29 January 2007

Tarif Maria Eva Naik di Atas Rp 40 Juta


















Tersebarnya video mesumnya Maria Eva-Yahya Zaini merupakan blessing in disguise bagi Maria Eva (29 tahun). Pedangdut asal Sidoarjo ini kebanjiran rezeki dan tarifnya meningkat drastis.

“Maaf, saya lagi sibuk nih. Saya harus ketemu dengan beberapa pihak yang mendukung show saya,” ujar Maria Eva saat saya hubungi lewat telepon genggamnya. Beberapa kali dikontak jawaban wanita bernama asli MARIA ULFAH ini sama saja.

Sibuk? Boleh jadi begitu. Pada 17-18 Januari Maria Eva tampil di dua tempat hiburan Surabaya. “Ini kesempatan emas untuk bertemu teman-teman di Jawa Timur. Sebab, selama ini mereka mendukung saya dalam menghadapi kasus berat ini,” tutur Maria Eva.

Bukti dukungan masyarakat itu, lanjut Maria, bisa dilihat dari besarnya sambutan penonton dalam show-show-nya di tempat hiburan. Kafe atau pub yang tadinya sepi, tiba-tiba membeludak setelah tahu Maria Eva mau show di situ. Ketika Maria Eva tampil di panggung, sambutan penonton pun tak kalah meriahnya.

“Bagi saya, ini merupakan dukungan moral tersendiri. Nggak nyangka kalau saya diterima dengan baik,” ujar Maria bangga.

Bagaimana dengan tarif? Apa naik juga? Bekas pengurus DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia ini kontan tertawa kecil.

“Ah, mau tahu aja saya. Pokoknya, standar kafe lah. Anda kan bisa kira-kira sendiri,” ujar Maria.

Informasi yang saya terima dari beberapa sumber, sejak skandal seksnya dengan Yahya Zaini diberitakan besar-besaran di media massa, Maria Eva semakin jual mahal.

“Sekali show dia minta Rp 30 juta, Rp 40 juta. Pokoknya, kalau dana Anda sedikit, pasti nggak kuat nanggap Maria Eva. Maria Eva itu sudah beda banget dengan dulu, ketika belum terkenal,” ujar Munir.

Maria Eva sendiri berkali-kali mengelak ‘membocorkan’ honornya pascaskandal video mesum ME-YZ. Hanya saja, lulusan Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, ini tidak mengelak kalau tarifnya jauh lebih tinggi ketimbang saat dia baru merilis album perdana, Pelangi Senja, dua tahun lalu. Saat itu honornya terbilang sangat kecil.

“Pokoknya, ada tambahan rezeki lah. Tapi berapa besarnya, ya, rahasia manajemen,” tegasnya.

Kini, meski namanya lebih dikenal publik, lebih sering show di tempat-tempat hiburan malam, Maria Eva masih harus berurusan dengan aparat hukum. Seperti diketahui, menyusul tersebarnya video mesum ME-YZ, Maria Eva dijerat dengan tuduhan aborsi, pemerasan, serta penyebaran video mesum. Karena itu, dia mengaku belum bisa bebas mengembankan karier sebagai penyanyi pop-dangdut di Surabaya dan kota-kota besar lainnya.

“Belum bisa fokus karena saya harus bolak-balik Surabaya-Jakarta. Banyak tanggapan di Surabaya, sementara di Jakarta saya perlu menyelesaikan kasus itu,” ujar Maria, yang mengaku tidak cemas dengan persoalan hukum yang melilit dirinya.

“Kalau soal hukum, aku kan punya Abang Poltak Raja Minyak, hehehe,” tambahnya mengacu pada Ruhut Sitompul, kuasa hukumnya di Jakarta.

Saat pulang kampung di Sidoarjo, Maria Eva juga mengaku mendatangi sejumlah kiai di Jawa Timur untuk meminta bimbingan spiritual. “Alhamdulillah, tujuh kiai memberikan dukungan kepada saya. Mereka mendoakan dan memberikan kekuatan kepada saya untuk tegar menghadapi kasus ini,” cetus Maria Eva.

Siapa saja kiai-kiai yang ‘membekingi’ Anda? Lagi-lagi, Maria menolak membeberkannya kepada publik. “Ada deh. Yang jelas, salah satunya berasal dari Madura,” tegas artis kelahiran Sidoarjo, 21 Februari 1977 itu.

Maria Eva juga enggan membeberkan kehidupan pribadinya, termasuk sidang perceraian di Pengadilan Agama Surabaya, Selasa (16/1/2007). Majelis hakim PA Surabaya yang dipimpin Ghufrons akhirnya memutuskan perceraian Maria Eva dengan TJIE JONG SAN, penguasa asal Surabaya. Pasangan yang menikah di Kantor Urusan Agama Candi, Sidoarjo, pada 23 Maret 2001 ini bercerai karena tak ada kecocokan lagi.

“Kalau soal itu, aku no comment deh. Aku ini udah banyak masalah, tolong jangan ditambah lagi. Nggak kasihan ama aku ta?” ujar Maria Eva.

28 January 2007

Orang Flores Paling Gila Dian Piesesha



Jumat 26 Januari 2006, sekitar pukul 01.00 WIB. Saya nongkrong, minum kopi, di kawasan Jalan Raya Bandara Juanda, Sedati, Sidoarjo. Sayup-sayup saya dengar suara DIAN PIESESHA dari warung lesehan sebelah.

Catatan LAMBERTUS HUREK

Sejak 10 tahun terakhir saya sudah jarang mendengar lagu-lagu pop melankolis. Tapi, terus terang saja, memori saya tidak mungkin lepas DIAN PIESESHA, penyanyi 1980an yang sangat terkenal di NTT, khususnya Pulau Flores.

Saya punya memori manis seputar perjalanan musik pop Indonesia saat masih kecil ketika televisi masih hitam putih. Saat itu hanya ada TVRI dengan Aneka Ria Safari, Selekta Pop, Album Minggu Ini, Wajah Baru... Lagu-lagu manis, melankolis ala Dian Piesesha paling banyak diputar. Dian dan penyanyi-penyanyi JK Records memang dominan pada 1980an.

Penulis lagunya, ya, PANCE F PONDAAG, OBBIE MESSAKH, DEDDY DORES, WAHYU OS, JUDHI KRISTIANTHO, MAXI MAMIRI, dan beberapa nama lagi. Lirik lagu rata-rata sama: putus cinta, wanita nelangsa, rindu kekasih, cinta remaja. Ah, dari dulu ya lirik lagu pop tak jauh berbeda!

"Saya ini sebenarnya suka lagu-lagu Melayu. Suara saya lebih cocok ke situ,” ujar Dian Piesesha kepada saya saat mengisi acara ‘tembang kenangan’ di JTV, televisi lokal Surabaya.

Lagu-lagu Melayu yang dimaksud Dian bukan dangdut, melainkan Melayu Deli atau Melayu Malaysia. Tembang dengan melodis manis, khas, lirik penuh pantun nasihat. Namun, konstelasi industri musik mengantar Dian ke JK Records, bikin album pop manis bersama Pance Pondaag pada 1982. Kita tahu lah selera JK (Judhi Kristiantho), cukong musik pop, 1980-an. Pance, JK, Obbie Messakh, Wahyu OS.. bikin lagu dan Dian Piesesha menyanyi.

Nama Dian Piesesha pun hasil otak-atik JK. “Agar lebih komersial, sesuai dengan pasar musik Indonesia,” kata Judhi Kristianto. Nama asli Dian Piesesha, DIAH DANIAR, pun tenggelam.

Di era Orde Baru, rupanya, hampir semua orang Indonesia stres. Sistem politik represif. Orang murung, frustrasi. Maka, lagu-lagu pop manis ala JK laku keras. Pance dan Obbie jadi hits maker. Dian Piesesha pun menjadi penyanyi pertama yang mampu menembus angka penjualan kaset di atas satu juta keping berkat album TAK INGIN SENDIRI, produksi 1984, beredar luas 1985.

Angka penjualan terus melejit, katanya hingga 2,5 juta. “Sekarang pun orang masih cari album itu,” tutur Dian Piesesha. Sejak itulah nama Dian Piesesha mencuat ke seluruh Indonesia.



Saya, bocah kampung di Flores Timur, masih ingat Hellen Carvallo, teman sekolah, menyanyikan lagu-lagu Dian Piesesha di depan kelas. Suara Hellen sangat bagus, malah lebih bagus ketimbang Dian Pisesha. Dia nyanyi TAK INGIN SENDIRI, BARA API SENYUMMU, PERASAAN, MENGAPA TAK PERNAH JUJUR... dengan penuh penghayatan. Band Diana, band paling top di Larantuka, pada 1980-an pun tak alpa membawakan lagu-lagu Dian Piesesha.

Sampai hari ini, 2007, jika engkau naik kapal Pelni, kapal Primavista, kapal kayu biasa rute Indonesia Timur, hampir pasti lagu-lagu Dian Piesesha terus diputar. Ingat potongan lirik ini?

BIARLAH DI MALAM YANG SUNYI BEGINI
DI PEMBARINGAN KU KHAYALKAN DIRIMU
BIARLAH MIMPI-MIMPI SEMAKIN INDAH BERSAMA DIRIMU

DEMI KEDAMAIAN ENGKAU DAN DIRIKU
AKU PUN RELA BERKORBAN SEGALANYA
BIARLAH TERUKIR DI JARI MANISKU, NAMAMU KASIHKU

Saya terkejut mendengar refrein lagu Dian Piesesha ini dinyanyikan ramai-ramai oleh para penumpang kapal feri jurusan Kupang-Larantuka. Ada suara dua, suara tiga, bas. Ah, kayak kor gereja saja. Saya geleng-geleng kepala karena di Surabaya dan Sidoarjo, tempat domisili saya, lagu-lagu macam ini jadi bahan tertawaan. Sudah bukan zamannya. Cengeng!

Di Jawa, yang ngetop itu band-band macam Padi, Dewa, Ungu, Peterpan, Jikustik, Jamrud, Slank, Jikustik, dan sejenisnya. Nah, di Nusa Tenggara Timur, tren ini tidak berlaku. Lagu-lagu ala Pance Pondaag tetap ngehit sampai sekarang.

“Beta tidak peduli. Yang penting, lagu-lagunya Dian Piesesha itu paling enak,” kata Siska. “Kalau lagu rohani, Bunda Maria, ciptaan Pance paling menyentuh,” Frans menambahkan.

Hehehe... saya harus realistis. Bagaimanapun juga ini semua fakta. Apa pun kecaman orang pada Dian Piesesha, JK Records, Obbie Messakh, nyatanya dia punya penggemar fanatik. Sampai hari ini.



Dian Piesesha itu murni penyanyi rekaman. Begitu juga penyanyi-penyanyi JK pada era 1980an macam Meriam Bellina, Lidya Natalia, Ria Angelina, Marina Elsera, Pance, Obbie Messakh. Suara di kaset sudah dipoles sedemikian rupa sehingga terdengar enak, manis. Kalau menyanyi langsung (live), wah wah... bisa gawat.

Saya pernah menyaksikan penampilan Dian Piesesha dan artis-artis JK di Jawa Timur. Parah! Sebab, mereka dibentuk JK sebagai penyanyi telinga, bukan penyanyi mata, apalagi mata-telinga. Kontras dengan Inul Daratista yang enak di panggung, jeblok di rekaman. Dian Piesesha bahkan sering lupa lirik lagunya sendiri.

“Soalnya sudah lama nggak nyanyi sih,” kata Dian Piesesha suatu ketika. Yang hafal justru orang-orang NTT macam penumpang kapal itu tadi. Hehehe...

Kamis, 25 Januari 2007, saya baca sebuah artikel kantor berita ANTARA. Judulnya: DIAN PIESESHA KEMBALI DENGAN WAJAH BARU. Ceritanya, Dian Piesesha merilis album baru setelah vakum selama belasan tahun.

"Ini adalah persembahan cinta dari anak-anak sebagai bentuk hadiah ulang tahun saya yang ke-45," kata Dian Piesesha dalam jumpa pers peluncuran album KERINDUAN, di Jakarta, Rabu (24/01/2007).

Berbeda dengan album-albumnya bersama JK Records, kali ini Dia mengajak penulis lagu dan penata musik ‘pop kreatif’ (istilah untuk membedakan pop manis-cengeng ala JK) macam Yuyun George, Dian Pramana Poetra, Ricky Lionardi, Ika Ratih Puspa, dan Tito Sumarsono. KERINDUAN berisi delapan lagu, tujuh lagu baru, dan satu lagu lama, TAK INGIN SENDIRI.

"Album Dian ini lebih fresh, masih tetap di jalur pop, tetapi bukan model lagu cengengnya yang dulu, melainkan ada balutan musik jazz, gospel, dan R&B," kata produser Oktav dari RPM Records, seperti dikutip ANTARA.

Saat membuat catatan ini saya belum pernah mendengar album baru Dian Piesesha itu. Yang jelas, kenangan saya pada Dian Piesesha hanya sebatas pada album-album 1980an bersama JK dan Pance Pondaag itu lah.

Salah satunya, lagu yang sering dibawakan Hellen, teman sekolah saya di Larantuka, Flores Timur, pada 1980an. Syairnya begini:

MALAM-MALAM SEPERTI INI
BIASANYA ENGKAU ADA DI SISIKU
TAPI MENGAPA ENGKAU TAK DATANG MENJEMPUTKU

SUNYI SEPI DI MALAM INI
KAU BIARKAN DIRIKU SENDIRI
TIADA KAU SADARI BETAPA RINDUNYA HATI INI

SEHARUSNYA KAU ADA DI SINI
DI SAAT MALAM SEPERTI INI
SEHARUSNYA KAU ADA DI SINI
DI SAAT REMBULAN DAN BINTANG BERSERI
MENGAPA SAMPAI HATI
RESAH MENANGGUNG RINDU
OOOOH.......

Pelukis Lekra Pameran Bersama


Gregorius Suharsojo Goenito

Adalah HARDONO (63 tahun), pelukis berdomisili di Trosobo, Taman, Sidoarjo, yang mengajak beberapa pelukis eks Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) untuk menggelar pameran bersama di Balai Pemuda, Surabaya.

Hardono mengaku prihatin melihat nasib seniman Lekra yang selama tiga dekade tidak diberi ruang berekspresi di masyarakat.

“Saya ketemu Pak Harsojo (Gregorius Suharsojo Goenito) secara tidak sengaja. Dia melihat pameran saya di Surabaya, dan akhirnya saya tahu kalau dia itu pelukis, malah pernah aktif di Lekra,” ujar Hardono kepada saya.

