03 January 2007

Masalah Khas Paduan Suara Kita



Sekadar pegangan untuk kawan-kawan pembina paduan suara, khususnya kor muda-mudi Katolik, di Keuskupan Surabaya.

Sebagian besar masalah paduan suara atau kor (choir, koor) bukanlah masalah musiknya, melainkan manajemennya. Romo KARL-EDMUND PRIER SJ, direktur Pusat Musik Liturgi, Jogjakarta, mengatakan bahwa lebih dari 70 persen masalah paduan suara adalah masalah nonteknis musik.

Karl-Edmund Prier SJ telah menerbitkan buku-buku musik, termasuk paduan suara, serta membuat aransemen lagu-lagu gerejawi dan daerah di Indonesia. Dia juga sering menjadi juri lomba paduan suara di tanah air. Buku-buku dan tulisannya menjadi rujukan utama pembina paduan suara di lingkungan Gereja Katolik di Indonesia.

Kita sering mendengar dan mengalami jatuh-bangunnya paduan suara. Sangat jarang paduan suara yang secara konsisten dapat bertahan, baik dari sisi jumlah maupun mutunya untuk kurun waktu lama, misalnya lima tahun ke atas. Mengapa?

1. MACETNYA REGENERASI

Setiap paduan suara pasti akan ditinggalkan anggotanya karena berbagai alasan (usia, pindah tempat). Karena itu, setiap periode tertentu, misalnya setahun sekali, hendaknya anggota baru dapat direkrut.

2. TIDAK ADA PELATIH ANDAL

Pelatih dan dirigen paduan suara terbatas. Meskipun seseorang memiliki suara yang bagus, belum tentu ia dapat memimpin paduan suara sebagai dirigen. Idealnya, dirigen bukan sekadar orang yang memberi aba-aba, tapi juga pelatih dan (sangat) tahu musik. Kor yang baik sangat ditentukan oleh dirigen/pelatih yang baik. Di Indonesia, sering kali dirigennya asal comot, sekadar melambai-lambaikan tangan. Ini berbahaya!

-Jangan tergantung pada satu orang dirigen. Setiap paduan suara hendaknya memiliki minimal dua dirigen yang dapat bertugas bersamaan.
-Kaderisasi dirigen terus dilakukan dengan mengirimkan calon dirigen ke lembaga pelatihan dirigen. Ikutkan dia ke kursus musik. Harus bisa baca not balok.
-Kalau mengundang pelatih, pastikan ada kader dirigen yang berbagi tugas dengan pelatih saat tampil.

3. TUJUAN TIDAK JELAS

Paduan suara yang tidak memiliki tujuan yang jelas akan cepat ambruk karena arahnya tidak ada. Maka buatlah tujuan paduan suara dengan jelas, dan sampaikan kepada seluruh anggota. Misalnya, paduan suara ini bertujuan menjadi pelayan terbaik di dalam misa kudus dengan lebih banyak menyanyikan lagu-lagu inkulturasi. Atau, ikut lomba atau festival atau konser.

4. TIDAK PUNYA PROGRAM

Apabila paduan suara memiliki program kerja, maka anggota pun terpacu dengan acara yang diselenggarakan paduan suara, baik acara untuk menyanyi maupun refreshing serta pelatihan anggota. Maka, bagi pengelola, buatlah program tahunan dan komunikasikan kepada anggota.

5. ONE MAN SHOW

Ada pula paduan suara yang pengelolaannya dikerjakan beberapa orang, bahkan hanya satu orang. Apabila terjadi halangan terhadap satu/beberapa pengelola, kegiatan paduan suara pun macet. Maka, usahakan agar melibatkan sebanyak mungkin anggota menjadi pengelola. Pisahkan urusan musik dan manajemen. Musik menjadi tanggung jawab dirigen dan pengiring, sedangkan masalah lain (teks, kostum, persiapan latihan, konsumsi) kepada pengurus lainnya.

6. LATIHAN TIDAK MENARIK

Sudah menjadi rahasia umum bahwa jumlah anggota yang datang latihan dan yang tampil berbeda. Apabila terjadi demikian, yang tidak pernah latihan akan mengganggu yang rutin latihan. Pengelola paduan suara sebaiknya tidak buru-buru menyalahkan mereka. Lebih baik apabila pengelola introspeksi.

Apakah latihan paduan suara sudah menarik? Bila tidak, beberapa cara dapat dilakukan misalnya:

-Carilah hal apa yang menarik anggota untuk datang. Lakukan survei atau jajak pendapat kecil-kecilan.
-Sedapat mungkin latihan dimulai : ON TIME. Tepat waktu. Mengulur-ulur waktu mulai latihan adalah awal dari kebosanan berlatih.
-Pisahkan urusan latihan dengan urusan nonlatihan (misalnya, kalau membicarakan kostum mencari waktu di luar latihan).
-Dirigen memiliki alokasi dan target waktu latihan dengan jelas (misalnya 15 menit pemanasan, 45 menit latihan pertama, 15 menit istirahat, 45 menit latihan kedua).
-Dirigen hendaknya mau menerima kritik dan masukan tanpa harus kehilangan wibawa.
-Dirigen mencari lagu yang menarik.
-Dirigen menghargai kehadiran anggota (yang umumnya sukarela, tidak dibayar) dengan memberikan latihan dengan penuh kesabaran dan manusiawi.

