12 January 2007

Pelawak Doyok: Lelang Bandeng dan Lumpur Lapindo



Kisah seputar lumpur panas Lapindo Brantas Inc di Sidoarjo belum tamat. Menyembur pada 29 Mei 2006, berselang dua hari dari gempa bumi di Jogja dan Jawa Tengah, semburan lumpur panas dari dalam bumi ini konsisten. Tak ada tanda-tanda usai meski kalender 2006 sudah ditutup.

Kami, redaksi koran RADAR SURABAYA, pun tetap memberitakan musibah yang dipicu oleh keteledoran Lapindo sebagai eksplorator gas bumi di Kabupaten Sidoarjo itu. Porsi berita tetap satu halaman koran, plus satu item di halaman muka. Kalaupun ada kecelakaan Adam Air (1/1/07), KM Senopati Nusantara (30/12/06), berita lumpur Lapindo harus ada. Hukumnya wajib!

"Kita punya kedekatan dengan lokasi kejadian. Bencana itu dahsyat, efeknya berantai, dirasakan hampir semua warga Jawa Timur. Jalan raya macet, tidak nyaman, perdagangan terganggu.... Itu semua karena bencana lumpur di Sidoarjo,” kata Ir LILIK WIDYANTORO, pemimpin redaksi lulusan Universita Brawijaya, Malang.

Begitulah, berita dan cerita seputar lumpur, pengungsi, rumah tenggelam, sawah hilang, jalan macet, tol rusak dan dibongkar, timnas lumpur, pembuangan ke Kali Porong, kampung tenggelam... pun menjadi menu rutin koran-koran di Surabaya. Saya kerap jenuh, pembaca pun rasanya begitu, tapi mau bilang apa?

Bicara tentang lumpur Lapindo di Kecamatan Porong, yang kemudian meluas ke Kecamatan Jabon dan Kecamatan Tanggulangin, saya jadi ingat DOYOK SUDARMAJI. Pria kerempeng, humoris, periang, jago melawak ini ternyata asli Porong, Sidoarjo. Masa kecilnya dihabiskan di Porong, ya, kawasan yang sekarang ini terendam lumpur panas itu lah.

"Aku iki arek Mindi, Cak,” ujar pelawak Doyok kepada saya dan beberapa wartawan di Porong beberapa waktu lalu. (Saya ini anak Desa Mindi.)

Masa kecil dihabiskan Doyok di Porong. Main-main di sawah. Memancing ke Kali Porong. Kejar-kejaran bersama anak-anak sebaya di sekitar rel. Karena Sidoarjo sangat dekat dengan Surabaya, apalagi rumah orang tua Doyok tak jauh dari Stasiun Porong dan Pasar Porong (sangat strategis), Doyok dan kawan-kawan kerap jalan-jalan ke Surabaya.

Singkat cerita, lalu merantau ke Jakarta, dan akhirnya berhasil menjadi pelawak terkenal. Sosok Doyok yang ‘urakan’ dan ‘seenaknya’ pun akrab di mata penonton televisi sejak era TVRI, sebagai televisi tunggal, sampai hari ini.

“Sampean kira aku arek Betawi ya? Eh, salah. Aku iki asli Porong, Sidoarjo,” ujar Doyok kepada saya di alun-alun Sidoarjo. Waktu itu Doyok ditanggap sebagai pembawa acara lelang bandeng tradisional khas Sidoarjo di alun-alun.

Pelawak ini kemudian tertawa lepas. Doyok memang kawan bicara yang hangat. Cepat akrab. Tidak sok selebritis yang lupa asal-usul. “Di Jakarta itu kan karena karier saja. Golek sandang pangan, Cak,” ujar Doyok yang kali ini banyak berbahasa jawa timuran ala orang Sidoarjo umumnya.

“Makanya, saya senang diajak ke acara lelang bandeng. Sejak saya kecil, yang namanya lelang bandeng di Sidoarjo sudah ramai sekali. Jadi tontonan seluruh warga Sidoarjo.”

Saya terkejut karena sejak dulu saya mengira Doyok itu asli Betawi. Bahasa Melayu Betawi versi Doyok Sudarmaji di televisi sangat pas, tak berbeda jauh dengan warga Betawi asli. Yah, Doyok memang luwes dan cepat mempelajari hal-hal baru, termasuk bahasa Betawi, tentu.

Saat memandu lelang bandeng, Doyok pun dengan fasih mengabsen pejabat-pejabat di seluruh Sidoarjo. Dia masih hafal 18 kecamatan, mulai Jabon, Porong, Krembung, Candi, Tanggulangin, Sidoarjo, Taman, Sedati, Prambon, hingga ke Waru. Dari sinilah saya semakin percaya bahwa memang betul Doyok Sudarmaji itu arek Sidoarjo.

“Lelang bandeng itu tradisi Sidoarjo yang harus dipertahankan. Kenapa? Dari dulu Sidoarjo itu dikenal sebagai rajanya tambak. Bandeng-bandeng kita di Sidoarjo itu sudah terkenal ke mana-mana. Begitu juga hasil tambak lainnya,” ujar Doyok, sang pelawak.

Beberapa pekan setelah bencana lumpur panas di Porong meluas dan semakin sulit dijinakkan, Doyok yang baru mengakhiri masa dudanya datang ke kampung halamannya, Desa Mindi.

Saat itu warga Mindi, termasuk keluarga besar Doyok, teman-teman lamanya, sudah mengungsi. Desa Mindi bersama beberapa desa lain di kawasan semburan lumpur panas (Siring, Renokenongo, Jatirejo) sudah sulit sangat gawat darurat.

"Saya tidak bisa bicara apa-apa. Kampung halaman saya, Desa Mindi, sulit diselamatkan,” ujar Doyok dengan wajah sendu. Sangat berbeda dengan sosok Doyok di televisi atau panggung. Pelawak ini berusaha menahan tangis.

“Makam kampung kami di Mindi sudah tenggelam. Artinya, makam keluarga saya, kiai-kiai saya waktu kecil di Porong, sudah tidak ada lagi,” tambah Doyok.

Sebelumnya, saya melihat warga Mindi menandai makam-makam keluarga mereka dengan kayu atau bambu. Siapa tahu lumpur segera berhenti dan warga bisa membersihkan makam-makam lagi. Eh, ternyata meleset. Semburan lumpur makin dahsyat. Warga pun memilih menyelamatkan nyawa serta harta bendanya. Makam urusan kesekian.

Kini, Desa Mindi bersama tujuh desa lain di Kabupaten Sidoarjo tenggelam. Akhir Desember 2006 tambah lagi satu desa yang ‘kelelep’: sebagian Desa Ketapang di Kecamatan Tanggulangin.

Setelah Mindi, berikut makam desa, tenggelam, saya tidak tahu apakah Doyok Sudarmaji tetap melakukan ritual tahunannya: nyekar di Porong. Saya belum sempat menanyakan hal ini kepada Doyok. “Gimana caranya, ya, harus diatasi masalah lumpur ini. Puluhan ribu orang jadi korban, Mas,” harap Doyok.

Ini juga menjadi harapan kita semua! Siapa yang tidak sumpek dengan bencana berkepanjangan ini? Saya ngeri membaca ramalan pakar-pakar geologi bahwa semburan lumpur di Sidoarjo baru bisa berhenti 20 tahun, 25 tahun, 30 tahun, 50 tahun ke depan.

Alamak!

No comments:

Post a Comment