18 January 2007

Log Zhelebour Ikon Rock Arek Surabaya


‘Enaknya’ jadi wartawan, salah satunya, bisa bertemu dengan pesohor yang dulu hanya bisa dilihat di televisi atau media cetak. Saya beruntung bisa bertemu dan bercakap dengan ONG OEN LOG. Arek Surabaya ini lebih dikenal sebagai LOG ZHELEBOUR (lahir 19 Maret 1959), promotor musik rock terkenal di Indonesia. Ada yang bilang, kiprah LOG di belantika musik rock belum ada tandingannya sampai hari ini.

“Mau tanya apa? Santai sajalah,” begitu gaya khas LOG ZHELEBOUR kepada saya di kamar Hotel Garden Palace.

[Kalau bikin tur di Surabaya, hampir pasti pria yang suka pakai celana pendek, baju sederhana, ini memilih akomodasi di hotel itu. Padahal, masih banyak hotel lain yang lebih ‘wah’ di Surabaya. Kayaknya, Garden Palace yang kini kusam, kalah bersaing, sudah lama merosot pamornya. Pemain HALLOWEEN (Jerman) sekalipun diinapkan LOG di Garden Palace.]

Bincang dengan LOG selalu asyik. Gayanya santai, sederhana, tidak neko-neko, tapi selalu terasa kegigihannya dalam memajukan musik rock. Dia tidak setengah-setengah bikin konser. Sound system hebat, tata panggung, persiapan... harus oke punya.

“Kalau untuk Surabaya saya harus tangani sendiri. Kota ini barometer musik rock,” tegasnya. Dia tak ingin menyerahkan urusan konser kepada event organizer (EO) yang kerap kali asal-asalan dan tidak bertanggung jawab.

Saya suka dengar CAK LOG menceritakan perjalanan hidupnya sebagai promotor musik. “Benar-benar dari nol. Nggak kayak sekarang, fasilitas begitu banyak tersedia. Aku biyen wong melarat, Cak,” tutur LOG ZHELEBOUR yang mulai menjadi promotor musik pada 1979. Artinya, usia LOG saat itu sangat muda, 20 tahun.

Untuk bikin konser di Surabaya, dia harus buat proposal. LOG mengetik sendiri. “Pakai mesin ketik tak-tik-tok itu, wong belum ada komputer,” kenang LOG.

Setelah diketik, proposal itu dibawanya ke pihak sponsor. Naik sepeda motor butut, penyuka musik rock (meski tidak bisa main musik) itu keluar dari gang sempit di kampung Petemon. Tidak mudah untuk pemuda 20-an tahun seperti Log meyakinkan pemilik modal. Tapi dia tidak menyerah.

Berkat keuletan, proposal Log pun diterima. Konser pun digelar. Dari sinilah nama alumnus SMA Katolik St Louis I Surabaya ini mulai dikenal di kalangan musisi dan penggemar musik rock di Surabaya.

“Waktu itu promotor musik di Surabaya ada beberapa. Selain Log, ada Singky Suwaji, yang juga gencar membuat pergelaran,” cerita SUGENG IRIANTO, bekas wartawan musik JAWA POS, yang banyak berjasa memopulerkan musisirock di Jawa Timur pada era 1980-an hingga 1990-an. "Saya akui Log ini punya kelebihan khusus sehingga cepat sekali meroket hingga ke tingkat nasional,” tambah Sugeng kepada saya.

Mengenang masa lalu yang sederhana, melarat, kerap membuat LOG ZHELEBOUR geleng-geleng kepala. Tertawa sendiri. Kok bisa ya dia akhirnya sukses besar seperti sekarang. Bagaimana seorang Tionghoa miskin, yang tinggal di dalam gang sempit, akhirnya berkibar di industri musik Indonesia sampai hari ini.

“Memang kalau dipiki-pikir, hidup saya ini tidak masuk akal. Tapi saya bisa seperti sekarang karena kerja keras, penuh perjuangan. Nggak enak-enak saja terus jadi orang sukses,” begitu cara LOG ZHELEBOUR setiap kali memberi motivasi kepada para artis jebolan festival rock yang ia selenggarakan.

Akhir 2004 Log menggelar babak final festival rock nasional ke-10 di Stadion Tambaksari Surabaya. Koran RADAR SURABAYA jadi media partner. Maka, saya pun beroleh banyak peluang untuk betemu dan bercakap dengan Log, juga personel grup JAMRUD, binaan Log. Tempatnya, ya, di Hotel Garden Palace Surabaya itu tadi.

“Setelah ini tidak ada lagi festival rock. Saya sudah capek, sudah tua. Sudah saatnya yang muda-muda melanjutkan apa yang sudah saya rintis,” ujar Log.
Kata-kata Log ini kemudian dia ulangi di depan wartawan, bahkan di Stadion Tambaksari.

Saya tidak percaya. Apa benar Log meninggalkan rock? Bukankah musik rock sudah merasuki dirinya sejak sekolah menengah pertama di Surabaya? Teman-teman wartawan musik (senior, yunior) pun sama: tidak percaya dengan pernyataan Log mundur dari musik rock. “Yah, pokoknya dalam bentuk lain lah. Model festival rock sudah tidak bisa dipertahankan lagi,” ulang Log.

(Sebagai catatan, festival rock ala LOG ZHELEBOUR sejak 1984 telah melahirkan grup-grup rock terkenal di Tanah Air. Bahkan, Log konsisten merekam karya-karya musisi rock lewat labelnya, Loggis Record.)

Senin, 15 Januari 2007, saya baca berita di server Jawa Pos News Network alias JPNN. Berita tentang festival rock di Sumatera. Ehmmm... LOG ZHELEBOUR terbukti tidak bisa lepas dari hiruk-pikuk musik rock baik itu di rekaman maupun di panggung.

Welcome back, Mr Log!

No comments:

Post a Comment