31 December 2007

Slank 24 tahun


Oleh John N.S.
Sumber: www.antara.co.id

Kelompok musik Slank telah menggelar konser musik untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT)-nya yang ke-24 di Pantai Carnaval, Ancol, pada 29 Desember 2007.

Pagelaran seperti itu sudah mereka lakukan sejak beberapa tahun lalu, dan agaknyanya menjadi acara rutin tahunan.

Usia 24 tahun merupakan usia yang cukup tua untuk sebuah grup band. Satu band biasanya dapat disebut sebagai legendaris, jika telah berumur 30 tahun, artinya enam tahun lagi tak salah jika Slank menyandang band legendaris.

Meski personelnya tidak utuh sejak awal terbentuk pada 26 Desember 1983, Slank tetap tidak mengubah nama.

Berawal dari Cikini Stones Complex di era 1980-an, awalnya band ini membawakan lagu-lagu supergroup "rock `n` roll" asal Inggris, Rolling Stone. Belakangan, band itu pecah dan Bimbim, sang dedengkot, mencoba membangun band baru dengan nama Red Devil, tetapi juga tidak bertahan lama.

Baru setelah Kaka (vokal), Indra Qadarsih (kibor), Bongky (bas) dan Pay (gitar) bergabung, muncullah nama Slank, yang artinya "slenge'an" (tidak lumrah, semaunya sendiri), dan juga "slank" sebagai istilah gaul dalam bahasa Inggris.

Saat itu, Bimbim dan kawan-kawan beralasan, bahasa Indonesia tidak cocok untuk musik rock dan harus menggunakan bahasa gaul atau dulu sering disebut sebagai bahasa preman.

Sayangnya, setelah melepas lima album studio, "Gadis Sexy" (Desember 1990), "Kampungan" (Desember 1991), "Piss" (Desember 1993), "Generasi Baru" (Desember 1994) dan "Minoritas" (Januari 1996), satu album "the best" dan satu album "soundtrack" (Anak Menteng), Slank mengalami keretakan sehingga akhirnya pecah ketika Bongky, Indra dan Pay memutuskan keluar pada 1996.

Meski demikian, kehadiran Ivanka (bas) dan Reynold (gitar) membuat Slank tetap bergerak maju dan menghasilkan album keenam, "Lagi Sedih", diluncurkan pada Februari 1997. Menjelang akhir 1997, Reynold hengkang dan posisinya langsung digantikan oleh dua gitaris, Abdi Nugraha (Abdee) dan Ridho.

Dengan formasi terbaru itulah Slank menghasilkan album "Tujuh" (Januari 1998), "Mata Hati Reformasi" (Mei 1998), "double-album 999+09" (Oktober 1999), "Virus" (September 2001), "Satu Satu" (Maret 2003), "Road to Peace" (Mei 2004), "Peace, Love, Unity and Love" (PLUR, Desember 2004), "Slankissme" (Desember 2005), dan "Slow But Sure" (Maret 2007).

Mereka juga mengeluarkan empat album "the best", tiga album "live concert", masing-masing "Konser Piss" (Nopember 1998), "Slank Virus Road Show" (Pebruari 2002), dan "Slank Bajakan" (kompilasi album "live concert") pada Oktober 2003.

Sebagai band yang telah berusia 24 tahun, musuh terbesar bagi Slank adalah diri mereka sendiri.

"Musuh terbesar kita, ya diri sendiri," kata Bimbim, saat berbincang dengan wartawan di sela peringatan HUT ke-24 Slank di markas besar mereka, Gang Potlot III Nomor 14, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Menurut dia, diri sendiri bukanlah sebagai sikap jumawa atau egois, melainkan kejenuhan akibat bentuk kegiatan yang sama. "Bayangin aja, kerjaan kita-kita ini cuma latihan, bikin lagu, rekaman, 'touring', wawancara dengan kalian. Itu aja."

Agar dapat mengenyahkan rasa jenuh itu, para personel Slank memiliki resep yang menurut mereka sejauh ini ampuh.

"Ibaratnya, kalau kerja tiga jam, kita cuma kerja satu jam. Dua jam selebihnya kita manfaatkan untuk bercengkerama," kata Kaka.

Dengan jurus seperti itu, ia menilai, bukan hanya kejenuhan yang dapat disingkirkan, tetapi sekaligus juga bisa lebih merekatkan keakraban di antara para personel.

Bimbim secara berkelakan mengatakan, "Ibu-ibu juga bikin arisan, 'gak 'tahu deh kalau mereka juga 'ngegosipin' kita-kita." Ibu-ibu yang dimaksudnya adalah para istri personel Slank.

Ivanka menambahkan, "Kita 'gak' kenal selingkuh, jadi solid."

Cinta Damai

Konser HUT Slank tahun ini bertajuk "From Slank With Love", dan Bimbim, Kaka, Abdee, Ronald, Ivanka bakal berkolaborasi dengan sembilan artis wanita, yakni Maia "Ratu", Melanie Subono, Sarah Indonesian Idol, Tika dan Tiwi (T2), Julia Perez, Dewi Persik, Sherina, Astrid, dan Nirina Zubir.

Selain itu, band asal Jepang, The Big Hip, juga akan tampil sebagai band tamu dan sekaligus juga berkolaborasi dengan Slank.

Berbicara tentang tajuk konser, Kaka mengatakan, Slank ingin menebarkan virus cinta kasih dan perdamaian kepada masyarakat luas, bukan hanya para "slankers" (penggemar) maupun penonton yang akan menyaksikan konser musik mereka nanti.

Tema cinta kasih dan perdamaian sendiri sudah diusung Slank dalam setiap konsernya, sejak reformasi bergulir di Tanah Air pada 1998.

Bimbim, Kaka (vokal), Abdee (gitar), Ronald (Gitar), Ivanka (bas) adalah formasi Slank yang baru berusia 10 tahun, tetapi tampaknya merupakan yang paling solid. Kehadiran Abdee, yang juga piawai sebagai produser musik, dipadukan dengan kesetiaan Bimbim-Kaka ditambah Ivanka dan Ronald, juga merupakan nilai penting dalam sisi kehidupan Slank.

Selama 10 tahun terakhir, formasi ini menghasilkan sembilan dari 15 album studio, sejak Slank meluncurkan album debut "Suit Suit He...He..." (Gadis Sexy) tahun 1990.

Tampilnya The Big Hip dalam konser HUT ke-24 Slank bukan tanpa alasan. Menurut Bimbim, band asal negeri Sakura itu adalah "mitra" mereka saat rekaman di Jepang, sekitar Ramadhan lalu.

"Kita sudah rekaman dengan mereka. Rencananya, awal tahun depan (2008) albumnya dirilis di Jepang dan di sini," katanya.

Selain album kolaborasi dengan The Big Hip, Bimbim mengatakan, Slank juga bikin album di Amerika Serikat (AS), dan akan diluncurkan dalam waktu hampir bersamaan dengan album yang dibuat di Jepang.

"Pokoknya, Januari 2008 Slank akan meluncurkan dua album internasional," katanya.

Ketika ditanyakan tentang kegiatan Slank pada Malam Tahun Baru 2008, ia mengatakan, kelompoknya bakal libur.

"Di rumah aja. Nonton TV," katanya.

Sementara itu, Bunda Slank (sang pengasuh), menyatakan rasa syukur yang besar kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena anak-anak asuhnya itu sudah berhasil dalam karir.

"Syukur, Alhamdulilah, mereka sudah bertahan sekian lama. Ke depan, tentunya, mereka harus terus berkarya demi kemajuan musik anak negeri," katanya.

Bunda juga mengatakan, mimpi Slank saat ini adalah dapat menghadirkan lebih banyak band asing pada konser peringatan hari jadi band tersebut.

"Mudah-mudahan terkabul, doakan ya?," kata Bunda sambil tersenyum.

30 December 2007

Sendangsono dalam gambar


Sendangsono di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Jogjakarta, merupakan tempat ziarah utama umat Katolik di Indonesia. Tiap hari selalu ramai. Puncaknya pada Mei dan Oktober, bulan Maria. Kebanyakan peziarah berasal dari tempat-tempat jauh macam Jakarta [dan sekitar], Bandung, Surabaya, Malang, Kalimantan, Sulawesi, bahkan luar negeri.

Peziarah berdoa, meditasi, refleksi [juga melamun] di depan Gua Maria Lourdes. Gua yang diberkati pada 8 Desember 1929 ini merupakan gagasan Romo JB Prennthaler SJ, pastor asal Austria. Patung Maria setinggi 180 cm didatangkan dari Denmark, diangkut 30 laki-laki, jalan kaki melintasi perbukitan Menoreh.


Mengapa disebut Sendangsono? Karena ada sendang [sumber air] di bawah pohon sono [angsana] yang berusia ratusan tahun. Awalnya ada dua pohon, tapi sekarang tinggal satu. Tak jauh dari situ ada pohon beringin besar. Ini membuat suasana tempat ziarah sangat sejuk dan nyaman. Tempo dulu warga desa setempat percaya bahwa pohon besar itu ada penghuninya bernama Dewi Lantamsari dan Den Bagus Samijo. Setelah dijadikan tempat ziarah, si penunggu terusir karena diganti Bunda Maria.


Pada 14 Desember 1904 Romo Fransiscus van Lith SJ membaptis 171 warga Sendangsono. Peristiwa ini sangat bersejarah, sebagai jemaat Katolik pertama di tanah Jawa. Sendangsono menjadi pusat Katolik di Jawa mula-mula. Orang Belanda bilang Bethlehem van Java alias Bethlehem-nya Jawa. Nah, untuk mengenang peristiwa ini, 25 tahun kemudian, Romo Prennthaler SJ [pengganti Romo van Lith] mendirikan Gua Maria di bawah dua pohon sono dan sendang Dusun Semagung. Dua misionaris bule ini--Romo van Lith dan Romo Prennthaler--menjadi pahlawan umat Katolik di tanah Jawa.


Sumber air atau sendang di Dusun Semagung, Kalibawang, di bawah pohon sono ini dipakai Romo van Lith untuk membaptis 171 orang Semagung dan sekitarnya pada 14 Desember 1904. Sumber ini tak pernah kering sampai sekarang.



Makam almarhum Barnabas Sarikromo, guru agama Katolik atau katekis pertama di tanah Jawa. Pak Barnabas-lah yang memberikan pelajaran agama kepada 171 warga Semagung sehingga mereka dibaptis oleh Romo van Lith SJ. Pak Barnabas sendiri lebih dulu dibaptis di Muntilan juga oleh Romo van Lith pada 20 Mei 1904 setelah penyakit boroknya dirawat Bruder Th. Kersten SJ di Muntilan. Usai dikatolikkan, Barnabas berkomitmen menjadi guru agama tanpa dibayar demi 'njembarke kraton nDalem'.


Rombongan peziarah sering membawa pembimbing rohani atau romo sendiri. Di gambar ini umat dari Jakarta mengikuti misa yang dipimpin Romo Nano. Di samping Gua Maria ada Kapel Tritunggal Mahakudus untuk perayaan ekaristi. Umat duduk lesehan selama misa berlangsung. Sementara peziarah lain bikin agenda sendiri tanpa saling mengganggu. Masih ada dua kapel lain, yakni Kapel Maria [untuk umat Stasi Sendangsono] dan Kapel Para Rasul di bawah pohon asam jawa.


Tempat ziarah ini diperluas dua kali. Desain dibuat oleh almarhum Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya Pr--arsitek, pastor, novelis, budayawan, pekerja sosial, tokoh pendidikan--pada 1972. Romo Mangun membangun tempat peziarah ini dengan prinsip tidak merusak alam. Tanah berbukit dibiarkan apa adanya, tidak digali atau dirusak. Di sini banyak undakan dengan motif cantik karena Romo Mangun mengikuti kontur-kontur tanah sesuai dengan aslinya. Luas kompleks ini sekitar 0,5 hektare.


Peziarah berdoa jalan salib dari Stasi I sampai Stasi XIV di kompleks ini. Rutenya pendek. Selama berada di Sendangsono kita sangat sering melihat rombongan melakukan jalan salib bersama atau sendiri-sendiri. Ziarah tanpa jalan salib tidak afdal. Nyanyian khas jalan salib pun kerap terdengar:

"Mari kita merenungkan
penebusan umat Tuhan
meresapkan dalam hati
cinta kasih ilahi...."



Usai jalan salib dan berdoa di depan Gua Maria, peziarah mengambil air sendangsono. Air dari sumber di bawah pohon sono ini dianggap 'suci' karena sudah diberkati oleh Romo van Lith pada 14 Desember 1904 untuk membaptis 171 orang Dusun Semagung. Karena bersih dan sudah diproses, air ini bisa diminum, buat cuci muka, dan sebagainya. Peziarah biasanya membawa pulang air sendangsono untuk kenang-kenangan. Menurut informasi, banyak orang beroleh mukjizat kesembuhan setelah mengkonsumsi air ini. Bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil!


Di bawah jembatan kecil ke kompleks peziarahan mengalir sungai kecil. Ada sebuah batu besar yang zaman dulu dipercaya 'ditunggui' makhluk halus. Batu itu oleh Romo Mangun dipertahankan sebagai adanya untuk mengatur aliran air. Perhatikan, bangunan ini ramah lingkungan mulai dari sungai hingga ke atas.


