28 January 2007

Orang Flores Paling Gila Dian Piesesha



Jumat 26 Januari 2006, sekitar pukul 01.00 WIB. Saya nongkrong, minum kopi, di kawasan Jalan Raya Bandara Juanda, Sedati, Sidoarjo. Sayup-sayup saya dengar suara DIAN PIESESHA dari warung lesehan sebelah.

Catatan LAMBERTUS HUREK

Sejak 10 tahun terakhir saya sudah jarang mendengar lagu-lagu pop melankolis. Tapi, terus terang saja, memori saya tidak mungkin lepas DIAN PIESESHA, penyanyi 1980an yang sangat terkenal di NTT, khususnya Pulau Flores.

Saya punya memori manis seputar perjalanan musik pop Indonesia saat masih kecil ketika televisi masih hitam putih. Saat itu hanya ada TVRI dengan Aneka Ria Safari, Selekta Pop, Album Minggu Ini, Wajah Baru... Lagu-lagu manis, melankolis ala Dian Piesesha paling banyak diputar. Dian dan penyanyi-penyanyi JK Records memang dominan pada 1980an.

Penulis lagunya, ya, PANCE F PONDAAG, OBBIE MESSAKH, DEDDY DORES, WAHYU OS, JUDHI KRISTIANTHO, MAXI MAMIRI, dan beberapa nama lagi. Lirik lagu rata-rata sama: putus cinta, wanita nelangsa, rindu kekasih, cinta remaja. Ah, dari dulu ya lirik lagu pop tak jauh berbeda!

"Saya ini sebenarnya suka lagu-lagu Melayu. Suara saya lebih cocok ke situ,” ujar Dian Piesesha kepada saya saat mengisi acara ‘tembang kenangan’ di JTV, televisi lokal Surabaya.

Lagu-lagu Melayu yang dimaksud Dian bukan dangdut, melainkan Melayu Deli atau Melayu Malaysia. Tembang dengan melodis manis, khas, lirik penuh pantun nasihat. Namun, konstelasi industri musik mengantar Dian ke JK Records, bikin album pop manis bersama Pance Pondaag pada 1982. Kita tahu lah selera JK (Judhi Kristiantho), cukong musik pop, 1980-an. Pance, JK, Obbie Messakh, Wahyu OS.. bikin lagu dan Dian Piesesha menyanyi.

Nama Dian Piesesha pun hasil otak-atik JK. “Agar lebih komersial, sesuai dengan pasar musik Indonesia,” kata Judhi Kristianto. Nama asli Dian Piesesha, DIAH DANIAR, pun tenggelam.

Di era Orde Baru, rupanya, hampir semua orang Indonesia stres. Sistem politik represif. Orang murung, frustrasi. Maka, lagu-lagu pop manis ala JK laku keras. Pance dan Obbie jadi hits maker. Dian Piesesha pun menjadi penyanyi pertama yang mampu menembus angka penjualan kaset di atas satu juta keping berkat album TAK INGIN SENDIRI, produksi 1984, beredar luas 1985.

Angka penjualan terus melejit, katanya hingga 2,5 juta. “Sekarang pun orang masih cari album itu,” tutur Dian Piesesha. Sejak itulah nama Dian Piesesha mencuat ke seluruh Indonesia.



Saya, bocah kampung di Flores Timur, masih ingat Hellen Carvallo, teman sekolah, menyanyikan lagu-lagu Dian Piesesha di depan kelas. Suara Hellen sangat bagus, malah lebih bagus ketimbang Dian Pisesha. Dia nyanyi TAK INGIN SENDIRI, BARA API SENYUMMU, PERASAAN, MENGAPA TAK PERNAH JUJUR... dengan penuh penghayatan. Band Diana, band paling top di Larantuka, pada 1980-an pun tak alpa membawakan lagu-lagu Dian Piesesha.

Sampai hari ini, 2007, jika engkau naik kapal Pelni, kapal Primavista, kapal kayu biasa rute Indonesia Timur, hampir pasti lagu-lagu Dian Piesesha terus diputar. Ingat potongan lirik ini?

