11 January 2007

Peristiwa Gerbong Maut 28 Desember 1947


Thalib Prasodjo (kiri), pelukis top Surabaya, bersama Mas Soehadi (kanan) dalam sebuah sarasehan di Sidoarjo.


DI JAWA TIMUR, PERISTIWA GERBONG MAUT BANYAK DIBICARAKAN ORANG, KHUSUSNYA PADA SAAT HARI-HARI BESAR NASIONAL. APA SEBETULNYA PERISTIWA GERBONG MAUT ITU? MAS SOEHADI (82 TAHUN), PELAKU SEJARAH, MENUTURKAN KESAKSIANNYA KEPADA SAYA DI SIDOARJO.

Oleh Lambertus L. Hurek

MAS SOEHADI, yang tinggal di RT 3/RW 1 Desa Lebo, Kecamatan Sidoarjo, termasuk salah satu dari 100 penumpang 'gerbong maut' dari Bondowoso ke Surabaya pada 28 Desember 1947. Aksi ini merupakan lanjutan dari Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947.
Belanda berusaha memperhalus kekejamannya dengan istilah 'aksi polisionil'.

Dus, tindakan kepolisian untuk menertibkan para pelaku kejahatan. "Kami yang seratus orang itu dicakup, ditawan, dan dimasukkan di tiga gerbong kereta api," kenang pria kelahiran Kediri, 28 April 1923 ini.

Tentara Belanda sangat ngawur. Siapa saja dirazia, khususnya para pemuda yang punya potensi memberontak. Nah, MAS SOEHADI, waktu itu 20-an tahun dan bekerja di kawasan Sukosari, Bondowoso, ikut ditangkap. Di tengah teror mental yang luar biasa, mereka dimasukkan ke dalam TIGA GERBONG.

"Setelah semuanya masuk, pintu gerbong ditutup rapat. Tidak ada penerangan, pengap sekali. Anak-anak, kalian bisa bayangkan apa yang terjadi saat itu," kata MAS SOEHADI.

Eyang SOEHADI menduga, kebijakan mengurung 100 tawanan itu dilakukan untuk menghindari intaian para gerilyawan RI. Sebab, waktu itu gerilyawan tersebar di mana-mana, khususnya di hamparan sawah dekat rel kereta api. Jika ketahuan kalau gerbong itu berisi perjuang RI, hampir pasti gerilyawan tak akan tinggal diam.

"Gerbongnya hanya dibuka sebentar di stasiun, terus tutup lagi," kata ayah tiga anak ini.

Pengapnya udara, akumulasi gas karbondioksida, ditambah desak-desakan yang ekstrem, tak ayal membuat sebagian tawanan meregang nyawa. Satu per satu tawanan, ya, kawan-kawan Eyang Soehadi, meninggal di dalam gerbong. Mati lemas! Sampai di Surabaya--mula-mula di Stasiun Wonokromo, Surabaya, baru diketahui kalau 46 pejuang RI tewas. Dan, Eyang Soehadi termasuk dalam bilangan 54 tawanan yang selamat.

"Saya sendiri heran, kok bisa selamat. Mungkin, takdir saya belum sampai," katanya. Gaya bahasa dan pola pikir pria sepuh ini masih runtut dan sistematis.

Eyang Soehadi dan kawan-kawan kemudian diangkut ke penjara militer di Jalan Bubutan Surabaya. (Penjara bersejarah itu sekarang tak ada lagi.) Dua tahun lamanya, Eyang Soehadi mendekam di dalam penjara tanpa tahu apa kesalahannya, tanpa ada proses pengadilan sedikit pun. Ketahuan kalau 'Aksi Polisional' I itu hanya akal-akalan Belanda untuk merampok kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Menjelang Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, pada 27 November 1949, Eyang Soehadi dan kawan-kawan dibebaskan. "Saya masih ingat, kami dikeluarkan pada tanggal 22 November 1949," tutur Mas Soehadi.



NYARIS MATI LEMAS DALAM KASUS 'GERBONG MAUT' PADA 28 DESEMBER 1947, MAS SOEHADI TAK MENDAPAT APA-APA. TANDA JASA NIHIL. PENGHARGAAN SEBAGAI VETERAN PEJUANG KEMERDEKAAN PUN TAK. TAPI, SOEHADI MERASA BANGGA KARENA DITAKDIRKAN TUHAN MENJADI SALAH SATU PELAKU SEJARAH DI REPUBLIK INI.