Karya cipta adiluhung patut mendapat penghargaan. Pada 1991 Ikatan Arsitektur Indonesia memberikan penghargaan karya arsitektur terbaik untuk Tempat Ziarah Sendangsono, buah tangan dingin Romo Mangunwijaya. Kompleks ini dinilai sebagai bangunan khusus dengan penataan lingkungan terbaik di Indonesia. Karena itu, Sendangsono pun menjadi rujukan berbagai kalangan untuk 'studi banding' bagaimana merancang bangunan yang ramah lingkungan.

Selamat buat Romo Mangun dan warga Sendangsono!


Oh ya, ziarah di Sendangsono menjadi lebih ideal [sangat dianjurkan] bila umat melakoni jalan salib dari Gereja Promasan [Paroki Maria Lourdes] hingga ke kompleks Sendangsono. Jaraknya sekitar 2,5 kilometer, mendaki, jalan berbatu. di sepanjang jalan kita bisa berdoa mulai stasi I hingga XIV. Perlu niat dan stamina cukup kuat [bagi orang kota] untuk melakukan jalan salib rute panjang ini.

Rute khusus jalan salib Promasan-Sendangsono dibuat pada 1958. Gereja Promasan dimulai pembangunannya pada 11 Februari 1940 di masa Romo R. Jasawihardja SJ, kemudian dituntaskan Romo JB Prennthaler SJ. Yang menarik, meski menjadi jemaat Katolik perintis di tanah Jawa, umat Sendangsono dan sekitarnya terlambat memiliki gereja atau paroki sendiri. Sebelumnya, Sendangsono ikut Paroki Muntilan, kemudian Paroki Boro.

Selamat berziarah di Sendangsono!
Sendangsono, Bethlehem van Java,
Bethlehem-nya Tanah Jawa!

Sembah bekti kawula Dewi Maria, kekasihing Allah
Pangeran nunggil ing panjenengan dalem
Sami-sami wanita Sang Dewi pinuji piyambak
saha pinuji ugi wohing salira Dalem, Sri Yesus
Dewi Maria, Ibuning Allah,
kawula tiyang dosa sami nyuwun pangestu dalem
semangke tuwin benjing
dumugining pejah. Amin.


REFERENSI

1. Petrus Soeradjiman: Sendangsono, Promasan Kalibawang; Putra Bhakti Magelang, 1976.
2. G.P. Sindhunata SJ: Mengasih Maria, 100 Tahun Sendangsono; Kanisius Jogjakarta, 2004.
3. Wawancara dengan Bapak Agustinus Suwarno, pengawas bangunan Sendangsono.
4. Wawancara dengan Bapak Yohanes Sugianto, pekerja Sendangsono.
5. Wawancara dengan Bapak Cornelius Sulistiyanto [katekis, tokoh pendidikan Kalibawang], putra Antonius Sakarija [katekis generasi awal Sendangsono, Kalibawang].
6. Wawancara dengan Ibu Pariyah, umat sendangsono.

Suster Yerona Hurek CIJ


Internet ternyata mampu mempertemukan keluarga dekat kita. Gara-gara sering 'main' internet, googling, saya bertemu dengan Suster Yerona Hurek CIJ di jagat maya. Di sebuah situs internet, biarawati Congregatio Imitationis Jesu alias CIJ, yang juga masih kerabat saya, itu menulis surat minta bantuan. Sebab, biara CIJ di Makassar yang ia pimpin sedang melakukan pembangunan sejumlah fasilitas.

Wah, saya jadi ingat Mama Suster Yerona yang baik hati, murah senyum, suka menolong, kerja keras tekun berdoa. Terakhir kali saya bertemu Mama Suster [sapaan akrab Suster Yerona Hurek] di Makassar tahun 1998. Waktu itu saya tinggal semalam di sana karena menunggu kapal laut ke Jawa. Saya ingat betul keramahan beliau.

Mama Suster Yerona CIJ menulis di internet [www.catholic.org] begini:

"At present, we are living in Makassar forming a community in which I myself as the leader. As the local Congregation, we have been actively involved in various pastoral ministries trying to deepen the faith of the local people and to help them grow towards a mature faith.

We are also partaking in the parish ministries, carring for the sick, doing the visitation, conducting the choirs, organizing the youth, and giving the retreat/recollection to various groups of people.

We are also involved in the Catholic education run by the Brothers (The Servants of Christ – HHK) in which we trying to educate young people, not just to gain some knowledge and skills but also to pass on them the Christian values which seem to disappear from young people. In order to fulfill these tasks and responsibilities entrusted to us, we need to establish a rather good living condition so that we can be able to exercise our ministries effectively."


Biasa lah, singkat cerita, Mama Suster sedang berusaha mencari donatur untuk membiaya beberapa proyek CIJ di Makassar. Sebagai kepala biara CIJ, Suster Yerona memang harus pandai-pandai mencari donatur serta mempertanggungjawabkan semua bantuan. Saya hanya bisa berdoa agar semua rencananya di Makassar, Sulawesi Selatan, berjalan dengan baik dan lancar. Kurang dana, ya, "ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu". Hehehe....

Suster Yerona hanyalah biarawati, bukan selebriti atau pesohor yang dikenal banyak orang. Namun, bagi kami di kampung halaman, pelosok Lembata, Flores Timur, putri sulung Bapak Yeremias Selebar Hurek ini tak asing lagi. Sebab, dia termasuk biarawati angkatan pertama di daerah saya. Bahkan, setahu saya, Suster Yerona CIJ merupakan suster pertama di kecamatan saya, Ile Ape.

Kami, keluarga besar fam Hurek Making, tentu saja bangga. Asal tahu saja, orang Flores itu sangat bangga kalau ada di antara anggota keluarganya yang terpanggil untuk "bekerja di kebun anggur Tuhan". Jadi suster, frater, bruder... apalagi pastor. Derajat keluarga langsung terangkat karena kalangan klerus masih dianggap elite di Pulau Flores.

Sejak awal 1970-an Suster Yerona sudah masuk biara. Sebagai orang kampung, keluarga sederhana, Yerona merintis "karier" dari bawah sekali. Berkat ketekunan, doa pribadi, dukungan keluarga, semangat untuk maju, Suster Yerona akhirnya bisa menjadi biarawati ternama.

Patut diingat, sebelum 1980-an tidak banyak kaum perempuan di Flores Timur yang diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Biasanya, lulus sekolah dasar [SD], ya, selesai. Tinggal di kampung lalu menunggu masanya dilamar laki-laki, lalu menikah, punya anak, dan seterusnya. "Buat apa sekolah tinggi, makan biaya, toh akhirnya jadi ibu rumah tangga," begitu pendapat umum di Flores Timur, sebelum 1980. Bahkan, sampai sekarang pendapat lama itu masih berlaku.

Karena itu, bagi saya, Suster Yerona ini mendobrak tradisi patriarki yang sudah berakar di kampung. Sudah selayaknya dia berterima kasih kepada sang ayah, Ama [Bapak] Selebar Hurek. Sebab, setahu saya pada tahun 1970-an hanya almarhum yang punya pikiran maju di kampung saya. Ketika orang tua lain masih berpikir sempit, hanya berkutat di kampung, Kakek Selebar sudah berpikir jauh ke depan. Bahwa masa depan kita ada di pendidikan. Tanpa pendidikan, kampung halaman tidak akan pernah maju.

Mengapa Ama Selebar lebih maju daripada semua orang lain di kampung saya? Sederhana saja: dia guru agama Katolik atau katekis pertama di kampung. Mungkin guru awam angkatan pertama di kawasan Lembata. Beda dengan katekis sekarang yang sekolah di akademi atau sekolah tinggi, kerja dibayar, ada fasilitas, pada 1960-an katekis bekerja benar-benar tanpa pamrih. Semata-mata untuk melayani Tuhan. Semata-mata untuk menyebarkan agama Katolik di pelosok-pelosok Flores.

Ingat, jumlah pastor sejak dulu memang sangat terbatas. Dan para katekis alias guru-guru agama desa yang menggerakkan roda gereja di kampung-kampung. Kalau di kota-kota Jawa, umat Katolik bisa ikut misa tiap hari [kalau mau 10 kali sehari], di pelosok Flores Timur seperti yang pernah saya alami baru tiga bulan sekali.

Berkat kegigihan katekis desa macam Ama Selebar, akhirnya warga desa yang tadinya animis, bikin ritual di batu-batu besar dan pohon-pohon rindang, memeluk agama Katolik. Sebagai katekis, Ama Selebar juga menjadi panutan di masyarakat. Tiap hari berdoa, baca kitab suci, hidup sesuai dengan ajaran Katolik.

Tak heran, seperti juga katekis di tempat-tempat lain, anak-anaknya Ama Selebar sangat terdidik dan lebih maju ketimbang teman-teman sebaya. Sekolahnya lancar karena didukung otak cerdas dan gairah belajar tinggi. Selain Suster Yerona, anak-anak Ama Selebar yang lain sangat sukses.

Sebut saja Kayus Geleteng Hurek [dosen di Kupang] dan Paskalis Kabe Hurek. Yang terakhir ini, Om Paskalis, saat ini lebih dikenal dengan Romo Paskalis, pastor di Keuskupan Larantuka, Flores Timur. Suster Yerona, anak sulung merintis, dan Paskalis sebagai anak bungsu menyusul menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan.

Buah tak akan pernah jatuh jauh-jauh dari pohonnya. Teladan orang tua akan sangat mempengaruhi masa depan anak. Pengalaman Suster Yerona dan keluarga Ama Selebar membuktikan bahwa panggilan selalu berawal dari keluarga. "Keluargaku seminari kecil," begitu slogan yang pernah diperkenalkan di Keuskupan Larantuka.

Kalau keluarga berantakan, tidak pernah doa, jauh dari Tuhan, mana boleh anak-anaknya jadi pastor, suster, bruder? Mudah-mudahan orang Flores Timur masih menghayati kearifan tradisional yang sudah dirintis Ama Selebar ini.

Bulan lalu saya mendapat surat elektronik [email] kejutan dari Vatikan, Roma. Dia memperkenalkan diri sebagai cucunya Ama Selebar. Namanya Suster Sesilia Nasa Lebangu. Dia menulis demikian:

"Saya ada di kota Roma, seorang suster Wajah Kudus yang betugas dan belajar di Roma sejak 2000. Pasti nana [om] heran siapa ini???? Saya adalah anaknya Mama Rofina Hurek dan Bapa Nabas Lebangu. Cucu Yeremias Selebar Hurek."

Oh ya, teman-teman ingin membantu proyek Suster Yerona CIJ di Makassar? Silakan kirim dana melalui Bank Danamon Jalan Ahmad Yani Makassar atas nama Sr. Yerona CIJ, rekening nomor 060.090-52512.6

29 December 2007

Tempat ziarah Puhsarang makin sekuler


Dari Sendangsono, Kulonprogo, Jogjakarta, saya menyempatkan diri mampir ke Gua Maria Lourdes di Puhsarang, Kecamatan Semen, Kediri. Banjir dahsyat menerang tanah Jawa gara-gara Bengawan Solo meluap. Macet empat jam, Cak!

Akhirnya, saya tiba di Puhsarang sekitar pukul 02.00 WIB, Kamis [27/12/2007]. Hujan masih cukup deras. Ternyata, saya tidak sediri. Ada sekitar 10 anak muda asal Blitar dan Puhsarang merenung di depan Gua Maria lama, persis di depan gereja antik ala Majapahit itu. Juga empat orang Tionghoa berdoa di pelataran gereja tua.

Puhsarang terkenal karena gereja antik buatan 1930. Di sini pun sejumlah orang Jawa menerima baptisan Katolik. Puhsarang kemudian menjadi terkenal di Jawa Timur setelah Uskup Surabaya Mgr Johanes Hadiwikarta [RIP] meresmikan pusat ziarah rohani sekitar lima hektare di samping kompleks gereja tua pada 1 Januari 2000. Ada gua raksasa berikut patung Bunda Maria berukuran jumbo. Juga areal jalan salib dengan arca-arca kelas tinggi dan... sangat mahal.

Di tengah malam dingin, saya berdoa rosario sampai tuntas. Ini kebiasaan masa kecil di Flores yang agak saya alpakan karena berbagai alasan: capek, tidak fokus, lihat bola di televisi, dengar musik, baca buku. Singkatnya, MALAS! Di sinilah pentignya ziarah ke tempat-tempat macam Puhsarang atau Sendangsono.

Kita diingatkan bahwa 'manusia itu tidak hanya hidup dari roti saja'. Setiap saat kita dipanggil Tuhan, sehingga kita perlu memberikan waktu untuk Tuhan. Dulu, saya suka mencibir orang-orang Surabaya yang doyan ziarah ke Puhsarang, Sendangsono, bahkan Lourdes, Palestina, atau Vatikan. Tapi sekarang, setelah ziarah ke beberapa tempat, saya akhirnya insaf dan menyesali kata-kata saya dulu.