Dari GREGORIUS SUHARSOJO GOENITO (71 tahun), Hardono kemudian mengenal beberapa pelukis bekas Lekra yang lain seperti ROS SUROSO (82 tahun), G SOEHARTOJO (72 tahun). Beberapa pelukis lain non-Pulau Buru, tapi berstatus eks tapol, juga diajak.

“Alhamdulillah, mereka mau pameran bareng karena lukisan-lukisan mereka masih ada.”
SUHARSOJO GOENITO merupakan pelukis eks Buru yang paling dinamis, ceria, dan produktif.

Ia dikirim ke Buru pada 1969 bersama ratusan tahanan politik lainnya. Lekra, lembaga kebudayaan rakyat, memang tidak terlibat langsung, namun dikait-kaitkan dengan Gerakan 30 September (1965)/Partai Komunis Indonesia.

“Lekra itu dulu merupakan organisasi yang kuat. Lekra menampung semua kesenian yang berorientasi ke rakyat, mulai ludruk, jaran kepang, seni lukis, wayang kulit. Seni dibuat sedemikian rupa agar bisa dinikmati rakyat kecil, tidak mengawang-awang di langit,” ujar Harsojo.

Saat dikirim ke Buru, usia Harsojo 33 tahun, masih bujang. Energi kreatifnya masih tinggi, sehingga dia cukup produktif di Pulai Buru. Bikin sketsa, melukis, menyanyi, ia lakukan kapan saja. Saat makan siang pun ia mencorat-coret sketsa. Di bawah lukisan itu Harsojo biasanya menuliskan komentar-komentar spontan. Tulisan tangannya miring, enak dilihat, khas manusia Indonesia 1960-an.

“Iwake aku sing mancing lho!” begitu tulisan Harsojo di pinggir salah satu karyanya. [Ikannya saya yang memancing lho.]

Suatu malam, YONO, main gitar, lalu tertidur karena capek. Maklum, setiap hari para tahanan Pulau Buru harus kerja keras: menebang pohon, garap sawah, cari ikan, olahraga, baris-berbaris, apel. Harsojo iseng-iseng menggambar Yono yang tidur di samping gitarnya.

Harsojo menulis komentar: “Dik Yono nggak terusin latihan gitar?”

Tak hanya sketsa, yang lebih mirip catatan harian, Harsojo juga membuat lukisan biasa, cat di atas kanvas. Temanya hanya tentang kehidupan di Buru. Kita bisa melihat betapa orang-orang Lekra, termasuk novelis PRAMOEDYA ANANTA TOUR, dipaksa menjadi romusha. Kerja keras membuka hutan di pulau yang subur, tapi perawan itu. Mereka makan dari hasil keringat mereka sendiri.

Karya Harsojo bercerita tentang kegiatan menebang pohon, membuka hutan, bertani. Judulnya menggelitik: KOLE-KOLE YANG MENJADI SAKSI. KENANGAN MANIS DI LEMBAH WAIAPO. DI SINI TAK ADA SAKSI MEMBATASI. YANG BERTANI DAN YANG BERTANAH. TAK SEORANG PUN BERNIAT PULANG.

Begitulah. Bagi Harsojo dan pelukis-pelukis Lekra, suka dan duka, tragedi-komedi, cinta-benci... sangat tipis batasnya. Melihat karya-karya seniman Lekra, perasaan kita campur-aduk. Senyam-senyum membaca komentar Harsojo, tapi terkejut melihat begitu banyak anak negeri harus kerja rodi di Pulau Buru.

Saat dikirim ke Pulau Buru, para seniman, tentara, maupun rakyat biasa, yang dicurigai terlibat Partai Komunis Indonesia, tak pernah menyangka bakal bisa pulang ke kampung halaman mereka. Bagi Harsojo dan kawan-kawan, hidup ini sudah selesai. Sebab, Buru itu pulau neraka.

“Rumus waktu itu 3B: BUANG, BUI, atau BUNUH. Saya dan teman-teman seniman masuk B yang pertama, BUANG. Anggap saja dibui di Buru meskipun kita di sana sebetulnya bebas. Bekerja di tempat yang terbuka dan indah. Tanah Buru juga sangat subur karena ada Sungai Waiapo,” kata SUHARSOJO GOENITO, pelukis yang tinggal di Surabaya.

Harsojo kemudian menunjuk Sungai Waiapo yang dilukisnya semasa berada di Buru kepada saya. Ada teluk, lautan biru, pohon-pohon lebat. Sungai itu memang indah. Harsojo kemudian bersenandung lagu Waiapo, yang diciptakan seniman Lekra di Buru. Asal tahu saja, di sana waktu itu juga ada komponis terkenal macam SUBRONTO K ATMOJO.

“Jadi, soal kesenian kita lengkaplah. Lukis, musik, teater, tradisi... ada semua,” kata Harsojo.

Harsojo terus melukis meskipun tiap hari harus kerja di sawah, cari ikan, buka hutan, kadang-kadang sakit malaria. [Dari kisah Harsojo, saya bisa maklum kenapa PRAMOEDYA ANANTA TOUR bisa menghasilkan novel-novel berkualitas macam TETRALOGI PULAU BURU.] Sipir di Buru, kata Harsojo, memberi kesempatan untuk berkesenian. “Berpolitik juga boleh asalkan kami menerima Pancasila dan paham Orde Baru,” kata Harsojo lalu tertawa lebar.

Saya tertegun membaca karya Harsojo berjudul: TAK SEORANG PUN BERNIAT PULANG.

“Kenapa begitu?” tanya saya.

Menurut dia, hampir semua tapol di Buru memang tak pernah berpikir kalau suatu saat pulang ke kampung halamannya dalam suasana politik Orde Baru. Mereka berpikir akan mati dan dikuburkan di Pulau Buru. Namun, Tuhan berkehendak lain. Pada 1979, Harsojo dan kawan-kawan tiba-tiba diminta bersiap untuk kembali ke Jawa.

“Sungguh, saya tidak menyangka bisa hidup sampai usia 60 tahun lebih, bisa diwawancarai wartawan. Hehehe...,” kata pelukis yang suka humor itu.

Kembali ke masyarakat ternyata ada kesulitan baru. Warga menjaga jarak, takut dicap mendukung Partai Komunis Indonesia. KTP Harsojo dan kawan-kawan eks Buru pun diberi label ET, eks tapol. Stigma buruk itu terbawa ke mana-mana.

“Syukurlah, ada juga teman-teman yang malah dekat dengan kami,” tambah Harsojo, serani yang taat itu.

Kini, usia para eks tapol ini rata-ata berusia di atas 60 tahun. Harsojo mengaku hanya ingin meneruskan hidup yang sederhana bersama keluarga di Surabaya. “Nggak mau neko-neko,” tegasnya.

Kehidupan yang keras di tanah pembuangan, Pulau Buru, ternyata membuat Harsojo dan kawan-kawan lebih tegar menghadapi masa tua. Mereka pun lebih sehat. “Kata orang-orang, saya ini kelihatan lebih muda 20 tahun. Hehehe,” ujar Harsojo.

27 January 2007

Gracia Paramitha Gadis Sarat Prestasi

GRACIA PARAMITHA (17 tahun). Gadis yang tinggal di Graha Tirta, Kecamatan Waru, Sidoarjo, ini banyak mencetak prestasi fenomenal di Jawa Timur. Gracia terpilih sebagai PUTRI LINGKUNGAN HIDUP 2002. Kemudian juara satu jurnalis DETEKSI-JAWA POS pada 2003. Kemudian finalis gadis Pantene, 2007.

Gracia Paramitha mulai mencuat ketika terlibat dalam kegiatan Klub Tunas Hijau, organisasi yang getol mengadakan pendidikan lingkungan hidup di kalangan remaja. "Masyarakat Surabaya kurang peduli lingkungan karena penduduknya terlalu padat. Masalah sampah pun semakin bertambah," ujar anak sulung pasangan PANTJA DJATI dan WAHYU A RINI ini kepada saya.

Lahir 3 April 1989, pelajar SMA Kristen Petra 2 Manyar, Surabaya, ini selain cerdas, juga sangat concern pada lingkungan hidup. Ia begitu gelisah ketika melihat warga membuang sampah sembarangan. Pengendara mobil dengan entengnya membuang sampah di jalan raya. Ia langsung menegur teman-temannya yang sembarangan membuang sampah.

Gracia juga seorang pecinta tanaman. Ia ingin melihat halaman rumah, halaman sekolah, penuh dengan tanaman. Tak segan-segan ia bekerja keras menanam tanaman penyejuk di rumah atau sekolahnya. Itulah yang membuat Gracia Paramitha terpilih secara mutlak sebagai PUTRI LINGKUNGAN HIDUP 2002.

Setelah menjadi Putri Lingkungan Hidup, Gracia Paramitha menjadi orang sibuk, mirip selebriti. Pada tahun itu juga Gracia menjadi duta Indonesia di konferensi lingkungan hidup di Perth, Australia. Bersama rekan-rekan sebaya dari puluhan negara, Gracia mendiskusikan berbagai isu lingkungan hidup.

Pengalaman yang, katanya, sungguh berkesan dalam hidupnya. Pada 5 Juni 2003 Gracia bertemu Presiden Megawati Soekarnoputri di Monas Jakarta. Saat itu hari lingkungan hidup sedunia. Beberapa bulan kemudian, 5 November 2003, Gracia kembali bertemu Megawati di HARI CINTA PUSPA DAN SATWA NASIONAL. Luar biasa!

Yang tak kalah seru, Gracia Paramitha didaulat sebagai pembicara dalam seminar nasional tentang lingkungan hidup di Universitas Kristen Petra Surabaya. Gracia, yang waktu itu masih SMP, tenang-tenang saja dan bicara dengan lancar di depan peserta yang kebanyakan mahasiswa dan dosen.

"Saya bicara sama Pak Sonny Keraf, mantan menteri lingkungan hidup saat itu," kenangnya.

Setelah setahun menjadi Putri Lingkungan Hidup, gelar ini diserahkan kepada orang lain. Namun, aktivitas dan kepeduliaan di bidang lingkungan hidup jalan terus.

Belakangan ia rajin menulis (apa saja), khususnya liputan-liputan ringan untuk media sekolahnya. Aktivitas ini membuat Gracia Paramitha terpilih sebagai juara pertama lomba jurnalis DETEKSI-JAWA POS 2003.

"Sekarang saya aktif menulis artikel di sekolah, ikut anggota Mandiri, majalah sekolah saya," kata Gracia yang punya dua adik ini (CHRISTIAN ADI JAYA dan JEREMIA KURNIAWAN).

Tahun 2005 Siti Nurhaliza bikin konser di Surabaya. Dan Gracia Paramitha, gadis remaja yang waktu itu masih 15 tahun, hanya bisa menyaksikan penampilan penyanyi Malaysia itu dari bawah panggung. Gracia ingin sekali bertemu, berbincang sejenak, dengan Siti, namun sang bintang terlalu sulit dijangkau.



“Sejak itu saya selalu berangan-angan, suatu saat saya harus bisa ketemu Siti Nurhaliza,” ujar Gracia Paramitha, kini 17 tahun, kepada saya di Surabaya. Siswi SMA Kristen Petra 2 Surabaya ini juga mengaku selalu berdoa agar angan-angannya itu terwujud.

Dua tahun kemudian, peluang untuk bertemu Siti Nurhaliza terbuka setelah gadis kelahiran 3 April 1989 ini ikut even ‘Siti Nurhaliza Mencari Bintang Panthene’. Gracia lolos terus hingga babak enam besar. Enam gadis cantik berambut kemilau dikarantina di Jakarta. Siti Nurhaliza pun datang ke tempat karantina, diskusi, ngobrol santai, dengan Gracia dan kawan-kawan.

“Puji Tuhan, impian saya untuk bertemu dengan Siti Nurhaliza akhirnya terkabul. Saya malah bukan saja ketemu dia, tapi juga bicara panjang lebar. Jadi teman ngobrol yan asyik,” tutur Gracia. Wajah Putri Lingkungan Hidup 2002 ini berseri-seri. "Saya bahagia sekali, Mas.”

Di babak enam besar, Gracia dan lima temannya diuji dengan berbagai materi. Tak hanya soal rambut bagus, indah, kemilau, tapi juga materi yang menguras wawasan dan pengetahuan umum. Public speaking, jalan di catwalk, pun diuji. Hasilnya? Gracia, satu-satunya wakil Jawa Timur, gagal di enam besar.

“Kalau dibilang kecewa, ya, memang kecewa. Tapi saya bangga karena menjadi finalis termuda dibandingkan lima finalis lain,” ujar anak sulung pasangan suami-istri Pantja Djati dan Wahyu A Rini itu.

Selain itu, Gracia mengaku bangga karena wajahnya dinilai paling mirip Siti Nurhaliza. Saat tampil di atas, yang disiarkan langsung di TransTV, Siti Nurhaliza terang-terangan mengakuinya. “Nanti kalau Siti berhalangan, biar Gracia saja yang menggantikan saya. Tak banyak beza lah,” ujar Siti dalam logat Melayu kental. Gracia tersipu-sipu mendengar ucapan penyanyi idolanya itu.

Karena wajahnya yang mirip, sama-sama cantik, Gracia mengaku menjadi ‘adik kesayangan’ Siti Nurhaliza selama mengikuti ajang pemilihan gadis Panthene di Jakarta, pekan lalu. Siti bahkan terkejut ketika mendengar suara Gracia yang merdu saat bernyanyi.

“Eh, saya juga diajak rekaman bareng dengan Kak Siti. Katanya, kalau bikin album baru saya diajak nyanyi bareng di satu atau dua lagu,” tutur Gracia yang tinggal di kawasan Waru, Sidoarjo, itu.

Kapan rekaman dengan Siti? “Belum jelas. Ini yang aku belum tahu,” ujar kakak kandung Christian Adi Jaya dan Jeremia Kurniawan ini, lalu tertawa kecil.

Bagi Gracia, apa yang diperolehnya pekan lalu di Jakarta jauh melampaui angan-angannya kendati kalah di ajang pemilihan gadis sampo. “Biarpun kalah, kami semua sama-sama dikontrak oleh Panthene,” tambahnya.

