15 January 2007

Didit Hape dan Sanggar Alang-alang



Oleh LAMBERTUS HUREK

Alunan melodi manis mewarnai SANGGAR ALANG-ALANG di samping Terminal Joyoboyo, Surabaya, pertengahan Januari 2007. Saya pun masuk begitu saja, karena memang sudah tak asing lagi dengan sanggar ini. Ah, Haji DIDIT HAPE sedang main organ. Tetap gondrong, celana pendek.


Tiga remaja asyik membaca buku.

‘Nggak kerja Mas? Bikin program siaran atau apa lah?’ sapa saya. Didit Hape tersenyum. Kumis dan jenggotnya digaruk bersih.

‘Saya sekarang sudah MPP. Masa persiapan pensiun. Sebentar lagi pensiun,’ kata pria kelahiran Lumajang, 14 September 1952 itu. ‘Jadi, sekarang saya lebih banyak di rumah. Mengurus anak-anak ini.’

Anak-anak yang dimaksud tentu penghuni Alang-Alang, sanggar yang dia bentuk pada 16 April 1999. ‘Sekarang yang aktif 158 anak. Usia 18 tahun mereka wajib keluar dari sini. Lha, kalau ditambah dengan alumni, jumlahnya, ya, banyak sekali.’

Sesaat Didit Hape (lengkapnya DIDIT HARI PURNOMO) beranjak ke bilik sebelah untuk mengambil air mineral gelasan. ‘Silakan diminum,’ kata suami BUDHA ERSA ini.

‘Saya kangen. Setelah tugas di Sidoarjo, saya nggak pernah mampir ke sini. Biasanya hanya melintas saja di depan Sanggar Alang-alang. Sekarang, sudah satu tahun lebih ini, saya kembali ke Surabaya,’ kata saya.

‘Jadi redaktur? Orang kantoran ya?’

Saya mengiyakan. Didit Hape pun tertawa kecil. Sebagai jurnalis senior di TVRI Surabaya, Didit dikenal sebagai pekerja keras. Orang lapangan. Dia bisa saja jadi redaktur atau pengurus TVRI, namun ‘darah’ lapangannya sulit berkompromi.

Menurut dia, jurnalis kreatif harus senantiasa berada di lapangan, bukan di belakang meja. Wawancara langsung, tatap muka, bukan via telepon. Harus jadi saksi atas peristiwa penting di masyarakat.

DI awal 2007, bersamaan dengan MPP, Didit Hape mengaku sedang mematangkan program BIMBINGAN BELAJAR ANAK PERAWAN. (Perawan di sini artinya ‘perempuan rawan’). Sebanyak 90 ‘perawan’, berlatar belakang pembantu rumah tangga alias PRT mendapat pelatihan dan bimbingan gratis dari Sanggar Alang-alang.

Disebut ‘rawan’ karena para PRT remaja ini sangat rawan trafiking. Sudah banyak bukti gadis-gadis desa yang lugu ini dijadikan komditas oleh para mafia jual-beli perempuan di Surabaya dan sekitarnya.

‘Mereka umumnya tinggal di perumahan-perumahan elite Surabaya. Rata-rata komunikasi dengan majikan kurang, bahkan hampir tidak ada. Tidak tahu nomor telepon, nggak pernah keluar rumah...,’ jelas ayah dua anak ini (WURI PRAMESTI dan DEA ARI).

Syahdan, 14 Februari 2006, bertepatan dengan Hari Valentine, Didit Hape memberi ceramah tentang kasih sayang. Tak dinyana, malam itu seorang PRT remaja, asal Caruban, melahirkan. Yang menghamili pria satpam di sebuah perumahan mewah tempat PRT ini bekerja. Buaya darat itu enggan bertanggung jawab. Maka, Didit memutuskan agar si PRT bersama anaknya diasuh oleh Sanggar Alang-alang.