Siang hari, meski malamnya kurang tidur dan stres gara-gara jalan raya Jawa Tengah-Jawa Timur putus, saya merasa segar. Lalu, saya berkeliling kompleks Puhsarang, melihat berbagai detail di sana. Karena baru saja pulang dari Sendangsono [tiga hari], referensi saya tentang Sendangsono yang dibangun pada 1928 sangat kuat. Saya pun membanding-bandingkan kedua tempat ziarah bernama sama itu: Maria Lourdes.

Wah, bedanya luar biasa!

Suasana di Puhsarang lebih mirip tempat wisata atau piknik. Kebetulan saat itu saya melihat lebih banyak orang yang jalan-jalan, foto-foto, tertawa, bercanda, ngobrol, daripada berdoa. Peziarah yang khusyuk berdoa memang ada, tapi pelancong hehehehe malah lebih banyak.

"Ayo, ayo... senyum dong! Gayanya yang keren gitu lho!" teriak seseorang di stasi kedua jalan salib. Rombongan delapan orang itu lalu tertawa bersama. Yah, jauh-jauh dari Jakarta [logatnya jelas khas Betawi] hanya untuk mejeng di arca-arca jalan salib.

Seorang pria 50-an tahun pun uring-uringan karena konsentrasi doanya terganggu. Saya cuek saja, berdoa jalan salib versi pendek. Tidak mau tahu kalau di sekitar saya banyak pelancong yang menghabiskan waktunya di kompleks ziarah Puhsarang.

Di stasi keduabelas lain lagi suasananya. Ada sepasang remaja berpacaran mesra. Saling pegang, cium-ciuman, cekikikan. Padahal, saya berada di depan stasi itu. "Pacaran kok di tempat ziarah. Apa tidak ada tempat lain di Kediri? Kenapa bercumbu rayu justru ketika ada sejumlah pengunjung berdoa?" begitu kata saya dalam hati.

Syukurlah, sekitar 10 menit kemudian seorang satpam menghalau secara halus muda-mudi itu.

Dari lokasi jalan salib, saya berjalan ke arah pondok rosario di pinggir tempat ziarah. Banyak pohon mangga, tetanaman hijau, kompleks yang terawat. Lagi-lagi, suasana hening dan meditasi kurang terasa. Sekitar 10 anak muda, ternyata orang Flores Barat, tertawa-tawa sambil jalan. Juga memetik mangga. Juga foto-foto bersama. Tidak ada doa bersama.

Flores bukan Flores, Jawa bukan Jawa, ya, sama saja. Tidak ada jaminan bahwa orang Flores lebih religius ketimbang bukan Flores. Malah mahasiswa-mahasiswa sekolah perawat di Kediri memetik begitu saja mangga di kebun Puhsarang. Apa bukan mencuri namanya?

"Wah, itu memang kesulitan kami di sini. Soalnya, pengunjung sering merasa kalau buah-buahan itu milik bersama. Miliknya juga," ujar Theophilo, pemuda asal Timor Timur, yang bekerja di Wisma Bethlehem.

Menurut dia, satpam atau penjaga terlalu sedikit untuk mengawasi kompleks peziarahan terbesar di Jawa Timur itu. "Mestinya orang-orang datang ke sini untuk berdoa. Tapi kami kan nggak bisa memaksa orang harus begini, harus begitu. Itu urusan pribadi masing-masing," kata Theophilo yang fasih bahasa Jawa itu.

Kata pepatan, lain padang lain belalang. Lain Sendangsono lain Puhsarang. Sama-sama tempat ziarah, ajang devosi, tapi suasananya sangat berbeda. Di Sendangsono, setiap saat kita mendengar orang mendaraskan rosario, jalan salib, nyanyian rohani. Juga bermenung lama dengan tasbih di tangah.

Bagaimana dengan Puhsarang?

Suasananya campur-baur dan lebih terkesan rekreatif. Orang bicara keras-keras, tertawa lepas, seakan-akan kebun binatang, kebun bibit, kebun buah, atau tempat rekreasi keluarga. Terus terang, saya kurang cocok dengan suasana Puhsarang.

Belum lagi puluhan pedagang di antara kompleks gereja tua dan Gua Maria yang menjajakan jualannya macam di pasar malam. Suasana itu tak akan kita temui di Sendangsono. "Saya sendiri kurang sreg di sana. Saya lebih suka berdoa di gereja lama karena lebih meresap," kata seorang pemuda asli Puhsarang.

Jumiatun, perempuan asli Puhsarang, mengatakan kepada saya bahwa jumlah pengunjung Puhsarang jauh berkurang dibandingkan pada tahun 2000/2001. Hotel-hotel sepi. Stan- stan makanan tutup. Tukang ojek menjerit. "Sekarang semua orang mengeluh, Mas," kata cleaning service sebuah hotel di Puhsarang.

Saya kira, pengelola Puhsarang harus mau introspeksi. Kalau kompleks megah berbiaya miliaran rupiah ini [pernah dikritik pedas di Surat Domba] dibiarkan seperti sekarang, bisa dipastikan, pelan tapi pasti, peziarah Puhsarang akan habis. Kecuali mereka-mereka yang ingin datang ke sana untuk piknik, rekreasi, foto bersama, jalan-jalan, bahkan pacaran.

Almarhum Mgr Hadiwikarta yang dimakamkan di kompleks itu, saya yakin, tidak suka melihat suasana Puhsarang yang kurang religius. Malu sedikit lah sama Mgr Hadiwikarta! Mudah-mudahan pengelola Puhsarang mau berbenah. Mumpung lagi Natal dan Tahun Baru.



BACA JUGA
Gereja Antik di Puhsarang, Kediri.

Natal di Sendangsono


Bertahun-tahun tinggal di Jawa, baru kali ini saya mengikuti misa malam Natal di desa. Biasanya di kota, bahkan kota-kota besar macam Surabaya, Jakarta, Malang, Jember, hingga Denpasar.

Natal di kota dari dulu, ya, begitu-begitu saja. Ramai, penuh sesak, paduan suara bagus... tapi setelah itu selesai. Habis misa malam Natal, ya, selesai. Umat pulang sendiri-sendiri tanpa ada ikatan yang kuat. Bahkan, karena sering natalan di luar parokiku, saya senantiasa menjadi orang asing di gereja. Tak ada yang kenal.

Natal tahun 2007 ini saya berada di Sendangsono. Ini tempat ziarah paling terkenal di Jawa, terletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Jogjakarta. Sekitar 50 kilometer dari kota Jogja, namun karena lokasinya di perbukitan Menoreh, Sendangsono terasa jauh juga. Tiap hari [tak peduli Natal, Paskah], ratusan orang dari berbagai penjuru tanah air datang ziarah di Sendangsono.

Pada 24 Desember 2007 saya berada di Sendangsono. Berdoa, jalan salib, merenung, istirahat, bahkan tidur sepanjang malam di kompleks ziarah yang renovasi bangunannya diarsiteki Pastor YB Mangunwijaya alias Romo Mangun pada 1972. "Kalau natalan kayak begini nggak ada misa di gua. Misanya di Gereja Promasan jam tujuh malam," ujar Yohanes Sugianto, pekerja Sendangsono, kepada saya.

Meski baru kenal beberapa menit, kami langsung akrab. Cerita macam-macam, dia juga kasih penjelasan seputar tempat ziarah, pengunjung, manajemen, sikap pastor, dan sebagainya. Dia juga ajak saya bersama-sama ke gereja [sekitar 2,5 kilometer dari Gua Maria Lourdes] malam harinya.

Ah, suasana macam ini, keakraban, ramah-tamah, sapa, senyum... benar-benar khas desa. Maka, saya pun merasa bukan sebagai orang asing di desa berpenduduk 95 persen Katolik itu. Sangat cocok dengan saya yang berlatar belakang pedesaan, dengan sejarah kehadiran Gereja Katolik yang agak mirip dengan desa-desa Katolik di Jogjakarta.

Pukul 18.00 lebih sedikit saya berjalan kaki ke Gereja Promasan. [Sendangsono bagian dari paroki yang berdiri pada 11 Februari 1940 itu.] Saya ikuti rute jalan salib. Jalanan berbatu, agak becek habis hujan, sepi. Suara jangkrik dan sesekali lenguhan sapi. Teman-teman peziarah lain dari Jakarta, Bekasi, Surabaya, Bandung, dan umat setempat memilih jalan aspal atau naik kendaraan bermotor. Maka, puji Tuhan, saya bisa merenung sendiri di rute jalan salib [menurun, jadi stasi 14 ke stasi 1] di Promasan. Hitung-hitung bagian dari ziarah juga.

Di mana-mana misa malam Natal sangat penuh. Sebab, umat yang malas ke gereja biasanya berubah rajin pada hari khusus ini. Begitu juga di Promasan. "Kalau hari biasa sih nggak kayak begini. Kadang-kadang separo gereja saja," cerita Ignatius Sujamin, 50-an tahun, umat setempat.

Pukul 18.35 bangku-bangku di dalam gereja sudah terisi. Sesak. Apa boleh buat, saya hanya bisa berdiri di luar gereja. Sebab, terop yang dipasang di halaman pun penuh. Begitu juga pos keamanan sesak. Tapi tidak ada-apa. Justru saya bisa lebih leluasa 'memantau' jalannya misa malam kudus di gereja desa. Jarang lho dapat pengalaman macam ini.

Misa raya malam Natal dipimpin Pastor Slamet Wito Karyono Pr, asli Wonosari, Gunungkidul, Jogjakarta. Seratus persen pakai bahasa Jawa. Saya bisa merasakan nuansa berbeda dengan natal-natal sebelumnya. Di Surabaya dan sekitarnya memang pernah ada misa dalam bahasa Jawa. Tapi di Jogjakarta, Promasan, wah... luar biasa. Sangat komunikatif. Maklum, bahasa Jawa kelas tinggi, krama, memang menjadi bahasa sehari-hari warga pedesaan Jogja.

Umat selalu menjawab sapaan romo dengan keras dan spontan. "Sugeng daluh," sapa Romo Slamet. "Sugeng daluuuuh!!!!" jawab umat. Singkatnya, semua aklamasi misa dijawab dengan lepas. Lain sekali dengan umat Katolik di kota yang menjawab dengan setengah suara, bahkan diam saja.

Misa Natal berjalan seperti biasa dengan ordinarium Pustardos, lagu-lagu standar misa [kyrie, gloria, sanctus, agnus dei] yang dikembangkan para pastor Societas Verbi Divini alias SVD di Flores. Senang juga jadi orang Flores. Meski jelek, hitam, ikal, pengaruhnya menembus berbagai komunitas Katolik di tanah air, termasuk Jogjakarta. Hanya, itu tadi, liriknya pakai bahasa Jawa krama.

Khotbah atawa homili Romo Slamet, menurut saya, sangat bagus, komunikatif, dan mengena. Jarang lho ada romo macam dia. Dia tak hanya pandai bicara, tapi tahu benar apa yang dibicarakan. Ilustrasinya pas, cocok dengan kehidupan orang desa. "Romo Slamet memang tahu benar situasi di sini. Wong dia aslinya Wonosari," kata Pak Sugianto, teman saya selama di Sendangsono.

Usai homili hujan deras. Kami yang di luar ramai-ramai mencari tempat berteduh, baik di terop maupun pos keamanan. Hujan sama sekali tidak mengganggu perayaan ekaristi. Justru menjadi bumbu dan kekhasan Natal. "Tidak sempurna kalau Natal tidak hujan," begitu guyonan orang-orang di Flores.

Ah, malam itu saya merasa seperti orang Sendangsono, Promasan. Bukan pendatang. Lain sekali dengan misa di kota-kota besar macam Surabaya, Malang, Denpasar. Lantas, saya berpikir, untuk seterusnya saya hanya akan misa natal di desa saja. Saya tidak cocok bergereja di kota yang umatnya modern, hedonis, individualistis, tak mau peduli pada orang lain.

Esok harinya, 26 Desember, jemaat Sendangsono mengadakan natal bersama di kampung. Ibarat halal bihalal satu sama lain. Mau tahu hidangannya? Sangat sederhana. Tidak pakai daging atau makanan lezat. Yang ada hanya nasi bungkus dengan lauk relor ceplok. Juga ubi-ubian rebus. Orang di Sendangsono tidak kenal pohon terang, aksesoris natal, dan ornamen-ornamen kayak di kota.

"Kami memang sepakat untuk selalu sederhana. Wong Gusti Yesus saja lahir di kandang binatang, kehujanan, kedinginan, nggak punya apa-apa. Aneh kalau Natal dirayakan secara mewah," ujar Agustinus Suwarno. Bapak 69 tahun ini sejak awal 1970-an ikut membantu Romo Mangun merenovasi tempat ziarah Sendangsono.

Di Sendangsono juga tak ada tradisi bikin kue, masak enak, keliling dari rumah ke rumah untuk berhari raya. Setelah 'pesta bersama' di rumah seorang warga [selatan gua], ya, wis. Tuntas. Orang-orang desa itu pun kembali melakukan kegiatannya masing-masing. Ke ladang, kandang sapi, jualan, ojek, menyapu halaman, dan seterusnya.

Selama tiga hari di Sendangsono saya pun tak pernah mendengar orang-orang di sana [hampir semua Katolik] memutar lagu-lagu Natal. Rupanya, musik dan aneka hiburan Natal hanya dikenal di kota-kota belaka.

