12 January 2007

Iga Mawarni yang Tersesat di Dapur JK

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek


Saya menulis goresan ini sembari menikmati alunan suara alto IGA MAWARNI. Segelas kopi di samping saya. LAGU-LAGU TERBAIK & TOP HITS IGA MAWARNI -- begitu judul kaset kumpulan lagu-lagu terkenal Iga Mawarni periode 1991-1992 itu.

Ada 15 lagu produksi JK Records, Jakarta, ini. SISI A: Kasmaran (Judhi Kristiantho/Rico Manansang), Kejujuran (Judhi Kristiantho), Satu Saja Pintaku (David Messakh), Pasrah (Ryan Kyoto), Kasih (Richard Kyoto), Kutunggu Dia di Sini (Richard Kyoto).

SISI B: Angin Malam (Richard Kyoto), Dan Kini (Iga Mawarni/Ernest Pratama), Awal Sebuah Cinta (Iwan Wiradz), Marah-Marah Saja (Richard Kyoto), Kepasrahan (David Messakh), Ingat Kamu (Dadang S Manaf), Janjimu (Ryan Kyoto), Melodi Cinta (Ryan Kyoto).

Bos JK Records, JUDHI KRISTIANTHO, menulis catatan kecil di album:

“Begitu hadir, begitu populer.... Jarang ada artis remaja yang begitu hadir disambut hangat oleh pencinta musik pop Indonesia. Tercatat di tahun 1991-1992 hanya ada IGA MAWARNI. Banyak pengamat musik berpendapat bahwa IGA MAWARNI termasuk salah satu penyanyi yang akan meraih sukses dan popularitasnya sebagai penyanyi yang bisa dibanggakan dan sebagai andalan di masa datang....”

Menurut saya, IGA MAWARNI memang bukan penyanyi biasa. Vokalnya yang berat, tapi empuk, musikalitas bagus, ditambah kemampuan improvisasi, merupakan modal dasar sebagai penyanyi jazz. Setidaknya ngejes alias jazzy macam lagu-lagu di album ini. Oh, ya, di album ini EMBONG RAHARDJO (almarhum) mempermanis dengan alunan saksofonnya. Musik digarap RICO MANANSANG.

Dari sini saja, kelihatan sekali sejak awal JK Records sadar akan potensi Iga Mawarni. Iga berbeda dengan penyanyi-penyanyi JK Records yang hampir semuanya ‘beraliran’ PANCE F PONDAAG, OBBIE MESSAKH, DEDDY DORES, atau JUDHI KRISTIANTHO sendiri. JK, penganut pop manis (ada yang bilang pop cengeng), ternyata mengorbitkan Iga di jalur yang benar. Dan ini direspons baik oleh penggemar musik Indonesia. Sejak lagu ‘Kasmaran’ melejit, image yang muncul di masyarakat: Iga Mawarni itu calon penyanyi jazz andal.

Sayang sekali, bakat besar Iga Mawarni ini terhambat justru oleh pelaku industri rekaman yang telah capek-capek mengorbitkannya.

Kita tahu, Iga terlibat konflik dengan JK Records, dalam hal ini Judhi Kristiantho, sang bos. Konflik ini akhirnya membuat kuncup itu gagal memekar menjadi kembang yang mewarnai persada musik jazz nusantara. Sayang sekali! Sayang sekali!

Kita tidak lagi menikmati suara jazzy Iga Mawarni di album-album berikut. Iga memang sempat bikin album bersama PETER F GONTHA (ini juga jalur jazz yang benar karena Peter dedengkot dan maesenas jazz), tapi lagi-lagi terhambat industri musik. JK yang punya kontrak bisnis dengan Iga Mawarni tidak rela wanita asal Solo ini terlibat dengan perusahaan rekaman lain, sebelum kasus di JK tuntas. Maka, albumnya bersama Peter Gontha pun kurang bergema di masyarakat. Saya tak pernah menemukan album IGA-PETER di pasar musik Kota Surabaya.

Iga kemudian menikah. Punya anak. Mengurus suami dan anak. Usia bertambah. Usia emas berlalu. Penyanyi-penyanyi muda datang. Yang tua tenggelam. Lalu, kapan bikin album? Sulit bukan main.

Apa boleh buat, saya sebagai penggemar musik, khususnya yang rada jazz, tidak bisa menikmati suara emas Iga. Konser Iga pun jarang (atau tidak ada?) karena konser di Indonesia ‘identik’ dengan sosialisasi album baru. Lha, kalau tidak bikin rekaman, mau konser apa? Itu yang dialami Iga Mawarni atau grup hard rock legendaris, GOD BLESS. Saya hanya sekali-sekali mendengar suara Iga Mawarni di Radio Suara Surabaya, jazz traffic.

Syukurlah, meskipun albumnya seret, IGA MAWARNI belum tamat di belantika musik. Dia memilih peran baru: mengurus organisasi penyanyi, pencipta lagu, penata rekaman atawa PAPPRI. Iga ikut mengurus even besar bernama HARI MUSIK INDONESIA. Nah, suatu ketika Iga Mawarni dan kawan-kawan nyekar ke makam almarhum GOMBLOH Sujarwoto di Surabaya. Saya ikut.

“Kita harus dukung musik Indonesia. Musik sudah menjadi bagian dari hidup kita,” ujar Iga Mawarni dalam bahasa khas penggiat organisasi. Dia juga tur ke mana-mana untuk ‘menemukan’ orang-orang daerah yang berdedikasi di seni musik. Mereka kemudian diberi penghargaan oleh pemerintah pusat di momentum Hari Musik Indonesia.