‘Anaknya sudah 11 bulan. Namanya MUHAMMAD GALANG VALENTINO. MUHAMMAD karena anak piatu, GALANG keluarga Alang-alang, VALENTINO lahir saat Valentine Day,’ cerita alumnus Akademi Wartawan Surabaya itu.

Tak lama kemudian, ada lagi PRT asal Flores ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Kepalanya bocor. Mengadulah gadis remaja itu ke Alang-alang. Dia pun jadi anggota keluarga Alang-Alang. Berangkat dari keprihatinan ini, Didik serta Wuri (anaknya) bertekad membuka program baru: bimbingan untuk para ‘perawan’, perempuan rawan.

‘Awalnya tidak gampang karena perumahan-perumahan elite itu sangat tertutup,’ jelas Didit Hape.

Syukurlah, mereka punya tukang sayur yang bisa dimanfaatkan. Penjual sayur saban hari berjualan di perumahan-perumahan. Didit pun menitip brosur untuk para PRT berusia 18 tahun ke bawah.

Mereka bisa menelepon Alang-Alang. Juga ada formulir untuk diisi: data-data primer macam nama lengkap, usia, asal, pendidikan, alamat. Pada 21 April 2006, bertepatan dengan Hari Kartini, Didit Hape meluncurkan BIMBINGAN BELAJAR ANAK PERAWAN di Alang-alang. ‘Sekarang ada 90 PRT remaja yang bergabung,’ tutur bekas pemandu acara RONA-RONA di TVRI Surabaya itu.

Pola bimbingan sederhana saja. Setiap pekan diadakan mobile school atawa sekolah berjalan di kantung-kantung PT rawan di Surabaya. Relawan Alang-alang secara teratur dan tekun menemui para PRT rawan tersebut. Dari sini, para PRT yang tadinya tertutup, terisolasi, merasa punya teman. Ada yang memerhatikan. Punya teman senasib sepenanggungan.

‘Alhamdulillah, program kami ini dilombakan di tingkat internasional dan menang. Soalnya, dianggap baru, orisinal,’ kata Didit, bangga. Pada 21 Desember 2006 silam, Sanggar Alan-alang beroleh penghargaan Samsung Digital Hope di Hotel Shangri-La, Jakarta. Dalam waktu dekat Didit dan Alang-Alang bakal mendapat ‘uang pembinaan’ dari sponsor internasional dalam jumlah lumayan.

‘Alhamdulillah, apa yang kami kerjakan di sini selalu diperhatikan orang,’ tambahnya seraya tersenyum.


DALAM setiap diskusi dengan saya, Didit Hape selalu menolak istilah ANAK JALANAN. Yang benar, kata dia, ANAK NEGERI. Didit mengacu pada pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 tentang kewajiban negara untuk memelihara dan mengasuh anak-anak telantar serta fakir miskin.

‘Kalau ada pegawai negeri, yang dipelihara negara, kenapa tidak ada ANAK NEGERI, yang juga dipelihara negara? Ini amanat UUD 1945 lho,’ tegas Didit Hape.

Saat bicara di televisi, seminar, dan kesempatan apa pun Didit selalu menegaskan prinsip ini. Sayang, amanat konstitusi itu sampai sekarang belum dilaksanakan oleh negara (pemerintah). Anak-anak telantar justru digaruk tanpa solusi. Setelah dirazia, mereka kembali lagi ke jalan.

Melihat kondisi ini, Didit Hape merasa harus berbuat sesuatu untuk anak-anak telantar. Maka, singkat cerita, dia bikin Sanggar Alang-alang pada 16 April 1999. Kenapa di sanggarnya di samping terminal? Ini karena terminal bis Surabaya itu dulu dikenal sebagai kantung anak-anak telantar, pengamen, pengemis, gelandangan.

Nah, sanggar diadakan untuk ‘memanusiakan’ anak-anak itu. Aneka jenis ketrampilan alias kecakapan hidup (life skill) diberikan di Alang-alang: kerajinan, musik, perpustakaan, tata krama, agama, budaya. Pada usia 18 anak-anak itu wajib tamat. ‘Keluar dari Alan-alang mereka tidak dapat ijazah, tapi kecakapan untuk hidup,’ papar Didit Hape.