Tadinya, saya ingin menyesuaikan diri secara total dengan gaya hidup orang Sendangsono. Tapi ternyata tidak bisa. Saya tergoda memutar album White 'Christmas' versi R. Tony Suwandi, pemusik terkenal yang kerap mengorkestrasi lagu-lagu hiburan di TVRI Jakarta pada era 1980-an. Sambil merenung di atas rumah panggung, saya menyaksikan kedatangan begitu banyak rombongan peziarah dari Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar lain.

Ah, ternyata banyak orang tak betah di kota dan kemudian mencari 'pelarian' di Sendangsono. Termasuk saya.

22 December 2007

Gubernur Jatim dan kemacetan


Apa pun kata orang, saya menilai Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso telah menelurkan kebijakan yang tegas dan benar tentang transportasi umum di Jakarta. Dia bikin busway dengan konsekuensi macet di mana-mana. Bang Yos juga tahu kalau dia bakal dimaki-maki jutaan orang. Tapi itu lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa.

Pemimpin yang baik harus visioner. Punya visi jauh ke depan: 10, 20, 50, bahkan 100 tahun ke depan. Apa jadinya jika kemacetan di Jakarta dibiarkan saja? 10, 20, tahun mendatang macam apa jadinya? “Kebijakan saya memang tidak populis, tapi itu saya lakukan demi kebaikan warga Jakarta dan sekitarnya. Bukan untuk saya,” tegas Bang Yos saat berkunjung ke Surabaya.

Kini, Bang Yos berstatus bekas gubernur. Dia keliling ke mana-mana, termasuk di kawasan Lumpur lapindo, untuk mensosialisasikan pencalonan dirinya sebagai presiden RI, 2009. Di luar Jakarta, Bang Yos dikagumi karena berani membuat keputusan meski ditentang banyak orang. Bang Yos berani melawan arus.

Saya kira, pemimpin di Jawa Timur, khususnya di Surabaya dan sekitarnya [Sidoarjo, Gresik, Malang, Lamongan] harus mencotoh ketegasan Bang Yos. Tegas menyikapi masalah kemacetan di jalan raya. Harus ada solusi! Jalan di Surabaya tidak boleh dibiarkan semrawut macam sekarang. Harus ada proyeksi 5, 10, 20, 30, 50… tahun ke depan macam apa. Wakil rakyat di DPRD pun perlu focus ke soal ini.

Kenapa? Minggu ini Surabaya mengalami dua kali kemacetan terparah. Gara-gara hujan tiga jam lebih, jalan raya di semua kawasan macet total. Stagnan, tidak bergerak. Waktu tempuh Aloha, Gedangan, ke Graha Pena Jalan Ahmad Yani Surabaya yang biasanya 10-15 menit, pecan lalu molor hingga 120 menit. Betapa tersiksanya saya dan para pengguna kendaraan bermotor di jalan raya. Dua jam untuk jarak tempuh lima kilometer. Alamak!

Bagaimana kalau harus ke Tanjung Perak? Wah, bisa 3-4 jam. Tiap kali macet, warga Surabaya maki-maki pejabat di radio. Minta perhatian. Minta solusi. Desak polisi turun tangan. Dan seterusnya. Tapi setahu saya sampai sekarang pejabat-pejabat Jatim, apalagi Kota Surabaya, tidak punya proposal untuk memecahkan masalah kemacetan.

DPRD tak usah diharap banyak lah. Wakil rakyat lebih suka ngelencer, foya-foya, menaikkan tunjangan, dan bisnis pribadi. Nyaris tidak ada pejabat public yang berpikir bagaimana mengurangi kemacetan. Bagaimana Surabaya, Sidoarjo, Gresik 10-20 tahun mendatang.

Gubernur Imam Utomo yang menjabat 10 tahun pun tidak focus pada kemacetan. Beda dengan Bang Yos, yang juga berkuasa 10 tahun, tapi berani ambil risiko. Satu-satunya terobosan Pak Imam adalah turun tangan mengatasi sampah akibat penutupan LPA Keputih. Waktu itu Wali Kota Surabaya Cak Narto [alm] dirawat di Australia. Andai saja Pak Imam berani bikin kebijakan strategis untuk mengatasi kemacetan, insya Allah, dia akan dikenang setelah lengser. Jangan-jangan nasib Pak Imam macam gubernur-gubernur Jatim lain yang ‘hilang’ setelah menjabat, kecuali Pak HM Noer.

Kenapa Surabaya macet total? Saya kira, gampang sekali mencari penyebab. Jalan utama dari utara ke selatan [Perak-Waru] hanya satu. Semua kendaraan menumpuk di situ. Jalan alternatif nyaris tidak ada. Lha, kalau ribuan kendaraan berkumpul di satu dua ruas utama, ya, macet total.

Pengembangan Surabaya ke selatan [Sidoarjo] sejak 1980-an menimbulkan komplikasi baru. Sebab, saat ini ribuan warga yang tinggal di Sidoarjo kerja di Surabaya. Saya pernah melakukan ‘riset’ kecil-kecilan di beberapa kantor. Amboi! Rata-rata jarak rumah dengan kantor di Surabaya 10-15 kilometer. Bahkan, banyak teman yang tinggal di Malang atau Lamongan, tapi kerja di Surabaya. Tiap hari dia komuter atawa ngelaju.

Artinya, orang perlu kendaraan bermotor untuk berangkat dan pulang kantor. Sementara kendaraan umum di Surabaya sangat jelek. Rata-rata bus kota di Surabaya bobrok, usia 30-an tahun. Jejal-jejalan, panas, jadwal tak tentu, rawan copet. Halte tak berfungsi. Siapa gerangan yang mau naik bus atau angkot? Maka, pilihan rasional adalah membeli sepeda motor atau mobil.

Jalan raya di Surabaya dipenuhi kendaraan pribadi. Sepeda motor lari ngawur. Mobil pribadi yang mewah pun ngawur. Jalur kiri kanan tak jelas. Serobot sana sini. Singkatnya, hukum rimba berlaku di jalan raya Surabaya [dan Sidoarjo]. Jangan heran kalau setiap hari ada saja warga yang mati konyol di jalan raya: diserempet bus/mobil, dihantam sesame motor, dan seterusnya.

NYAWA MANUSIA DI SURABAYA SEPERTINYA SANGAT MURAH!

Apakah kondisi ini dibiarkan saja? Tunggu sampai stagnan sama sekali? Bang Yos sudah memberi contoh dengan bus Transjakarta. Apa pun kritik orang, saya sangat menghargai kenekatan Bang Yos menawarkan solusi untuk mengurangi kemacetan. Jika Transjakarta dan pendukungnya jalan, sebaiknya Jakarta membatasi secara drastis kendaraan pribadi.

Bila perlu meniru Singapura yang membatasi usia kendaraan. Singapura juga bikin kebijakan yang memaksa warganya berpikir 214 kali untuk mengoleksi kendaraan pribadi. Singapura bikin angkutan massal yang nyaman, aman, mewah, tepat waktu, tersedia di mana-mana, dengan tarif murah.

Tahun 2008, pemilihan gubernur Jatim. Kandidat-kandidat yang muncul Soekarwo, Soenarjo, Achmady, Sutjipto. Saya menilai tak ada satu pun kandidat yang berkarakter tegas, berani bikin kebijakan riskan, tapi visioner. Sejauh ini tidak ada sama sekali program untuk mengatasi kemacetan di Surabaya dan kota-kota besar lain.

Pak Soekarwo, anak buah Imam Utomo, punya slogan abstrak: ‘APBD untuk rakyat’. Sejak dulu APBD itu ya untuk rakyat, Pak! Pak Soenarjo pun bicara abstrak, mengawang-awang. Pak Achmady hanyalah bupati Mojokerto yang belum berpengalaman di tingkat provinsi.

Lha, apa jadinya kalau nama-nama ini yang menjadi gubernur Jatim periode 2008-2013? Mustahil kasus kemacetan di Surabaya bisa dipecahkan. Prek!

Album Christmas Embong Rahardjo


Embong Rahardjo saat tampil di North Sea Jazz Festival bersama The Djakarta All Stars di Den Haag, Belanda, 14 Juli 2001. [foto: Radio Nederland]

Embong Rahardjo, saksofonis papan atas kita, meninggal dunia pada 30 November 2001 dalam usia 51 tahun. Dunia musik, khususnya jazz Indonesia, sangat kehilangan. Namun, berkat rekaman yang dibuat tak lama sebelum almarhum dipanggil Tuhan, saya bisa menikmati alunan melodi Natal yang merdu.

Sebagai penggemar musik jazz, saya tentu senang dengan permainan Embong Rahardjo. Almarhum tergolong salah satu pemain saksofon terbaik di Indonesia. “The great Embong,” begitu penyanyi dan pembawa acara Koes Hendratmo menjulukinya.

Tak berlebihan, memang. Pria ramah, pendiam, dan sederhana ini sudah berkiprah di dunia musik selama tiga dekade lebih. Embong Rahardjo juga kerap tampil di festival-festival jazz bergengsi di luar negeri. “Saya percaya bahwa semua yang saya dapat semata-mata ini karena anugerah Tuhan,” ujar Embong Rahardjo kepada saya di Surabaya beberapa tahun lalu. Sebelum meninggal, kata-kata Pak Embong memang sangat bijak, religius.

Nah, menjelang Natal ini saya secara khusus menikmati beberapa album Natal. Salah satunya, ya, punyanya Embong Rahardjo: Christmas Embong Rahardjo. Diproduksi Maranatha, Jakarta, label spesialis musik rohani [kristiani], album instrumentalia ini berisi 10 nomor khas Natal alias Christmas Carols. Lagu-lagu yang sangat akrab di telinga kita, umat Kristen tentu.

Side A: White Christmas, Blue Christmas, O Holy Night, Felice Navidad, What Child is This, Rudolf the Red Nose Reindeer.

Side B: Jingle Bell, When the Child Born, Marry's Boy Child, Silver Bell, Winter Wonderland, Silent Night.


Embong Rahardjo pemusik jazz kawakan. Macan jazz Indonesia. Pada 14 Juli 2001 dia tampil di North Sea Jazz Festival, Den Haag, Belanda, bersama The Djakarta All Stars [Embong Rahardjo, Ireng Maulana, Kiboud Maulana, Idang Rasyidi, Cendy Luntungan, Jeffrey Tahalele, Adjie Rao, Syaharani]. Menurut laporan Radio Nederland, sambutan terhadap Embong Rahardjo dkk sangat baik. Saya juga melihat foto-foto betapa publik Belanda antusias menyambut penampilan pemusik jazz asal Indonesia.

Lantas, bagaimana seorang maestro saksofonis, yang darah dagingnya jazz, bikin album Natal? Tentu saja, harus banyak kompromi. Pak Embong tetap meniup saksofon dengan gayanya, ragam jazz, tapi dia sadar bahwa pendengar album Natal ini sebagian besar bukanlah penggemar musik jazz. Asal tahu saja, Maranatha itu label yang paling banyak merekam lagu-lagu pujian dan penyembahan. Praise and worship songs!

Maka, Pak Embong memilih jalan tengah. Iringan musiknya pop, tidak memakai disiplin jazz ketat. Bisa saya pastikan bahwa musik pengiring di album ini hasil program [musik mesin]. Teman-temannya yang jazzer murni macam Ireng Mulana, Idang, Kiboud, Cendy, Jeffrey... tidak dilibatkan. Pak Embong bikin sendiri musik pengiring, lalu mengisi melodi. Hasilnya: Christmas Embong Rahardjo.

Terang saja, tidak bisa maksimal. Tadinya, saya mengira album ini jazz Natal setelah melihat foto Embong Rahardjo di sampul. Eh, ternyata bukan jazz, melainkan instrumentalia biasa. Kebetulan saja Embong Rahardjo memainkan melodi di semua lagu. Toh, saya tidak terlalu kecewa karena memang inilah pilihan almarhum untuk mendekatkan musik jazz pada pendengar pemula.

Jika sudah terbiasa mendengar instrumentalia, apalagi saksofon, lama kelamaan orang akan suka jazz. Kata orang, jazz yang benar itu adalah jazz instrumental, bukan jazz nyanyian. Musik jazz kurang berkembang di sini, juga musik klasik, gara-gara masyarakat kita terlalu mendewakan musik vokal. Mana ada album instrumentalia yang laku keras di Indonesia?

Pak Embong Rahardjo tak hanya sekali ini bikin album instrumentalia rohani. Sebelumnya, dia merilis album PUJI SYUKUR bersama Audiensi Band dan Indra Lesmana. Album ini memuat 10 lagu dari Puji Syukur, buku nyanyian umat Katolik di Indonesia. “Saya ingin menyumbangkan sesuatu kepada gereja. Sebab, saya hanya bisa main musik,” kata Pak Embong di Gereja Katedral Surabaya beberapa tahun lalu.

Kepada saya, Pak Embong pernah mengatakan bahwa dia selalu berusaha memberikan yang terbaik di mana pun dia bermusik. Entah di festival jazz kelas dunia, di rekaman, di gereja, di hajatan nikah, ulang tahun instansi, dan sebagainya. “Mas, saya ini musisi profesional. Orang profesional itu hanya mau memberikan yang terbaik,” tegasnya.