BIARLAH DI MALAM YANG SUNYI BEGINI
DI PEMBARINGAN KU KHAYALKAN DIRIMU
BIARLAH MIMPI-MIMPI SEMAKIN INDAH BERSAMA DIRIMU

DEMI KEDAMAIAN ENGKAU DAN DIRIKU
AKU PUN RELA BERKORBAN SEGALANYA
BIARLAH TERUKIR DI JARI MANISKU, NAMAMU KASIHKU

Saya terkejut mendengar refrein lagu Dian Piesesha ini dinyanyikan ramai-ramai oleh para penumpang kapal feri jurusan Kupang-Larantuka. Ada suara dua, suara tiga, bas. Ah, kayak kor gereja saja. Saya geleng-geleng kepala karena di Surabaya dan Sidoarjo, tempat domisili saya, lagu-lagu macam ini jadi bahan tertawaan. Sudah bukan zamannya. Cengeng!

Di Jawa, yang ngetop itu band-band macam Padi, Dewa, Ungu, Peterpan, Jikustik, Jamrud, Slank, Jikustik, dan sejenisnya. Nah, di Nusa Tenggara Timur, tren ini tidak berlaku. Lagu-lagu ala Pance Pondaag tetap ngehit sampai sekarang.

“Beta tidak peduli. Yang penting, lagu-lagunya Dian Piesesha itu paling enak,” kata Siska. “Kalau lagu rohani, Bunda Maria, ciptaan Pance paling menyentuh,” Frans menambahkan.

Hehehe... saya harus realistis. Bagaimanapun juga ini semua fakta. Apa pun kecaman orang pada Dian Piesesha, JK Records, Obbie Messakh, nyatanya dia punya penggemar fanatik. Sampai hari ini.



Dian Piesesha itu murni penyanyi rekaman. Begitu juga penyanyi-penyanyi JK pada era 1980an macam Meriam Bellina, Lidya Natalia, Ria Angelina, Marina Elsera, Pance, Obbie Messakh. Suara di kaset sudah dipoles sedemikian rupa sehingga terdengar enak, manis. Kalau menyanyi langsung (live), wah wah... bisa gawat.

Saya pernah menyaksikan penampilan Dian Piesesha dan artis-artis JK di Jawa Timur. Parah! Sebab, mereka dibentuk JK sebagai penyanyi telinga, bukan penyanyi mata, apalagi mata-telinga. Kontras dengan Inul Daratista yang enak di panggung, jeblok di rekaman. Dian Piesesha bahkan sering lupa lirik lagunya sendiri.

“Soalnya sudah lama nggak nyanyi sih,” kata Dian Piesesha suatu ketika. Yang hafal justru orang-orang NTT macam penumpang kapal itu tadi. Hehehe...

Kamis, 25 Januari 2007, saya baca sebuah artikel kantor berita ANTARA. Judulnya: DIAN PIESESHA KEMBALI DENGAN WAJAH BARU. Ceritanya, Dian Piesesha merilis album baru setelah vakum selama belasan tahun.

"Ini adalah persembahan cinta dari anak-anak sebagai bentuk hadiah ulang tahun saya yang ke-45," kata Dian Piesesha dalam jumpa pers peluncuran album KERINDUAN, di Jakarta, Rabu (24/01/2007).

Berbeda dengan album-albumnya bersama JK Records, kali ini Dia mengajak penulis lagu dan penata musik ‘pop kreatif’ (istilah untuk membedakan pop manis-cengeng ala JK) macam Yuyun George, Dian Pramana Poetra, Ricky Lionardi, Ika Ratih Puspa, dan Tito Sumarsono. KERINDUAN berisi delapan lagu, tujuh lagu baru, dan satu lagu lama, TAK INGIN SENDIRI.

"Album Dian ini lebih fresh, masih tetap di jalur pop, tetapi bukan model lagu cengengnya yang dulu, melainkan ada balutan musik jazz, gospel, dan R&B," kata produser Oktav dari RPM Records, seperti dikutip ANTARA.