Selain cantik, Gracia Paramitha tercatat sebagai gadis berprestasi di Jawa Timur. Pada 2002 dia terpilih sebagai Putri Lingkungan Hidup, even bergengsi yang digelar Klub Tunas Hijau. Sebagai Putri Lingkungan Hidup, Gracia mengikuti konferensi lingkungan hidup untuk anak-anak sedunia di di Perth, Australia.

Pulang dari Australia, Graca diterima Presiden Megawati Soekarnoputri di Monas Jakarta. Setelah itu, dia diminta menjadi pembicara dalam beberapa seminar tentang lingkungan hidup di Surabaya dan beberapa kota lain. "Saya pernah jadi pembicara bersama Pak Sonny Keraf,” kata Gracia mengacu pada menteri lingkungan hidup di era Presiden Megawati.

Sambil bergelut di lingkungan hidup, Gracia menekuni jurnalisme di sekolahnya. Rajin menulis artikel serta reportase untuk Mandiri, majalah sekolah SMA Petra 2 Surabaya. Dan, pada 2003 Gracia Paramitha kembali mengukir prestasi sebagai juara pertama lomba jurnalis Deteksi-Jawa Pos.

Entah apa lagi prestasi yang bakal ditorehkan si cantik Gracia.

25 January 2007

Ovan Tobing MC Rock Terbaik


 


Siapa pembawa acara alias master of ceremony (MC) paling top di Indonesia? Jawabnya sulit, karena selera orang berbeda-beda. Namun, bagi saya, OVAN TOBING layak dicatat sebagai the best MC untuk musik rock di Indonesia Raya. Ovan Tobing memberi kontribusi besar dalam gelar musik rock di stadion atau lapangan terbuka lainnya.

"Aku nggak sreg kalau emsinya bukan Ovan Tobing,” kata LOG ZHELEBOUR, promotor musik rock papan atas. Hubungan Log dengan Ovan ibarat ikan dan air. Di mana pun Log bikin tur musik rock, Ovan Tobing selalu diajak. Sebagai peliput, saya menyaksikan sendiri betapa Ovan Tobing selalu terlibat sebagai ‘pengacara’ konser-konser rock papan atas di Indonesia Raya.

Apa kelebihan Ovan Tobing?

PERTAMA, suara Ovan besar, menggelegar, berwibawa, dahsyat. Saya belum pernah menemukan MC dengan suara dahsyat ala Ovan Tobing sampai hari ini. Vokal dahsyat Ovan Tobing sangat penting untuk meredam emosi ribuan massa saat konser. Ingat, konser rock di mana pun berpotensi rusuh. Perlu orang berwibawa, bersuara dahsyat, guna menenangkan massa.

Di Malang, Jawa Timur (Ovan memang berdomisili di Malang), suara dahsyat Ovan kerap dipakai di pertandingan bola yang melibatkan AREMA. Berkat Ovan Tobing, juga bekas manajer Arema, pertandingan bola di Malang selalu aman.

Ini kelebihan KEDUA Ovan: tahu psikologi massa. Ketika penonton stres menunggu penampilan Helloween di Stadion Tambaksari, Surabaya, karena jeda waktunya satu jam lebih, Ovan berhasil menenangkan puluhan ribu penonton. Kalau bukan Ovan, saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Sebab, saya lihat sendiri, penonton sangat resah. Waktu itu mereka memaki-maki grup Jamrud dan Power Metal yang dinilai main terlalu lama.

Wawasan musik, khususnya rock, metal, dan sejenisnya, kelebihan KETIGA Ovan. Asal tahu saja, Bang Ovan ini sejak dulu mengasuh program musik rock di RADIO SENAPUTRA, Malang. Saat pernah tinggal di Malang--jarak kos saya dengan RADIO SENAPUTRA hanya sekitar 200 meter--saya kerap mampir ke radio terkenal ini.

Ovan lah yang memberi wawasan musik rock kepada anak-anak muda Malang. Dia bahas musik, artis, band, rock secara mendalam. Lalu, putar lagu-lagu rock untuk memberikan apresiasi kepada masyarakat.

Saya yakin, apresiasi musik rock warga Malang yang tinggi (disebut-sebut sebagai barometer musik rock di Indonesia), salah satunya, ya, berkat RADIO SENAPUTRA. Dus, berkat Ovan Tobing. Saya sendiri tahu banyak musik rock, mulai beli kaset/CD rock, ya, karena provokasi Ovan Tobing.

“Karismanya luar biasa. MC lain boleh pintar, tapi kalau nggak ada karisma susah,” kata Log Zhelebour. Nah, karisma, kelebihan KEEMPAT Ovan Tobing. Kalau diteruskan, daftar keistimewaan Ovan Tobing sebagai MC rock masih sangat panjang.

Ovan, pria berdarah Batak, mengaku terjun ke dunia MC tanpa sengaja. Pada 1980 grup rock paling top, AKA, tampil di GOR Pulosari Malang, yang kini jadi pusat belanja. Karena MC asli tidak datang, Ovan Tobing pun ditodong menjadi emsi. Ternyata, sukses. Panitia dan penonton puas.

Sejak itulah penyiar radio ini banjir tawaran. “Pernah dalam sehari ada tiga tawaran,” kenang Ovan. Dari sini namanya meroket sebagai MC paling top di Kota Malang. Apalagi, didukung program musik rock yang rutin di RADIO SENAPUTRA.

Setahu saya, Ovan makin menjadi buah bibir karena paling berani ‘mengobral’ sandiwara radio SAUR SEPUH di radionya. Asal tahu saja, tahun 1980-an Saur Sepuh menjadi sandiwara radio paling digandrungi warga Jawa Timur.

Radio-radio lain berani putar dua seri sekaligus, Ahad malam, Ovan Tobing memborong tiga seri SAUR SEPUH. Ini sandiwara radio tentang Brama Kumbara, Mantili, Lasmini, Raden Bentar, Rawedeng, Rayuyu, Rabanyak, Rakuti, Paksi Dalajara... berlatar Kerajaan Majapahit. Saya pun tergila-gila. Karena dekat dengan RADIO SENAPUTRA, saya ikut-ikutan ‘menekan’ Ovan Tobing agar mau memutar SAUR SEPUH lebih banyak dan maju ketimbang radio-radio lain di Malang. Waktu itu semua radio masih berada di gelombang AM, belum FM.

Sukses di Malang, Ovan Tobing akhirnya dipakai sebagai MC musik rock di berbagai kota. Log Zhelebour yang masih gila-gilanya menggelar konser rock di berbagai kota pun memakai suara Ovan. Konser God Bless, grup rock paling top di Indonesia Raya, pasti memakai suara Ovan.

Begitulah, Ovan pun menjadi MC hampir semua grup ternama di Indonesia. God Bless, Gong 2000, Iwan Fals, Jamrud, Radja, Rif/, Peterpan, Elpamas, Power Metal, Adi Metal. Dia juga memandu konser grup-grup besar mancanegara yang tur ke Indonesia. Sebut saja: SEPULTURA, HELLOWEEN, WHITE LION, EUROPE. Konser Sepultura dan Europe di Surabaya paling heboh. Maklum, dua grup ini berkonser di saat masa jayanya. Di sinilah Ovan Tobing membuktikan dirinya sebagai MC yang mampu mengendalikan penonton tanpa merusak gairah musik rock yang menggelegar.

Saya menyaksikan final DJARUM SUPER ROCK FESTIVAL X di Surabaya, Desember 2004. Ini festival rock terbesar yang digelar Log Zhelebour di berbagai kota di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Ovan Tobing yang dipercaya sebagai MC. Di tengah-tengah konser, Ovan tiba-tiba berbicara dengan nada berbeda. Agak sendu. Dia minta ribuan penonton menundukkan kepala, berdoa.

“Malam ini sahabat kita, seniman besar... meninggalkan kita semua. Dialah Kang HARRY ROESLI,” ujar Ovan Tobing. Penonton pun terdiam beberapa saat. Lalu, suasana kembali dikuasai Ovan, festival rock bergairah lagi.

Yeaaah!!! Kapan ya, lahir MC rock baru yang kualitasnya setara, syukur-syukur, melebihi Ovan Tobing? Terus terang saja, MC-MC rock yang ada sekarang, misalnya di Soundrenaline (saya lihat langsung tiga kali) bergaya ala tampil di televisi. Suaranya cempreng. Cenderung kemayu. Wawasan musik rock-nya payah. Tak tahu apa yang harus disampaikan.

Payah deh!

Henri Supriyanto Doktor Ludruk

Ludruk mati?

“Siapa bilang? Kalau engkau cuma berputar-putar di dalam kota, ya, memang. Cobalah datang ke kampung-kampung, pinggiran kota. Ludruk itu masih eksis kok,” ujar HENRICUS SUPRIYANTO kepada saya dalam sebuah diskusi di Pendapa Kabupaten Sidoarjo beberapa waktu lalu.

Bicara soal ludruk dengan Henri Supriyanto memang asyik. Ilmunya banyak, bahkan ‘kebanyakan’. Saya kira, saat ini dialah satu-satunya peneliti ludruk di Jawa Timur yang paling produktif menulis buku... tentang ludruk. Henri masuk kampung ke luar kampung, wawancara dengan praktisi ludruk. Catat pola kidungan. Mendata kelompok-kelompok ludruk yang hidup, setengah hidup, seperempat hidup... hingga yang tak hidup lagi.

Henri selalu bicara pakai data dan angka. Karena itu, pria kelahiran Curahjati, Grajagan, Banyuwangi, 15 Juli 1943 ini selalu menjadi sumber utama wartawan-wartawan seni budaya di Jawa Timur. Kalau bicara ludruk, ya, harus minta pendapat Henri Supriyanto. Jangan lupa, Henri pun (mungkin) satu-satunya doktor (PhD) bidang ludruk yang eksis di Jawa Timur sampai sekarang.

“Dia menekuni bidang yang tidak ditekuni orang lain. Masih untung ada Henricus Supriyanto. Kalau tidak, kita tidak punya informasi tertulis dan ilmiah tentang dunia perludrukan,” kata HARRYAJIE BAMBANG SUBAGYO, bekas ketua litbang Dewan Kesenian Sidoarjo, kepada saya.

Pada Oktober 2006, Henri Supriyanto menerima penghargaan kesenian dari Gubernur Jawa Timur IMAM UTOMO SUPARNO karena jasa-jasanya dalam riset ludruk di Jawa Timur.

Menurut Henri, surutnya grup-grup ludruk (dan seni tradisional lain) tak lepas dari berkembangnya industri pop dan televisi sejak 1990-an. Orang terpaku di rumah, nonton televisi, daripada menonton ludruk.

Di sisi lain, para praktisi ludruk pun tidak banyak melakukan inovasi, menyesuaikan manajemennya dengan tuntutan zaman. Istilah gerejanya: tidak cakap membaca tanda-tanda zaman! Masyarakat berubah, orang luduk tidak berubah. “Ya, kalah dangdut,” kata bekas wartawan SINAR HARAPAN itu.

Di dalam kota, diakui Henri, pergelaran ludruk semakin hilang. Di Surabaya, misalnya, hanya satu grup (waria) yang rutin main di kawasan Joyoboyo. Namun, di kampung-kampung orang masih suka nonton ludruk. “Ludruk tidak mati di Jawa Timur. Hanya, komunitasnya berada di kampung-kampung, pinggir kota,” tutur Henri Supriyanto.

Kalau mau eksis terus, papar Henri, pengelola ludruk jangan segan-segan melakukan modifikasi. Struktur cerita, pengadeganan, tata gerak, lighting... disesuaikan dengan karakter masyarakat yang kian maju. Namun, pakem atau intisari ludruk tetap harus dirawat baik-baik. "Saya selalu optimistis ludruk tetap hidup di Jawa Timur,” kata dosen Universitas Negeri Surabaya (eks IKIP Surabaya) itu.

Berlatar belakang sekolah guru (pernah sekolah di SGB dan SGA Katolik di Malang), Henri Supriyanto cukup produktif menulis artikel di media massa. Dia juga rajin menerbitkan buku, di antaranya, Pengantar Studi Teater (1980), Pengantar Praktek Kewartawanan (1986), Pengantar Sastra Bandingan (1989), Cerita Panji pada Teater Topeng Malang (1991), Kamus Istilah Seni Drama dan Teater (1990), Lakon Ludruk Jawa Timur (1992), Transkripsi Lakon Rabine Panji (1994), Ragam Bahasa Jurnalistik (1997), Upacara Adat Jawa Timur 1-3 (1997-2001).

Secara pribadi, Henri Supriyanto merupakan guru pertama saya di bidang junalistik. Ketika baru masuk Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Sanctus Albertus, Jember, Pak Henri lah yang memberikan bimbingan tentang dasar-dasar jurnalistik.

Sampai sekarang pun wartawan kawakan ini masih dipercaya sebagai pembicara dalam berbagai pelatihan jurnalistik tingkat dasar untuk mahasiswa di Jawa Timur.

Rudi Isbandi Begawan Pelukis Surabaya




Sepeninggal KRISNA MUSTAJAB dan AMANG RAHMAN, kita makin sulit menemukan pelukis kaliber empu di Surabaya atau Jawa Timur. Pelukis memang banyak, bahkan terlalu banyak, tapi mutunya tanggung. Medioker. Sulit mencapai tingkat empu.

Zaman memang lain, tantangan beda, sehingga sulit menemukan sosok pelukis berpengaruh, yang ketokohannya diakui secara luas.

Masih untung ada RUDI ISBANDI. Lahir di Jogjakarta, 2 Januari 1937, Rudi Isbandi ini masih ‘dituakan’ oleh para yunior di Jawa Timur. Saya beberapa kali bertemu Rudi Isbandi, diskusi, atau bercakap ringan. Dia saya anggap ‘begawan’ seni rupa Jawa Timur, tempat kita bertanya.

Kepada saya Rudi mengaku selama dua tahun terakhir ‘bersendiri’ di rumahnya, Karangmenjangan, Surabaya. Menyepi. Selama dua tahun itu Rudi Isbandi berhenti nonton televisi, baca koran, dengar radio. Singkatnya, menutup diri dari dunia luar. Ia pun tidak peduli dengan hiruk-pikuk politik seperti pemilu, pilkada, dan tetek-bengek lainnya.

“Saya ibaranya membersihkan antene yang karat agar lebih peka menangkap inspirasi dari atas,” ujar Rudi Isbandi, perupa yang banyak menerima penghargaan dari dalam dan luar ngeri itu. Di antaranya, award dari pemerintah Mesir dan Gubernur Jawa Timur.