Saya percaya, di album Natal satu-satunya yang pernah dibuatnya ini Embong Rahardjo telah memberikan kemampuan terbaiknya untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Karena itu, album Natal Pak Embong ini layak disimak.

Idul Adha di Gereja Algonz


Kamis, 20 Desember 2007, Gereja Aloysius Gonzaga [lebih dikenal dengan Algonz] menggelar penyembelihan hewan kurban di halaman gereja. Tradisi ini dirintis oleh Romo Alexius Kurdo Irianto Pr sejak pengujung rezim Orde Baru dan dipertahankan sampai sekarang. Umat Katolik di Algonz juga kerap menggelar hajatan-hajatan lintas agama.

Karena Idul Adha kali ini berdekatan dengan Natal, maka panitia Natal yang sibuk mengurus peringatan Idul Adha bersama umat muslim di kawasan paroki Algonz. Tahun 2007 ini mereka menyembelih dua sapi untuk dibagikan kepada 600 warga kurang mampu di sekitar gereja. Tahun lalu tiga sapi untuk 1.200 paket.

“Agak krisis tahun ini,” kata Ketua Panitia Kurban Gereja Algonz Miskan, yang juga anggota Forum Komunikasi Masyarakat Pelangi (FKMP) dari unsur Islam. Sesuai namanya, pelangi, FKMP merupakan forum lintas agama yang dikembangkan di Paroki Algonz.

Setiap paket berisi 0,75 kilogram daging sapi kemudian dibagi-bagikan kepada warga di Sukomanunggal, Tanjungsari, Donowati, dan Simo. Para tukang becak yang mangkal di sekitar gereja dan Rumah Sakit Mitra Keluarga pun mendapat jatah daging gratis.

“Sejak dulu yang menyembelih dari unsur muslim agar tidak ada keraguan sedikit pun tentang kehalalan daging,” jelas Ketua Panitia Natal Gereja Algonz Willy.

Adapun umat Katolik bertugas sebagai pengemas dan pembagi daging kurban. "Tuhan itu melihat hati kita. Tuhan itu tak melihat tampilan kita, apakah sungguh-sungguh atau pura-pura,” tegas Willy.

Menurut Ketua FKMP Surabaya Hermawan Holey, kegiatan rutin sejak tahun tahun 2001 itu dimaksudkan untuk menciptakan kerukunan umat beragama melalui kegiatan bersama. "Kami sudah sering merayakan Idul Adha, Natal, puasa Ramadan, Paskah, dan tradisi keagamaan lainnya secara bersama-sama dengan pembagian sembako atau bingkisan buka bersama," katanya.

Bahkan, Gereja Algonz setiap tahun selalu digunakan sebagai pusat distribusi makanan untuk sahur keliling bersama isteri mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Umat mengumpulkan makanan sahur, kemudian berkeliling ke sejumlah titik di Kota Surabaya untuk membagi-bagikan makanan tersebut.

"Tujuan kami sederhana saja. Yakni, membangun persaudaraan sejati melalui kegiatan nyata, bukan sekadar teori,” ujar Hermawan yang berasal dari Maumere, Flores, itu.

Menurut catatan saya, semarak kegiatan lintas agama di Paroki Algonz mulai dirintis oleh Romo Kurdo Irinto pada 1995/1996. Saat itu pastor yang juga aktivis kemanusiaan itu sering mengajak para aktivis muslim, protestan, hindu, dan buddha ke gereja untuk mendiskusikan berbagai persoalan nyata di masyarakat. “Kita ingin menciptakan saling pemahaman, kebersamaan,” katanya.

Tak heran, pastoran Algonz pernah menjadi tempat mangkal sejumlah aktivis mahasiswa Islam, khususnya dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atawa PMII. Romo Kurdo juga bikin gebrakan dengan mengundang KH Said Aqil Siradj, cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), untuk memberikan wejangan kepada umat Katolik di Gereja Algonz.

Kegiatan ini sempat 'geger' karena seakan-akan KH Said Aqil berkhotbah di gereja. Padahal, sejatinya, KH Said Aqil memberikan ceramah kepada umat Katolik sebelum misa berlangsung. Tempatnya saja yang di dalam gereja. Apa pun kritik orang, yang jelas, terobosan Romo Kurdo ini kontan melahirkan sejumlah aktivis lintas agama di gereja tersebut. Salah satunya, Hermawan Holey.

Romo Kurdo pindah ke paroki lain. Kemudian pastor berganti beberapa kali. Namun, puji Tuhan, kegiatan-kegiatan lintas agama masih dipelihara dengan baik di Gereja Algonz.

21 December 2007

Johan Untung tak pernah untung

Johan Untung dan Indah Kurnia di Surabaya, 2011.


“Kalau menyanyi, jadilah diri sendiri. Jangan kayak Johan Untung.”

 Begitu pesan sejumlah juri atawa guru nyanyi di Jawa Timur. Lha, apa yang salah dengan Johan Untung, vokalis asal Kertosono, Jawa Timur? Bukankah Johan terkenal, suaranya bagus, serba bisa...?

Ya, Johan Untung yang terjun ke dunia musik sejak awal 1970-an memang vokalis luar biasa. Dia bisa membawakan lagu apa saja. Pop. Keroncong. Campursari. Jazz. Blues. Swing. Disco. Reggae. Sebut musik apa saja, dan percayalah Cak Johan untuk bisa melakoninya dengan baik. Kalau anda suka karaoke, sadarlah bahwa sebagian besar VCD lagu-lagu Barat yang beredar di Indonesia disuarakan oleh Johan Untung.

“Namanya juga saya ini orang kafe, penyanyi kafe. Sejak tahun 1974 saya sudah nyanyi dari kafe ke kafe. Bahkan, sampai sekarang pun hidup saya masih di kafe,” ujar Johan Untung di Surabaya, 21 Desember 2007.

Cak Johan ini datang ke Surabaya untuk mengisi acara jazz di Vista Sidewalk Cafe, Hotel Garden Palace, Surabaya, bersama gitaris Ireng Maulana.

Penyanyi kafe memang harus serba bisa. Sebab, permintaan pengunjung macam-macam, kadang sukar ditebak. Jika request tidak dipenuhi, pengujung akan minggat ke kafe lain. Dan itu berarti si penyanyi pun kemungkinan besar dicoret. Hilang salah satu sumber nafkahnya.

Karena itu, jangan heran kalau Johan Untung menguasai ratusan, bahkan ribuan, lagu Barat, Indonesia, daerah... di luar kepala. Lagu tahun 1930/1940-an hingga Top 40 tahun 2007 dia bisa. “Jenenge ae penggawean, Cak,” ujar pria yang suka bercanda itu. [Namanya saja pekerjaan, Bang!]

Menguasai ribuan lagu ternyata justru menjadi malapetaka bagi Johan Untung. Kenapa? Rekaman-rekamannya tidak pernah laku di pasar musik. “Albumku wuakeh, tapi gak ono sing payu,” ujarnya enteng. [Albumku banyak, tapi tidak ada yang laku.]

Ini karena John dianggap tidak punya karakter sendiri. Kerjanya hanya menirukan, meng-copy paste penyanyi-penyanyi lain yang sudah kondang dan laris. Puncak 'kejayaan' Johan Untung sempat direguk pada 1990-an. Waktu itu semua kaset lagu Barat ditarik dari pasaran akibat tekanan Amerika Serikat.

Asal tahu saja, selama puluhan tahun Indonesia melegalisasi pembajakan rekaman musik Barat. Semua kaset Barat dikopi mentah-mentah oleh berbagai label resmi. Pada 1985 pemerintah Amerika berteriak, menekan Indonesia agar mematuhi konvensi internasional tentang hak cipta. Semua kaset Barat ditarik ramai-ramai. Akibatnya, terjadi kekosongan pasar musik Barat.

Maka, produser pun berpaling ke Johan Untung, vokalis serba bisa. Dibuatlah apa yang disebut cover version. Johan membawakan lagu-lagu dengan gaya, aksen, logat... yang diusahakan sedekat mungkin dengan aslinya. “Jadi, hampir semua lagu Barat yang beredar di pasar saat itu suara saya. Mungkin orang Indonesia nggak sadar. Hehehe...,” aku Johan Untung. Saya termasuk salah satu konsumen yang tertipu saat itu.

Berkat cover version, Johan Untung semakin dipacu untuk menirukan sebanyak mungkin penyanyi. Mick Jagger, Al Jarreau, Maurice Gibb... di-copy paste oleh si Johan. Hasilnya? Menurut saya, nyaris sama dengan aslinya atau setidaknya 70-80 persen mirip. Harian KOMPAS bahkan menyebut Johan sebagai 'pabrik suara'.

"Dulu Johan Untung saya minta menirukan vokal Robin Gibb yang susah itu. Dan, kurang ajar, ternyata persis," cerita Nunuz Utomo, pemusik yang juga pintar menirukan suara penyanyi-penyanyi Barat populer.

Akhir-akhir ini, saya melihat Johan Untung banyak terlibat di konser jazz. Dan, seperti biasa, Cak Johan menirukan suara Al Jarreau yang khas, penuh scat singing itu. Penonton senang karena mengira yang menyanyi di atas panggung itu Al Jarreau beneran. “Juangkrek... kok iso persis Al Jarreau,” komentar Rudi, penggemar jazz yang juga bos sebuah komunitas jazz di Surabaya.

Belum hilang keheranan penonton, Johan Untung bersalin suara menjadi seorang Maurice Gibb dari Bee Gees. Lagi-lagi persis. Terus, gaya asli Johan Untung sebenarnya seperti apa sih? Jawabnya: tidak ada. Gaya asli Johan Untung, ya, mirip bunglon yang bisa menyesuaikan diri dengan karakter suara penyanyi mana pun. Dan itu yang bikin Johan Untung tidak pernah untung di persada musik tanah air.

“Jenenge thok untung, tapi areke gak tau untung. Hehehe..,” komentar seorang teman dengan Johan Untung. Tokoh kita, Johan Untung, pun ketawa-ketawa saja. “Mau bilang apa? Rekamanku gak tau payu,” kata Johan.

Maka, kita bisa mengerti mengapa para guru nyanyi atau komentator festival nyanyi mewanti-wanti anak muda untuk menjadi diri sendiri. Sebab, menjadi orang lain macam Johan Untung, risikonya anda akan selalu buntung. Tiap hari menyanyi, bolak-balik rekaman, tapi tak ada yang laku.

20 December 2007

Choirun Nasikhin si Haji Nunut



Penampilannya tetap sederhana. Dengan pakaian seadanya, Choirun Nasikhin  masih tampil khas dengan topi haji putihnya. Bicaranya juga tetap lugu. Sikapnya polos. Bagaimana Choirun bisa naik haji gratis dengan nunut (nebeng, mendompleng) pesawat angkutan haji?

"Harus ditegaskan bahwa saya tidak nekat. Saya hanya punya niat murni untuk berhaji. Tapi, karena nggak ada biaya, saya pikir hanya bisa dengan nunut," kenangnya.

Choirun mengaku lahir dari keluarga miskin. Ongkos naik haji saat itu sekitar Rp 6 juta tak terjangkau koceknya. Padahal, keinginan warga asli Sumobito, Jombang, Jawa Timur, untuk berhaji sudah mengganggu benaknya sejak tahun 1990.

Eloknya, saking seringnya memakai topi haji putih, sehari-hari Choirun sudah sering dipanggil dengan sebutan 'haji' oleh warga kampungnya, meski dia belum pernah ke Tanah Suci. Tak hanya berdoa, Choirun juga rajin mengikuti undian berhadiah sebagai modal untuk membayar ONH. Pernah ia mengirim 900 lembar kupon sebuah undian.

Niatnya berhaji tak terbendung lagi ketika dia memenangi sebuah undian sampo pada 1992. Choirun menerima hadiah berupa emas seberat lima gram. Setelah diuangkan menjadi Rp 70 ribu, Choirun memakainya sebagai persiapan mengikut haji tahun itu juga. "Uangnya saya belikan sandal, pakaian ihram, dan perlengkapan haji yang lain," kata pria yang bekerja sebagai petani dan pedagang ini.

Merasa tak cukup bekal, pria 45 tahun ini mencari kiat jitu. Sederhana saja. Dia ingin menerapkan kebisaannya nunut kendaraan bermotor, utamanya truk, jika ingin pergi ke mana-mana tanpa ongkos. "Seperti naik truk, kalau nanti saya disuruh turun, ya, turun. Wong namanya nunut," kata pria yang betah melajang ini.

Entah karena kepolosannya itu, niat Choirun terbukti mulus-mulus saja. Berbekal uang Rp 49.950, sisa penjualan emas hadiah, ditambah Rp 5 ribu dari ibunya, Siti Khoniah, Choirun mantap pergi haji. "Pada ibu, saya bilang jika dalam satu dua hari itu saya nggak kembali, berarti saya bisa naik haji. Benar juga kan? Senin berangkat, Selasa pulang, Rabu sampai Jombang," katanya.

