12 January 2007

Balai Bahasa Surabaya, Polisi Bahasa Indonesia?



Sepi. Lengang. Gersang. Panas.

Begitulah kondisi kantor BALAI BAHASA SURABAYA yang saya singgahi baru-baru ini. Namanya ada unsur SURABAYA, tapi lokasinya di Desa SIWALAN PANJI, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Mirip Bandara Juanda Surabaya yang berlokasi di Sedati. Terminal Purabaya di Bungurasih, Waru, Sidoarjo. Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya di Desa Kebonagung, Kecamatan Porong, Sidoarjo. (Daftarnya masih panjang.)

Tak ada pohon-pohon peneduh. Halaman kantor ini pun kurang terawat. Belum ada rumput-rumput segar, apalagi taman bunga nan indah. “Kami memang masih melakukan pembenahan. Mudah-mudahan Balai Bahasa ini bisa lebih dirasakan manfaatnya oleh warga Jawa Timur,” ujar AMING AMINUDDIN, staf Balai Bahasa Surabaya, kepada saya.

Di masa Orde Baru, 1966-1998, lembaga ini lebih dikenal sebagai PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA. Lembaga yang sering disindir sebagai ‘polisi bahasa’ karena pakar-pakarnya kerap bertindak baik polisi di bidang bahasa Indonesia. Pusat Bahasa dulu selalu memberi penghargaan kepada pejabat yang bahasa Indonesianya dinilai bagus. Salah satunya, Susilo Bambang Yudhoyono yang kini presiden Republik Indonesia. Padahal, kita tahu Susilo doyan menyisipkan ungkapan bahasa Inggris dalam pernyataan-pernyataannya.

Balai Bahasa Surabaya di Buduran ini relatif tidak dikenal masyarakat Sidoarjo. Bahkan, kalangan wartawan di Sidoarjo pun selama ini jarang tahu kalau ada Balai Bahasa di Buduran. Saya sendiri, terus terang saja, awalnya mampir ke Balai Bahasa karena kebetulan kesasar.

Wajarlah, karena balai ini bukan tempat wisata. Daya tariknya tak ada. Selain kamus-kamus dan buku-buku bahasa, tak ada ruang pamer yang bisa dinikmati para penunjung. Balai Bahasa baru ‘berdenyut’ setiap Oktober, yang dikenal sebagai BULAN BAHASA. Lembaga ini punya tradisi mengadakan lomba-lomba ‘dalam rangka’ Bulan Bahasa.

Sesuai dengan namanya, Balai Bahasa berusaha berperan sebagai pusat pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Khusus Balai Bahasa di Sidoarjo, bahasa Jawa menjadi salah satu fokus. Para peneliti semacam Aming berusaha menghimpun ribuan kata--baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak dipakai--mengaji, menelaah, sehingga bisa memperkaya bahasa kita.

Ragam bahasa POJOK KAMPUNG ala JTV (Grup Jawa Pos) pun tak luput dari kajian Balai Bahasa Surabaya. Begitu pula ragam bahasa (Jawa) lisan di Surabaya, Sidoarjo, Malang, serta daerah-daerah lain di Jawa Timur. Bagi Aminuddin, tokoh pengarang sastra Jawa, bahasa POJOK KAMPUNG sangat menarik meski banyak dikecam oleh sebagian masyarakat, khususnya kalangan konservatif.

“Tapi, harus diakui, itu bahasa yang berkembang dan mulai hidup di masyarakat,” ujar Aming, yang lebih tampak sebagai seniman ketimbang teknokrat bahasa itu.

Sudah ada pendekatan dengan instansi pemerintah macam Pemkot Surabaya atau Pemkab Sidoarjo agar Balai Bahasa lebih dikenal masyarakat? Belum, kata Aming. Menurut dia, instansi-instansi pemerintah justru cenderung meremehkan fungsi Balai Bahasa. Apalagi, lembaga ini dianggap tidak memberi nilai tambah berupa pendapatan asli daerah.