Saat membuat catatan ini saya belum pernah mendengar album baru Dian Piesesha itu. Yang jelas, kenangan saya pada Dian Piesesha hanya sebatas pada album-album 1980an bersama JK dan Pance Pondaag itu lah.

Salah satunya, lagu yang sering dibawakan Hellen, teman sekolah saya di Larantuka, Flores Timur, pada 1980an. Syairnya begini:

MALAM-MALAM SEPERTI INI
BIASANYA ENGKAU ADA DI SISIKU
TAPI MENGAPA ENGKAU TAK DATANG MENJEMPUTKU

SUNYI SEPI DI MALAM INI
KAU BIARKAN DIRIKU SENDIRI
TIADA KAU SADARI BETAPA RINDUNYA HATI INI

SEHARUSNYA KAU ADA DI SINI
DI SAAT MALAM SEPERTI INI
SEHARUSNYA KAU ADA DI SINI
DI SAAT REMBULAN DAN BINTANG BERSERI
MENGAPA SAMPAI HATI
RESAH MENANGGUNG RINDU
OOOOH.......

21 comments:

  1. emang bener, orang ntt rata2 suka lagu pop kayak dian piesesha. aq pernah mutar2 di kupang pake angkot, ya, diputar lagu2 gitu melulu. salam untuk teman2 flobamora.

    wahyu
    semarang

    ReplyDelete
  2. hehehe... terus terang saya baru tahu nih. betul yg dikatakan bung Hurek, saya sbg org jawa dan besar di pulau jawa merasakan sendiri betapa "anehnya" lagu-2 dian piesesha.. kesannya kuno dan cengeng. tapi yg namanya karya seni memang begitu, sifatnya amat relatif bagi para penikmatnya.

    ReplyDelete
  3. Memang begitulah. Saya sendiri ketawa2 saat menulis catatan nostalgia ini. Apa yang dulu dirasa bagus, enak... wah sekarang terasa aneh. Meminjam kata-kata Pak Kiai Hasyim Musyadi: "setiap orang ada zamannya dan setiap zaman ada orangnya. Kalau sekarang (2005-2007) Peterpan, Ungu.. dianggap paling top/bagus, bagaimana dengan 20 tahun mendatang? Zaman selalu berubah, selera pun ganti. Terima kasih atas responsnya.

    ReplyDelete
  4. jangan lupa, bapak taufik kiemas, suami ibu megawati, adalah penggemar berat dian piesesha. beliau pernah ngundang mbak dian untuk mengisi acara khusus di rumah pak kiemas. kalau mo jujur, penggemar dian piesesha tuh banyak juga di jawa kok. biasanya di radio AM hehehehe...

    ReplyDelete
  5. saya dari waowala
    sekarang kerja di batam
    nama saya: andreas asan langoday
    saya dapet email kmau dari blog kamu saat saya browsing
    aku di batam kerja dibidang IT

    salam kenal

    langoday

    ReplyDelete
  6. Peace.
    Salam kenal pak Lambertus. Saya dapat informasi anda di internet. Nama saya Theresia Sinaga. Saya bekerja dengan sebuah organisasi Khatolik (Camillian Task Force the order of Saint Camillus de Lellis) di Amerika. Saya sangat tertarik sekali dengan semua artikel bapak Lambertus khususnya tentang daerah NTT. Saya bekerja untuk daerah bencana dan orang miskin. Saya sangat tertarik sekali ingin melihat daerah NTT. Tapi saya tidak punya link kesana. Apa bapak Lambertus bisa membantu saya buat link dengan gereja khatolik disana ? saya akan sangat berterima kasih sekali atas bantuan bapak. Saya beragama Khatolik dan saya akan sangat senang jika bisa diberikan link kepada kongregasi suster yang ada di NTT.

    Terima Kasih atas bantuannya.

    Salam,

    Theresia Sinaga

    ReplyDelete
  7. dian piesesha... ah jadi ingat emakku yg sudah gak ada. thanks tulisan mas hurek.