Dari Jombang ia naik bis ke Surabaya dan diteruskan dengan bemo ke bandara. Choirun sempat kecewa karena tak tampak jamaah haji akan berangkat. Namun, oleh seseorang ia diberitahu bahwa sore hari ada satu rombongan haji akan berangkat. Benar saja, pukul 19.00 WIB Kloter IX telihat turun dari bisa siap berangkat.

Tanpa ragu, Choirun bergabung dengan rombongan tanpa satu pun jamaah calon haji (JCH) merasa janggal, apalagi petugas bandara. Malah tanpa kecurigaan, ia sempat berfoto-foto sebagai kenangan. Sadar jika ia nunut, di dalam pesawat Chorun tak memilih kursi bernomor. Ada empat kursi pramugari di bagian lambung yang kosong. Di situlah ia duduk hingga seorang pramugari menegurnya saat pesawat sudah terbang menuju Jeddah.

"Saya jawab nggak apa-apa karena saya nunut," katanya. Si pramugari tersenyum saja karena disangka bercanda. Hingga para jamaah memperolah jatah makan dan minum, posisi Choirun masih aman.

Entah kenapa, di tengah penerbangan, seorang pramugari meminta dokumen perjalanan Choirun. Pria desa yang tak paham apa itu paspor dan dokumen JCH akhirnya membuat geger seisi pesawat. Sadarlah JCH Kloter IX bahwa ada seorang penumpang gelap yang nunut di pesawat Garuda tersebut. Untung ada JCH yang satu desa dengan Choirun di Ngrumek, Sumobito, Jombang, mengenal Choirun. Namanya Pak Harto, juragan ikan, dan Pak Yazid.

"Pak Yazid Abdullah itu guru madrasah saya. Beliau meyakinkan kalau saya bukan orang gila. Dia juga bilang, saya warga satu desa dengannya. Saya miskin, tapi berniat betul menjadi haji karena sudah lama dipanggil Pak Haji," jelentrehnya.

Meski sempat bikin heboh, di sepanjang perjalanan ke Jeddah, Choirun justru beroleh simpati seisi pesawat. Bahkan, dari rapat kru pesawat dan ketua rombongan, mulanya Choirun akan diupayakan memperoleh paspor. Sementara biaya akan ditanggung bersama oleh semua jamaah Kloter IX. Tapi, akhirnya, Choirun diputuskan harus kembali ke tanah air.

Sempat disembunyikan kru pesawat dalam toilet pesawat selama satu jam untuk menghindari pemeriksaan Imigrasi Kerajaan Arab Saudi. Bahkan, agar petugas Imigrasi tidak curiga, toilet pesawat ditulisi 'rusak'. Trik jitu ini membuat Choirun tak sampai berurusan dengan aparat keamanan Arab Saudi.

Singkatnya, Choirun dipulangkan langsung hari itu juga. Dalam perjalanan, dia malah merasa dimanjakan. Dia menjadi satu-satunya penumpang di pesawat berkapasitas 500-an kursi itu. Dia bisa menyaksikan film serta menikmati makanan kesukaannya. "Kayak wong sugih, aku iso carter pesawat. Opo ora hebat? Hehehe...," ungkapnya.

Kasus Choirun ini mendapat liputan luas dari media massa saat itu. Maka, dia pun dijuluki HAJI NUNUT. Choirun kemudian mendapat simpati dari berbagai pihak, termasuk harian Jawa Pos. Bahkan, ada empat pihak lain yang menawarkan ONH gratis untuk Choirun. Salah satunya Haji Tosim yang akhirnya memberangkatkan haji si Choirun pada 1994.

Pada 2005, seorang pengusaha yang juga menaruh simpati padanya juga memberikan fasilitas Choirun naik haji gratis. "Tahun depan, saya juga akan berhaji lagi," kata Choirun.

Kini, Choirun sering diminta berbagai kalangan untuk membacakan doa dalam hajatan atau memberikan tausiyah di majelis taklim. Meski sudah dua kali naik haji (beneran), Choirun Nasichin masih tetap dijuluki 'haji nunut'.

TAMBAHAN DARI NASARUDDIN ISMAIL
Wartawan senior JAWA POS asal Pulau Sumbawa

Meski telah dua kali menunaikkan ibadah haji, Choirun Nasikhin lebih senang dijuluki HAJI NUNUT. Sebab, untuk memperoleh predikat tersebut bukan hal yang mudah. Julukan Haji Nunut sudah melekat pada Choirun Nasikhin. Dia sangat bangga dengan julukan Haji Nunut daripada dipanggil namanya sendiri.

Maklum, tidak mudah untuk lolos ke pesawat hingga Jeddah tanpa dokumen keimigrasian selembar pun. Namun, hal itu bisa ia lakukan dengan mulus. ''Kenapa harus marah? Saya memang pernah nunut berangkat haji, meski dipulangkan dari Jeddah. Saya kira sampai sekarang belum ada yang bisa melakukan seperti itu.''

Lantas ia pun berkisah. Ketika melompat pagar masuk ke pesawat yang parkir di Bandara Juanda, dia masuk lewat pagar di ujung timur ruang kedatangan internasional. ''Sambil wirid, saya jalan biasa saja. Tidak ada yang menegur sampai saya berada di atas pesawat.''

Choirun mengaku memang sering nunut bus dari Jombang ke Surabaya. Dengan modal wiridnya itu, kondektur jarang meminta karcis padanya. Begitu sebelahnya membayar, ia dilewati. ''Tapi saya juga sudah siap, bila disuruh turun kendektur, ya akan turun. Habis mau gimana lagi? Memang saya tidak punya uang,'' cerita Choirun yang sering ke Surabaya untuk berziarah di Masjid Sunan Ampel itu.

Setelah Jawa Pos gencar memberitakan tentang kasus haji nunut, 1992, banyak pihak yang merasa iba . Salah satunya, H Tosim, pengusaha tambak di kawasan Osowilangon. H Anas Saduruwan, bos Fath Indah, biro perjalanan haji dan umrah, juga saat itu mau memberangkatkan Choirun, namun kalah duluan dengan H Tosim.

Kala itu H Tosim yang mendapat rezeki miliaran rupiah dari pembebasan tambak untuk Tol Surabaya-Gresik memberangkatkan Choirun untuk beribadah haji tujuh anggota keluarga dan tetangganya, termasuk Choirun, warga Sumobito, Jombang. H Tosim secara diam-diam mengontak Jawa Pos.

Ia menyanggupi untuk memberangkatkan Choirun untuk beribadah haji setahun kemudian. Pemuda lajang itu pun menyatakan kegembiraannya, setelah Jawa Pos memberitahukan keinginan pengusaha tambak tersebut. Tahun sebelumnya H Tosim juga memberangkatkan keluarga dekatnya ke tanah suci, Makkah.

Surat-surat pun mulai dipersiapkan untuk pendaftaran haji tersebut. Saya [Nasaruddin Ismail] saat itu sibuk menangani keberangkatan Choirun ke rumah H Tosim di kawasan Osowilangon. Petani tambak yang kaya mendadak itu betul-betul mewujudkan janjinya untuk memberangkan Choirun. Akhirnya, berangkatlah dia bersama enam calon haji lainnya, yang semuanya dibiayai oleh H Tosim.

''Ini sudah nazar saya, kalau tanah itu laku saya berangkatkan haji famili dan tetangga,''`kata H Tosim saat itu.

Hingga sekarang, hubungan Chairun dengan Grup Jawa Pos tak pernah putus. Bila ke Surabaya, ia selalu mampir di Graha Pena, hanya sekadar menyambung silaturahim. Bahkan, ia mampir ke rumah wartawan Jawa Pos yang saat itu membantunya untuk menghubungkan dengan H Tosim.

Ada pengalaman menarik lainnya yang dialami Choirun . Meski ia tidak berurusan dengan pihak imigrasi, kepolisian, dan bandara, karena ia nyelonong masuk ke pesawat tanpa izin petugas , dia harus berurusan dengan Detasmen Intelijen (Deintel) Kodam V/Brawijaya di Wonocolo. Berhari-hari dia menginap di sana untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Maklumlah, pada zaman Orde Baru Den Intel cukup besar pengaruhnya dalam berbagai persoalan. Wartawan yang salah nulis pun harus 'disekolahkan' di Wonocolo. Nah, ketika pulang dari Wonocolo, di bawah mata Choirun terlihat seperti bekas benda tumpul. Bekas itu masih ada hingga sekarang. Namun, ketika ditanya ia mengaku jatuh terpeleset di kamar mandi ketika dimintai keterangan di Wonocolo.

“Saya tidak diapa-apakan kok,” katanya.

Hehehehe..... Pancet heibat banget arek Jombang iki!!!

18 December 2007

Gambus rohani Ortodoks Siria

Menikmati gambus rohani Kyai Sadrah di kamar ternyata asyik juga. Ini rekaman musik teman-teman Gereja ortodoks Siria di Malang, Jawa Timur. Pembinanya tak lain Bambang Noorsena, tokoh yang memperkenalkan Orotodoks Siria di Indonesia pada 17 September 1997.

Saya cukup beruntung karena pernah diundang meliput acara launching teman-teman Ortodoks Siria di Surabaya beberapa tahun silam. Waktu itu Pak Bambang dan kawan-kawan memeragakan salat tujuh waktu ala Ortodoks, gambus, tembang-tembang Arab, Yahudi, Jawa, yang intinya memuji dan memuliakan Tuhan. Pujian dan penyembahan menurut versi Otodoks Siria.

Unik karena banyak menggunakan tradisi Arab, macam teman-teman Islam. Bambang Noorsena memang sangat serius belajar bahasa Arab, Aram, dan berbagai tradisi Otodoks Siria langsung di negara-negara Timur Tengah [Siria, Mesir, Yordania, Lebanon, Israel, Palestina]. Ia ingin memperkenalkan salah satu bentuk kekristenan yang belum dikenal di tanah air. Maklum, gereja-gereja di Indonesia sejatinya ‘warisan’ penjajah Portugis dan Belanda sejak abad ke-16.

Wajah kekristenan di sini, karena itu, pun menjadi kebarat-baratan. Nah, ceruk kosong inilah yang ingin diisi oleh Bambang Noorsena dan kawan-kawan lewat bendera Kanisah Ortodoks Siria. Namanya juga gereja baru, pengikutnya belum banyak. Tapi saya melihat teman-teman Otodoks Siria ini rajin memperkenalkan diri kepada publik, khususnya komunitas muslim. Memakai busana dan topi macam orang Arab, tak banyak yang tahu kalau teman-teman ini nasrani.

Nah, kaset bertajuk GAMBUS ROHANI KYAI SADRAH ini merupakan salah satu produk Gereja Otodoks Siria. Ada 10 lagu rohani dengan syair yang mungkin terasa asing bagi orang Kristen di Indonesia. Side A: Barukh Habba Be Shem Adonai, Ahlan wa Sahlan, Quddusu Lillah, Pujilah Asma Allah. Side B: Bocah Angon, Ke Ayal Ta Aroq, Mukhalis Ash-Shaalih, Na’tiy Ilaika, Ya Malilkal-muluk, Shiviti Adonai.

Semua lagu dikutip dari tradisi semitik, dan Bambang Noorsena yang menerjemahkan semua syair ke dalam bahasa Indonesia. Rupanya, mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia [GMKI] Malang ini sangat menguasai bahasa Arab serta bahasa-bahasa Timur Tengah, termasuk yang dipakai di Israel. Jangan lupa, Mas Bambang ini pernah menulis buku telaah kritis atas Injil Barnabas yang terkenal itu. Sulit menemukan orang Indonesia dengan ketekunan luar biasa macam Mas Bambang.

Teman saya pernah mengira kalau lagu-lagu di kaset ini gambus atau kasidah muslim. Cara mengucapkan syair Arab, rancak irama, suasana... dibuat macam musik Timur Tengah. “Eh, kok pakai kata Haleluya segala?” tukasnya.

Hehehe... tak hanya engkau, saya pun awalnya salah sangka, Bung!

Bambang Noorsena, pemimpin Gereja Ortodoks Siria di Indonesia, menulis sebuah tembang berjudul Pujilah Asma Allah. Melodinya ala gambus atawa kasidah. Syair kombinasi bahasa Indonesia dan Arab. Syairnya begini:

Haleluya... haleluya...
Pujilah asma Allah
Laa Ilaha Illallah
Tingi nama Tuhan
Laa Robba ilal Masih
Kebesaran-Nya di dunia
Kemuliaan-Nya di surga
Tiada seperti Dia, Allah, Allah
Pujilah asma Allah
Laa Ilaha Illallah
Kebesaran, keagungan, hanya ada pada-Nya
Ya, Robbuna ya Allah
Haleluya!


Unik, bukan?

Dari segi aransemen, kualitas musik, menurut saya, biasa-biasa saja lah. Maklum, mereka bukan pemusik dan komposer profesional yang terbiasa membuat rekaman musik. Mereka jemaat Ortodoks Siria yang ingin mengungkapkan imannya lewat tembang. teman-teman ini anak gembala, bocah angon dari Malang.

“Alunan nada yang disenandungkan bocah-bocah angon di gurun-gurun tandus, bukit-bukit gersang, di lembah-lembah, ngarai, padang ilalang, dan sungai-sungai sembari memandikan dombanya, sehingga menggetarkan hati yang mendengarnya,” begitu pidato Bambang Noorsena di album Kyai Sadrah.