7. PERBEDAAN LATAR BELAKANG ANGGOTA

Latar belakang anggota bermacam-macam. Ada yang berkecukupan, ada yang tidak. Ada yang berasal dari berbagai suku, etnis ini dan itu. Ada yang mahir membaca not ada yang belum mahir. Ada yang suaranya sudah terbentuk bagus, ada yang belum. Ada yang temperamental ada yang sabar. Oleh karena perbedaan itulah, maka kemungkinan konflik dapat saja terjadi.

Maka cara mengatasinya adalah:

-Pengelola perlu menanamkan semangat kebersamaan dengan sesekali retret bersama atau berkumpul bersama di luar latihan.
-Dikembangkan sikap saling menghargai satu sama lain.

8. TERLALU SIBUK DI LUAR URUSAN TEKNIS

Hal utama yang ingin ditampilkan paduan suara adalah ’berpadunya suara yang indah'. Hal-hal lain bukan menjadi utama dan hanya mendukung. Oleh karena itu, urusan nonteknis paduan suara seperti pemilihan kostum, konsumsi, hendaknya tidak menjadi nomor satu.

9. TIDAK ADA PENGIRING

Pengiring (pianis, organis, atau pemusik lainnya) jarang ditemukan, khususnya selama latihan. Atau bisa jadi di tempat latihan tidak terdapat iringan yang memadai. Lama-lama latihan bisa menjadi membosankan, dan dirigen pun akan kesulitan karena tidak dapat memberikan contoh suara dengan baik.

-Pengelola semaksimal mungkin menghadirkan iringan. Bila perlu saling bahu-membahu membeli iringan (organ/keyboard/piano).
-Pengelola semaksimal mungkin menghadirkan pengiring setiap latihan. Bilamana terdapat anggota yang berbakat dapat dikursuskan di kursus musik.

10. TEMPAT LATIHAN TIDAK LAYAK

Tempat latihan yang dapat menampung sebuah kelompok paduan suara jarang ada. Padahal, agar dapat berekspresi dengan bebas, maka tempat latihan yang lapang dan tidak mengganggu lingkungan sekitar sangat diperlukan.
-Cari tempat latihan dengan memperhatikan jumlah anggota, bersih, serta keleluasaan menyanyi. Bila perlu, menyewa sebuah tempat yang layak.
-Gedung gereja, sekolah, aula, dapat menjadi pilihan.

11. TIDAK PUNYA DANA

Memang semangat paduan suara tidak hanya ditentukan dari dana yang tersimpan. Namun dana yang cukup dapat digunakan untuk membangun paduan suara.
-Menggali dana dengan berbagai kiat.
-Iuran anggota.
-Mencari sponsor baik dari pribadi, lembaga, maupun gereja.

Kredit foto: Steve Adinegoro

2 comments:

  1. Hi Pa'Lamber,
    terdahulunya saya mengucapkan selamat bertemu lewat e-mail ini. Saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Rino Rato dari Bajawa -Flores- NTT. Sekarang saya berada di Australia tepatnya di Adelaide untuk melanjutkan studi management pendidikan di Flinders University.
    Melalui e-mail ini saya ingin menyampaikan kesulitan yang saaya alami ketika keluarga Katolik Indonesia di Adelaide mengadakan misa setiap bulan selalu kesulitan lagu misa khususnya untuk lagu-lagu koor.
    Saya telah coba menghubungi para kerabat di Bajawa namun selalu sulit mengirim karena internet tidak ada (pada umumnya buta komputer apalagi internet. Karena itu melalui email ini saya minta tolong pa'Lamber untuk kalau bisa scan beberapa lagu misa 4 suara dari Madah Bakti atau apa saja untuk dikirim melalui email saya.
    Kerinduan yang begitu dalam untuk bisa menyanyi (koor) dengan baik sebagaimana di Bajawa seakan menjadi sangat mahal dan sulit terwujud. Banyak yang mau nyanyi tapi tidak berusaha untuk mendatangkan lagu-lagu koor.
    Keluarga Katolik di Adelaide ini berjumlah sekitar 120 keluarga ada yang Permanent resodent ada juga yang student. Namun semua mengaku tidak sempat membawa kopian lagu-lagu koor.
    Untuk itu sekali lagi saya memohonkan kesedaan pa' Lamber untuk sekiranya membantu. Segala biaya yang timbul dari usaha pengadaan ini akan saya tanggulangi dengan terlebih dahulu meminta no rekening bank pa Lamber.
    Sekian dulu cerita dan keluhan saya. Atas bantuannya terdahulunya saya ucapkan limpah terima kasih.

    Hormat saya,

    Rino Rato

    ReplyDelete
  2. bagus banget. lengkap deh ngebahas paduan suara. makasih, mas.

    ReplyDelete