Nama Sanggar Alang-alang sungguh mencorong di Jawa Timur. Maklum, sanggar binaan Didit ini berkali-kali meraih piala kejuaraan musik dan sebagainya. Di ruang tengah sanggar, piala (trofi) memang menumpuk. Penghargaan dari pemerintah, lembaga sosial, perusahaan swasta, pun banyak.

‘Kami baru saja meraih juara umum tinju se-Kota Surabaya. Tahun lalu Sasana Pirih,’ kata Didit, bangga.

Untuk menyalurkan bakat berkelahi ‘anak-anak negara’, Didit tahun 2006 lalu memang membuka sasana yang dikenal dengan ALANG-ALANG BOXING CAMP. Latihannya di jalan, depan sanggar, pada malam hari. Tak tanggung-tangung, pada 17 Januari 2006 Menteri Negara Pemuda dan Olahraga ADHYAKSA DAULT datang meresmikan Alang-alang BC.

Mungkin, inilah satu-satunya sasana tinju milik anak-anak telantar di Indonesia.
Adhyaksa Dault sempat menulis catatan kecil dengan tulisan tangan:

UNTUK ANAK-ANAKKU DI ALAN-ALANG BC
HIDUP HANYA SEKALI
GUNAKAN TUK MENGABDI
PADA ILLAHI RABI
DAN MARI KITA BANGUN NEGERI
OLAHRAGA JAYA GIRI
SYURGA TUJUAN ABADI!!

Baca Juga
Wawancara khusus dengan Didit Hape.

30 comments:

  1. Ehmmm saya sangat bangga dengan "Didit Hape dan Sanggar Alang-alang" nya.

    Pengen rasanya taruh posting ini dalam blog saya. Boleh saya posting kan kembali post ini...

    salam...

    ReplyDelete
  2. boleh lah. makasih dah nengok blog saya. monggo wae.

    ReplyDelete
  3. bang, saya reporter Cerita Anak di trans TV. Saya mau tanya alamat sanggar alang-alang. kalo bisa minta contact personnya mas Didit HP. rencananya saya akan meliput sanggar alang-alang. dibales secepatnya ya... thanx b4

    kirim ke e-mail: alie_trans@yahoo.com

    ReplyDelete
  4. salam utk om didit. he's great main.

    ReplyDelete
  5. waw.....

    tHank's bwt informasi dari mas didit hape udah bantu saya setidaknya tentang sebuah kesenian di sanggar alang-alang.

    SAlam dr
    Education of Technology

    ReplyDelete
  6. Drs.tandjung suparnadi6:31 PM, March 31, 2008

    salam buat Didit Hape..
    saya Tandjung Tuparnadi teman se-almamater AWS th.70..
    tak tunggu di magetan sakdurunge pensiun..
    oke???
    hub. saya di 08123449311

    ReplyDelete
  7. saya juga bangga banget sama pak didit. Seandainya saja saya bisa jadi bagian sanggar alang-alang. Boleh maen-maen kesana nggak pak. alamatnya dimana ya...
    wenny

    ReplyDelete
  8. bang, saya mau nanya alamat sanggar alang-alang.. atau contact personnya mas Didit Hape.. saya ada rencana, mo buat komunitas yang tujaannya membantu anak-anak negeri seperti sanggar alang-alang ini

    kirim ke: chist_n3em0@yahoo.com

    ReplyDelete
  9. Assalamualaikum........

