23 January 2007

Romo Yustinus dan Wayang Wahyu


Karena tinggal cukup lama di Jember, Jawa Timur, kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Jember, aktif di paduan suara inti Gereja Katolik, saya kenal dekat dengan Romo YUSTINUS SLAMET RIYADI, O.Carm. Dulu dia pastor paroki di Jember. Sekarang di Curahjati, Banyuwangi. Umat sering menyapa pastor gemuk ini dengan KI BODRONOYO atau ROMO DALANG.

Yustinus memang dalang terkenal, untuk ukuran lokal.

“Sejak seminari, masih frater, dia sudah mendalang. Saya yang antar dia ke mana-mana. Eh, ternyata setelah jadi pastor, malah keterusan,” ujar Romo EKO BUDI SUSILO, Pr., kepala Paroki Aloysius Gonzaga, Surabaya, kepada saya. “Mudah-mudahan saja dia tidak lupa dengan tugas-tugas di parokinya, hehehe.”

Romo Yustinus murah senyum, enak diajak bicara, senang melekan. Sambil melekan (bergadang), dia mendiskusikan ayat-ayat Alkitab bersama umat. Dia hafal ayat, dan saya nilai cenderung text oriented. Ini berbeda dengan pastor-pastor Katolik umumnya yang cenderung kontekstual dalam mengkaji isi kitab suci.

Ayat Matius dirujuk Romo Yustinus ke Kejadian, loncat ke Yesaya, Mazmur, Pengkhotbah, balik ke Korintus, Ibrani, Lukas, kembali ke Matius, putar ke Keluaran... dan seterusnya.

“Kalau caranya begini, kitab suci kita cepat kotor. Dibolak-balik ke sana ke mari,” guyon YOHANES DIDIK, bekas ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jember. Hehehe.. saya dan teman-teman aktivis, dulu, suka geleng-geleng kepala melihat cari Romo Yustinus menelaah Alkitab. Mirip akrobat ayat!

"Saya sejak kecil sudah senang wayang kulit. Enggak tahu persisnya kapan. Tapi, setelah di seminari (Malang), saya lebih aktif lagi,” cerita Romo YUSTINUS SLAMET RIYADI kepada saya.

Biarawan Ordo Karmel (karmelit) ini juga memperlihatkan foto dirinya dengan Ki ANOM SUROTO, dalang kondang. Wajah dan postur mereka mirip. "Kami kebetulan masih ada hubungan famili,” aku Yustinus.

Selain main wayang kulit (laris ditanggap di gereja-gereja se-Jawa Timur), Romo Yustinus memainkan WAYANG WAHYU. Mungkin satu-satunya pedalang wahyu yang masih aktif sampai sekarang. WAYANG WAHYU itu mengambil cerita dari Alkitab, berbeda dengan wayang kulit biasa. Wayang menjadi media pewartaan atawa pekabaran Injil kepada masyarakat, khususnya umat kristiani. Konon, mulai dikembangkan di Indonesia sejak 1960 oleh seorang bruder di Jawa Tengah.

Menurut Yustinus, alias KI BODRONOYO, figur yang dibutuhkan WAYANG WAHYU 150-200 buah. Seluruhnya dipesan pada perajin di Solo. Satu kotak lengkap sekitar Rp 30-40 juta. Yustinus beruntung karena PERKUMPULAN WAYANG WAHYU di Curahjati punya perangkat gamelan cukup lengkap. Yustinus sudah menggelar sekitar 200 kali pergelaran WAYANG WAHYU di Jawa Timur. Masih kalah dengan tanggapan wayang kulit biasa.

Kenapa? “Orang kita belum terbiasa. Biasanya, ya, wayang kulit. Anda saja nggak paham, hehehe,” ujar pastor paroki sekaligus pengelola Gua Maria di Curahjati, Banyuwangi, itu.

Selain jarang digelar (gereja-gereja justru minta wayang kulit biasa), kaderisasi dalang WAYANG WAHYU praktis tidak jalan. Yustinus pun sepi sendiri. Padahal, dia ingin ada jemaat awam (biasa) yang mengembangkan WAYANG WAHYU di Jawa Timur serta Pulau Jawa umumnya. Maklum, sebagai pastor, apalagi kepala paroki, Yustinus dituntut fokus pada reksa pastoral atau penggembalaan umat.

Dus, wayang itu cuma hobi atau sambilan saja. “Jangan semuanya serba pastor, romo. Itu kan pastorsentris,” tegas Yustinus. Kalau terlalu aktif main wayang, sering ke luar paroki, jelas dia bisa disemprit Uskup Malang Mgr. HERMAN JOSEPH SAHADAT PANDOYOPUTRO, O.Carm.

Tapi, ya, memang susah juga mengembangkan WAYANG WAHYU. Alih-alih WAYANG WAHYU, wayang kulit biasa saja sejak 10 tahun terkhir meredup di Jawa. Anak-anak muda lebih suka menikmati band-band populer, artis top, ketimbang seni tradisional. Penguasaan bahasa Jawa anak-anak sekarang pun lemah.

“Nggak gampang memang mengembangkan seni tradisi,” ujar Yustinus, pastor asal Nganjuk.

