03 January 2007

Aku Ikut Misa Natal di Bali



Aksi peledakan bom di Bali selama dua tahun berturut-turut (2002 dan 2005) membuat dunia pariwisata di pulau dewata itu terpukul. Setiap saat, apalagi menjelang Natal dan tahun baru, orang khawatir dengan aksi teror bom. Beberapa pemerintah negara Barat, khususnya Australia, mengeluarkan travel warning kepada warganya.

Nah, menjelang Natal 2006 lalu, sama dengan tahun-tahun sebelumnya, Bali siaga bom. Penjagaan di halaman dan di dalam gereja diperketat. Beberapa hari sebelumnya polisi dan tim jihandak (penjinak bahan peledak) melakukan aksi ‘sterilisasi’ gereja dari bahan peledak. Jemaat yang masuk gereja untuk misa Natal diperiksa satu per satu. Tas digeledah.

“Mohon maaf, ponsel Anda dicek dulu di sini,” ujar seorang polisi wanita kepada saya di halaman Gereja Katedral, Jalan Tukat Musi 1 Denpasar, Minggu (24/12/2006) malam. Di situ memang ada pengecekan dengan metal detector, mirip masuk ke bandar udara internasional saja.

Syukurlah, pemeriksaan berlangsung lancar, cepat, dan ramah. Umat Katolik di Bali rupanya sudah terbiasa dengan pemeriksaan ketat berstandar internasional itu.

"Kami di sini mah sudah biasa. Malah saya rasa lebih aman kalau ada pemeriksaan seperti ini. Sebab, bagaimanapun juga Bali masih menjadi traget utama aksi terorisme di Indonesia,” kata Paulus Kopong, jemaat Gereja Katedral, asal Flores Timur.

Sementara itu, sekitar 100 meter dari gereja, aparat keamanan (Polri/TNI) bersenjata lengkap telah ‘mengepung’ habis kompleks Katedral yang megah itu. Kendaraan militer, ambulans meraung-raung. Juga ada bantuan pengamanan dari sahabat-sahabat Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama serta Pecalang. Banser pakai baju loreng ala tentara, Pecalang pakai pakaian adat Bali.

“Pecalang ini pasukan pengamanan tradisional di Pulau Bali. Mereka selalu membantu pengamanan acara-acara besar yang dianggap rawan menimbulkan gangguan keamanan,” jelas Paulus Kopong yang sudah tinggal lima tahun di Bali.

Beda dengan pasukan swasta lain yang kerap berlaku lajak atawa overakting, sahabat-sahabat Pecalang ini sangat ramah. Bicaranya halus, santun, bersahabat layaknya orang Bali umumnya.

Ahad, 24 Desember 2006, misa malam Natal di Katedral Denpasar berlangsung dua kali: pukul 19.00 dan pukul 22.00. Saya yang baru datang dari Surabaya segera mempersiapkan diri ikut misa pertama, jam tujuh malam. Tiba di halaman pukul 18.50 alias masih ada tempo 10 menit lagi. Gereja terbesar di Denpasar sudah padat jemaat baik di dalam maupun luar. Pasukan keamanan plus Banser dan Pecalang ramai. Lamat-lamat terdengar suara pastor menyanyikan prefasi.

“Eh, teman, misa sudah mulaikah?” tanya saya kepada pria Flores di halaman gereja. Saya pastikan dari Bajawa dari logat bicaranya.

“Sudah dari tadi. Ini mau habis.”

“Lha, mulai misa jam berapa?”

“Jam tujuh.”

Saat itu sadarlah saya bahwa ada yang tidak beres. Aha, ternyata jarum arloji saya masih menggunakan waktu Surabaya, WIB. Padahal, Bali pakai waktu Indonesia tengah (Wita). Bedanya satu jam. Saya tertawa sendiri dengan keteledoran ini.

“Capek-capek ke gereja, bayar taksi lumayan mahal... eh belum bisa misa,” batin saya.

Gagallah saya misa pertama bersama Uskup Denpasar Mgr. Benyamin Bria, Pr. Tapi ada hikmahnya. Saya minggir ke ujung Jalan Tukat Musi, pesan jagung bakar sambil ‘wawancara’ santai dengan aparat keamanan serta pedagang jagung. Tentang hal-hal ringan seputar pulau dewata, soal keamanan, arus turis, hingga babi guling.

“Bali itu surganya babi guling. Mas mau cari yang jenis mana saja ada. Saya jamin enak,” kata I Wayan Luwus, pemuda asli Jembarana yang kerja di Denpasar.

