25 January 2007

Henri Supriyanto Doktor Ludruk

Ludruk mati?

“Siapa bilang? Kalau engkau cuma berputar-putar di dalam kota, ya, memang. Cobalah datang ke kampung-kampung, pinggiran kota. Ludruk itu masih eksis kok,” ujar HENRICUS SUPRIYANTO kepada saya dalam sebuah diskusi di Pendapa Kabupaten Sidoarjo beberapa waktu lalu.

Bicara soal ludruk dengan Henri Supriyanto memang asyik. Ilmunya banyak, bahkan ‘kebanyakan’. Saya kira, saat ini dialah satu-satunya peneliti ludruk di Jawa Timur yang paling produktif menulis buku... tentang ludruk. Henri masuk kampung ke luar kampung, wawancara dengan praktisi ludruk. Catat pola kidungan. Mendata kelompok-kelompok ludruk yang hidup, setengah hidup, seperempat hidup... hingga yang tak hidup lagi.

Henri selalu bicara pakai data dan angka. Karena itu, pria kelahiran Curahjati, Grajagan, Banyuwangi, 15 Juli 1943 ini selalu menjadi sumber utama wartawan-wartawan seni budaya di Jawa Timur. Kalau bicara ludruk, ya, harus minta pendapat Henri Supriyanto. Jangan lupa, Henri pun (mungkin) satu-satunya doktor (PhD) bidang ludruk yang eksis di Jawa Timur sampai sekarang.

“Dia menekuni bidang yang tidak ditekuni orang lain. Masih untung ada Henricus Supriyanto. Kalau tidak, kita tidak punya informasi tertulis dan ilmiah tentang dunia perludrukan,” kata HARRYAJIE BAMBANG SUBAGYO, bekas ketua litbang Dewan Kesenian Sidoarjo, kepada saya.

Pada Oktober 2006, Henri Supriyanto menerima penghargaan kesenian dari Gubernur Jawa Timur IMAM UTOMO SUPARNO karena jasa-jasanya dalam riset ludruk di Jawa Timur.

Menurut Henri, surutnya grup-grup ludruk (dan seni tradisional lain) tak lepas dari berkembangnya industri pop dan televisi sejak 1990-an. Orang terpaku di rumah, nonton televisi, daripada menonton ludruk.

Di sisi lain, para praktisi ludruk pun tidak banyak melakukan inovasi, menyesuaikan manajemennya dengan tuntutan zaman. Istilah gerejanya: tidak cakap membaca tanda-tanda zaman! Masyarakat berubah, orang luduk tidak berubah. “Ya, kalah dangdut,” kata bekas wartawan SINAR HARAPAN itu.

Di dalam kota, diakui Henri, pergelaran ludruk semakin hilang. Di Surabaya, misalnya, hanya satu grup (waria) yang rutin main di kawasan Joyoboyo. Namun, di kampung-kampung orang masih suka nonton ludruk. “Ludruk tidak mati di Jawa Timur. Hanya, komunitasnya berada di kampung-kampung, pinggir kota,” tutur Henri Supriyanto.

Kalau mau eksis terus, papar Henri, pengelola ludruk jangan segan-segan melakukan modifikasi. Struktur cerita, pengadeganan, tata gerak, lighting... disesuaikan dengan karakter masyarakat yang kian maju. Namun, pakem atau intisari ludruk tetap harus dirawat baik-baik. "Saya selalu optimistis ludruk tetap hidup di Jawa Timur,” kata dosen Universitas Negeri Surabaya (eks IKIP Surabaya) itu.

Berlatar belakang sekolah guru (pernah sekolah di SGB dan SGA Katolik di Malang), Henri Supriyanto cukup produktif menulis artikel di media massa. Dia juga rajin menerbitkan buku, di antaranya, Pengantar Studi Teater (1980), Pengantar Praktek Kewartawanan (1986), Pengantar Sastra Bandingan (1989), Cerita Panji pada Teater Topeng Malang (1991), Kamus Istilah Seni Drama dan Teater (1990), Lakon Ludruk Jawa Timur (1992), Transkripsi Lakon Rabine Panji (1994), Ragam Bahasa Jurnalistik (1997), Upacara Adat Jawa Timur 1-3 (1997-2001).

Secara pribadi, Henri Supriyanto merupakan guru pertama saya di bidang junalistik. Ketika baru masuk Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Sanctus Albertus, Jember, Pak Henri lah yang memberikan bimbingan tentang dasar-dasar jurnalistik.

Sampai sekarang pun wartawan kawakan ini masih dipercaya sebagai pembicara dalam berbagai pelatihan jurnalistik tingkat dasar untuk mahasiswa di Jawa Timur.

2 comments:

  1. pak henry....pendidik sekaligus budayawan. salut untuk pak henry. hendro tri, ponorogo

    ReplyDelete
  2. apakah bisa di beli online tidak ya bukunya? saya membutuhkan buku wayang topeng malangan untuk tugas akhir kuliah. terimakasih.

    ReplyDelete