaya. “Ada tujuh macam yang hilang,” jelas dosen UGM Jogja itu. Apa saja itu?

Sony Handycam DCR-TRV27E (1 kaset miniDV dalam kamera, 2
kaset miniDV baru, 1 battery kamera NP-QM71 terpasang, 1 battery kamera NP-FM50 cadangan, memory stick 64 MB terpasang). HP Nokia 6585. HP Nokia 7650. HP Nokia 6670 masih gres. HT Icom IC-Q7A plus 2 battery NiCd. Digital Voice Recorder merk Cenix type VR-P270 warna gold. Parfum 100 ml merk Calvin Klein Eternity.

Ceritanya, Roy Suryo menjadi pembicara di sosialisasi pemberantasan korupsi di Ambon. Kembali ke Jakarta dengan pesawat LION AIR nomor penerbangan JT-791 via Bandara Hasanuddin, Makassar. Transit 25 menit, Roy dan para penumpang diperintahkan untuk tidak membawa barang-barang kabin ke luar. Maka, Barang-barang, termasuk perangkat telematika Roy, dibiarkan di dalam pesawat LION AIR.

Anehnya, ketika Roy dan penumpang dari Ambon masih transit, pesawat itu diberangkatkan ke Bandara Juanda. "Artinya, barang-barang dalam kabin itu menjadi tidak bertuan," cerita Roy Suryo. Singkat cerita, Roy dan penumpang lain akhirnya bisa tiba di Jakarta dengan pesawat lain milik LION AIR juga. Penumpang resah mengingat barang-barang di kabin lazimnya sangat berharga.

Pukul 19:00 muncul titik terang. Pesawat MD-82 JT-581 membawa barang-barang kabin milik penumpang asal Ambon. "Kecuali tas saya yang berisi barang-barang berharga itu. Penumpang lain mengambil barangnya di lost and found Lion Air Cengkareng," tutur Roy Suryo.

Roy Suryo resah. Kenapa tas BU 22HWX 'Alain-Delon' tidak ikut disusulkan ke Jakarta? Pasti ada apa-apa. "Saya sudah punya feeling tidak enak sejak di Ambon. Makanya, saya juga mengambil gambar-gambar untuk dokumentasi dan bukti," ujar Roy.

Kecurigaan Roy Suryo terbukti. Dia mendapat informasi bahwa tasnya masih nyanthol di Juanda. Pukul 08:00, esoknya, pesawat JT-571 landing di Cengkareng membawa tas yang isinya sudah digerogoti 'tikus' Bandara Juanda.

"Alhamdulillah, pukul 11:00 WIB tikus-tikus bandara akhirnya dibekuk. Barang bukti lengkap," tutur Roy seraya menarik napas panjang.

Kejutan berlanjut. Roy Suryo mengaku sulit percaya karena ternyata 'tikus' bandara ini justru orang dalam LION AIR juga. Namanya BHAKTI IRAWAN (28 tahun), domisili di Jalan Garuda 27 Betro, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. (Sebagai catatan, Bandara Juanda berlokasi di Desa Betro dan Pabean, Kecamatan Sedati.)

Siapa gerangan BHAKTI IRAWAN?

Jangan terkejut: dia kepala bagian bagasi LION AIR di Bandara Juanda. Opo tumon! "Bayangkan, orang yang punya otoritas di maskapai ternyata menjadi tersangka," ujar Roy Suryo seraya geleng-geleng kepala.

‘Untung’, kasus ini menimpa Roy Suryo, orang terkenal sejenis selebriti. Bagaimana kalau orang biasa macam engkau dan saya? Nah, polisi kemudian memberi kesempatan kepada Roy Suryo untuk bertemu BHAKTI IRAWAN. Tikus bandara ini pun tidak berkutik. Ia mengakui semua perbuatannya.

"Anda tahu nggak kalau barang-barang itu sangat penting bagi saya?” sapa Roy Suryo. Nadanya tinggi, tegas. Si 'tikus' cuma mathuk-manthuk.

"Saya minta maaf, Pak. Saya minta maaf. Ampun, Pak!" ujar BHAKTI IRAWAN.

"Kamu jangan minta maaf ke saya. Minta maaf ke Yang di Atas," ujar Roy Suryo.

Kasus serupa menimpa Roy Suryo pada 29 September 2004, juga di LION AIR, nomor penerbangan JT-560. Tas dari Bandara Juanda, waktu itu, tiba di Makassar dalam kondisi terbuka. Dua telepon seluler--Nokia 6225 dan Nokia 3105, berikut kartu Flexy dan kartu Fren--disikat 'tikus' bandara. Waktu itu Roy Suryo sudah melaporkan ke pihak LION AIR, tapi tak ingin ramai-ramai. Kali kedua, rupanya kesabaran Roy Suryo sudah habis.

Moga-moga saja manajemen LION AIR (dan maskapai lain) mau belajar dan mengambil hikmah.

No comments:

Post a Comment