Pukul 21.30 WIB (waktu Bali) saya kembali ke katedral untuk misa malam Natal, misa kedua. Umat mulai mengalir. Prosedur pemeriksaan tetap ketat ala di bandara internasional, tapi cepat dan ramah. Anggota kor berkostum putih-hitam cek sound, ada yang latihan sendiri. Dua puluhan umat berdoa di depan gua natal. Belasan warga kulit putih, beberapa di antaranya menggandeng perempuan nusantara (mungkin istri atau pacar), masuk ke dalam gereja.

Aha, ternyata orang Barat pun masih mau meluangkan waktu untuk ikut misa malam Natal. Jadi, keliru kalau kita pukul rata orang Barat itu sekuler, sudah tak hirau agama!

Misa kedua ini dipimpin Romo Yosef Wora, S.V.D., pastor asal Flores. Pembawa acara, wajahnya tak sempat saya lihat, berlogat Manggarai (Flores). Petugas ketertiban sebagian besar Flores. Penyanyi kor, khususnya tenor dan bas, Flores. Satpam Flores. Pastor Flores. Suster Flores. Uskup Flores. Tukang kebun Flores. Koster Flores. Pembaca pengumumam Flores.

“Kaka... memang di Bali ini orang kita (Flores) banyak sekali. Kalau nggak ada orang kita mungkin kegiatan gereja nggak jalan,” kata Paulus Kopong, orang Flores Timur, disambut tawa beberapa orang Flores lain.

Singkat cerita, misa malam Natal di katedral berlangsung meriah dan apik. Paduan suara bagus, kendati salah satu sopran sangat ngotot pamer suara bervibrasi, sehingga paduan suara jadi terganggu.

Romo Yosef Wora di akhir misa memuji kor ini. Penonton tepuk tangan. Si sopran tadi kemudian pamer suara sendiri: lagu Joy to the World alias Alam Raya Karya Bapa. Oh, ya, sampai kini Keuskupan Denpasar masih menggunakan buku MADAH BAKTI terbitan Pusat Musik Liturgi, Jogja, bukan PUJI SYUKUR dari Konferensi Waligereja Indonesia.

Umat Katolik di Bali pun masih pakai atas nama Bapa, bukan dalam nama Bapa macam di Jawa Timur. Aturan berlutut, berdiri, duduk... pun masih gaya lama. Maka, sebaiknya umat Katolik asal Jawa menyesuaikan diri dengan pakem Bali agar tidak dianggap waton suloyo alias beda sendiri.

“Terima kasih kepada semua pihak, khususnya aparat keamanan, yang telah membantu mengamankan misa Natal. Juga kepada Banser NU dan Pecalang,” kata Romo Yosef Wora.

Tepuk tangan umat baik di dalam gereja maupun di ‘bawah’ gereja (katedral ini bagian bawahnya untuk parkir, mirip rumah di atas tiang) bergemuruh.

“Selamat pesta Natal, Tuhan memberkati,” kata Romo Yosef Wora. (Pastor-pastor SVD memang suka pakai istilah pesta Natal... istilah lama versi misionaris Barat yang memang punya budaya berpesta saat Natal.) Lalu, semua bersalam-salaman dengan gembira.

Joy to the world the Lord has come!!!


Kapolda Bali, Irjen Paulus Puwoko, yang kebetulan Katolik dan ikut misa di katedral mengaku menerjunkan 6.500 anggotanya untuk mengamankan Natal di Bali. Purwoko mengaku bangga dengan kerukunan ala masyarakat Bali.

“Sebab, umat nonkristiani pun menjaga gereja seperti Banser (Islam) dan Pecalang (Hindu). Ini rasa kebersamaan yang harus terus dipelihara di Tanah Air,” kata Paulus Purwoko. Kapolda kemudian menyalami beberapa Pecalang dan Banser.

Masih di Denpasar, juga di katedral, pada 30 Desember 2006, digelar konser musik rohani bersama Butet Kertaradjasa, Djaduk Ferianto, Trie Utami, dan kawan-kawan. Ini proyek musik lintas agama, melibatkan pemusik dari berbagai agama di Tanah Air. Trie Utami, penyanyi asal Bandung, muslimah, juri AFI (Akademi Fantasi Indosiar), menyanyikan lagu Malam Kudus untuk memeriahkan perayaan Natal. Sebentuk toleransi yang layak dibanggakan.

"Saya ingin buktikan bahwa dengan musik kita bisa melintasi batas-batas agama, etnis, ras, dan sebagainya,” kata Trie Utami. Ah, alangkah indahnya kebersamaan ini. Selamat Natal dan Tahun Baru.

2 comments:

  1. met natal. salam damai.

    ReplyDelete
  2. Merry X-Mas.

    Please visit http://www.sapteka.net/pecalang.htm

    ReplyDelete