27 January 2007

Gracia Paramitha Gadis Sarat Prestasi

GRACIA PARAMITHA (17 tahun). Gadis yang tinggal di Graha Tirta, Kecamatan Waru, Sidoarjo, ini banyak mencetak prestasi fenomenal di Jawa Timur. Gracia terpilih sebagai PUTRI LINGKUNGAN HIDUP 2002. Kemudian juara satu jurnalis DETEKSI-JAWA POS pada 2003. Kemudian finalis gadis Pantene, 2007.

Gracia Paramitha mulai mencuat ketika terlibat dalam kegiatan Klub Tunas Hijau, organisasi yang getol mengadakan pendidikan lingkungan hidup di kalangan remaja. "Masyarakat Surabaya kurang peduli lingkungan karena penduduknya terlalu padat. Masalah sampah pun semakin bertambah," ujar anak sulung pasangan PANTJA DJATI dan WAHYU A RINI ini kepada saya.

Lahir 3 April 1989, pelajar SMA Kristen Petra 2 Manyar, Surabaya, ini selain cerdas, juga sangat concern pada lingkungan hidup. Ia begitu gelisah ketika melihat warga membuang sampah sembarangan. Pengendara mobil dengan entengnya membuang sampah di jalan raya. Ia langsung menegur teman-temannya yang sembarangan membuang sampah.

Gracia juga seorang pecinta tanaman. Ia ingin melihat halaman rumah, halaman sekolah, penuh dengan tanaman. Tak segan-segan ia bekerja keras menanam tanaman penyejuk di rumah atau sekolahnya. Itulah yang membuat Gracia Paramitha terpilih secara mutlak sebagai PUTRI LINGKUNGAN HIDUP 2002.

Setelah menjadi Putri Lingkungan Hidup, Gracia Paramitha menjadi orang sibuk, mirip selebriti. Pada tahun itu juga Gracia menjadi duta Indonesia di konferensi lingkungan hidup di Perth, Australia. Bersama rekan-rekan sebaya dari puluhan negara, Gracia mendiskusikan berbagai isu lingkungan hidup.

Pengalaman yang, katanya, sungguh berkesan dalam hidupnya. Pada 5 Juni 2003 Gracia bertemu Presiden Megawati Soekarnoputri di Monas Jakarta. Saat itu hari lingkungan hidup sedunia. Beberapa bulan kemudian, 5 November 2003, Gracia kembali bertemu Megawati di HARI CINTA PUSPA DAN SATWA NASIONAL. Luar biasa!

Yang tak kalah seru, Gracia Paramitha didaulat sebagai pembicara dalam seminar nasional tentang lingkungan hidup di Universitas Kristen Petra Surabaya. Gracia, yang waktu itu masih SMP, tenang-tenang saja dan bicara dengan lancar di depan peserta yang kebanyakan mahasiswa dan dosen.

"Saya bicara sama Pak Sonny Keraf, mantan menteri lingkungan hidup saat itu," kenangnya.

Setelah setahun menjadi Putri Lingkungan Hidup, gelar ini diserahkan kepada orang lain. Namun, aktivitas dan kepeduliaan di bidang lingkungan hidup jalan terus.

Belakangan ia rajin menulis (apa saja), khususnya liputan-liputan ringan untuk media sekolahnya. Aktivitas ini membuat Gracia Paramitha terpilih sebagai juara pertama lomba jurnalis DETEKSI-JAWA POS 2003.

"Sekarang saya aktif menulis artikel di sekolah, ikut anggota Mandiri, majalah sekolah saya," kata Gracia yang punya dua adik ini (CHRISTIAN ADI JAYA dan JEREMIA KURNIAWAN).

Tahun 2005 Siti Nurhaliza bikin konser di Surabaya. Dan Gracia Paramitha, gadis remaja yang waktu itu masih 15 tahun, hanya bisa menyaksikan penampilan penyanyi Malaysia itu dari bawah panggung. Gracia ingin sekali bertemu, berbincang sejenak, dengan Siti, namun sang bintang terlalu sulit dijangkau.



“Sejak itu saya selalu berangan-angan, suatu saat saya harus bisa ketemu Siti Nurhaliza,” ujar Gracia Paramitha, kini 17 tahun, kepada saya di Surabaya. Siswi SMA Kristen Petra 2 Surabaya ini juga mengaku selalu berdoa agar angan-angannya itu terwujud.

