10 January 2007

Nanik Indrawati, Ibunda TKW Teraniaya


Nanik Indrawati, ibunda Herlina, TKW yang sempat diancam hukuman gantung di Malaysia.

Herlina Trisnawati (21 tahun), tenaga kerja wanita (TKW) asal Sidorono, Krian, akhirnya diampuni di Mahkamah Rayuan Kuala Lumpur (semacam Pengadilan Tinggi di Indonesia). Vonis hukuman gantung dikurangi menjadi 18 tahun penjara.

“PUJI Tuhan! Puji Tuhan! Akhirnya, anak saya lolos dari hukuman mati. Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu anak saya di Malaysia,” ujar NANIK INDRAWATI kepada saya.

Ibu kandung Herlina itu sejak dua tahun terakhir ‘mengasingkan diri’ di kawasan hutan bambu, Sidorono, Krian, Sidoarjo.

Diajak tim penasihat hukum dari Aliansi Buruh Migran (ABM) ke Kuala Lumpur, Nanik mengaku dihinggapi perasaan yang campur-baur. Senang bisa bertemu Herlina, anak kesayangan, tapi di pihak lain sangat cemas. Bagaimana kalau Mahkamah Rayuan mengukuhkan hukuman mati? Asal tahu saja, Nanik sudah lama menangis memikirkan nasib Herlina di penjara wanita Kuala Lumpur.

Ingat, mahkamah atau pengadilan di Malaysia sejak lama dikenal sangat tegas dalam vonisnya. Vonis di sana umumnya sama, minimal sangat dekat, dengan ancaman hukuman maksimal. Misalnya, kalau ancaman maksimal 20 tahun, maka vonis paling ringan 18 tahun atau 19 tahun. Sangat berbeda dengan pengadilan kita.

“Tapi saya sudah pasrah. Selama satu tahun ini saya dan keluarga berdoa terus-menerus agar Herlina tidak dihukum mati. Saya juga mengajak jemaat gereja untuk bersama-sama mendoakan anak saya,” tutur Nanik yang bersama SUTRISNO, suaminya, mendengarkan pembacaan vonis di Malaysia.

(Nanik Indrawati sangat aktif di Gereja Bethany, sedangkan Herlina muslimah yang sangat taat beribadah. Dalam surat-suratnya, Herlina mengaku rajin mengaji dan salat di dalam penjara. Keluarga Nanik memang menganut agama yang berbeda-beda.)

Kepada saya, Nanik Indrawati mengaku sangat yakin bahwa Herlina pasti bebas dari hukuman mati. Dasarnya, menurut keterangan pengacara di Kuala Lumpur dan Indonesia, Herlina terpaksa membunuh majikannya, SOON LAY CHUAN pada 13 Agustus 2001 karena membela diri. Herlina ini gadis pendiam, sama sekali tidak agresif, sehingga sulit dipercaya mau melakukan pembunuhan kalau tidak dalam kondisi kepepet.

Dan yang paling membuat Nanik optimistis, ia sering bermimpi melihat Herlina berada di rumahnya, Krian, didatangi para tetangga. “Dia datang ke sini, lalu cerita pengalaman selama di Malaysia. Warga kampung bertanya, ya, dia jawab panjang lebar,” cerita Nanik Indrawati.

Nah, ternyata mimpi yang terus berulang itu akhirnya mulai menemukan titik terang. Herlina memang belum bisa pulang bersama ke Sidoarjo, tapi yang jelas tidak lagi diancam hukuman mati. Delapan belas tahun Herlina harus mendekam di dalam penjara, masa yang sangat lama.

“Kita terus berusaha dan berdoa. Saya sangat percaya bahwa doa itu besar sekali kuasanya. Mukjizat akan diberikan Tuhan kepada manusia yang percaya,” tegas bekas pengusaha katering itu.

Menurut dia, para pengacara sudah mengajukan kasasi kepada Mahkamah Persekutuan (semacam Mahkamah Agung di sini) agar hukuman atas Herlina bisa didiskon lagi. Menggunakan pasal 304 ayat 2 KUHP (Malaysia), begitu kata Ja’far Shodiq dari ABM Jawa Timur, ancaman hukuman maksimal 10 tahun. Sekarang Herlina dijerat dengan pasal 304 ayat 1 dengan anmcaman maksimal 20 tahun.

Andai saja Mahkamah Persekutuan mengabulkan kasasi, tentu Herlina akan lebih cepat pulang ke Indonesia mengingat gadis ini sudah ditahan di penjara sejak 2001. Nanik Indrawati mengaku tidak mengerti hukum, apalagi sistem pengadilan Malaysia. Hanya saja, ia tetap percaya pada kekuatan doa dan kemahakuasaan Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki, maka Herlina akan segera pulang ke tanah air.

“Kita jangan pernah putus asa,” ujar Nanik, mantap. Ia mengaku kasus Herlina ini merupakan cobaan terberat yang dialami dalam hidupnya.

Kehilangan pekerjaan, mengungsi ke hutan bambu, serta berbagai tekanan psikologis. Namun, Nanik percaya suatu ketika cobaan itu akan berakhir.


BACA JUGA
Herlina bebas dan pulang kampung

4 comments:

  1. moga2 bisa bebas, kasihan herlina.

    ReplyDelete
  2. Herlina Trisnawati (25) salah satu TKI asal Surabaya yang bebas setelah dijatuhi hukuman gantung tiba di Bandara Soekarno Hatta dengan menggunakan pesawat Garuda GA 821. Herlina divonis hukuman gantung karena melakukan penganiayaan kepada majikannya hingga tewas di tempat ia bekerja di Kuala Lumpur-Malaysia.

    Saat tiba di bandara, Rabu (16/4/2008) Herlina mengaku senang mendapatkan kebebasan tersebut. Dan ia mengaku tidak akan kembali ke Malaysia.

    "Saya gembira bisa bebas dan keluarga sudah menunggu," katanya dengan logat Melayu.

    Diakuinya selama ini ia dipenjara selama 7 tahun 8 bulan. Dan ia mengaku diperlakukan dengan baik oleh aparat kepolisian. Sayangnya ia enggan untuk menceritakan kasusnya. Bahkan Herlina terlihat masih sangat trauma.

    Selanjutnya Herlina dibawa langsung ke Deplu dengan mobil kijang kapsul warna hijau dengan Nopol B7482 BS. "Saya gembira bisa balik ke tanah air," katanya sambil masuk ke dalam mobil.

    ReplyDelete
  3. Aloow mas., wah ga tau nih pimredku nyuruh aku untuk angkt sejarah hidup herlina. bisa tidak saya minta alamat rumahnya lengkap. makasih ya mas..

    ReplyDelete
  4. ulfiee, reporter media apa kah?
    herlina tinggal sama mamanya di desa SIDORONO, krian, sidoarjo. dari bundarawan waru terus saja, by pass tropod, terus... lantas ketemu traffic light. nah, kampungnya di sebelah kanan jalan arah krian [barat].
    Baca perumahan sidorono, kalau gak salah, ikuti jalan desa sekira 1,5 km. ketemu SDN, belok kiri, masuk gang. 100 meteran tanya warga setempat [sidorono]: mana rumahnya herlina? ntar pasti ditunjukin.
    rumah itu tadinya dipakai ibu nanik untuk 'bersembunyi' karena dia malu sama tetangga di surabaya gara2 herlina punya kasus di malaysia. good luck!

    ReplyDelete