28 January 2007

Pelukis Lekra Pameran Bersama


Gregorius Suharsojo Goenito

Adalah HARDONO (63 tahun), pelukis berdomisili di Trosobo, Taman, Sidoarjo, yang mengajak beberapa pelukis eks Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) untuk menggelar pameran bersama di Balai Pemuda, Surabaya.

Hardono mengaku prihatin melihat nasib seniman Lekra yang selama tiga dekade tidak diberi ruang berekspresi di masyarakat.

“Saya ketemu Pak Harsojo (Gregorius Suharsojo Goenito) secara tidak sengaja. Dia melihat pameran saya di Surabaya, dan akhirnya saya tahu kalau dia itu pelukis, malah pernah aktif di Lekra,” ujar Hardono kepada saya.

Dari GREGORIUS SUHARSOJO GOENITO (71 tahun), Hardono kemudian mengenal beberapa pelukis bekas Lekra yang lain seperti ROS SUROSO (82 tahun), G SOEHARTOJO (72 tahun). Beberapa pelukis lain non-Pulau Buru, tapi berstatus eks tapol, juga diajak.

“Alhamdulillah, mereka mau pameran bareng karena lukisan-lukisan mereka masih ada.”
SUHARSOJO GOENITO merupakan pelukis eks Buru yang paling dinamis, ceria, dan produktif.

Ia dikirim ke Buru pada 1969 bersama ratusan tahanan politik lainnya. Lekra, lembaga kebudayaan rakyat, memang tidak terlibat langsung, namun dikait-kaitkan dengan Gerakan 30 September (1965)/Partai Komunis Indonesia.

“Lekra itu dulu merupakan organisasi yang kuat. Lekra menampung semua kesenian yang berorientasi ke rakyat, mulai ludruk, jaran kepang, seni lukis, wayang kulit. Seni dibuat sedemikian rupa agar bisa dinikmati rakyat kecil, tidak mengawang-awang di langit,” ujar Harsojo.

Saat dikirim ke Buru, usia Harsojo 33 tahun, masih bujang. Energi kreatifnya masih tinggi, sehingga dia cukup produktif di Pulai Buru. Bikin sketsa, melukis, menyanyi, ia lakukan kapan saja. Saat makan siang pun ia mencorat-coret sketsa. Di bawah lukisan itu Harsojo biasanya menuliskan komentar-komentar spontan. Tulisan tangannya miring, enak dilihat, khas manusia Indonesia 1960-an.

“Iwake aku sing mancing lho!” begitu tulisan Harsojo di pinggir salah satu karyanya. [Ikannya saya yang memancing lho.]

Suatu malam, YONO, main gitar, lalu tertidur karena capek. Maklum, setiap hari para tahanan Pulau Buru harus kerja keras: menebang pohon, garap sawah, cari ikan, olahraga, baris-berbaris, apel. Harsojo iseng-iseng menggambar Yono yang tidur di samping gitarnya.

Harsojo menulis komentar: “Dik Yono nggak terusin latihan gitar?”

Tak hanya sketsa, yang lebih mirip catatan harian, Harsojo juga membuat lukisan biasa, cat di atas kanvas. Temanya hanya tentang kehidupan di Buru. Kita bisa melihat betapa orang-orang Lekra, termasuk novelis PRAMOEDYA ANANTA TOUR, dipaksa menjadi romusha. Kerja keras membuka hutan di pulau yang subur, tapi perawan itu. Mereka makan dari hasil keringat mereka sendiri.

Karya Harsojo bercerita tentang kegiatan menebang pohon, membuka hutan, bertani. Judulnya menggelitik: KOLE-KOLE YANG MENJADI SAKSI. KENANGAN MANIS DI LEMBAH WAIAPO. DI SINI TAK ADA SAKSI MEMBATASI. YANG BERTANI DAN YANG BERTANAH. TAK SEORANG PUN BERNIAT PULANG.