Yah, musik anak gembala [bocah angon] yang sederhana sering kali lebih jujur daripada musik pop industri bermodal triliunan rupiah. Sambil menikmati tembang-tembang ini, saya membayangkan gembala-gembala bersukaria, menyanyi, main musik, karena telah melihat Sang Almasih di kandang Bethlehem.

BACA JUGA

Gereja Ortodoks Siria di Indonesia

17 December 2007

Ironis! Jemaat berebut gereja


Ironis! Menjelang Natal ini sesama jemaat Gereja Pentakota Pusat Surabaya (GPPS) bentrok, berebut bangunan gereja, di Jalan Karet Surabaya. Insiden tak sedap ini terjadi pada 13 Desember 2007.

Mohon maaf, Saudara-Saudara, naskah saya cabut karena komentar-komentar yang muncul semakin memperkeruh suasana. Bukan mencari solusi atawa titik temu. Dan itu merusak kualitas blog.

Salam damai!

16 December 2007

Jazz Natal Amerika yang asyik



Tiap bulan Desember, di Flores, setiap rumah seakan-akan berlomba putar lagu-lagu Natal. Lagunya sih itu-itu saja, tapi asyik dinikmati. Toko-toko kaset di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, apalagi. Lagu-lagu Natal ‘baru’ diputar keras-keras di Jalan Niaga agar masyarakat tertarik membeli.


Tidak heran, orang Flores macam saya punya koleksi album Natal sangat banyak. Mau gaya apa saja ada. Paduan suara. Opera. Pop. Disko. Campursari. Orkes simfoni. Jazz. Bahasa daerah. Macam-macamlah. Ada sebetulnya lagu Natal karya anak bangsa, tapi gagal mendarat di kuping jemaat serani. Unik memang bicara musik Natal atawa Christmas Carols itu.

Di Jawa Timur suasana Natal praktik tidak ada. Maklum, orang serani tak sampai 1%. Radio-radio pun, kecuali radio nasrani, tak punya minat untuk putar lagu-lagu Natal. “Buat apa, Mas? Berapa orang sih pendengar yang beragama Kristen? Putar lagu-lagu Natal sama dengan bunuh diri," ujar teman saya, penyiar radio.

Hehehe.... Ini memang urusan sensitif. SARA [suku, agama, ras, golongan], istilah orang media. Segmen pasar harus dijaga. Kalau radio anda tercitrakan sebagai stasiun nasrani, habislah bisnis anda. Suatu ketika, seorang pendengar Radio Suara Surabaya ‘mengamuk’ hanya karena sang penyiar memutar ‘Hallelujah’, karya GF Handell, yang tersohor itu. “Saya tutup kuping saat anda memutar lagu itu,” kata sang pendengar. Alasannya jelas.

Jadi, saya sangat bisa mengerti kenapa di Jawa Timur suasana Natal tidak pernah ada. Bahkan, beberapa keluarga Kristen yang saya datangi pun adem ayem saja. Natal ora Natal podo wae. Sama-sama sulit cari uang, bukan?

Tahun ini saya hanya membeli satu kaset Natal baru. Namanya ULTIMATE JAZZ CHRISTMAS. Album 12 lagu-lagu Natal yang dibawakan ala jazz standar. Penyayinya orang Barat semua: Duke Pearson [rekaman 1969], Nat King Cole [1946], Count Basie [1962], Nancy Wilson [1963], Eliane Elias [1996], Dianne Reeves [1996], Charles Brown [1956]. Ini di sisi A.

Kemudian sisi B: Booker Ervin [1966], Lou Rawls [1966], Duke Pearson [1969], Donald Byrd [1963], Norah Jones [2002], Thad Jones/Mel Lewis [1970].

Hebat sekali pemusik Barat itu: data kapan rekaman, studio, daftar pemain... semua lengkap. Kita orang di Indonesia biasanya mengabaikan detail macam ini.

Bagi saya, lagu-lagu Natal yang di-jazz-kan di album ini keren banget. Hampir semuanya dibawakan dengan instrumen akustik, khas jazz standar. Nat King Cole membawakan The Christmas Song dengan tenang, santai, tapi berisi. Dianne Reeves pun begitu. Membawakan Jingle Bells dengan tidak ngoyo. Akrab sekali! Kelebihan jazz memang di situ: intim, santai, tapi bernas. Nora Jones bahkan nyanyi sambil main piano di lagu Peace. Tidak ditemani pemusik lain.

Saya bandingkan album jazz Natal ini dengan album serupa milik Margie Segers, koleksi saya. Tante Margie bikin album Natal yang didukung pemusik Idang Rasjidi, Bintang Indrianto, Gerry, dan beberapa pejes top dalam negeri. Bagi saya, improvisasi Tante Margie terlalu ekstrem. Melodi manis asli lagu-lagu Natal hilang sama sekali. Dengar saja Jingle Bells versi Tante Margie. Seratus persen melodi aslinya tidak berbekas.

Beda sekali dengan lagu-lagu Natal di ULTIMATE JAZZ CHRISTMAS terbitan EMI. Improvisasi, sinkopasi, nada-nada biru jazz dan blues tak lantas menghilangkan melodi asli. Begitulah. Maksud hati mencontek gaya Amerika ala Tante Margie, kita beroleh musik jazz Natal nan asing.

Yang jelas, saat membuat catatan ringan ini saya sedang menikmati jazz-natal versi para empu jazz Amerika. Jazz to the world!

14 December 2007

Slamet Abdul Sjukur di Unesa

















Slamet Abdul Sjukur, pemusik kontemporer asal Surabaya, diberi kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan wawasan musik di kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa), kawasan CitraRaya, Jumat 14 Desember 2007. Sekitar 60 mahasiswa dan dosen jurusan seni musik antusias mengikuti sesi Pak Slamet.

Saya ikut hadir karena diundang via SMS dan email oleh Pak Slamet. Panitia kaget. Bukan mahasiswa, bukan Unesa, kok tiba-tiba datang? Siapa gerangan dirimu? Hehehe.. Saya bilang, saya diajak Pak Slamet Abdul Sjukur. Maka, saya pun beruntung mengikuti kuliah bersama tentang musik ini. Sungguh beruntung!

Seperti biasa Pak Slamet, 72 tahun, bicara ceplas-ceplos. Dia gambarkan kondisi permusikan kita yang, maaf saja, masih centang perenang. Antara pemusik dan penonton belum ‘nyambung’ sehingga karya-karya Pak Slamet, misanya, masih dianggap aneh. “Musik opo iku? Musik taek!” ujar Pak Slamet menirukan protes sejumlah masyarakat.

Hehehe… Para mahasiswa tertawa ngakak.

Agar lebih mudah dipahami, pria yang beralamat di Jl Keputran Panjunan I/5 Surabaya ini mengibaratkan musik dengan permainan catur. Pemain-pemainnya sekelas grandmaster, sementara penonton baru belajar catur empat hari. Ya, jelas saja gak nyambung. Sebaliknya, jika penonton kelasnya grandmaster, pemain kelas kemarin sore, ya, susah juga.

Poinnya, apresiasi masyarakat harus ditingkatkan. Dan itu salah satu tugas media massa. Aha, kali ini saya yang jadi sasaran kritik Pak Slamet. Celakanya, di Indonesia wartawan yang menulis musik kebanyakan pendatang baru dan berkualitas buruk. “Yang bagus-bagus ditugaskan di bidang lain. Susah,” kritik Slamet Abdul Sjukur. Padahal, jika penulis musik punya wawasan bagus, insya Allah, apresiasi masyarakat perlahan-lahan terdongkrak.

Saya lihat para mahasiswa memanfaatkan kedatangan Slamet Abdul Sjukur dengan baik. Muncul banyak pertanyaan tentang kasus lagu RASA SAYANG yang diklaim Malaysia, juga kesenian lain yang justru diapresiasi masyarakat di luar negara. Pak Slamet menjawab dengan menceritakan beberapa karyanya yang menggunakan bahasa dasar lagu darah.

Pada 1969, misalnya, Slamet bikin JILA LAJI dengan menyadur JALI-JALI. Kemudian komposisi THE SOURCE yang mengacu pada BENGAWAN SOLO. Lalu, saat di Paris [Slamet Abdul Sjukur tinggal 14 tahun di Prancis] bikin komposisi yang bersumber pada INDONESIA RAYA. Hasilnya? Banyak penikmat kagum, tapi juga tidak tahu kalau komposisi itu sejatinya menggunakan bahan-bahan baku yang sudah dikenal luas oleh publik.

“Mereka yang kupingnya peka, punya ilmu, mesti tahu kalau komposisi saya itu menggunakan lagu daerah. Tapi, yang jelas, pihak-pihak yang ngurus hak cipta nggak akan tahu. Hehehe...,” ujar komponis yang juga piawai memijat dan meramal nasib orang itu.

Kita protes, marah-marah, pada Malaysia yang mencontek lagu RASA SAYANG, contek reog, angklung, dan sebagainya. Tapi kita sendiri tidak bisa merawat harta kesenian itu dengan baik. Pak Slamet mencontohkan lagi dokumen-dokumen sejarah kita di Utrecht, Belanda. Sejumlah pihak mendesak agar dibawa pulang ke tanah air. Karena ditekan terus, Belanda akhirnya mengirim pulang bahan-bahan sejarah itu. Apa jadinya?

Setelah tiba di Indonesia, ungkap Pak Slamet, dokumen-dokumen tersebut hanya diikat rapi di kantor LIPI [Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia], Jakarta. Sama sekali tidak digunakan. “Sebab, kita tidak tahu cara merawat dokumen-dokumen itu,” tutur pria berjanggut panjang ini. Para mahasiswa silakan mengartikan sendiri kata-kata Slamet. Begitulah cara Pak Slamet menawarkan gagasan kepada siapa, entah mahasiswa, dosen, wartawan, pemusik, guru musik, siapa saja.

Slamet juga menjelaskan mengapa orang-orang Barat sangat menguasai musik tradisional Indonesia. Bisa bikin komposisi hebat pakai bahan baku dari bumi nusantara. Jawabannya sederhana saja. “Mereka itu kalau belajar langsung ke empu-empu kita. Sebaliknya, kita belajar musik Barat lewat tangan ke-214,” ujar Slamet Abdul Sjukur.

Hehehe… para mahasiswa tertawa lagi. Lucu, nyelekit, tapi kena. Slamet lalu mengilustrasikan betapa banyak anak-anak di Surabaya yang ‘dipaksa’ konser di luar negeri. Pulang dari sana, bangganya setengah mati. Koar-koar di mana-mana. “Padahal, kualitas mereka hanya rongsokan saja,” paparnya santai.

Seorang perempuan dosen mengeluh bahwa banyak musik yang tidak dipahami orang Indonesia. Menurut Slamet, itu wajar saja karena musik itu sangat luas. Buku sejarah musik saja tebalnya sekitar 60.000 halaman. Kita, orang Indonesia, mungkin hanya baca halaman sekian, lari ke halaman sekian. Tidak mungkin baca semua dan paham semua. “Kalau kita gak ngerti itu normal. Yang penting, ada niat untuk mengerti,” tegas Pak Slamet.

Di akhir kuliah, Pak Senyum, dosen ilmu bentuk musik, memperdengarkan komposisi olahan SEPASANG MATA BOLA. Cukup panjang, sekitar 15 menit. Wah, asyik juga. Banyak variasi di sana-sini, dinamika, tempo, akor... yang membuat lagu karya Ismail Marzuki ini terasa nikmat. Pak Slamet dan semua hadirin bertepuk tangan usai menikmati komposisi ini.

“Nggak nyangka kalau di Unesa ada yang bisa bikin komposisi lebih bagus daripada di Jogja,” puji Slamet. Hanya saja, dia kasih masukan bahwa karya Senyum ini terlalu dominan piano. Tapi secara keseluruhan sudah baik.

Usai kuliah bersama, kami minum kopi di ruang dosen. Kami ngobrol lagi. Pak Slamet bicara lagi. Mengupas sejumlah persoalan musik di tanah air. Termasuk fenomena orang-orang kaya di Surabaya yang ngotot agar anak-anaknya masuk Muri [Museum Rekor Indonesia]. Bagi Slamet, gejala ini tidak sehat dan perlu dihentikan. Kenapa?

Menurut dia, masuk Muri bukanlah cermin kualitas sebuah karya. Toh, mereka yang ingin masuk Muri, ya, harus mengeluarkan uang untuk bayar petugas Muri dan sebagainya. Sekadar mengingatkan, pekan lalu Unesa mendatangkan dedengkot Muri ke kampus untuk sebuah konser berbiaya mahal. Apa dampaknya bagi apresiasi musik, masih perlu dilihat lagi.

Yang jelas, diskusi atawa ngobrol dengan Pak Slamet [ngakunya keturunan Turki dan Eskimo, hehehe..] sangat asyik. Selalu ada pikiran-pikiran baru, provokatif, cenderung melawan arus macam karya-karyanya. Di situlah kehebatan seorang Slamet Abdul Sjukur, komponis yang lebih dikenal di luar negeri ketimbang di negaranya sendiri.