SEPEKAN kemudian, saya diterima oleh AMIR MAHMUD, kepala Balai Bahasa Surabaya, di ruang kerjanya. Kami diskusi tentang perkembangan bahasa Indonesia sekarang. Maklum, saya kebetulan pecinta bahasa, khususnya bahasa Melayu, yang di sini dikenal sebagai bahasa Indonesia.

Menurut Amir Mahmud, sikap dan cara berbahasa merupakan salah satu ukuran NASIONALISME kita kendati bukan satu-satunya. “Kalau bahasanya penuh dengan istilah Inggris, orang bisa mempertanyakan kadar nasionalisme orang itu,” ujar Amir Mahmud kepada saya.

Dalam beberapa tahun terakhir muncul tempat-tempat belanja dan rekreasi baru di Sidoarjo yang modern dan meah. Nama-namanya mengadopsi bulat-bulan istilah asing, khususnya Inggris. Jadi, bukan lagi transliterasi atau pengindonesiaan istilah asing. Contoh: Universal Fun Centre, Sun City Plaza, Waterpark, Giant Supermarket.

Nama-nama perumahan pun kental dengan English.

Menurut AMIR MAHMUD, kecenderungan berbahasa gado-gado alias ‘bahasa rojak’ (istilah Malaysia) macam ini tidak bisa dibiarkan. Kenapa? Bukan tidak mungkin orang Indonesia semakin kehilangan jatidiri. Globalisasi memang tidak bisa dihindari, tapi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa persatuan harus dirawat baik-baik.

Saat ini, papar Amir Mahmud, Pusat Bahasa (atau Balai Bahasa di daerah) tengah menyiapkan RANCANGAN UNDANG-UNDANG BAHASA untuk dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat. Uundang-undang ini nanti diharapkan menjadi pegangan semua komponen masyarakat, dalam berbahasa Indonesia secara BAIK DAN BENAR. Tanpa payung hukum, kata Amir, pengguna bahasa tidak punya pegangan. Berbahasa suka-suka.

‘‘Lantas, apakah Balai Bahasa bisa ‘menindak’ pengusaha atau pihak-pihak tertentu yang suka beringgris ria?’’ tanya saya.

“Tidak ada tindakan apa-apa. Kami hanya bisa mengimbau supaya masyarakat menggunakan bahasa Indonesia. Yang penting dalam bahasa tulis itu ejaan dan kaidah,” kata Amir Mahmud.

Menurut pria berkacamata minus ini, pada 1995, zaman Presiden SOEHARTO, pemerintah pernah melakukan semacam razia atau penertiban bahasa di pusat belanja, rekreasi, perumahan, dan fasilitas umum lainnya. Istilah asing seperti ‘mall’ dijadikan ‘mal’, ‘plaza’ jadi ‘plasa’, ‘counter’ jadi ‘gerai’. Maka, Surabaya Mall jadi Mal Surabaya, Tunjungan Plaza jadi Plasa Tunjungan, Mal Sidoarjo, Graha Mutiara Delta, dan seterusnya.

“Waktu itu Pak Ciputra yang jadi pelopor,” kata Amir.

Sayang, setelah Reformasi 1998, gonta-ganti presiden, penggunaan bahasa asing, khususnya Inggris, semakin marak. (Ironisnya, kemampuan berbahasa Inggris dan bahasa asing lain rata-rata orang Indonesia justru tidak lebih bagus daripada generasi pejuang macam Soekarno, Hatta, Sjahrir, H Agus Salim, Soemitro....)

Tak hanya bahasa lisan di televisi, bahasa tulis yang seharusnya konsisten menerapkan kaidah bahasa, pun kental dengan istilah Inggris.

Pepatah lama mengatakan: BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA!

2 comments:

  1. Semangat menjunjung tinggi bahasa persatuian mulai memudar di kalnagn anak muda. Kalau bukan kita yang merawat, jangan marah kalau bahasa Indonesia diklaim negara lain, hehe

    ReplyDelete
  2. Ada yg tau nomor kantor balai bahasa? Tolong dong, kampus kami mau kunjungan kesana

    ReplyDelete