Khusus WAYANG WAHYU, selain penguasaan teknik-teknik pedalangan klasik, si dalang dituntut punya penguasaan cerita-cerita Alkitab (Bible, Bijbel, Bibel). Harus banyak baca Alkitab. Harus bisa improvisasi. Yustinus mengaku sudah sering melatih beberapa kader, tapi hasilnya tidak banyak. “Mudah-mudahan dalam beberapa tahun mendatang muncul kader-kader baru. Tidak hanya WAYANG WAHYU, tapi juga wayang jenis lain,” kata Yustinus.

Sedikit gambaran tentang adegan WAYANG WAHYU.

Adegan pertama: suasana Kerajaan Surga, bukan Kerajaan Amarta atau Astina. Para malaikat yang dipimpin Michael mengadakan pertemuan untuk membicarakan rencana kedatangan Sang Mesias ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia. Lalu Malaikat Gabriel diutus menyampaikan kabar itu kepada gadis di Nazaret, namanya Maria.

Adegan kedua: suasana neraka. Lusifer, bos iblis, yang mendengar kabar segera lahirnya Sang Penebus, mengerahkan seluruh pasukan iblis untuk menghalanginya.
Adegan ketiga: perang besar antara pasukan roh jahat dan roh baik. Iblis akhirnya dikalahkan oleh pasukan malaikat yang dipimpin Michael.

Adegan ketiga: goro-goro. Kalau wayang biasa tampil punakawan Semar, Gareng, Petruk, Bagong, di sini muncul gembala-gembala wong cilik di padang rumput yang banyak bicara tentang domba-domba kesasar. Ki Dalang Yustinus unjuk kebolehan dengan berbagai ulah dan dagelan yang bebas. Penonton terbahak-bahak.

Adegan selanjutnya: Desa Nazareth, Maria dan Yusuf, Yerusalem, keluarga kudus mengungsi ke Mesir. “Di Alkitab itu banyak sekali kisah yang bisa dimainkan dalam bentuk wayang. Wayang itu kan hanya media saja. Tergantung si dalangnya, kreatif atau tidak,” beber Yustinus.

3 comments:

  1. Hi Bung Lambertus,

    Apa kabar ? Saya baru saja membaca posting anda tentang Wayang Wahyu
    yang dimainkan Pastor Bodronoyo dari Banyuwangi. Saya gak tahu
    ceritanya sampai habis dan menikmati soal pewayangan ini. Tapi satu
    hal sudah pasti, pencarian saya beberapa hari ini mencari Dalang
    Wayang Wahyu yang masif aktif semakin mendekati hasilnya. Minggu lalu
    saya barusan saja contact dengan salah satu Doktor di Cornell,
    menanyakan apakah si dia tahu ttg ini. Yah, jawabannya gak jauh-jauh,
    arek Unej ! He..he.. :)

    Anyway, saya orang Indonesia tinggal di San Francisco, Bay Area.
    Adakah Bung masih berhubungan Romo Yustinus Slamet Riyadi ? Ada kontak
    e-mail-nya di ujung timur Jawa ? Saya sedang puter otak cari cara
    untuk raising fund dgn cara di luar kebiasaan untuk gereja kristen
    indonesia di sini. Artis kristen melulu, bosan dan publiknya cuman
    orang Indonesia. Mungkin Romo Dalang ini bisa membantu. Gimana, mas ?
    Btw, kalo lagi nge-dalang, Pak Romo bisa Bahasa Inggris gak ? Trus,
    satu session Wahyu Wahyu itu berapa lama sih ? Soal, gamelan mungkin
    bisa dicari jalan keluarnya.

    Thanks sebelumnya.

    Peter Phwan

    ReplyDelete
  2. Mas saya mau tanya boleh?
    kapan ruwatan di curah jati lagi ? ada informasi ttg penginapan untuk bermalam? no telepon pastorannya berpa?

    salam

    Ketut

    ReplyDelete
  3. tean paat-hutabarat11:01 PM, December 15, 2009

    dear lambertus, aku surprise liat tentang wayang ini. Saya lagi mengkoreksi nilai anak untuk raport semester. Ditengah kejenuhan saya ketemu blog bung ...dan saya lagi prihatin di gereja kami hiasan natal di payang dengan tokoh perwayangnan mula-mula punakawan lalu pandawa.... karena tidak jelas maunya dan sementara anak sekolah minggu bertanya dan memberi komentar bahwa tahun ini hiasan natal jelek gambar wayang...Saya senang ada jawaban.
    Persoalan bagi saya mengapa para pemuda itu tidak melihat sejarah atau berguru dululah pada Romo Yustinus ternyata untuk membuat karakterk tokoh dari alkitab harus paham betul alkitab...
    Saya dari gereja GPIB jakarta timur... tapi pribadi sya banyak ditempa disekolah katolik. dan ini tidak ada persoalan. Nah apa komentar bung ... penting seklai supaya natal ini tetap semangat dan sukacita... dan saya pengen sekali kontak dgn romo dalang .... Thx and merry christmas.. ( Tean Paat-Hutabarat) email tenahbarat@yahoo.co.id

    ReplyDelete