“Kiprah orang-orang seperti Iga Mawarni, KCI... sangat penting. Mereka itu mau memerhatikan seniman-seniman di daerah,” kata ABDUL MALIK BUZAID, komposer lagu-lagu melayu asal Sidoarjo, kepada saya.

Malik Bz, pencipta lagu legendaris, KEAGUNGAN TUHAN (‘insyaflah wahai manusia jika dirimu bernoda...’), merupakan salah satu seniman penerima penghargaan dari pemerintah pusat, yang digagas PAPPRI. Kontribusi Iga Mawarni, sebagai sekretaris, jelas sangat besar.

“Organisasi lain nggak pernah kasih penghargaan kayak organisasinya Iga Mawarni,” puji Malik Bz, pernah aktif di Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia atawa PAMMI.

Seniman yang aktif di organisasi itu baik. Tapi risikonya juga besar. Energi kreatif, ide-ide mencipta, tergerus oleh kesibukan mengurus organisasi. Belum lagi menghadapi konflik, berebut posisi dan pengaruh, hingga jadi ‘mainan’ orang politik. CANDRA DARUSMAN, pemusik hebat yang dulu aktif di Karimata, habis karier musiknya karena konsentrasi di Yayasan Karyacipta Indonesia atawa KCI.

Nah, si Iga Mawarni ini pun mirip-mirip dengan Candra. Dia begitu tekun mengurus organisasi, menyukseskan Hari Musik, menemukan seniman-seniman di daerah, unjuk rasa dan bikin pernyataan antipembajakan, dan seterusnya. Lha, kapan bikin album, Jeng?

Tapi, apa pun juga, ini sebuah pilihan. Orang-orang seperti Iga Mawarni, Candra Darusman... ini sengaja berkorban untuk menata dunia musik kita agar menjadi lebih baik. Hasinya baru dipetik 10, 20, 30, 50... tahun mendatang. Kita patut berterima kasih kepada Iga Mawarni.

Pengujung 2006, IGA MAWARNI ditanggap ke Balai Pemuda Surabaya. Bukan sebagai orang organisasi, tapi sebagai penyanyi. Kebetulan warga Surabaya dan sekitarnya sudah kangen melihat langsung penampilan Iga Mawarni, menikmati suara empuknya.

Wow, penikmat musik berjubel. Iga Mawarni ternyata makin matang. Dia betul-betul menghayati nyanyian, menangkah roh (soul), layaknya pe-jazz Amerika Serikat. Andai saja dia bikin album, saya yakin pasar musik Indonesia masih merepons. Yang jelas, saya pasti beli. “Penyanyi jazz itu tidak mengenal tua. Kayak anggur, makin tua makin matang dan bagus,” kata Cak Arif, teman saya penggemar jazz di Surabaya.

Sayang sekali, talenta besar Iga Mawarni terperangkap dalam pusaran konflik dengan pengusaha rekaman. Mengutip syair lama: Iga Mawarni ini bak bunga kembang tak jadi. Layu sebelum berkembang!

Andai saja pengusaha-pengusaha rekaman kita punya visi untuk memajukan musik Indonesia. Andai saja sejak awal Iga Mawarni tidak ikut JK Records.

11 comments:

  1. sebaiknya iga terus menekuni jazz. suaranya masih dibutuhkan.

    wawan, blitar

    ReplyDelete
  2. Minta izin utk menaruh artikel ini di blog saya.

    Ada sedikit ralat, Candra (bukan Chandra) Darusman berasal dari Karimata, bukan Krakatau.

    Mungkin hanya salah ketik saja.

    Menarik tulisannya.

    ReplyDelete
  3. Oke, silakan saja, Mas, asal tulis sumber dari hurek.blogspot.com.

    Saya senang anda mau baca blog saya. Salam

    Lambertus L. Hurek

    ReplyDelete
  4. Akhirnya saya bertemu juga dengan sesama fans Iga Mawarni. Apa ada informasi komunitasnya? Kalau ada saya mau gabung.

    ReplyDelete
  5. mas feri,
    setahu saya belum ada komunitas itu. soalnya, album iga mawarni terbilang sedikit, karirnya di industri musik tidak secemerlang potensinya.

    iga sekarang lebih aktif di organisasi seniman musik. dan biasanya, kalau sudah begitu, fokus di show atau rekaman menjadi sangat berkurang.

    terima kasih dan salam musik.

    ReplyDelete
  6. minta izin juga utk artikel ini di blog aq yah .?


    makasih

    ReplyDelete
  7. silakan di-link. jangan lupa tulisan sumbernya dari hurek.blogspot.com

    ReplyDelete
  8. kita butuh mbak iga yg bisa mengembangkan musik jazz. sayang ya rekaman2nya mandeg gara2 alasan nonteknis.

    ReplyDelete
  9. Iga mah suaranya biasa aja atuh. Kalau dibandingkan dengan SYAHARANI ya kalah jauh. Tolong tulis tentang Syaharani juga dong.

    ReplyDelete
  10. Sebagai musisi saya bangga dengan Iga ,suaranya yg khas tidak ngotot.....sayang volume 2 nya tidak muncul krn dgn adanya konflik ...maju trs iga...

    ReplyDelete
  11. Bung Rico, terima kasih sudah mampir ke blog saya. Ini sebuah kebanggaan tersendiri untuk saya. Selamat bermusik, semoga maju terus.

    Yah, kita semua prihatin Mbak Iga Mawarni yang hebat ini tidak banyak melepas album jazzy untuk penggemar musik Indonesia. Moga-moga ada jalan keluar.

    ReplyDelete