“Ngobrol sama Pak Slamet itu biarpun tiga jam nggak terasa,” komentar Gema, mahasiswa Unesa, yang rupanya pengagum Pak Slamet.

Sssst! Ini hari Jumat, teman-teman mau salat nih! Saya pun permisi. Pak Slamet dan teman-teman Unesa, sampai ketemu!

13 December 2007

Sugianto [alm] pemusik otodidak


Saya baru dengar kabar bahwa DESIDERIUS SUGIANTO meninggal dunia karena kecelakaan. Pitche, penyanyi asal Bajawa, Flores Barat, yang biasa kerja sama dengan Pak Sugianto bilang, Pak Sugianto berpulang sekitar tiga bulan lalu.

“Saya juga kaget banget. Tapi itulah penyelenggaraan Tuhan,” ujar Pitche kepada saya. “Kita tidak tahu kapan akan mati. Sebab, kematian itu datang seperti pencuri di malam hari. Makanya, berjaga-jagalah selalu,” wejang Pitche. Ah, teman-teman Flores memang suka mengutip kitab suci sebagai bumbu ujaran.

Resquescat in pace! Selamat jalan, Pak Sugianto.

Lahir di Solo 23 mei 1958, Pak Sugianto merupakan pemusik otodidak. Kepada saya, pria kurus yang energik ini mengatakan, dia tidak pernah makan sekolah musik. Tadinya saya kita dia lulusan Akademi Musik atau Institut Seni di Jogja setelah melihat kemampuannya.

“Uang dari mana? Saya ini benar-benar otodidak. Semua hal yang berkaitan dengan musik saya pelajari sendiri. Caranya: banyak baca buku-buku, belajar dari teman, kemudian latihan setiap hari. Orang otodidak itu menuntut disiplin pribadi sangat tinggi,” ujar Pak Sugianto.

Terakhir, ayah empat anak ini menjadi dirigen orkestra saat final Bintang Radio Tingkat Nasional di halaman Balai Kota Surabaya, 14 Juli 2007. Saya ngobrol agak banyak dengan beliau. Yah, soal musik, job, paduan suara, musik liturgi, hingga pengalamannya sebagai pemusik otodidak.

Bukan apa-apa. Saya sulit mengerti bagaimana orang yang tidak sekolah musik bisa bikin orkestrasi lagu-lagu seriosa, membirama [jadi dirigen], piawai memainkan berbagai alat musik, memimpin pemusik-pemusik sekolahan. “Hurek, yang penting kita kerja keras, menekuni bidang yang kita minati. Jangan setengah-setengah,” begitu nasihat almarhum yang dulu tinggal di kawasan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Saya masih ingat, di malam final BRTN itu Pak Sugianto memimpin orkestra untuk jenis seriosa. Lagu-lagunya: Lagu untuk Anakku, Lumpur Bermutiara, Kepada Kawan, Cintaku Jauh di Pulau, Derita. “Berapa lama sampeyan mengaransemen lagulagu itu?” tanya saya.

“Ah, cepat sekali kok. Polanya sudah ada, latihan sebentar, lalu main,” tegas dirigen Orkes Studio RRI Surabaya ini.

Aransemen karya Pak Sugianto cukup bagus. Hanya saja, karena dipentaskan di halaman terbuka, nuansa klasiknya tidak sempurna. Belum lagi sistem suara [sound system] yang juga kurang bagus. Toh, Pak Sugianto yang pakai ikat kepala [udheng] khas Surabaya tampil penuh semangat.

Bagi saya, pengalaman Pak Sugianto sebagai pemusik otodidak bisa menjadi pelajaran bagi anak-anak Indonesia yang berlatar belakang keluarga menengah ke bawah. Cocok untuk anak-anak kampung di mana saja yang tidak bisa ikut les piano sejak dini.

Sebagai gambaran, anak-anak orang kaya di Surabaya rata-rata pada usia 4-7 tahun sudah les piano klasik. Konser di mana-mana. Didanai orang tuanya dengan biaya berapa pun. Bikin rekaman independen. Tampil di televisi atau acara-acara di hotel dan sebagainya. Mana mungkin anak orang miskin bisa begitu? Jangankan les piano, uang pembeli makanan saja susah.

Bahkan, di Kabupaten Flores Timur saya belum pernah melihat keluarga yang punya piano klasik. Hanya ada orgel [organ] tua di gereja. Itu pun hanya segelintir. Maka, saya hanya bisa geleng-geleng kepala, kagum, dengan bocah Surabaya yang bisa main konserto piano bersama orkes simfoni. Tanpa perlu baca partitur pula! Luar biasa.

Nah, Pak Sugianto berasal dari keluarga menengah ke bawah yang tidak mampu les piano, kursus musik, dan sebagainya. Dia mengaku belajar gitar dari teman-temannya di Solo, Jawa Tengah. Tentu saja tidak ilmiah, tak pakai silabus standar ala sekolah musik. Saat sekolah menengah atas (SMA) dia belajar meniup recorder. Itu lho suling vertikal untuk anak-anak sekolah dasar (SD).

“Ingat, recorder itu basic-nya saksofon,” bebernya. Dari sini Pak Sugianto meloncat ke saksofon, instrumen seksi yang lazim untuk musik jazz. Tiap hari dia belajar, belajar, dan belajar. Akhirnya, Pak Sugianto mampu menjadi salah satu saksofonis ternama di Surabaya. Kalau ada hajatan manten, Pak Sugianto laku keras.

Saya senang melihat dia bergaya dengan saksofon atau flute. Singkatnya, semua alat musik tiup dikuasai dengan baik, ya, berkat latihan dan pelajaran otodidak itu tadi. Dia juga memimpin paduan suara, bikin aransemen kor, hingga menulis lagu. Oh, ya, Pak Sugianto juga belajar seni suara klasik. Jangan heran, lagu-lagu seriosa mampu ia bawakan dengan baik. Lagu-lagu pop, keroncong, jazz, blues, gospel..? Enteng saja baginya.

Karena sangat menguasai instrumen tiup [brass instrument], Pak Sugianto mengembangkan diri sebagai tukang servis semua jenis alat tiup. Rumahnya di Brigjen Katamso J/8 Waru, Perumahan RRI, dulu penuh dengan alat musik yang rusak. “Orang-orang tahunya kalau aku ini tukang servis saksofon, trumpet, flute...,” paparnya.

Lantas, aransemen atau bikin orkestrasi belajar di mana? Apa ada guru khusus?

“Hehehe... Nggak pakai guru. Guru saya, ya, buku dan teman-teman,” tegasnya. Tapi dia mengakui suatu ketika dia ikut pelatihan musik paduan suara bersama Romo Piet Wani SVD di Surabaya. Sejak itu dia sering diskusi soal musik klasik, khususnya musik liturgi, dengan pastor asal Flores itu.

Menurut dia, siapa saja bisa menjadi pemusik [atau apa saja] secara otodidak. Tapi syaratnya sangat berat. “Harus punya tekad dan tanggung jawab pribadi yang sangat besar. Lakukanlah apa yang anda senangi, latihan, latihan, dan latihan. Hanya dengan berlatih anda akan mendapat ketrampilan memainkan instrumen,” pesannya.

Namun, dia buru-buru menambahkan, ketrampilan saja tidak cukup. Pemusik harus menjiwai musik yang dibawakannya. Harus ada kombinasi jiwa dan ketrampilan (skill).

Kini, pemusik otodidak yang telah banyak membagikan pengetahuan kepada saya itu telah dipanggil Tuhan. Mudah-mudahan Tuhan menerima Pak Sugianto di alam baka. Saya hanya bisa kirim doa dari alam fana. RIP!

12 December 2007

Simfoni Natal bersama SSO



Salut buat Solomon Tong. Di usia yang tak lagi muda, 68 tahun, Pak Tong tetap bersemangat menghidupkan orkes simfoni di Surabaya. Surabaya Symphony Orchestra (SSO) yang ia dirikan pada 1996 tetap eksis dan terus berkembang. Selasa, 11 Desember 2007, SSO kembali menggelar konser Natal di Hotel JW Marriott Surabaya.

Ini merupakan konser ke-54 SSO. Dua belas tahun sudah SSO bikin konser Natal. Penggemar musik klasik tentu senang karena bisa menikmati lagu-lagu Natal yang dimainkan oleh orkes simfoni. Sekadar catatan, konser Natal bersama orkes simfoni atawa symphony orchestra hanya digelar secara teratur oleh SSO. Mana ada orkes simfoni lain yang bisa begini?

Kita tentu tak bisa berharap dari Twilite Orchestra karena visi dan misinya jelas beda. Bagi Pak Tong, menggelar konser musik klasik tak sekadar menyajikan musik, tapi juga sebentuk kebaktian kepada Tuhan. Musik menjadi sarana untuk memuji dan memuliakan nama-Nya.

“Sebab, SSO bisa bertahan hanya karena Dia. Solomon Tong sih tidak punya apa-apa. Tapi TUHAN lah yang memampukan SSO bisa bertahan sampai hari ini,” ujar Pak Tong dalam berbagai kesempatan. Pak Tong mengaku selalu mengalami mukjizat setiap kali konser. Biaya konser yang rata-rata Rp 230 juta selalu dipenuhi lewat tangan Tuhan nan ajaib.

Karena itu, bisa dipahami kalau konser-konser SSO senantiasa mengusung nuansa kristiani yang sangat kental. Nah, konser Natal [Christmas Concert] boleh dikata menjadi wujud ucapan syukur Solomon Tong bersama para pemain dan pengurus SSO atas berkat dan penyertaan Tuhan selama satu tahun terakhir. Sekaligus minta ‘bekal’ dari Tuhan untuk tahun berikutnya.

Nah, Selasa malam Pak Tong bersama SSO kembali mengadakan ‘tradisi’ tahunan itu. Juga, seperti tahun-tahun sebelumnya, sekitar seribu penonton [sebagian besar sudah menjadi penonton tetap] menikmati alunan musik simfoni. Pak Tong lagi-lagi menghadirkan pemusik dan penyanyi generasi muda. Anak-anak belasan tahun ia gembleng sedemikian rupa agar fasih memainkan repertoire berat ala klasik.

Benta Tanu, 9 tahun, main piano dengan indah. Juga Ibu Karlina Magawe, istri Pak Tong yang juga pianis hebat, membawakan karya Franz List, Hungarian Rhapsody No 2. Kemudian nama-nama lama andalan SSO macam Pauline Poegoeh dan Melissa Setyawan menyajikan ‘akrobat suara’.

Pauline dikenal sebagai soprano dahsyat yang belum ada duanya di Jawa Timur. Ia bisa nyanyi lagu klasik macam apa saja--opera berat-berat, seriosa nusantara, himne Natal--dengan kemampuan tingkat tinggi. Dalam beberapa kesempatan, para ekspatriat mengungkapkan kekaguman atas talenta Pauline Poegoeh.

“Pauline juga termasuk soprano terbaik di Indonesia,” puji Pak Tong. Dirigen kelahiran Tiongkok, 20 Oktober 1939, ini memang layak bangga punya Pauline. Boleh dikata, Pauline lah maskot SSO saat ini.

Saya sendiri selalu geleng-geleng kepala saat menikmati suara gadis berbadan subur ini. Kok bisa ya ada orang Indonesia bisa nyanyi sehebat itu? Komposisi paling sulit dan rumit pun, yang nota bene berasal dari Eropa, ditaklukkan Pauline dengan sangat enteng? Makan roti dan keju kah nona manis ini? Atau, jangan-jangan Pauline ini punya DNA Eropa? Hehehe….

Bukan apa-apa. Orang Barat sendiri pun belum tentu mampu. Sungguh, Pauline tergolong manusia ajaib dari Surabaya. Orang Indonesia yang berhasil menembus kedalaman seni vokal klasik Barat.

Kalau Christmas Carols, saya kira, tidak perlu dikomentari lagi lah. Lagu-lagu Natal universal ini dari sono-nya memang sudah enak, nyaman dinikmati, menjelang dan pada masa Natal macam sekarang. Kita tak akan pernah bosan mendengar meski setiap tahun diputar ulang. Sebuat saja Silent Night, Holy Night, hingga White Christmas. Itulah karya-karya musik adiluhung. Ia senantiasa menembus batas ruang dan waktu.

Sekali lagi, terima kasih dan salut untuk Pak Tong yang tetap semangat, kerja keras, konsisten, menghadirkan musik berkualitas di Surabaya. Sebagai penutup, mari kita nyanyi bersama:

Joy to the world, the Lord is come!
Let earth receive her King;
Let every heart prepare Him room,
And Heaven and nature sing,
And Heaven and nature sing,
And Heaven, and Heaven, and nature sing.

Joy to the earth, the Savior reigns!
Let men their songs employ;
While fields and floods, rocks, hills and plains
Repeat the sounding joy,
Repeat the sounding joy,
Repeat, repeat, the sounding joy.

No more let sins and sorrows grow,
Nor thorns infest the ground;
He comes to make His blessings flow
Far as the curse is found,
Far as the curse is found,
Far as, far as, the curse is found.

He rules the world with truth and grace,
And makes the nations prove
The glories of His righteousness,
And wonders of His love,
And wonders of His love,
And wonders, wonders, of His love.