14 January 2007

Komunitas Waria di Sidoarjo


Natasha, waria asal Sidoarjo, saat bergaya di pendopo pariwisata Sidoarjo.

WARIA ALIAS BANCI ALIAS BENCONG DI SIDOARJO KIAN 'MENAMPILKAN' DIRI DI TENGAH MASYARAKAT. JUMLAH MEREKA SEDIKITNYA 500 ORANG.

BERBEDA dengan waria di Kota Surabaya, yang punya organisasi bernama Perwakos, kaum waria di Sidoarjo praktis tidak terorganisasi. Mereka tercecer ke mana-mana. Bukan rahasia lagi, sebagian besar waria Sidoarjo terjun malam hari sebagai pekerja seks alias kupu-kupu malam di 'lokalisasi' tertentu: di kawasan RSUD Sidoarjo, Aloha (Gedangan), Bundaran Waru, hingga Tangkis Porong.

Kasus kecelakaan maut yang menimpa seorang waria di kawasan Waru belum lama berselang--ketika hendak pulang 'praktik' di Waru--merupakan bukti geliat waria di Sidoarjo. Di mana-mana, yang namanya waria alias bencong selama ini dianggap antara 'ada dan tiada'.

Status gender mereka pun tak jelas, karena masyarakat umum hanya mengenal laki-laki dan perempuan. Status transeksual alias setengah-setengah ala waria hanya dianggap sebagai penyimpangan belaka. Bahkan, banyak yang curiga mereka ini laki-laki tulen, hanya sekadar beraksi agar bisa mendapatkan uang.

Beberapa waria di Sidoarjo yang saya temui, seperti biasa, mengaku sebagai waria tulen. RIRIN asal Tulangan, misalnya, mengaku sudah merasa sebagai waria sejak usia 10 tahun. Organ tubuhnya memang laki-laki, tapi perasaan dan seleranya perempuan tulen. Ia lebih suka busana perempuan ketimbang laki-laki. 'Kelainan' ini dilestarikan terus hingga dewasa. Kini, Ririn berusia 27 tahun.

"Jadi, nggak benar kalau kita ini main-main atau sok banci. Waria, ya, waria," ujar Ririn yang sempat mengikuti kontes waria di Dinas Pariwisata Sidoarjo, beberapa waktu lalu.

Kembali komunitas waria Sidoarjo. Menurut RIRIN (nama aslinya SUPARNO), meskipun tidak ada organisasi resmi ala Perwakos di Surabaya, mereka punya jaringan informal. Apalagi, di zaman telepon seluler dan SMS macam ini. Komunikasi di antara waria Sidoarjo berlangsung dengan cepat dan efektif.

Contohnya kontes waria di Dinas Pariwisata. Di situ bisa dilihat efektivitas komunikasi antarsesama waria. Sebab, pengumuman lomba playback (menirukan gaya artis di panggung) itu sangat mendadak. Tapi, faktanya, peserta lomba membeludak, jauh di atas dugaan panitia maupun para waria sendiri. Perkiraan saya, sekitar 200 orang.

"Yang datang bukan hanya dari Sidoarjo, tapi Surabaya, Malang, Mojokerto, bahkan Bali. Kalau ada lomba-lomba macam ini, kita selalu kompak," tambah NATASHA, waria asal Surabaya yang lebih banyak tinggal di Bali.

Bagi para waria Sidoarjo, kontes waria yang dibuka Wakil Bupati Sidoarjo itu merupakan 'angin baik' bagi komunitas wanita-pria ini. Kenapa? Secara tidak langsung, pemerintah memberikan fasilitas dan toleransi kepada mereka.

"Biasanya kan kita dikejar-kejar, dirazia. Sekarang kita sudah mulai diterima di Sidoarjo. Apa bukan kemajuan?" ujar ANITA, waria asal Sidoarjo.

Menurut Anita pada dasarnya banci sama dengan manusia lain yang punya perasaan dan potensi. Bisa bekerja, melakukan apa saja, seperti orang lain. "Kita itu nggak nuntut macam-macam. Cukup saling pengertian, saling memahami keberadaan masing-masing. Nggak saling ganggulah," ujar Ririn, yang mengaku sering 'praktik' di kawasan RSUD Sidoarjo itu.

KEDEKATAN dengan Surabaya, juga status Sidoarjo sebagai kota urban, sangat mempengaruhi komunitas waria di Sidoarjo. Interaksi dengan komunitas waria Surabaya pun sangat tinggi.

Ketika komunitas waria di Surabaya, misalnya Jalan Irian Barat (Irbar), digerebek, maka sebagian di antara mereka pindah ke Sidoarjo. Tak heran, para waria yang biasa mangkal di Aloha (Gedangan) atau Waru (stasiun dan kawasan bundaran) banyak di antaranya jebolan Irbar. Alumnus Irbar ini pun banyak yang nyasar ke tengah kota, kawasan Mojopahit, bahkan Porong.

‘’Saya dulu di Irian Barat. Waktu itu di Sidoarjo belum ramai. Lama-lama di sini mulai banyak waria, sehingga saya milih di sini aja. Biar lebih dekat dengan rumah saya,’’ ujar MELLY, waria asal Tulangan, lalu tersenyum manja.