Begitulah. Bagi Harsojo dan pelukis-pelukis Lekra, suka dan duka, tragedi-komedi, cinta-benci... sangat tipis batasnya. Melihat karya-karya seniman Lekra, perasaan kita campur-aduk. Senyam-senyum membaca komentar Harsojo, tapi terkejut melihat begitu banyak anak negeri harus kerja rodi di Pulau Buru.

Saat dikirim ke Pulau Buru, para seniman, tentara, maupun rakyat biasa, yang dicurigai terlibat Partai Komunis Indonesia, tak pernah menyangka bakal bisa pulang ke kampung halaman mereka. Bagi Harsojo dan kawan-kawan, hidup ini sudah selesai. Sebab, Buru itu pulau neraka.

“Rumus waktu itu 3B: BUANG, BUI, atau BUNUH. Saya dan teman-teman seniman masuk B yang pertama, BUANG. Anggap saja dibui di Buru meskipun kita di sana sebetulnya bebas. Bekerja di tempat yang terbuka dan indah. Tanah Buru juga sangat subur karena ada Sungai Waiapo,” kata SUHARSOJO GOENITO, pelukis yang tinggal di Surabaya.

Harsojo kemudian menunjuk Sungai Waiapo yang dilukisnya semasa berada di Buru kepada saya. Ada teluk, lautan biru, pohon-pohon lebat. Sungai itu memang indah. Harsojo kemudian bersenandung lagu Waiapo, yang diciptakan seniman Lekra di Buru. Asal tahu saja, di sana waktu itu juga ada komponis terkenal macam SUBRONTO K ATMOJO.

“Jadi, soal kesenian kita lengkaplah. Lukis, musik, teater, tradisi... ada semua,” kata Harsojo.

Harsojo terus melukis meskipun tiap hari harus kerja di sawah, cari ikan, buka hutan, kadang-kadang sakit malaria. [Dari kisah Harsojo, saya bisa maklum kenapa PRAMOEDYA ANANTA TOUR bisa menghasilkan novel-novel berkualitas macam TETRALOGI PULAU BURU.] Sipir di Buru, kata Harsojo, memberi kesempatan untuk berkesenian. “Berpolitik juga boleh asalkan kami menerima Pancasila dan paham Orde Baru,” kata Harsojo lalu tertawa lebar.

Saya tertegun membaca karya Harsojo berjudul: TAK SEORANG PUN BERNIAT PULANG.

“Kenapa begitu?” tanya saya.

Menurut dia, hampir semua tapol di Buru memang tak pernah berpikir kalau suatu saat pulang ke kampung halamannya dalam suasana politik Orde Baru. Mereka berpikir akan mati dan dikuburkan di Pulau Buru. Namun, Tuhan berkehendak lain. Pada 1979, Harsojo dan kawan-kawan tiba-tiba diminta bersiap untuk kembali ke Jawa.

“Sungguh, saya tidak menyangka bisa hidup sampai usia 60 tahun lebih, bisa diwawancarai wartawan. Hehehe...,” kata pelukis yang suka humor itu.

Kembali ke masyarakat ternyata ada kesulitan baru. Warga menjaga jarak, takut dicap mendukung Partai Komunis Indonesia. KTP Harsojo dan kawan-kawan eks Buru pun diberi label ET, eks tapol. Stigma buruk itu terbawa ke mana-mana.

“Syukurlah, ada juga teman-teman yang malah dekat dengan kami,” tambah Harsojo, serani yang taat itu.

Kini, usia para eks tapol ini rata-ata berusia di atas 60 tahun. Harsojo mengaku hanya ingin meneruskan hidup yang sederhana bersama keluarga di Surabaya. “Nggak mau neko-neko,” tegasnya.

Kehidupan yang keras di tanah pembuangan, Pulau Buru, ternyata membuat Harsojo dan kawan-kawan lebih tegar menghadapi masa tua. Mereka pun lebih sehat. “Kata orang-orang, saya ini kelihatan lebih muda 20 tahun. Hehehe,” ujar Harsojo.

No comments:

Post a Comment