    Duch...akhirnya nemu juga blog sanggar Alang-alang..........


    kapan2 aku pengen datang n liat langsung gimana pendidikan yang dipake oleh mas Didit....

    sukses dan teruz berkarya demi anak bangsa

    ReplyDelete
  10. ass.wr.wb
    mas didit hape, saya salut dengan kegigihan anda untuk memperjuangkan nasib anak negeri untk lebih baik lagi....oleh karena itu saya mau minta ijin bolehkah saya untuk melakukan penelitian di sanggar alang-alang guna untuk bahan skripsi saya...
    terima kasih...
    wassalam.wr.wb

    www.cinta_imoet_nih@yahoo.com

    ReplyDelete
  11. ass.wr.wb
    mas didit hape, saya salut dengan kegigihan anda untuk memperjuangkan nasib anak negeri untk lebih baik lagi....oleh karena itu saya mau minta ijin bolehkah saya untuk melakukan penelitian di sanggar alang-alang guna untuk bahan skripsi saya...
    terima kasih...
    wassalam.wr.wb

    www.cinta_imoet_nih@yahoo.com

    ReplyDelete
  12. skses sllu bwat om didit & sanggar alang alang,,,,

    lindungan allah SWT sllu mndampingi stiap qt mlangkah.....

    hnya kt2 alhmdllah yg trlontar dr bi2rQ........

    shingga q bs brgbung d sni

    ReplyDelete
  13. akhirnya nemu juga info tentang mas Didit HP & Sanggar Alang Alang, salut buat mas Didit Hape & Anak-anak Negerinya.
    Thanx buat mas Lambertus yang udah kasih info ini, saya bisa minta contact person mas Didit Hape, rencananya saya mengangkat dalam bentuk tulisan tentang kehidupan Anak-Anak Negeri yang tangguh.
    dibales ya mas, thanx be4

    kirim ke e-mail: ferra_aryani@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  14. Perkenalkan mas Didit HP nama saya henny saya mencari tentang LSM atau lembaga yang bertugas untuk mengentaskan Gepeng(Gelandangan dan Pengemis) khususnya di kota surabaya dan sekitarnya saya terus mencari baik melalui browser dan informasi melalu telkom.Begini mas hati saya tergerak beberapa hari ini saya melihat beberapa kali ada seorang nenek tua renta yang kondisinya sangat memprihatinkan.Beliau lumpuh kehujanan dan kepanasan..lokasinya di sekitar jalan raya waru samping kiri pintu keluar bungurasih.Tolong nenek ini mas kasihan... seandainya saya mampu untuk menampung saya akan lakukan tapi saya memohon pertolongan untuk nenek ini semoga mas Didit melihat tulisan saya..untuk informasinya dapat di hubungi melalui handphone saya 031.60326374.Terima kasih sblmnya

    ReplyDelete
  15. uhm...two thumbs up dh, bwt pak didit hape....gag banyak omong, pi...tunjukkan dngan bukti nyta...
    andai j, d indonesia ada pak didit-didit yang laen...pasti anag2 negeri lbi terarah..
    uhm, kpan2 jdi pngen maen ksna..
    kra2 bleh gag y???

    ReplyDelete
  16. Memang benar kita tidak perlu memberikan nama anak asuh tersebut dengan anak jalanan dan lebih baik dengan sebutan "Anak Negeri" karena dia juga anak- anak Bangsa yang tidak seberuntung dengan situasi lingkungan di kota besar seperti Surabaya.Saya salut dengan Mas DIDIT Hape untuk menjadikan anak Negeri di Surabaya mempunyai wadah dan tidak lagi dipandang sebelah mata untuk masa depan Anak Negeri di Surabaya.Semoga..

    ReplyDelete
  17. om... mau tanya... alamat sanggar alang-alang yang di surabaya itu lengkapnya dmn?? pgn maen-maen kesana boleh gaa??

    om.. potingkan foto2 sanggar alang2 yang banyak donkkk....

    ReplyDelete
  18. ingin sekali saya bergabung di sanggar alang-alang. saya Dicky. Pengajar Teater Anak dan Story Teller. sekarang aktif kegiatan Kuliah di UNAIR Surabaya Fakultas Psikologi.
    mohon di Respon. terimakasih mas didit.
    salam dan sukses.