Sebelum menyepi, sebenarnya dalam 15 tahun terakhir Rudi Isbandi sudah memilih ‘jalan lain’ dalam karya-karyanya. Jangan harap Rudi melukis secara konvensional, pakai cat di kanvas, dan semacamnya. Dia tak hirau lagi dengan pasar.

Menggunakan berbagai media (mix media), Rudi melampiaskan curahan batinnya dalam karya-karya yang unik. Karya mix media yang dibuat Rudi Isbandi sarat dengan spiritualitas.

Gir sepeda rongsokan, oleh Rudi dibentuk menjadi parade bintang di langit. Ada salib, simbol kekristenan. Ada nuansa Buddhis.

“Tinggal Anda saja yang menafsirkan. Yang jelas, apa pun persepsi penonton semuanya saya anggap benar,” kata Rudi yang dulu banyak menulis kritik seni rupa di media massa itu. (Kumpulan tulisan seni rupanya sudah dibukukan.)

Sejumlah pelukis muda seperti Didik S Makruf, Badrul Kalam, N Roel, atau Riyanto, ikut nimbrung diskusi bersama Rudi Isbandi. Rudi pun menyambut dengan tangan terbuka. Hardono meminta masukan Rudi tentang karya sketsanya. "Saya sengaja minta bimbingan Pak Rudi karena saya baru belajar,” ujar Hardono.

Lalu, Sang Begawan memberi petuah: “Tinggalkan apa yang disebut KONSEP. Kalian harus berani jujur pada diri sendiri. Membuat sesuatu yang baru. Silakan orang menilai apa, yang penting kalian harus berani.” Suara Rudi Isbandi lembut, pelan, tapi tegas. Para pelukis muda itu diam.

Saya lalu bertanya tentang pasar. “Kalau bikin karya macam itu, siapa yang beli?”

Sang Guru tersenyum. Menurut Rudi Isbandi, di mana-mana yang namanya seniman itu selalu lebih maju puluhan tahun daripada masyarakat. Orang menganggap karya-karya Rudi ‘aneh’, ‘nyeleneh’, ‘tidak lazim’... karena orientasinya sudah puluhan tahun ke depan. “Mungkin, generasi mendatang tidak menganggap aneh karya saya,” katanya.

Selain melukis dan menulis (belakangan agak ditinggalkan), Rudi Isbandi suka jalan kaki. Jalan kaki ke mana sampai capek. Mandi keringat dia tak peduli. Bertemu onggokan sampah dia nikmati.

"Saya menemukan sensasi tersendiri. Hmmmm,” ujar Rudi seraya menghela napas panjang.

Rudi berkata, di zaman serba mekanis dan instan ini, manusia sering lupa kalau dia punya dua kaki yang diciptakan Tuhan. Kaki itu gunanya untuk berjalan. Tapi, karena terbiasa dengan kendaraan bermotor, manusia lupa punya kaki. Sampai sekarang Rudi, dengan topi khasnya, terus berjalan kaki, masuk kampung ke luar kampung, di Surabaya.

Nah, saat jalan-jalan itulah Rudi menemukan rongsokan gir, rantai, dan berbagai sampah lain. Dia pungut, bawa ke rumahnya di Karangmenjangan. Itulah bahan baku karya-karya seninya. Ah, Rudi Isbandi!

Foto Kenangan Redaksi Suara Indonesia




Ini foto kami, awak redaksi harian SUARA INDONESIA, pada acara tutup tahun 2000. Foto ini kalau di luar negeri macam pamitan kepada pembaca. Bahwa setelah itu koran berhenti terbit. Benar saja. Tak lama kemudian, SI (nama beken SUARA INDONESIA) tidak terbit lagi.

Koran yang sangat berpengaruh di Surabaya di era reformasi 1998 (saya masuk ke SI sekitar reformasi) kemudian berubah nama menjadi RADAR SURABAYA. Grup Jawa Pos memang punya nama generik RADAR untuk koran-koran lokal di berbagai kota. RADAR dimaksudkan untuk mempertajam isu-isu lokal seiring berlakunya otonomi daerah.

RADAR pun sejalan dengan salah satu asas jurnalisme: kedekatan atawa proksimitas.

Nama SUARA INDONESIA rasanya terlalu ‘besar’ untuk koran harian yang fokus pada isu-isu Surabaya dan sekitarnya. Nama itu cocok untuk koran nasional, sementara era koran nasional sudah silam. Saya rasa, itulah alasan Grup Jawa Pos mengganti nama SUARA INDONESIA dengan RADAR SURABAYA sejak 24 Januari 2000.

Sebagai orang SI, kami sedih dengan pergantian nama, brand name, tapi tanda-tanda zaman tak bisa dielakkan.

Dulu, 1970-an, SI terbit di Malang sebagai anak koran SINAR HARAPAN. Sejak SINAR HARAPAN dibredel, 1986, SI kelimpungan. Grup Jawa Pos pun mengambil alih. SI ditarik ke Surabaya menjadi koran harian. Tak lama, karena rugi terus, SI ganti halus menjadi koran bisnis. Oplahnya sedikit, tapi segmen pasarnya sangat fokus: masyarakat Surabaya berpenghasilan tinggi. Koran ini bertahan hingga datangnya gonjang-ganjing ekonomi, krisis moneter, kemudian reformasi.

Keputusan Dahlan Iskan, bos Jawa Pos, menjadikan SI koran reformasi ternyata tepat. Oplah naik cepat sekali. Di mana-mana orang baca SI untuk tahu denyut nadi reformasi. Kami sempat tumpengan, dapat dividen. “Itu kenangan yang indah di SI,” kata LUTFI SUBAGYO, bekas pemimpin redaksi SI.

Setelah SI jadi RADAR SURABAYA, sebagian wartawan senior dipromosikan sebagai pemimpin redaksi RADAR-RADAR di daerah. Boleh dikata, alumni SI ini paling banyak menjadi pemimpin redaksi koran-koran baru. Sebut saja: Aryono Lestari, Sukoto, Sholehuddin, Rindang Herawati, Lutfi Subagyo, Hatta Chumaidy, Rohman Budiyanto, Aris Sudanang. Belakangan Muhammad Makruf pun menjadi pemimpin redaksi REK AYO REK.

Nggak nyangka, dari dapur redaksi SI yang sederhana akhirnya muncul pemimpin-pemimpin koran di berbagai daerah. Tapi, ya, sejumlah teman wartawan keluar karena ingin mengembangkan karier di tempat lain atau ‘terpaksa’ cabut karena musabab lain. Yang jelas, suasana kerja di koran kecil macam SI lebih kondusif dan menantang meski melelahkan.

Ah... nostalgia terus!!!!

23 January 2007

Vlootmonument, Monumen Karel Doorman di Surabaya


Oleh Heti Palestina Yunani

Mata biru FHW TOERING DE JONG basah begitu melihat nama DE JONG HENDRIK tertera di atas plat VLOOTMONUMENT yang diresmikan Kepala Staf Angkatan Laut Belanda Laksamana Madya JW KELDER, Jumat (19/01/2006). Monumen itu terletak di Makam Kehormatan Belanda alias EREVELD, Kembang Kuning, Surabaya.

Kapten kapal HR MS JAN VAN AMSTEL itu tak lain kakek Toering. "Kini, saya punya tempat untuk menaburkan bunga. Selama ini saya hanya tahu ia bersemayam di dasar laut," kata TOERING.

TOERING hanyalah satu dari 40 ahli waris dari nama-nama yang tertulis di plat.
VLOOTMONUMENT adalah monumen kedua setelah MONUMEN KAREL DOORMAN yang didirikan pada 27 Februari 2006. Nama monumen merujuk nama kapten kapal, HR MS DERUYTER. Dia pemimpin pertempuran terbesar Angkatan Laut Belanda pada Perang Dunia II, 8 Desember 1941 hingga 9 Maret 1942. Di sini ada 15 plat yang mencantumkan 915 nama prajurit AL Belanda, dari tiga kapal perang Belanda yang tewas.

Peresmian monumen di Surabaya ini disaksikan Presiden Yayasan Makam Kehormatan Belanda Laksmana Madya (Purn) BUIS, Duta Besar Kerajaan Belanda DR VAN DAM, Direktur Makam Kehormatan Belanda Kolonel (Purn) STEENMEIJER, Direktur Umum Yayasan Makam Kehormatan Belanda Laksamana Muda (Purn) VAN DER GRAAF, dan Laksamana Muda HARDIWAN mewakili pemerintah Indonesia.

Nyonya TOERING yang datang dengan tujuh saudaranya, termasuk ibunya DE JONG VAN DER WONDE, pertama kali menaburkan bunga untuk sang kakek. Selama upacara Toering memandangi foto-foto hitam putih DE JONG di selembar kertas. "Ini bagian dari memori yang berhasil kami kumpulkan," kata TOERING.

Tak hanya foto. Ada cerita tentang kegagahan kakeknya di medan perang. Cerita itu datang dari dua kawan DE JONG yang selamat ketika AMSTEL dibom tentara Jepang. DE JONG sebenarnya berpeluang selamat. Dengan berpegangan pada kayu, empat awak kapal selamat. Namun, lewat tiga hari tanpa makan dan minum, seorang awak meninggal.

Ketika melihat daratan yang diperkirakan Pulau Bali, DE JONG yang pernah menjadi kapten HR MS ELAND DUBOIS, yang juga ditenggelamkan musuh, mengajak berenang menuju daratan. Tapi dua prajurit memilih kembali.

"Kakek saya terus berenang, tapi tak ada lagi kabar sejak itu. Dua orang kawan kakek yang selamat itulah yang bercerita ini semua pada kami," tutur TOERING.

KATHARINA DE HEER, juga terlihat haru. Ayahnya A DE HEER termasuk dalam daftar nama-nama pejuang Belanda di monumen. "Ini sangat luar biasa bagi saya,” kata KATHARINA, yang didampingi anaknya, HAROLD DE HEER. Dia berniat mengunjungi monumen itu setiap tahun.

Pastor Angkatan Laut Belanda VAN HORSSEN mengatakan, peristiwa bersejarah itu tak boleh lewat begitu saja. "Selalu nama ada sesuatu yang tetap bisa dikenang. Semoga yang ditinggalkan akan tetap tabah," ucap HORSSEN.

*******

Buket bunga digenam kuat oleh DE MOEL DEKEN selama upacara peresmian VLOOTMONUMEN di Makam Kehormatan Belanda Kembang Kuning, 19 Januari 2006. Bunga itu untuk GERT HEINING, kakak kandung pria yang menjadi pasangan hidupnya, G HEINING. Di tangan HEINING, tergenggam foto GERT yang gagah dalam pakaian pelaut.

Sejak diketahui gugur pada Perang Dunia II di Samudera Hindia antara 1941-1942, HEINING sangat sedih. "Ia saudaraku satu-satunya. Walau tak ada makamnya, tempat ini akan menjadi bagian kenangan yang penting bagi kami," ujar HEINING yang pakai jas dan topi hitam. Kakaknya tewas dalam usia 22. Ia sendiri juga masih sangat muda sehingga belum banyak menyimpan kenangan bersama almarhum.

NM ENGELS mengaku punya kenangan terhadap ayahnya, J ENGELS. Menyaksikan nama ayahnya di urutan kedua, mata ENGELS berkaca-kaca. Padahal, saat kejadian usianya baru dua bulan. Bagi ENGELS, sang ayah tetap menjadi kebanggaan keluarga. Terbukti, ibunya yang meninggal tiga tahun lalu tak pernah menikah lagi hingga akhir hayat.

"Ibu berkali-kali bercerita bahwa ayah adalah pria terakhir yang ia cintai. Itu bukti kalau ayah adalah orang istimewa bagi kami,” ujar ENGELS yang mengaku pernah tinggal di Surabaya pada era Hindia-Belanda tempo doeloe.

Menurut Direktur Yayasan Makam Kehormatan Belanda Kolonel (Purn) STEENMEIJER, nama-nama itu dihimpun selama setahun berkat bantuan MGJ VAN ZEELAND (87). Dia pensiunan tentara AL Belanda yang lolos dari pertempuran di Laut Jawa pada Februari 1942.

Sayang, ZEELAND tak bisa hadir dalam peresmian monumen yang mencantumkan nama kawan-kawan seperjuangannya. ZEELAND-lah juga yang dulu memukul lonceng kapal HR MS JAVA yang diawakinya lalu tenggelam di Laut Jawa. Saat peresmian, tugas memukul lonceng dilakukan ROBBERT DE OUDE, awak kapal fregat HR MS TROMP yang sedang melakukan perjalanan keliling dunia.

Selain plat nama, lonceng sederhana itu juga ditengok para ahli waris keluarga pejuang Belanda. Di tubuh lonceng yang baru ditemukan pada 2004 itu tertera kalimat:
SETIAP PERTEMPURAN ADALAH BENTUK KESETIAAN ANDA KEPADA TANAH AIR.

Romo Yustinus dan Wayang Wahyu


Karena tinggal cukup lama di Jember, Jawa Timur, kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Jember, aktif di paduan suara inti Gereja Katolik, saya kenal dekat dengan Romo YUSTINUS SLAMET RIYADI, O.Carm. Dulu dia pastor paroki di Jember. Sekarang di Curahjati, Banyuwangi. Umat sering menyapa pastor gemuk ini dengan KI BODRONOYO atau ROMO DALANG.

Yustinus memang dalang terkenal, untuk ukuran lokal.

“Sejak seminari, masih frater, dia sudah mendalang. Saya yang antar dia ke mana-mana. Eh, ternyata setelah jadi pastor, malah keterusan,” ujar Romo EKO BUDI SUSILO, Pr., kepala Paroki Aloysius Gonzaga, Surabaya, kepada saya. “Mudah-mudahan saja dia tidak lupa dengan tugas-tugas di parokinya, hehehe.”

Romo Yustinus murah senyum, enak diajak bicara, senang melekan. Sambil melekan (bergadang), dia mendiskusikan ayat-ayat Alkitab bersama umat. Dia hafal ayat, dan saya nilai cenderung text oriented. Ini berbeda dengan pastor-pastor Katolik umumnya yang cenderung kontekstual dalam mengkaji isi kitab suci.

Ayat Matius dirujuk Romo Yustinus ke Kejadian, loncat ke Yesaya, Mazmur, Pengkhotbah, balik ke Korintus, Ibrani, Lukas, kembali ke Matius, putar ke Keluaran... dan seterusnya.

“Kalau caranya begini, kitab suci kita cepat kotor. Dibolak-balik ke sana ke mari,” guyon YOHANES DIDIK, bekas ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jember. Hehehe.. saya dan teman-teman aktivis, dulu, suka geleng-geleng kepala melihat cari Romo Yustinus menelaah Alkitab. Mirip akrobat ayat!