Dua tahun kemudian, peluang untuk bertemu Siti Nurhaliza terbuka setelah gadis kelahiran 3 April 1989 ini ikut even ‘Siti Nurhaliza Mencari Bintang Panthene’. Gracia lolos terus hingga babak enam besar. Enam gadis cantik berambut kemilau dikarantina di Jakarta. Siti Nurhaliza pun datang ke tempat karantina, diskusi, ngobrol santai, dengan Gracia dan kawan-kawan.

“Puji Tuhan, impian saya untuk bertemu dengan Siti Nurhaliza akhirnya terkabul. Saya malah bukan saja ketemu dia, tapi juga bicara panjang lebar. Jadi teman ngobrol yan asyik,” tutur Gracia. Wajah Putri Lingkungan Hidup 2002 ini berseri-seri. "Saya bahagia sekali, Mas.”

Di babak enam besar, Gracia dan lima temannya diuji dengan berbagai materi. Tak hanya soal rambut bagus, indah, kemilau, tapi juga materi yang menguras wawasan dan pengetahuan umum. Public speaking, jalan di catwalk, pun diuji. Hasilnya? Gracia, satu-satunya wakil Jawa Timur, gagal di enam besar.

“Kalau dibilang kecewa, ya, memang kecewa. Tapi saya bangga karena menjadi finalis termuda dibandingkan lima finalis lain,” ujar anak sulung pasangan suami-istri Pantja Djati dan Wahyu A Rini itu.

Selain itu, Gracia mengaku bangga karena wajahnya dinilai paling mirip Siti Nurhaliza. Saat tampil di atas, yang disiarkan langsung di TransTV, Siti Nurhaliza terang-terangan mengakuinya. “Nanti kalau Siti berhalangan, biar Gracia saja yang menggantikan saya. Tak banyak beza lah,” ujar Siti dalam logat Melayu kental. Gracia tersipu-sipu mendengar ucapan penyanyi idolanya itu.

Karena wajahnya yang mirip, sama-sama cantik, Gracia mengaku menjadi ‘adik kesayangan’ Siti Nurhaliza selama mengikuti ajang pemilihan gadis Panthene di Jakarta, pekan lalu. Siti bahkan terkejut ketika mendengar suara Gracia yang merdu saat bernyanyi.

“Eh, saya juga diajak rekaman bareng dengan Kak Siti. Katanya, kalau bikin album baru saya diajak nyanyi bareng di satu atau dua lagu,” tutur Gracia yang tinggal di kawasan Waru, Sidoarjo, itu.

Kapan rekaman dengan Siti? “Belum jelas. Ini yang aku belum tahu,” ujar kakak kandung Christian Adi Jaya dan Jeremia Kurniawan ini, lalu tertawa kecil.

Bagi Gracia, apa yang diperolehnya pekan lalu di Jakarta jauh melampaui angan-angannya kendati kalah di ajang pemilihan gadis sampo. “Biarpun kalah, kami semua sama-sama dikontrak oleh Panthene,” tambahnya.

Selain cantik, Gracia Paramitha tercatat sebagai gadis berprestasi di Jawa Timur. Pada 2002 dia terpilih sebagai Putri Lingkungan Hidup, even bergengsi yang digelar Klub Tunas Hijau. Sebagai Putri Lingkungan Hidup, Gracia mengikuti konferensi lingkungan hidup untuk anak-anak sedunia di di Perth, Australia.

Pulang dari Australia, Graca diterima Presiden Megawati Soekarnoputri di Monas Jakarta. Setelah itu, dia diminta menjadi pembicara dalam beberapa seminar tentang lingkungan hidup di Surabaya dan beberapa kota lain. "Saya pernah jadi pembicara bersama Pak Sonny Keraf,” kata Gracia mengacu pada menteri lingkungan hidup di era Presiden Megawati.

Sambil bergelut di lingkungan hidup, Gracia menekuni jurnalisme di sekolahnya. Rajin menulis artikel serta reportase untuk Mandiri, majalah sekolah SMA Petra 2 Surabaya. Dan, pada 2003 Gracia Paramitha kembali mengukir prestasi sebagai juara pertama lomba jurnalis Deteksi-Jawa Pos.

Entah apa lagi prestasi yang bakal ditorehkan si cantik Gracia.

3 comments:

  1. grace temanku di HI loh!!! narsis abis

    ReplyDelete
  2. boleh kenalan sama gracia gak? cake tuh cewek.

    ReplyDelete
  3. boleh tau gak gimana cara gabung di klub tunas hijau???
    thanks

    ReplyDelete