Menurut dia, waria asli Sidoarjo sebenarnya cukup banyak, tapi masih kalah dengan waria pendatang. Para pendatang alias kaum urban ini biasanya menyewa kamar (kos) atau sama-sama mengontrak rumah tertentu di Sidoarjo. Pekerjaan mereka macam-macam. Salon kecantikan, katering, pabrik, hingga pelacur.

Siangnya laki-laki (biasa), malamnya ganti busana dan praktik sebagai pelacur. ‘’Tapi yang buruh ini nggak banyak, karena kerjanya berat. Kalau kita biasa kerja malam, pulang jam tiga pagi, rasanya nggak kuat kerja di pabrik. Makanya, banyak yang keluar,’’ ujar MELLY yang enggan menyebut nama aslinya.

‘’Nama saya kan MELLY. Ngapain nanya-nanya nama asli segala?’’

Menurut dia, Sidoarjo sebagai kota urban cukup aman dan kondusif untuk kehidupan kaum waria. Hampir sama dengan Surabaya atau kota besar lain, di mana masyarakatnya punya toleransi terhadap waria. Ini tidak dijumpai di kota-kota kecil, apalagi kampung-kampung pelosok yang umumnya represif terhadap kaum waria.

‘’Memang kita sering dirazia, tapi itu kan biasa ajalah. Orang sudah melihat waria sebagai manusia biasa yang berhak hidup di masyarakat,’’ ujar Ririn, waria asal Tulangan.

Banyaknya perumahan baru, lanjut dia, juga kondusif bagi pertumbuhan waria di Sidoarjo. Bukan saja karena masyarakat perumahan biasanya cuek, tak saling kenal, tapi juga mendorong lahirnya usaha-usaha baru seperti salon, katering, dan sebagainya.

‘’Kalau kita bergaya kayak begini di kampung, wah, pasti sudah ramai. Bisa-bisa digebuk orang, diolok-olok terus,’’ ujar Ririn. Penampilan Ririn malam itu memang sungguh menor.

Kaum waria dikenal pencemburu, tapi juga punya solidaritas sangat tinggi. Di Sidoarjo, karena belum punya organisasi resmi semacam Perwakos, mereka kerap menggelar diskusi informal di tempat-tempat mangkal tertentu. Apa saja dibahas, mulai kenaikan harga BBM, teknik merawat kecantikan, operasi plastik, kiat membesarkan payu dara, hingga masalah-masalah sosial yang serius.

Dan, asal tahu saja, mereka kerap mengolok-olok sikap (oknum) aparat keamanan yang nakal di jalanan. Suatu ketika seorang waria Sidoarjo, sebut saja Inneke, diajak berkencam dengan Jimmy (nama samaran) di dalam mobil. Diam-diam praktik prostitusi ini diketahui seorang (oknum) petugas yang kebetulan lewat di sana.

‘’Eh, dia main ancam dan meras. Lu harus bayar Rp 500 ribu, kalau tidak saya tangkap dan fotomu dimuat di koran-koran,’’ cerita Inneke menirukan ancaman si oknum aparat. Jimmy tak punya uang tunai sebanyak itu. Apa boleh buat, daripada malu, sekitar pukul 01:30 WIB Jimmy terpaksa mengambil uang di ATM untuk menebus perbuatan selingkuhnya. Setelah menerima uang gratis, si oknum petugas tersenyum puas dan melepas si Jimmy dan Inneke.

‘’Kita jadi nggak respek sama oknum-oknum di jalanan. Mereka itu aparat penegak hukum apa aparat pemeras orang? Kasus-kasus kayak gini banyak banget,’’ujar INNEKE dengan logat Betawi ala artis sinetron. Cerita miring semacam ini pun menjadi topik bahasan para waria Sidoarjo.

Apa perlu ada organisasi waria di Sidoarjo?

Beberapa waria yang saya tanyai bilang tidak perlu. Alasannya, selama ini mereka bisa eksis tanpa payung organisasi formal. Mereka khawatir organisasi hanya akan membelenggu kebebesan mereka. Apalagi, biasanya organisasi kerap disalahgunakan oleh pengurus untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

3 comments:

  1. mau ggabung dengan waria sejati?

    cukup klik di :

    http://www.manjam.com/belamino

    atau

    http://www.manjam.com/mingjameela

    gue ketuanya, syalompas!

    ReplyDelete
  2. saya seorang mahasiswa dari di salah satu universitas di surabaya. saya tertarik untuk melakukan penelitian bahasa yang digunakan oleh waria..

    ReplyDelete
  3. Bagaimanapun kaum Waria adalah saudara kita juga. Wajib kita hormati dan hargai. Menurut pengamatan kami, banyak juga kaum Waria yang berprestasi loh, baik di tingkat lokal maupun nasional. Kami sendiri bukan kaum Waria, namun bisa memahami mereka, sebagai sesama manusia, sebangsa dan setanah air. Trims infonya, numpang lewat Gan, kalau ada waktu kunjungi balik ke website kami juga....Trims.

    Salam kompak:
    Obyektif Cyber Magazine
    (obyektif.com)

    ReplyDelete