    ReplyDelete
  19. moga2 alang2 makin maju dan menjadi solusi bagi anak2 jalanan kita. seharusnya ini jadi tugas negara, tapi negaranya sibuk ngurusin politik melulu sih....

    acha

    ReplyDelete
  20. salam hormat pak didit..perkenalkan saya liya..saya ingin sekali menjadi bagian dari sanggar alang alang sebagai pengajar sukarela untuk anak anak kecil..saya ingin dedikasikan hidup saya untuk membantu org lain..mgk melalui sanggar ini keinginan saya bisa terlaksana..mohon di respon..terima kasih pak didit... email saya..lovadi_calpuc@yahoo.com

    ReplyDelete
  21. o..om ne nita.kponakan oom yang d kencong.nita bangga bgt punya oom kayak oom didit.
    seandainya nita bisa ketemu oom besok tgl 4 juli 2010 d rumah budhe mujiati kencong,dalam rangka pernikahan anak bungsunya.......
    ne alamat mail nita
    vyurimaniez_nandy@yahoo.com

    ReplyDelete
  22. Oom,ne nita keponakan om,dari kencon.ne mail nita
    vyurimaniez_nandy@yahoo.com
    ne phone nita flexy:0336 77 400 92
    yg AS :0852 3665 7195

    ReplyDelete
  23. brapa hari lalu saya singgah di SAA (Sanggar Alang-Alang)2 hari saya berpartsipatif bersama anak2 sanggar. kehidupan mereka yang membuat kita bercermin tentang dunia ini... sanggar yang sederhana tapi berisi didalamnya orang-orang yang hebat... Edi, Mal, Bambang, Toni, Munzir, Agus. mereka adalah anak2 Sanggar yg bertahun2tinggal di SAA... merekalah cermin saya yang merubah stigma tentang kehidupan anak2 jalanan.. Etika, Estetika, ILmu, Agama. kunci mendidik yang di terapkan Oleh Om Didit Hape selama ini

    Salam Rindu untuk anak2 Sanggar Alang-Alang

    Iwran Saputra.

    ReplyDelete
  24. Pak lambertus, senang sekali saya bisa membaca tulisan ini, tulisan tentang sanggar alang-alang. Banyak hal yang ingin saya ketahui dari sanggar alang-alang, namun sulit mencari info lengkap tentang SAA karena tidak ada website ataupun blog resmi tentang SAA.
    Pak Lambertus saya ingin bertanya (mungkin Bapak tahu)
    Bagaimana caranya agar bisa menjadi relawan di SAA??

    Mohon jawabannya pak..
    saya sangat senang kalau bisa membantu sesuatu untuk sanggar ini..
    terimakasih sebelumnya pak..

    email : riza_roi@yahoo.com

    ReplyDelete
  25. Mkasih banyak atas artikel yang dimuat tentang sanggar Alangalang Surabaya. ini web sederhana dari Alang-alang :

    www.alangalang.tk atau www.alangalangsby.tk

    ReplyDelete
  26. Saya bangga terhadap Bpk.H.Didit Hape?"
    ingin sekali saya bergabung di dlam sanggar alang-alangnya?"
    salam......
    Dedy Mahendra

    ReplyDelete
  27. ellen avita
    assalamualaikum

    saya ingin sekali menjadi pengajar sukarela di sanggar alang_alang kapan2 saya mampir di sana....

    ReplyDelete
  28. ellen avita
    assalamualaikum

    saya ingin sekali menjadi pengajar sukarela di sanggar alang_alang kapan2 saya mampir di sana....

    ReplyDelete
  29. mas Didit......masih ingat smp negeri yosowilangun???? saya aktif di sanggar tugu ireng ampel gading malang.... (heri putera bu titik pak muhadi)Bravo sanggar alang alang

    ReplyDelete
  30. semoga pak Didit dan keluarga diberi kesehatan dan umur panjang, amin

    ReplyDelete