25 January 2007

Foto Kenangan Redaksi Suara Indonesia




Ini foto kami, awak redaksi harian SUARA INDONESIA, pada acara tutup tahun 2000. Foto ini kalau di luar negeri macam pamitan kepada pembaca. Bahwa setelah itu koran berhenti terbit. Benar saja. Tak lama kemudian, SI (nama beken SUARA INDONESIA) tidak terbit lagi.

Koran yang sangat berpengaruh di Surabaya di era reformasi 1998 (saya masuk ke SI sekitar reformasi) kemudian berubah nama menjadi RADAR SURABAYA. Grup Jawa Pos memang punya nama generik RADAR untuk koran-koran lokal di berbagai kota. RADAR dimaksudkan untuk mempertajam isu-isu lokal seiring berlakunya otonomi daerah.

RADAR pun sejalan dengan salah satu asas jurnalisme: kedekatan atawa proksimitas.

Nama SUARA INDONESIA rasanya terlalu ‘besar’ untuk koran harian yang fokus pada isu-isu Surabaya dan sekitarnya. Nama itu cocok untuk koran nasional, sementara era koran nasional sudah silam. Saya rasa, itulah alasan Grup Jawa Pos mengganti nama SUARA INDONESIA dengan RADAR SURABAYA sejak 24 Januari 2000.

Sebagai orang SI, kami sedih dengan pergantian nama, brand name, tapi tanda-tanda zaman tak bisa dielakkan.

Dulu, 1970-an, SI terbit di Malang sebagai anak koran SINAR HARAPAN. Sejak SINAR HARAPAN dibredel, 1986, SI kelimpungan. Grup Jawa Pos pun mengambil alih. SI ditarik ke Surabaya menjadi koran harian. Tak lama, karena rugi terus, SI ganti halus menjadi koran bisnis. Oplahnya sedikit, tapi segmen pasarnya sangat fokus: masyarakat Surabaya berpenghasilan tinggi. Koran ini bertahan hingga datangnya gonjang-ganjing ekonomi, krisis moneter, kemudian reformasi.

Keputusan Dahlan Iskan, bos Jawa Pos, menjadikan SI koran reformasi ternyata tepat. Oplah naik cepat sekali. Di mana-mana orang baca SI untuk tahu denyut nadi reformasi. Kami sempat tumpengan, dapat dividen. “Itu kenangan yang indah di SI,” kata LUTFI SUBAGYO, bekas pemimpin redaksi SI.

Setelah SI jadi RADAR SURABAYA, sebagian wartawan senior dipromosikan sebagai pemimpin redaksi RADAR-RADAR di daerah. Boleh dikata, alumni SI ini paling banyak menjadi pemimpin redaksi koran-koran baru. Sebut saja: Aryono Lestari, Sukoto, Sholehuddin, Rindang Herawati, Lutfi Subagyo, Hatta Chumaidy, Rohman Budiyanto, Aris Sudanang. Belakangan Muhammad Makruf pun menjadi pemimpin redaksi REK AYO REK.

Nggak nyangka, dari dapur redaksi SI yang sederhana akhirnya muncul pemimpin-pemimpin koran di berbagai daerah. Tapi, ya, sejumlah teman wartawan keluar karena ingin mengembangkan karier di tempat lain atau ‘terpaksa’ cabut karena musabab lain. Yang jelas, suasana kerja di koran kecil macam SI lebih kondusif dan menantang meski melelahkan.

Ah... nostalgia terus!!!!

No comments:

Post a Comment