"Saya sejak kecil sudah senang wayang kulit. Enggak tahu persisnya kapan. Tapi, setelah di seminari (Malang), saya lebih aktif lagi,” cerita Romo YUSTINUS SLAMET RIYADI kepada saya.

Biarawan Ordo Karmel (karmelit) ini juga memperlihatkan foto dirinya dengan Ki ANOM SUROTO, dalang kondang. Wajah dan postur mereka mirip. "Kami kebetulan masih ada hubungan famili,” aku Yustinus.

Selain main wayang kulit (laris ditanggap di gereja-gereja se-Jawa Timur), Romo Yustinus memainkan WAYANG WAHYU. Mungkin satu-satunya pedalang wahyu yang masih aktif sampai sekarang. WAYANG WAHYU itu mengambil cerita dari Alkitab, berbeda dengan wayang kulit biasa. Wayang menjadi media pewartaan atawa pekabaran Injil kepada masyarakat, khususnya umat kristiani. Konon, mulai dikembangkan di Indonesia sejak 1960 oleh seorang bruder di Jawa Tengah.

Menurut Yustinus, alias KI BODRONOYO, figur yang dibutuhkan WAYANG WAHYU 150-200 buah. Seluruhnya dipesan pada perajin di Solo. Satu kotak lengkap sekitar Rp 30-40 juta. Yustinus beruntung karena PERKUMPULAN WAYANG WAHYU di Curahjati punya perangkat gamelan cukup lengkap. Yustinus sudah menggelar sekitar 200 kali pergelaran WAYANG WAHYU di Jawa Timur. Masih kalah dengan tanggapan wayang kulit biasa.

Kenapa? “Orang kita belum terbiasa. Biasanya, ya, wayang kulit. Anda saja nggak paham, hehehe,” ujar pastor paroki sekaligus pengelola Gua Maria di Curahjati, Banyuwangi, itu.

Selain jarang digelar (gereja-gereja justru minta wayang kulit biasa), kaderisasi dalang WAYANG WAHYU praktis tidak jalan. Yustinus pun sepi sendiri. Padahal, dia ingin ada jemaat awam (biasa) yang mengembangkan WAYANG WAHYU di Jawa Timur serta Pulau Jawa umumnya. Maklum, sebagai pastor, apalagi kepala paroki, Yustinus dituntut fokus pada reksa pastoral atau penggembalaan umat.

Dus, wayang itu cuma hobi atau sambilan saja. “Jangan semuanya serba pastor, romo. Itu kan pastorsentris,” tegas Yustinus. Kalau terlalu aktif main wayang, sering ke luar paroki, jelas dia bisa disemprit Uskup Malang Mgr. HERMAN JOSEPH SAHADAT PANDOYOPUTRO, O.Carm.

Tapi, ya, memang susah juga mengembangkan WAYANG WAHYU. Alih-alih WAYANG WAHYU, wayang kulit biasa saja sejak 10 tahun terkhir meredup di Jawa. Anak-anak muda lebih suka menikmati band-band populer, artis top, ketimbang seni tradisional. Penguasaan bahasa Jawa anak-anak sekarang pun lemah.

“Nggak gampang memang mengembangkan seni tradisi,” ujar Yustinus, pastor asal Nganjuk.

Khusus WAYANG WAHYU, selain penguasaan teknik-teknik pedalangan klasik, si dalang dituntut punya penguasaan cerita-cerita Alkitab (Bible, Bijbel, Bibel). Harus banyak baca Alkitab. Harus bisa improvisasi. Yustinus mengaku sudah sering melatih beberapa kader, tapi hasilnya tidak banyak. “Mudah-mudahan dalam beberapa tahun mendatang muncul kader-kader baru. Tidak hanya WAYANG WAHYU, tapi juga wayang jenis lain,” kata Yustinus.

Sedikit gambaran tentang adegan WAYANG WAHYU.

Adegan pertama: suasana Kerajaan Surga, bukan Kerajaan Amarta atau Astina. Para malaikat yang dipimpin Michael mengadakan pertemuan untuk membicarakan rencana kedatangan Sang Mesias ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia. Lalu Malaikat Gabriel diutus menyampaikan kabar itu kepada gadis di Nazaret, namanya Maria.

Adegan kedua: suasana neraka. Lusifer, bos iblis, yang mendengar kabar segera lahirnya Sang Penebus, mengerahkan seluruh pasukan iblis untuk menghalanginya.
Adegan ketiga: perang besar antara pasukan roh jahat dan roh baik. Iblis akhirnya dikalahkan oleh pasukan malaikat yang dipimpin Michael.

Adegan ketiga: goro-goro. Kalau wayang biasa tampil punakawan Semar, Gareng, Petruk, Bagong, di sini muncul gembala-gembala wong cilik di padang rumput yang banyak bicara tentang domba-domba kesasar. Ki Dalang Yustinus unjuk kebolehan dengan berbagai ulah dan dagelan yang bebas. Penonton terbahak-bahak.

Adegan selanjutnya: Desa Nazareth, Maria dan Yusuf, Yerusalem, keluarga kudus mengungsi ke Mesir. “Di Alkitab itu banyak sekali kisah yang bisa dimainkan dalam bentuk wayang. Wayang itu kan hanya media saja. Tergantung si dalangnya, kreatif atau tidak,” beber Yustinus.

21 January 2007

Kiat Menulis Enak ala Dahlan Iskan



Oleh LAMBERTUS HUREK
Penggemar tulisan Dahlan Iskan


Di GRAHA PENA Surabaya, markas Grup JAWA POS, DAHLAN ISKAN lebih akrab disapa Pak Bos. Pria kelahiran Magetan 17 Agustus 1951 ini memang bos Grup JAWA POS. Di masthead koran-koran di lingkungan Grup JAWA POS, jabatan resmi Dahlan Iskan adalah chairman. Memang, selain membesarkan JAWA POS (dan grupnya) dialah ‘roh’ Grup JAWA POS.

Yang menarik, berbeda dengan bos-bos media lainnya, Dahlan Iskan ini tetap menulis. Bikin reportase, kolom, analisis berita... pokoknya menulis. Menulis kapan saja dia suka. Menulis dan membaca sudah menjadi darah daging tokoh pers nasional itu. Kalau sudah ada ide, di mana pun, kapan pun... Dahlan Iskan menulis.

Belum lama ini, Pak Bos jalan-jalan di Singapura. Jalan kaki di Orchard Road dengan trotoar yang rindang. Nah, di trotoar itu muncul ide untuk menulis masalah kota, sekadar masukan untuk Kota Surabaya. Maka, ayah dua anak ini menulis di trotoar itu. Besoknya, tulisan itu dimuat di JAWA POS, dan beberapa koran anak perusahaan JAWA POS.

“Dahlan Iskan itu penulis dan wartawan yang belum ada duanya di Jawa Timur, bahkan Indonesia,” kata BAMBANG SUJIYONO, seniman teater, pentolan BENGKEL MUDA SURABAYA, kepada saya. Bambang (kini almarhum) pernah jadi pemimpin redaksi sebuah tabloid di Surabaya.

“Harusnya kita punya banyak wartawan kayak dia. Sekarang ini wartawan buanyaaaaak sekali, media berlimpah, tapi hampir nggak ada wartawan yang punya tulisan bagus. Kayaknya wartawan-wartawan sekarang ini nggak bakat menulis deh. Makanya, tulisannya nggak karuan,” kata Bambang, bekas anggota DPRD Jawa Timur, juga bekas pemimpin redaksi beberapa media cetak di Surabaya.

Bambang Sujiyono, juga sejumlah seniman, mahasiswa, pengamat, serta kalangan terdidik di Jawa Timur, memang sejak lama ‘kecanduan’ tulisan Dahlan Iskan. Kalau Pak Bos lama tak menulis karena sibuk (maklum, urusan dan jabatannya banyak), orang-orang macam Bambang ini telepon atau titip pesan lewat redaksi agar Pak Bos segera menulis lagi.

"Ada teman saya yang hanya mau baca tulisan Dahlan Iskan. Tulisan-tulisan lain dianggap nggak ada. Hehehe...,” kata Bambang Sujiyono lalu tertawa khas. Saya hanya mengangguk mendengar komentar Bambang. Lalu tertawa.

Bu Yuli, pemimpin sebuah kelenteng besar di Surabaya, juga berkali-kali 'titip pesan' lewat saya agar Pak Dahlan Iskan sering-sering menulis. Katanya, tulisan-tulisan Dahlan Iskan sangat kinclong, hidup, menarik, dan bikin pembaca ketagihan. Dia baca berkali-kali tulisan Pak Dahlan, tapi tidak pernah bosan.

"Hurek, kalau bisa kalian (wartawan)  belajar dari Pak Dahlan Iskan. Orang itu memang luar biasa. Ciamik soro, kata orang Tionghoa," kata Bu Yuli yang kebetulan sangat dekat dengan saya. Tiap kali ada hajatan besar di kelentengnya, entah itu Sincia, Cap Go Meh, sejit, hari jadi Kongco... saya pasti diundang.

Pendapat sama sebetulnya juga disampaikan pembaca JAWA POS dan RADAR SURABAYA, khususnya mereka yang punya ‘rasa bahasa’. Mereka menilai karya Dahlan Iskan itu unik, sulit ditiru, mengandung kejutan, jenaka, jelas, menghibur.

“Wislah, bilang bosmu itu (maksudnya Dahlan Iskan) supaya menulis terus. Sibuk ya sibuk, tapi ojo lali menulis. Penggemare akeh,” papar Bambang Sujiyono (sekarang sudah almarhum).

Saya pun sepakat dengan penilaian pembaca-pembaca kritis ala Bambang Sujiyono. Selain enak dan menghibur, Dahlan Iskan mampu mendudukkan persoalan secara terang dan jernih. Apa-apa yang tadinya gelap, remang-remang, jadi jernih setelah saya membaca tulisan Pak Bos.

Ambil contoh kasus haji (2007). Soal muasasih di Makkah yang menyediakan katering jemaah haji. Saya sering baca tulisan teman-teman wartawan, baca artikel di banyak media, dengar penjelasan dari wartawan senior yang sudah naik haji. Tapi penjelasan tentang seluk-beluk katering dan pengaturan makan jemaah haji tak pernah jelas. Tulisan wartawan-wartawan muda di koran malah bikin bingung. “Mbulet,” kata orang Jawa Timur.


Sabtu, 20 Januari 2007, Dahlan Iskan menulis di halaman satu JAWA POS. Dia bahas masalah katering, muasasah, kebijakan Menteri Agama MUHAMMAD MAFTUH BASYUNI. Begitu membaca tulisan Pak Bos, saya langsung paham apa yang menimpa sekitar 200 ribu jemaah haji kita di Arab Saudi akhir Desember 2006.


Pak Bos menulis pendek, sederhana, logis, cespleng. Cukup satu artikel pendek, Dahlan Iskan berhasil memberi gambaran seputar persoalan haji. “Kalau bisa disederhanakan, kenapa harus rumit-rumit?” begitu kira-kira salah satu jurus menulis Pak Bos.

Senada dengan Bambang Sujiyono, saya sepakat bahwa Pak Bos ini punya talenta lebih. Dus, sulit ditiru wartawan lain, termasuk saya, meskipun dulu beliau sering memberikan bengkel atau latihan menulis kepada wartawan JAWA POS dan beberapa koran anak perusahaan. Karena tulisannya enak, selalu ditunggu, redaktur selalu menempatkannya di halaman muka.

“Daya tarik tulisan Dahlan Iskan memang luar biasa,” kata LUTFI SUBAGYO, bekas pemimpin redaksi SUARA INDONESIA (Grup JAWA POS).

Karena itu, dulu, saban Sabtu Lutfi menempatkan ‘catatan ringan’ Dahlan Iskan di halaman satu. Oplah hari itu pun naik, karena banyak warga Surabaya yang beli koran hanya untuk menikmati tulisan Pak Bos.

Nah, sebagai wartawan di Graha Pena, saya beruntung pernah mendapat gemblengan langsung dari Pak Bos meski tidak secara khusus. Learning by doing, itulah yang dilakoni Pak Bos. Saya pernah mencoba meniru gayanya, tapi gagal.

Berikut sedikit KIAT MENULIS ALA DAHLAN ISKAN hasil interpretasi saya sendiri:



1. LEAD HARUS SANGAT MENARIK

Ketika Dahlan Iskan belum sesibuk sekarang, dia selalu berjalan keliling ke meja wartawan. Membaca sekilas berita wartawan di laya komputer. Sasaran pertama adalah LEAD alias TERAS alias INTRO alias PEMBUKA alias ALINEA PERTAMA tulisan.


“Lead-mu 6. Cepat diperbaiki sampai 8. Kalau belum 8, nggak bisa dimuat. Lead harus sembilan,” kata Dahlan Iskan usai membaca beberapa baris berita salah satu reporter. Teman saya itu cepat-cepat memperbaiki lead-nya. “Coba saya lihat. Hmm.. lumayan, sudah 7, belum 8. Coba lagi,” kata Dahlan, bekas wartawan majalah TEMPO, itu.

“Bagaimana kalau kalimat di bawah ini Anda angkat ke atas. Dibuat lebih bagus agar enak dibaca?” usulnya.

Kursus menulis berita macam ini dilakukan Dahlan Iskan, dulu, terus-menerus di newsroom kami. Sambil kasih kursus, tak lupa Dahlan Iskan membagi-bagi permen atau kacang goreng: tiap-tiap wartawan satu atau dua biji. Sedikit tapi merata. Dahlan suka lead yang spontan, unik, tidak klise. Pembaca sejak awal harus dibuat tertarik membaca sampai selesai. Dan itu ada teknik tersendiri.

2. BUMBU HUMOR

Sebagai orang Jawa Timur, Pak Bos punya koleksi humor berlimpah. Kebanyakan didengar dari teman-teman, wong cilik, obrolan di warung kopi. Humor cerdas kerap jadi pembuka (lead) tulisannya.


Contoh: “Di dunia ini ternyata ada empat hal yang tidak bisa diduga: lahir, kawin, meninggal, dan ... Gus Dur!”

Selain di lead, humor kerap dipasang Pak Bos di akhir tulisannya. Bacalah terus karya dahlan, niscaya di akhir atau menjelang akhir ada kejutan. “Benar-benar mengagetkan,” kata ROHMAN BUDIANTO, redaktur senior JAWA POS, kini pemimpin redaksi RADAR MALANG.