    ReplyDelete
  8. bung hurek, tulisan ttg dian piesesha ini penuh nostalgia dan menarik. anda rupanya punya bakat dan pengetahuan musik2 lama. syalom.

    daniel haryanto
    malang

    ReplyDelete
  9. Bang,

    Siapa bilang suara Dian Piesesha hanya enak di kaset. Saya pernah menghadiri live performance Dian, dan suaranya jauh lebih tinggi dan bening dibanding kaset. Suara rekaman itu tidak ada apa-apanya. Dan Dian pun bisa nyanyi dangdut, walau tidak bisa goyang seperti inul. Tapi sangat bagus itu suaranya. Boleh lah Dian itu diundang ke Flores. Dan anaknya Dian yang perempuan itu cantik sekali yah....
    Apakah Dian kawin dengan orang bule?

    ReplyDelete
  10. Terima kasih komentar kawan yang anonim soal kualitas suara Dian Piesesha. Masing-masing orang itu memang punya persepsi dan selera berbeda.
    Bisa juga diundang ke Flores, tapi sayang saya sudah lama menetap di Jawa Timur. Siapa tahu ada pejabat atau pengusaha di Flores mau menghadirkan Dian. Hanya, yang dibayangkan orang-orang di Flores itu Dian yang lagu-lagunya manis ala JK. Sementara iklim musik sekarang sudah berbeda jauh sekali. Sekali lagi, terima kasih dan salam.

    ReplyDelete
  11. jangan salah, dian piesesha pernah menjadi salah satu dari 20 penyanyi yg membawakan lagu2 lomba cipta lagu nasional tahun 1987 (kalo gak salah). jadi vokalnya berkualitas.

    ReplyDelete
  12. Halo Bang Lambertus....
    ah...saya kira cuma saya saja pria yang menyukai lagu dian piesesha.....hahaha.karena seluruh temen2ku ngetawain aku....hahaha
    ternyata banyak jg....jadi tambah semangat nih....hehee
    warna musiknya....gilaaa...g ada yang nyamaian!!!
    oya bang kalo ada info tentang Mbak Dian..bagi-bagi dongZZ...email aku ke clinkclinktuink@yahoo.co.id ya Bang.
    Tengkiu Bang atas ruangnya. salam cihuy deh

    wawan...djokdja

    ReplyDelete
  13. hehe.....bung!
    orang ntt tu romantis

    ReplyDelete
  14. dian piesesha itu suaranya sendu, sedih melulu, tapi sangat menghayati lirik lagu.

    ReplyDelete
  15. aq dulu suka sama lagu2 kayak dian. skrg kayaknya gak ada lagi musik kayak gitu, jamannya dah beda.

    ReplyDelete
  16. wah, dian pisesha itu dulu penyanyi kesayangan mamaku hehehe... lagunya sedih melulu.

    ReplyDelete
  17. Wah aku dah dengar lagunya Dian yang Hadirmu dan kerinduan,..bener2 beda dengan lagu2nya yang dulu, aku sempet terkejut........klo menurut aku sih bagus...dan suaranya gak berubah.........tetap bening....dan merdu....
    btw sekarang Dian sibuk jadi EO-nya DUFAN tuh....

    ReplyDelete
  18. salam utk mbak dian, semoga tetap nyanyi, menghibur masyarakat indonesia dg lagu2 manis dan merdu.

    antony

    ReplyDelete
  19. ingatan saya pada sosok satu ini memang murni dikarenakan saya sering mendengar lagunya saat saya smp atau sd(hehe)..dan tentu sja sampai saat ini saat telinga ini mendengar lagu mbak dian lagi...rasanya mak-nyeshhh...dia emang ga ada matinya bung..

    beda banget dengan lagu lagu jaman sekarang yang gampang nge-hits dan gampang ilang...(bahkan sayapun tak tau lagi lagu lagu jaman sekarang)

    ReplyDelete
  20. mbak dian luar biasa... sangat menjiwai lagu2 yg syairnya sangat menyentuh...

    ReplyDelete
  21. romantis itu rokok makan gratis hehe.. jadi ingat ibu gue yg sudah tiada yg dulu suka banget ama dian piesesha... tq

    ReplyDelete