11 January 2007

Polisi Cepek Jadi Supeltas

Polres Sidoarjo bikin gebrakan menarik. Sejumlah ‘polisi cepek’ yang biasa mengatur lalulintas dengan imbalan sukarela (biasanya Rp 100 alias cepek) ‘ditingkatkan’ statusnya menjadi SUPELTAS, Sukarelawan Pengatur Lalulintas. Kini, Supeltas beraksi tak hanya di Sidoarjo, tapi juga Kota Surabaya.
---------------


MENGENAKAN seragam putih, dengan tulisan SUPELTAS POLRES SIDOARJO, anak-anak muda ini terlihat gagah. Mereka memakai kaos tangan kulit ala polisi lalulintas. Rompi hijau muda. Anak-anak muda ini berdiri di kawasan padat lalulintas.

Sekali bertugas ada lima sampai tujuh orang. Jelas, mereka bukan polisi. Toh, mereka begitu ‘berwibawa’, bisa menghentikan mobil, motor, agar arus lalulintas lancar. “Kalau menghentikan mobil polisi atau tentara sih kita pikir-pikir juga,” ujar Ahmad, SUPELTAS di Jalan Raya Pepelegi, Waru, Sidoarjo, kepada saya.

Kawasan Pepelegi memang salah satu lokasi uji coba Supeltas Polres Sidoarjo. Kebetulan jalan raya di sini sangat padat, macet, khususnya pada jam kerja. Polisi (beneran) rupanya kewalahan, sehingga perlu ada relawan terlatih ala Supeltas.

Yah, para SUPELTAS yang kini berjumlah 92 orang--tersebar di kawasan padat lalulintas--sejatinya mantan-mantan polisi cepek. Daripada menganggur, tidak ada penghasilan, mereka turun ke titik-titik kemacetan untuk mengatur lalulintas. Si pengemudi diharapkan memberi tips, berapa saja. Karena selama ini persennya Rp 100, anak-anak muda ‘kreatif’ ini dijuluki POLISI CEPEK.

Polisi cepek memang cukup membantu, tapi juga sering dianggap bikin gara-gara di jalan. Kalau tipsnya kurang, kata beberapa pengemudi, mereka tak segan-segan mendamprat pengemudi mobil. Masih untung hanya didamprat, polisi cepek (yang nakal) pernah menghantam badan mobil. Celaka!

“Kalau nggak kasih (uang), kita dibiarkan terjebak kemacetan. Yang kasih banyak yang diutamakan,” kata pengemudi yang lain. Akhirnya, polisi cepek sering dilihat sebagai pemeras berkedok pengatur lalulintas.

Keluhan warga ini akhirnya diakomodasi polisi beneran. Menurut AKP KUWADI, kasatlantas Polres Sidoarjo (sekarang mantan), pihaknya ‘merangkul’ para polisi ini sebagai mitra di jalan raya. Apalagi, jumlah polisi sangat terbatas, sementara masalah di jalan raya kian kompleks. “Kami memberikan pelatihan khusus kepada mereka,” jelas Kuwadi.

Materi pelatihan mirip dengan polantas. Bagaimana menghentikan mobil, kapan boleh menghentikan, aba-aba, dan seterusnya. Menghentikan kendaraan, kata Kuwadi, tidak boleh sembarangan. Ada prinsip 1:5. Artinya, satu mobil distop, lima mobil lain harus mengalir. “Pengetahuan teknik semacam itu kita berikan kepada para Supeltas,” tutur Kuwadi.

Yang tak kalah penting, tata krama atau etika para eks polisi cepek itu di jalan raya. Jangan sekali-kali memeras, apalagi menyakiti pengemudi kendaraan bermotor. Kalau diberi uang Rp 100, Rp 500, Rp 1.000 (bahkan lebih), syukur alhamdulillah. Tapi kalau tidak diberi, ya, tidak apa-apa. Menurut Kuwadi, warga memang tidak diwajibkan memberikan tips kepada anak-anak muda Supeltas.

Kebetulan pengusaha mitra Polres Sidoarjo bersedia menyiapkan seragam untuk Supeltas. Maka, di jalan-jalan raya sekarang tampak anak-anak muda berseragam, gaya mirip polisi (tapi bukan polisi), mengatur lalu lintas di kawasan macet Sidoarjo. Kuwadi menegaskan, para SUPELTAS ini warga biasa, bukan polisi, juga tidak digaji sama sekali oleh kepolisian.

“Namanya juga sukarelawan, ya, tidak digaji,” ujar Kuwadi.

Harapan kita, mudah-mudahan kiprah Supeltas di lapangan jauh lebih bagus ketimbang polisi cepek yang banyak dikritik itu. Apalagi, kata Kuwadi, perilaku mereka selalu dikontrol oleh polisi beneran, juga ada pembinaan berkala.

Saat ini sedikitnya ada 15 titik kemacetan yang dijaga Supeltas. Selain Pepelegi (depan Makro dan kantor BAKN), para eks polisi cepek bertugas di Wedoro, Gedangan, hingga Porong. Beberapa kapolsek kabarnya telah mengajukan anak-anak muda (polisi cepek) untuk dilatih AKP Kuwadi dan kawan-kawan di Satlantas Sidoarjo.

“Mereka jangan sekali-kali dikasih seragam loreng-loreng atau yang mirip polisi. Biasanya, sipil itu kalau pakai seragam yang mirip tentara, ulahnya malah lebih parah,” kata AMBROS, pengemudi asal Aloha, Gedangan.

No comments:

Post a Comment