3. KALIMAT-KALIMAT PENDEK

Dahlan Iskan suka kalimat-kalimat pendek. Antikalimat panjang, apalagi yang beranak-pinak alias kalimat majemuk bertingkat.

“Bagaimana kalau kalimatmu dipotong? Dibagi dua atau tiga,” ujar Pak Bos kepada seorang pemimpin redaksi (kini bekas).


“Enak mana: kalimat panjang atau pendek?” tanya Pak Bos. “Enak pendek, Pak Bos,” jawab si pemred yang sebelumnya suka pakai kalimat majemuk.

Kalimat-kalimat pendek kerap ‘melawan’ aturan tata bahasa Indonesia. Sebab, kalimat dipotong sebelum waktunya. “Anak kalimat kan tidak bisa berdiri sendiri?” protes editor bahasa.

Tidak apa-apa, kata Pak Bos. Alasannya, tulisan di koran harus mudah ditangkap pembaca. Kalau kalimat-kalimat si wartawan terlalu panjang, pembaca akan capek. Dan dia tidak mau baca koran lagi. Toh, koran bukan kitab tata bahasa.

Dahlan Iskan menulis di buku GANTI HATI:

"Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. Kalimat pendek, begitu saya mengajar, akan membuat tulisan menjadi lincah. Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. Semakin pendek sebuah kalimat, semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. Kutipan itu -- direct quotation -- juga harus pendek-pendek.

Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. Tapi, dengan selingan kutipan-kutipan pendek, tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita."

4. DESKRIPSI YANG BANYAK

Petikan tulisan Dahlan Iskan di JAWA POS, 21 September 2007:

"Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan DESKRIPSI. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele, tapi sebenarnya penting. Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat, begitu saya mengajarkan, bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu.

Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual."


5. MENULIS SEPERTI BERBICARA

Gaya bicara Pak Bos hampir sama dengan gayanya menulis. Ini membuat beliau tidak susah mengalihkan wacana di kepala ke dalam tulisan.


Spontanitas, humor cerdas, cerita-cerita menarik, keluar begitu saja.


6. KALIMAT SEDERHANA, NARATIF

Kalimat-kalimat sederhana memang jadi ciri khas Dahlan Iskan. Tulisannya selalu bertutur alias naratif.


Sebelum ada gembar-gembor jurnalisme naratif, jurnalisme baru, jurnalisme sastrawi, Dahlan Iskan sudah melakukannya sejak 1980-an. Berbeda dengan GOENAWAN MOHAMAD yang puitis, berusaha menemukan kata yang benar-benar pas, kalimat-kalimat Dahlan Iskan mengalir begitu saja.

“Tulisannya gampang diikuti, enak pokoknya,” ujar AAN ANDRIYANI, staf sebuah dealer sepeda motor di Surabaya, kepada saya.

Bahasa Pak Bos tidak ‘ndakik-ndakik’, penuh kata asing, sok ilmiah, mbulet... karena dia ingin pembaca koran, ya, semua warga, menangkap apa yang ditulisnya. Buat apa menulis kalau tidak dibaca karena kalimat-kalimatnya mbulet gak karuan?

7. MEMORI YANG  KUAT

Kalau wartawan-wartawan lain sibuk mencatat, merekam, jemprat-jepret... Dahlan Iskan tenang-tenang saja saat wawancara. Dahlan Iskan tidak pernah mencatat kata-kata sumber atau data-data.


Dia menyimak penjelasan sumber dengan serius. Sekali-sekali ia menukas atau ‘memancing’ agar si sumber mengeluarkan pernyataan atau kata-kata yang ‘hidup’. Inilah bedanya dengan wartawan biasa!

Saya sendiri terkejut melihat Dahlan Iskan tidak mencatat atau merekam wawancaranya dengan pejabat atau sumber mana pun. Mencatatnya, ya, di otak saja. Tapi besok, silakan baca koran-koran. Dijamin tulisan Dahlan Iskan jauh lebih bagus, hidup, enak, lengkap, dibandingkan wartawan-wartawan lain yang supersibuk. Tulisannya bisa tiga bagian panjang, sementara reporter lain hanya mampu membuat tulisan pendek.

Data-data Dahlan lengkap. Interpretasi dan ramuannya yang khas membuat tulisannya lebih bernas. “Itu bakat Pak Bos, nggak ada sekolahnya,” kata SLAMET URIP, bekas wartawan senior JAWA POS, yang juga ‘suhu’ para wartawan muda di Grup Jawa Pos.

8. MEMBACA, MEMBACA, MEMBACA

Dahlan Iskan pembaca yang rakus. Buku tebal ia habiskan hanya dalam beberapa jam saja. Kalau perlu, dia melekan (bergadang) demi menamatkan bacaannya.


Novel AROK DEDES (Pramoedya Ananta Tour), misalnya, diselesaikan Dahlan Iskan hanya dalam tempo beberapa jam saja. Lalu, dia buat catatan tentang novel itu. Dahlan juga bikin catatan tentang novel SUPERNOVA (Dee) setelah melahap novel itu dalam hitungan beberapa jam saja.

Mengapa Dahlan suka baca buku-buku tebal di ruang redaksi, disaksikan wartawan? Saya pikir, secara tidak langsung Pak Bos mau mengajarkan bahwa wartawan/redaktur harus banyak baca. Tulisan yang bagus hanya lahir dari tangan mereka-mereka yang rakus baca. Kenapa tulisan wartawan sekarang umumnya jelek, kering, datar-datar? Salah satunya, ya, karena kurang baca.

9. TURUN KE LAPANGAN

Tulisan Dahlan Iskan hidup karena berangkat dari pengalaman sendiri. Based on his own experiences! Apa yang dilihat, didengar, dihidu, diraba, dikecap... itulah yang ditulis.


Dahlan sangat mobil. Pagi di Surabaya, siang Jakarta, sore, makassar, malam mungkin di Singapura. Besoknya Tiongkok, lusa ke Amerika... dan seterusnya. Ini membuat Pak Bos sangat kaya pengalaman, kaya penglihatan, kaya wawasan. Dia tinggal ‘memanggil’ memorinya dan jadilah tulisan yang hidup.

Dahlan Iskan pernah membuat tulisan menarik tentang pengalaman naik pesawat supersonik CONCORDE yang kini sudah almarhum itu. Dia bikin pembaca seakan-akan ikut menikmati pesawat supercepat, supercanggih, supermewah, buatan Prancis itu.

10.  CINTA BAHASA

Di balik penampilan yang sederhana--sepatu kets, kemeja tidak dimasukkan, tak pakai ponsel--Dahlan Iskan pribadi yang dahsyat. Sangat cepat belajar! Bahasa Tionghoa yang sulit, aksara hanzhi yang aneh dan ribuan jumlahnya, ditaklukkan Dahlan dengan modal tekad baja. "Saya harus bisa,” katanya.


Maka, dia panggil guru privat, les di Graha Pena. Tak puas di Surabaya, Dahlan pindah domisili di Tiongkok selama beberapa bulan agar bisa berbahasa Tiongkok. Beberapa saat kemudian, Dahlan Iskan sudah kirim CATATAN DARI TIONGKOK secara bersambung. Sangat menarik. Respons pembaca luar biasa.

11. CINTAI SASTRA

Ingat, Dahlan Iskan ini bekas wartawan TEMPO. Majalah yang dibuat oleh tangan-tangan trampil berlatar sastrawan. Goenawan Mohamad, Bur Rasianto, Syubah Asa, Putu Wijaya, Isma Sawitri, dan nama-nama besar lainnya.


Mereka-mereka ini praktisi sastra Indonesia. Mereka peminat kata. Terbiasa membuat kalimat yang indah, yang tidak klise. Dahlan Iskan, meski jarang menulis puisi atau novel, jelas seorang sastrawan. Dia bersastra lewat reportase atau kolom-kolomnya di koran.

Pak Bos pun budayawan. Tak heran, di Surabaya dia giat sekali dalam komunitas dan kebudayaan Tionghoa. Dia pun ketua umum persatuan olahraga barongsai yang akhir 2006 silam sukses menggelar kejuaraan dunia di Surabaya. Kiprah semacam ini menambah ‘basah’ tulisan-tulisannya.

12. MENULIS LANGSUNG JADI (PRESSKLAAR)

Dahlan Iskan tidak butuh waktu lama untuk menulis. Tak sampai satu jam Pak Bos sudah menyelesaikan tulisan panjang untuk halaman satu JAWA POS.


“Sudah, silakan dilihat, silakan diedit. Jangan lupa kasih judul,” begitu kata-kata khas Dahlan Iskan usai membuat tulisan.

Dahlan tidak pernah membaca ulang, apalagi mengubah kalimat-kalimatnya. Sekali menulis, selesai, dan selanjutnya urusan redaktur untuk mengecek salah ketik dan sebagainya. Dimuat atau tidak, urusan redaksi.


18 January 2007

Log Zhelebour Ikon Rock Arek Surabaya


‘Enaknya’ jadi wartawan, salah satunya, bisa bertemu dengan pesohor yang dulu hanya bisa dilihat di televisi atau media cetak. Saya beruntung bisa bertemu dan bercakap dengan ONG OEN LOG. Arek Surabaya ini lebih dikenal sebagai LOG ZHELEBOUR (lahir 19 Maret 1959), promotor musik rock terkenal di Indonesia. Ada yang bilang, kiprah LOG di belantika musik rock belum ada tandingannya sampai hari ini.

“Mau tanya apa? Santai sajalah,” begitu gaya khas LOG ZHELEBOUR kepada saya di kamar Hotel Garden Palace.

[Kalau bikin tur di Surabaya, hampir pasti pria yang suka pakai celana pendek, baju sederhana, ini memilih akomodasi di hotel itu. Padahal, masih banyak hotel lain yang lebih ‘wah’ di Surabaya. Kayaknya, Garden Palace yang kini kusam, kalah bersaing, sudah lama merosot pamornya. Pemain HALLOWEEN (Jerman) sekalipun diinapkan LOG di Garden Palace.]

Bincang dengan LOG selalu asyik. Gayanya santai, sederhana, tidak neko-neko, tapi selalu terasa kegigihannya dalam memajukan musik rock. Dia tidak setengah-setengah bikin konser. Sound system hebat, tata panggung, persiapan... harus oke punya.

“Kalau untuk Surabaya saya harus tangani sendiri. Kota ini barometer musik rock,” tegasnya. Dia tak ingin menyerahkan urusan konser kepada event organizer (EO) yang kerap kali asal-asalan dan tidak bertanggung jawab.

Saya suka dengar CAK LOG menceritakan perjalanan hidupnya sebagai promotor musik. “Benar-benar dari nol. Nggak kayak sekarang, fasilitas begitu banyak tersedia. Aku biyen wong melarat, Cak,” tutur LOG ZHELEBOUR yang mulai menjadi promotor musik pada 1979. Artinya, usia LOG saat itu sangat muda, 20 tahun.

Untuk bikin konser di Surabaya, dia harus buat proposal. LOG mengetik sendiri. “Pakai mesin ketik tak-tik-tok itu, wong belum ada komputer,” kenang LOG.

Setelah diketik, proposal itu dibawanya ke pihak sponsor. Naik sepeda motor butut, penyuka musik rock (meski tidak bisa main musik) itu keluar dari gang sempit di kampung Petemon. Tidak mudah untuk pemuda 20-an tahun seperti Log meyakinkan pemilik modal. Tapi dia tidak menyerah.

Berkat keuletan, proposal Log pun diterima. Konser pun digelar. Dari sinilah nama alumnus SMA Katolik St Louis I Surabaya ini mulai dikenal di kalangan musisi dan penggemar musik rock di Surabaya.

“Waktu itu promotor musik di Surabaya ada beberapa. Selain Log, ada Singky Suwaji, yang juga gencar membuat pergelaran,” cerita SUGENG IRIANTO, bekas wartawan musik JAWA POS, yang banyak berjasa memopulerkan musisirock di Jawa Timur pada era 1980-an hingga 1990-an. "Saya akui Log ini punya kelebihan khusus sehingga cepat sekali meroket hingga ke tingkat nasional,” tambah Sugeng kepada saya.

Mengenang masa lalu yang sederhana, melarat, kerap membuat LOG ZHELEBOUR geleng-geleng kepala. Tertawa sendiri. Kok bisa ya dia akhirnya sukses besar seperti sekarang. Bagaimana seorang Tionghoa miskin, yang tinggal di dalam gang sempit, akhirnya berkibar di industri musik Indonesia sampai hari ini.

“Memang kalau dipiki-pikir, hidup saya ini tidak masuk akal. Tapi saya bisa seperti sekarang karena kerja keras, penuh perjuangan. Nggak enak-enak saja terus jadi orang sukses,” begitu cara LOG ZHELEBOUR setiap kali memberi motivasi kepada para artis jebolan festival rock yang ia selenggarakan.

Akhir 2004 Log menggelar babak final festival rock nasional ke-10 di Stadion Tambaksari Surabaya. Koran RADAR SURABAYA jadi media partner. Maka, saya pun beroleh banyak peluang untuk betemu dan bercakap dengan Log, juga personel grup JAMRUD, binaan Log. Tempatnya, ya, di Hotel Garden Palace Surabaya itu tadi.

“Setelah ini tidak ada lagi festival rock. Saya sudah capek, sudah tua. Sudah saatnya yang muda-muda melanjutkan apa yang sudah saya rintis,” ujar Log.
Kata-kata Log ini kemudian dia ulangi di depan wartawan, bahkan di Stadion Tambaksari.

Saya tidak percaya. Apa benar Log meninggalkan rock? Bukankah musik rock sudah merasuki dirinya sejak sekolah menengah pertama di Surabaya? Teman-teman wartawan musik (senior, yunior) pun sama: tidak percaya dengan pernyataan Log mundur dari musik rock. “Yah, pokoknya dalam bentuk lain lah. Model festival rock sudah tidak bisa dipertahankan lagi,” ulang Log.

(Sebagai catatan, festival rock ala LOG ZHELEBOUR sejak 1984 telah melahirkan grup-grup rock terkenal di Tanah Air. Bahkan, Log konsisten merekam karya-karya musisi rock lewat labelnya, Loggis Record.)

Senin, 15 Januari 2007, saya baca berita di server Jawa Pos News Network alias JPNN. Berita tentang festival rock di Sumatera. Ehmmm... LOG ZHELEBOUR terbukti tidak bisa lepas dari hiruk-pikuk musik rock baik itu di rekaman maupun di panggung.