"NAK, umur kami-kami ini sudah sedikit. Sebentar lagi juga habis. Mau minta apa lagi?" ujar Soehadi kepada saya.

Bahwa ia selamat, padahal 46 orang pejuang tewas di dalam gerbong karena kehabisan oksigen, sudah menjadi hadiah tersendiri dalam hidupnya. Eyang mengaku peristiwa tragis puluhan tahun silam itu sering muncul di benaknya.

"Kok bisa-bisanya saya selamat? Ini pasti karena kehendak Gusti Allah," kata pria kelahiran Kediri, 28 April 1923 itu.

Kini, generasi '45 macam Eyang Soehadi surut satu per satu. Tugas mengisi kemerdekaan--yang tak kalah berat dibanding merebut kemerdekaan--diteruskan oleh generasi baru. Apakah ia frustrasi melihat bangsa kita yang tidak maju-maju, sarat KKN, rakyatnya menjadi TKI di negara lain?

"Oh, tidak boleh frustrasi. Kalau frustrasi atau kecewa, bisa-bisa kita apatis dan tidak berjuang lagi," tandas pria yang tinggal di Desa Lebo, Kecamatan Sidoarjo, ini dalam nada tinggi.

Menurut dia, ada tiga hal mendesak yang harus diperhatikan oleh para pemimpin bangsa sekarang. Pertama, pengangguran yang semakin meluas. Pemerintah harus bisa menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya agar semua warga negara Indonesia bisa bekerja. Ini paling prinsip, katanya.

Tingkat pengangguran yang tinggi--dan naik terus dari tahun ke tahun--hanya akan menimbulkan kekecewaan dan frustrasi di kalangan anak-anak muda. Buat apa sekolah, jadi sarjana, kalau nanti toh tidak bisa bekerja? Kriminalitas sudah pasti meningkat manakala jumlah penganggur terlalu banyak.

Kedua, pembenahan ekonomi. Mas Soehadi mengaku sangat prihatin karena nilai tukar mata uang kita (rupiah) sangat rendah. Uang Rp 10 ribu, bahkan Rp 100 ribu, sepertinya tak punya harga lagi. Nilainya terus merosot, sementara penghasilan warga tidak banyak meningkat.

Ketiga, pendidikan. Sejelek-jeleknya pemerintahan negara di Eropa atau Amerika, kata Eyang Soehadi, sektor pendidikan sangat diperhatikan. Warganya mendapat pendidikan optimal dengan biaya murah, bahkan gratis. Komersialisasi pendidikan praktis tidak ada di negara maju.

"Kalau tiga hal ini tidak diperhatikan para calon presiden atau pemerintah, sulit bagi kita untuk maju," tandas Soehadi.

Bagaimana dengan korupsi?

"Wah, itu lagi. Korupsi itu yang merusak bangsa kita," pungkasnya.

8 comments:

  1. wah kok nyasar mrene ki? Salam kenal mas.

    ReplyDelete
  2. salut, good story n sangat mencekam. belanda keparat!!!!!

    ReplyDelete
  3. banyak peljaran berharga dr cerita gerbong maut, yakni kemerdekaan itu sangat mahal.

    ReplyDelete
  4. gerbong maut gerbongnya bersejarah...... tapi rel kereta di bondwoso gak pernah dipelihara lagi...padahal itu juga menyimpan sejarah gerbong maut......

    ReplyDelete
  5. au ingin membuat sebuah karya film tentang sejarah gerbong maut. adakah yang bisa membantu aku dalam melengkapi dokumen untuk mendukung naskah film ini? mohon informasi dikirim ke alamat email tiepawa@yahoo.com
    agus wahyudianto S.Pd.
    Lumajang

    ReplyDelete
  6. grbong Yg SangaT unik N BrsejarahhberbanGgalah Yg jdi Org Bondoeoso Krna Punya benDa Yg tak Trnilai HArga sjrahnya

    ReplyDelete
  7. FAra n Andika Said1:54 AM, January 06, 2011

    LopH u BondoWoso....
    KenaNGAn TerinDAh Saat LIAt GerboNg MAut Yg SangaT MEmuKAu BUAt TAkjuB...
    BrBAnggalah Yg jdi Org BOndowoSo CZ BS Punya Bnda BrsejaraH yg TAk DA NIlai BAndiNg DejaraHnya

    ReplyDelete
  8. I like it
    don't forget fisit in my blog
    http://fhyeshyae-dhyefha.blogspot.com/
    and follow ia...

    ReplyDelete