Welcome back, Mr Log!

17 January 2007

Di Doa Ibuku Namaku Disebut -- Nikita




DI WAKTUKU MASIH KECIL GEMBIRA DAN SENANG
TIADA DUKA KUKENAL TAK KUNJUNG MENGERANG
DI SORE HARI NAN SEPI IBUKU BERTELUT
SUJUD BERDOAKU KUDENGAR NAMAKU DISEBUT

DI DOA IBUKU NAMAKU DISEBUT
DI DOA IBUKU DENGAR ADA NAMAKU DISEBUT

SERINGLAH INI KUKENANG DI MASA YANG BERAT
DI KALA HIDUP MENDESAK DAN NYARIS KUSESAT
MELINTAS GAMBAR IBUKU SEWAKTU BERTELUT
KEMBALI SAYUP KUDENGAR NAMAKU DISEBUT

SEKARANG DIA T’LAH PERGI KE RUMAH YANG SENANG
NAMUN KASIHNYA PADAKU SELALU KUKENANG
KELAK DI SANA KAMI PUN BERSAMA BERTELUT
MEMUJI TUHAN YANG DENGAR NAMAKU DISEBUT


Lagu/Lirik: Peter P Bilhorn
Terjemahan: EL Pohan


Selasa siang, 16 Januari 2007, saya ditelepon Dian, mahasiswi Universitas Bhayangkara Surabaya, asal Sumenep. Omong punya omong, tiba-tiba dia bersenandung lagu DI DOA IBUKU NAMAKU DISEBUT. Lagu ini bagi saya tentu tidak asing lagi. Di lingkungan gereja, lagu ini sudah populer, jauh sebelum dipopulerkan oleh Nikita pada 1995. Sudah termasuk ‘lagu klasik’ lah.

Juru Tulis: Lambertus L. Hurek

Saya heran, Dian yang muslimah hafal benar syair dan melodi lagu ini. ‘Seperti kamu juga. Nada sambung pribadimu kan lagu kasidah,’ kata Dian. Oh, ya, NSP di ponsel saya cukup lama memakai lagu KEAGUNGAN TUHAN. Saya pilih lagu ini selain bagus, juga karena ada kedekatan pribadi dengan ABDUL MALIK BUZAID, pencipta lagu ini. Tapi betul juga, musik yang bagus itu universal. Melampau sekat-sekat agama, suku, etnis, rasa, golongan, kaum.

Dia mengaku terkesan dengan lagu DI DOA IBUKU NAMAKU DISEBUT karena liriknya mencermikan pengalaman pribadi. Ibundanya tercinta sudah tiada. “Oh, kok pengalaman kita sama ya. Ibunda saya pun sudah meninggal dunia...,’ kata saya. Lalu, Dian menyanyikan (lewat telepon) kuplet terakhir lagu ini. “SEKARANG DIA TELAH PERGI KE RUMAH YANG SENANG....”

Percakapan pun usai.

Saya memang punya album perdana NIKITA, produksi Maranatha Jakarta, 1996. Tiap kali memutar lagu ini, dengan lagu DI DOA IBUKU... saya langsung membayangkan mama, MARIA YULIANA (almarhumah). Mama.. semoga engkau bahagia bersama Tuhan di sisi-Nya!

Terus terang, saya tidak bisa tahan lama menikmati lagu ini karena batin saya, perasaan saya... tidak kuat. Air mata saya jatuh. Mengenang mama yang telah tiada pada 1998. Meninggal dunia di kampung, kawasan Lembata, Flores Timur, setelah sebelumnya menderita sakit berat. Dokter di Kupang angkat tangan. Kami pun kembali ke kampung, naik feri.

Akhirnya, ajal menjemput. Tuhan lebih mencintai mama saya meskipun saya dan adik-adik tentu masih ingin hidup bersama dengannya lebih lama lagi.
Terus terang, saya tidak bisa bercerita lebih banyak lagi tentang kepergian mama ke ‘rumah yang senang’. Terlalu berat. Terlalu pedih. Saya belum bisa membalas jasa-jasanya. Mama meninggal sebelum melihat saya punya istri, punya anak. Belum sempat menimang cucu. Apalagi, harap diingat, saya anak sulung dan satu-satunya laki-laki dari empat anak pasangan suami-istri NIKOLAUS N HUREK dan MARIA YULIANA.

“HIDUP HANYA MENUNDA KEKALAHAN,” kata CHAIRIL ANWAR, pujangga yang saya suka.

Manusia, ya, kita semua, pada akhirnya kalah. Berangkat menuju ke rumah yang senang, bertelut memuji Tuhan yang selalu mendengar jeritan manusia.

Lagu DI DOA IBUKU NAMAKU DISEBUT memang luar biasa. Karena tak tahan itulah, selama ini saya tak pernah memutar kaset Nikita. Kaset itu, terus terang, saya taruh di tempat yang sulit dijangkau dan dilihat. Namun, telepon Dian sore itu akhirnya membuat saya mengambil lagi kaset itu... dan diputar. Suara Nikita, yang anak-anak, kembali menghiasi kamar saya.

“SEKARANG DIA TELAH PERGI KE RUMAH YANG SENANG. NAMUN KASIHNYA PADAKU SELALU KUKENANG.”

NIKITA yang bikin album perdana di usia tujuh tahun memang fenomena tersendiri di belantika musik rohani. Di usia yang sangat muda, gadis cilik kelahiran Jakarta 22 Mei 1988 ini tampil dengan kualitas vokal yang jauh melampau usianya.

“Teknik vokalnya luar biasa. Orang dewas kalah,” kata Jeger, bekas juara bintang radio dan televisi jenis seriosa, yang juga penyanyi tenor asal Jogja.

“Nikita itu penyanyi langka di Indonesia,” begitu penilaian Jeger menyusul tayangan klip video Nikita di televisi pada 1996.

Kualitas vokal bagus (padahal Nikita masih kelas 2 SD), lirik universal... membuat album Nikita melintas batas agama. Orang-orang bukan Kristen pun suka dan meresapi lirik lagu ini.

“Nikita mengucap syukur atas talenta yang telah Tuhan berikan. Dengan talenta yang Tuhan berikan, Nikita berhasil mengumpulkan 85 buah piala melalui festival menyanyi. Di antaranya, juara I lomba nyanyi pekan seni sekolah dasar tingkat SD se-DKI (Jakarta) tahun 1995. Nikita ingin lebih melayani Tuhan melalui puji-pujian sesuai dengan talenta yang Tuhan telah berikan,” tulis Nikita.

Album pertama Nikita ini sejatinya hanya menghimpun lagu-lagu pujian, kebanyakan himne (hymns) yang tak asing lagi bagi jemaat kristiani. Hanya saja, 10 nyanyian (plus 4 lagu dimedlei) itu menjadi ‘lain’ saat dibawakan oleh Nikita. Lebih khusus lagi DI DOA IBUKU NAMAKU DISEBUT.

Jauh hari sebelumnya saya sudah punya album rohani Melky Goeslow, salah satunya, ya, DI DOA IBUKU NAMAKU DISEBUT. Pola aransemen, lirik, sama persis. Album Nikita ini didukung beberapa musisi kawakan macam Widya Kristianti (piano/kibod), Mus Mujiono (gitar), dan Didiek SSS (saksofon).

Tapi, itu tadi, saya baru merasakan kedahsyatannya setelah dibawakan Nikita. Lebih terasa lagi setelah saya benar-benar ditinggal pergi, untuk selamanya, oleh mama tercinta. Saya terkenang bagaimana mama mengajar kami, anak-anak, berdoa. Menghafal doa-doa harian. Menghafal lagu-lagu untuk sembahyang bersama. Harus memimpin doa sebelum dan sesudah makan bersama di meja yang sama. Ah, mama...

“SEKARANG DIA TELAH PERGI KE RUMAH YANG SENANG. NAMUN, KASIHNYA PADAKU SELALU KUKENANG....”

Maria Eva Resmi Menjanda


Sempat membantah mati-matian pernah menikah dengan TJIE JONG SAN, MARIA EVA akhirnya tak bisa mengelak lagi. Pasalnya, Pengadilan Agama Surabaya resmi memutuskan perceraiannya dengan JONG SAN, Selasa (16/1/2007).

Putusan cerai tersebut digedok oleh hakim yang diketuai GHUFRONS dan dua anggotanya, KUSNAN dan BISRI MUSTAKIM. Menurut Ghufrons, meski digedok tanpa kehadiran Maria Eva, putusan tersebut tetap sah. Sebab, penyanyi bernama asli MARIA ULFAH itu sudah tiga kali dipanggil namun tidak pernah sekalipun hadir di persidangan.

"Kalau tiga kali tidak hadir, maka dianggap setuju dengan perceraian tersebut, dan tidak ada perlawanan," terang Ghufrons.

Di lain pihak, pada sidang putusan kemarin Koh San juga tidak tampak batang hidungnya. Pengusaha real estate itu hanya diwakili tiga kuasa hukumnya, yaitu MUHAMMAD TAUFIK, HERMAN HIDAYAT, dan SUNU LENGGONO. Sunu menegaskan, gugat talak antara ME dan kliennya telah resmi diputus cerai.

Dalam waktu dekat pihak PA akan mengirim salinan putusan ke rumah penyanyi dangdut asal Sidoarjo yang ngetop berkat video mesumnya dengan mantan anggota DPR RI yang juga petinggi Partai Golkar, Yahya Zaini, itu. Jika Maria tidak terima, maka dalam waktu maksimal empat belas hari bisa mengajukan banding.

"Dalam perkara ini Maria memang sengaja tidak hadir, padahal dia itu tahu gugatan cerai ini," ungkap Sunu yang mengaku sempat bertemu Maria Eva saat hendak manggung di RASA SAYANG, Surabaya, beberapa waktu lalu. Ketika itu, beber Sunu, Maria berkata kepadanya tidak akan menghadiri sidang perceraiannya.

Yang terang, dengan putusan cerai ini Jong San merasa lega karena sudah tidak ada lagi beban yang mengganjalnya. Selain itu, sekarang statusnya pun sudah jelas. Ditanya tentang pembagian harta gono gini, Sunu mengatakan nanti akan ada gugatan menyusul.

Maria Eva alias Maria Ulfa dan Jong San melakukan pernikahan pada 23 Maret 2001 silam di KUA Candi, Sidoarjo. Gugat cerai diajukan 4 Oktober 2006, dan panitera pengadilan memberi register dengan No. 1824/ PDT.G/2006/ PA Sby.

16 January 2007

Roy Suryo dan Tikus Bandara Juanda

Saya tinggal di dekat Bandara Juanda Surabaya, yang berlokasi di Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Karena itu, saya sering mendengar cerita seputar penumpang yang kehilangan barang di atas pesawat. Bagasi hilang. Barang-barang berharga lenyap. Maskapainya, ya, itu-itu saja.

“Sulit memberantas tikus Juanda. Wong kerjanya kayak mafia,” kata Syaiful, warga dekat Bandara Juanda. “Sejak kecil, ya, cerita soal penumpang kehilangan bagasi itu sudah ada,” tambah pria kelahiran 1975 itu.

Saat cangkrukan di kedai kopi, malam hari (ini salah satu hobi saya), bisanya orang cerita tentang kehidupan pegawai di bandara yang wah, mewah. Gaji resminya kecil, tapi punya barang-barang mahal. Dari mana uangnya? Siapa yang kasih barang-barang berharga itu? Suara-suara sumbang ini, sayangnya, sulit diverifikasi.

Mirip kentut: baunya jelas tapi wujudnya tak ada.

Kanjeng Raden Mas Tumenggung ROY SURYO NOTODIPROJO adalah pakar teknologi informasi, telematika, terkenal di Indonesia. Pria asal Jogja ini beberapa waktu lalu pun menjadi korban kerakusan ‘tikus-tikus’ di Bandara Juanda.

Kepada saya dan beberapa rekan wartawan, Roy Suryo bercerita bahwa barang-barang berharganya hilang di pesawat Boeing 737-400 milik LION AIR rute Makassar-Surabaya. “Ada tujuh macam yang hilang,” jelas dosen UGM Jogja itu. Apa saja itu?

Sony Handycam DCR-TRV27E (1 kaset miniDV dalam kamera, 2
kaset miniDV baru, 1 battery kamera NP-QM71 terpasang, 1 battery kamera NP-FM50 cadangan, memory stick 64 MB terpasang). HP Nokia 6585. HP Nokia 7650. HP Nokia 6670 masih gres. HT Icom IC-Q7A plus 2 battery NiCd. Digital Voice Recorder merk Cenix type VR-P270 warna gold. Parfum 100 ml merk Calvin Klein Eternity.

Ceritanya, Roy Suryo menjadi pembicara di sosialisasi pemberantasan korupsi di Ambon. Kembali ke Jakarta dengan pesawat LION AIR nomor penerbangan JT-791 via Bandara Hasanuddin, Makassar. Transit 25 menit, Roy dan para penumpang diperintahkan untuk tidak membawa barang-barang kabin ke luar. Maka, Barang-barang, termasuk perangkat telematika Roy, dibiarkan di dalam pesawat LION AIR.

Anehnya, ketika Roy dan penumpang dari Ambon masih transit, pesawat itu diberangkatkan ke Bandara Juanda. "Artinya, barang-barang dalam kabin itu menjadi tidak bertuan," cerita Roy Suryo. Singkat cerita, Roy dan penumpang lain akhirnya bisa tiba di Jakarta dengan pesawat lain milik LION AIR juga. Penumpang resah mengingat barang-barang di kabin lazimnya sangat berharga.

Pukul 19:00 muncul titik terang. Pesawat MD-82 JT-581 membawa barang-barang kabin milik penumpang asal Ambon. "Kecuali tas saya yang berisi barang-barang berharga itu. Penumpang lain mengambil barangnya di lost and found Lion Air Cengkareng," tutur Roy Suryo.

Roy Suryo resah. Kenapa tas BU 22HWX 'Alain-Delon' tidak ikut disusulkan ke Jakarta? Pasti ada apa-apa. "Saya sudah punya feeling tidak enak sejak di Ambon. Makanya, saya juga mengambil gambar-gambar untuk dokumentasi dan bukti," ujar Roy.

Kecurigaan Roy Suryo terbukti. Dia mendapat informasi bahwa tasnya masih nyanthol di Juanda. Pukul 08:00, esoknya, pesawat JT-571 landing di Cengkareng membawa tas yang isinya sudah digerogoti 'tikus' Bandara Juanda.

"Alhamdulillah, pukul 11:00 WIB tikus-tikus bandara akhirnya dibekuk. Barang bukti lengkap," tutur Roy seraya menarik napas panjang.

Kejutan berlanjut. Roy Suryo mengaku sulit percaya karena ternyata 'tikus' bandara ini justru orang dalam LION AIR juga. Namanya BHAKTI IRAWAN (28 tahun), domisili di Jalan Garuda 27 Betro, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. (Sebagai catatan, Bandara Juanda berlokasi di Desa Betro dan Pabean, Kecamatan Sedati.)

Siapa gerangan BHAKTI IRAWAN?

Jangan terkejut: dia kepala bagian bagasi LION AIR di Bandara Juanda. Opo tumon! "Bayangkan, orang yang punya otoritas di maskapai ternyata menjadi tersangka," ujar Roy Suryo seraya geleng-geleng kepala.

‘Untung’, kasus ini menimpa Roy Suryo, orang terkenal sejenis selebriti. Bagaimana kalau orang biasa macam engkau dan saya? Nah, polisi kemudian memberi kesempatan kepada Roy Suryo untuk bertemu BHAKTI IRAWAN. Tikus bandara ini pun tidak berkutik. Ia mengakui semua perbuatannya.

"Anda tahu nggak kalau barang-barang itu sangat penting bagi saya?” sapa Roy Suryo. Nadanya tinggi, tegas. Si 'tikus' cuma mathuk-manthuk.

"Saya minta maaf, Pak. Saya minta maaf. Ampun, Pak!" ujar BHAKTI IRAWAN.

"Kamu jangan minta maaf ke saya. Minta maaf ke Yang di Atas," ujar Roy Suryo.

Kasus serupa menimpa Roy Suryo pada 29 September 2004, juga di LION AIR, nomor penerbangan JT-560. Tas dari Bandara Juanda, waktu itu, tiba di Makassar dalam kondisi terbuka. Dua telepon seluler--Nokia 6225 dan Nokia 3105, berikut kartu Flexy dan kartu Fren--disikat 'tikus' bandara. Waktu itu Roy Suryo sudah melaporkan ke pihak LION AIR, tapi tak ingin ramai-ramai. Kali kedua, rupanya kesabaran Roy Suryo sudah habis.

Moga-moga saja manajemen LION AIR (dan maskapai lain) mau belajar dan mengambil hikmah.

15 January 2007

Wisata Bromo Makin Hancur




Ekowisata atawa wisata alam GUNUNG BROMO dan GUNUNG SEMERU kian merosot. Jenis wisata pemandangan dan petualangan paling top di Jawa Timur ini mulai ditinggalkan turis dalam dan luar negeri. Ini bisa dilihat dari jumlah pengunjung kawasan wisata Bromo, Pegunungan Tengger, dan Gunung Semeru yang terus menurun dalam 10 tahun) terakhir.

Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mencatat, pada 1996, jumlah wisatawan 177.570 orang. Pada 1997 sebanyak 196.165, tahun 1998 sebanyak 136.966 orang, 1999 sebanyak 133.759. Untuk tahun 2000 sebanyak 148.474, tahun 2001 sebanyak 118.359 orang, tahun 2002 sebanyak 155.846 orang, tahun 2003 sebanyak 111.761 orang, dan 2004 sebanyak 91.705 orang.

“Tahun 2005 sebanyak 90.922 dan hingga November 2006, jumlah wisatawan hanya 62.666 orang. Hingga akhir tahun 2006 tidak sampai 80 ribu,” jelas Kepala Balai Taman Nasional, JOKO PRIHATNO, dalam sebuah seminar tentang ekowisata di Malang.

Di zona wisata seluas 50,27 ribu hektare itu sebenarnya ada banyak wisata alam yang bagus. Ada wisata pendakian Gunung Semeru dan kemah di Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo danau alam dengan pemandangan istimewa.

Kemudian, ada zona rimba yang terdiri dari air terjun, kawah Bromo. Kaldera Tengger. Upacara kasada. Ada juga zona pemanfaatan intensif terdiri dari pemandangan Gunung Penanjakan, pemandangan dan perkemahan Ranu Pane-Regulo, hutan ireng-ireng. Ranu Darungan sebagai pusat penelitian, dan pariwisata alam di Cemoro Lawang.

“Sebenarnya sangat banyak yang bisa dijual. Namun, kami akui harus ada program baru yang bisa mengembalikan daya tarik wisatawan,” ujar Joko Prihatno.

Joko mengakui kualitas dan kuantitas alam serta penunjangnya sangat menurun. Tidak ada inovasi baru. Penyebab lain: daya beli masyarakat yang menurun, kondisi kerawanan gunung api, terorisme, lumpur Lapindo, dan manajemen.

“Kebersihan lokasi wisata juga menjadi salah faktor yang mempengaruhi penurunan pengunjung. Kami akan mulai berbenah dengan modifikasi produk yang dijual. Bromo salah satu unggulan Jatim,” kata Joko.

Wong Jawa Dalang Wayang Potehi



Oleh Lambertus Lusi Hurek

Rumah Ki SUBUR, nama aslinya SUGIJO WALUYO (lahir pada 17 Mei 1962) dekat kelenteng. Ini membuatnya akrab dengan pergelaran wayang potehi alias 'wayang titi' (sebutan khas masyarakat awam). Ketika wayang potehi tengah dimainkan, Subur kecil main-main ke kelenteng.

Namanya juga anak-anak, waktu itu belum ada kesan apa-apa. "Saya lihat kok menarik. Boneka digerak-gerakkan, pak dalang bicara, ada musiknya. Pokoknya ramai dan menarik," cerita Ki Subur kepada saya.

Kebetulan beberapa kerabat Ki Subur sudah lebih dulu menekuni wayang potehi di Surabaya dan beberapa kelenteng lain di Jawa Timur. Tanpa diajak, Ki Subur bergabung dengan rombongan pemain wayang potehi. Ia menjajal beberapa instrumen musik Tiongkok yang biasa dipakai untuk pergelaran wayang potehi. Kali lain Subur diminta mengambil boneka-boneka potehi.

Yang menarik, ketika teman-teman sebaya bermain bola atau permainan lain, khas anak-anak, Subur tetap bertahan bersama grup wayang potehi. Sebagai balas jasa, para senior memberikan tips ala kadarnya buat uang jajan. Praktik seperti ini dilakukan terus-menerus oleh Subur selama bertahun-tahun. Dari sinilah, para senior menilai Subur punya minat dan bakat menjadi dalang wayang potehi.

"Jadi, belajarnya itu sambil jalan. Nggak ada kursus atau latihan khusus menjadi dalang wayang potehi karena memang tidak ada di dunia," ujar Subur.

Belajar wayang potehi mirip belajar seni bela diri Tiongkok. Sang 'suhu' (guru) mengeluarkan ilmunya perlahan-lahan, tahap demi tahap. Begitu halusnya cara si guru mengeluarkan ilmunya, murid seperti Subur tidak sadar kalau dia sedang belajar. Tak ada jalan pintas dalam wayang potehi. Akhirnya, tanpa terasa Subur sudah menguasai jurus-jurus wayang potehi.

"Jalannya mulus saja. Kita belajar sambil bermain. Dan proses belajar ini berjalan terus tanpa ada batasnya. Saat saya bermain sekarang pun sebenarnya saya sedang belajar juga."

Bagaimana Subur mampu menguasai cerita-cerita khas Tiongkok? (Hampir semua adegan potehi diambil dari kisah nyata pada zaman Kerajaan Tiongkok kuno.) Jawabnya, baca komik China sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan kisah Mahabarata dan Ramayana--bahan dasar wayang purwa--yang biasanya ditularkan secara lisan, kisah-kisah wayang potehi sudah banyak dikomikkan dalam bahasa Indonesia.

"Kalau bahasa Mandarin saya nggak bisa. Paling-paling hanya beberapa ungkapan tertentu saja. Jadi, gaya mendalang saya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Jawa, sekali-sekali bahasa Mandarin," cerita Subur sambil tertawa kecil.

Komik cerita wayang potehi ini jauh lebih tebal ketimbang komik biasa. Ceritanya pun penuh intrik, lika-liku, akal-akalan, perang antarpendekar bukan saja di bumi, tapi juga sering melibatkan dewa-dewi.

"Kalau raja atau ratunya sudah kelewatan ngawurnya, pasti dewa turun tangan. Dewa menggunakan cara-cara khusus untuk mengatasi kemelut di bumi. Ini menjadi salah satu ciri khas cerita di wayang potehi."

Menurut Subur, gambar di komik Tionghoa ini sangat hidup dan menarik. Tak heran, Subur begitu menggandrungi komik-komik ini dan jalan ceritanya mudah diingat. Hanya saja, nama-nama Tionghoa sering kali sulit diingat Ki Subur. "Tapi lama-kelamaan biasa juga. Apalagi, ceritanya bisa kita mainkan berturut-turut selama satu bulan."



FUK HOU AN grup wayang potehi yang sangat kondang di Jawa Timur pada 1950-an hingga 1960-an. Dalangnya TUK HONG KI (almarhum, asal Jombang) yang tak lain orang tua Tonny. Ketika seni budaya khas Tiongkok dilarang keras oleh rezim Orde Baru, kejayaan Fuk Hou An pun seperti lenyap ditelan bumi.


Tuk Hong Ki, sang dalang potehi, meninggal dunia tanpa ada kaderisasi dalang baru. Mana ada anak muda keturunan Tionghoa yang mau menekuni potehi? Selain trauma, takut dicokok aparat keamanan, anak-anak muda Chinese lebih senang menjadi pebisnis, profesional, atau atlet (basket, bulutangkis, dan seterusnya). Mau dikemanakan properti wayang potehi milik Tuk Hong Ki?

Suatu ketika Tonny melihat permainan wayang potehi dari Sugijo Waluyo dan kawan-kawan. Sangat menarik, katanya. Aksi Sugijo Waluyo (nama asli Ki Subur), anak muda yang lahir pada 17 Mei 1962 ini kontan membangkitkan harapan Tonny. Bahwa ternyata masih ada anak muda, yang nota bene orang Jawa, mau meneruskan seni adiluhung Tiongkok. Kalau begitu, wayang potehi tidak mati. Sang Dewa rupanya masih melindungi seni wayang potehi.

Sejak itulah Tonny menjadi 'bapak angkat' Grup Fuk Hou An, dengan dalang Ki Subur. "Sampai sekarang Pak Tonny itu paling antusias mendukung saya dan teman-teman. Kalau nggak ada dukungan Pak Tonny mungkin grup kami tidak berkembang sepesat sekarang," kata Subur.

Saat pentas di Kelenteng Tjok Hok Kiong, Sidoarjo, pun Tonny berusaha melihat secara langsung. Saat ini Subur diperkuat empat pemain pembantu, sekaligus pemusik, yakni SUGIYONO (Surabaya), MULYANTO (Surabaya), KARLI (Blitar), dan ALFIAN (Sidoarjo). Nama terakhir ini, Alfian (18 tahun) tak lain anak kandung Subur.

"Saya nggak pernah memaksa anak saya untuk meneruskan wayang potehi. Tahu-tahu dia ikut sendiri sampai sekarang," tutur Subur, ayah empat anak.

Subur mengaku lebih senang bila anak-anaknya menekuni profesi lain, bukan seniman, apalagi dalang wayang potehi. Tapi, begitulah, buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya. Bakat seni sang ayah ternyata merembet ke Alfian, anak kedua.

Kenapa Grup Fuk Hou An didominasi orang luar, bukan Sidoarjo?

Di sinilah rahasia wayang potehi. Kaderisasi, kata Ki Subur, tidak bisa dilakukan secara mudah seperti seni hiburan populer ala musik pop. Mereka yang belajar wayang potehi, ikut pentas Ki Subur ke mana-mana bukan jaminan bakal 'jadi'. Kalau bukan bakatnya, latihan seperti apa pun tak akan bisa.

Menurut Ki Subur, sejak dulu anak-anak muda Sidoarjo, khususnya yang tinggal di dekat kompleks Kelenteng Tjok Hok Kiong, sebetulnya tak kurang-kurangnya mengikuti proses berkesenian dari Ki Subur dan kawan-kawan. Ada yang mencoba meniup trompet, main gong China, dan seterusnya. Beberapa anak muda bahkan sempat bergabung dengan Ki Subur. Tapi, dasar bukan bakat, mereka tidak bertahan lama.

"Saya sih lebih senang kalau pemain-pemain saya banyak yang dari Sidoarjo. Kalau semuanya orang sini kan gampang koordinasinya," tutur Subur yang pernah tampil di stasiun televisi nasional di Jakarta itu.

Bagi Subur, yang resmi menjadi dalang potehi pada 1994 (tahun 1970-an sudah ikut-ikutan pemain dewasa), wayang potehi sudah menjadi pilihan hidupnya. Ia mengandalkan nafkah hidupnya dan keluarga dari wayang potehi kendati fee-nya jauh lebih kecil ketimbang dalang wayang kulit. Gelar wayang potehi pun tak bisa dilaksanakan setiap hari.

Di Sidoarjo, wayang potehi hanya digelar saat perayaan hari jadi Makco THIAN SIANG SENG BO di Kelenteng Tjong Hok Kiong, Jalan Hang Tuah Sidoarjo. Acara tahunan ini juga diisi dengan hiburan rakyat untuk warga sekitar kelenteng.

Untuk memeriahkan HUT Makco, Subur biasanya menggelar pertunjukkan wayang potehi selama satu bulan penuh di kompleks kelenteng. Biasanya, lakon yang dibawakan adalah SUN PIN-BAN KWAN. "Saya selalu mengajukan empat judul, kemudian diseleksi oleh pengurus kelenteng. Judul mana yang dipilih, ya, itulah yang saya mainkan,” jelas Subur kepada saya.

Wayang potehi di Sidoarjo merupakan bagian dari ritual umat Tridharma ketimbang hiburan biasa. Karena itu, jarang sekali orang luar yang menikmati kesenian langka ini. "Padahal, unsur hiburan dan intrik di wayang potehi justru lebih banyak daripada wayang kulit. Nggak kalah deh sama wayang kulit," tegas Subur.

Yang jelas, Ki Subur mengaku puas dengan pilihannya sebagai seniman wayang potehi. Ki Subur, dengan caranya sendiri, telah melestarikan kesenian Tiongkok yang nyaris punah itu.



TERKAIT
Pelestari wayang potehi di Surabaya