30 November 2006

Ucok AKA Harahap dan Lumpur Sidoarjo



UCOK AKA HARAHAP (67) diam-diam tengah mempersiapkan sebuah proyek seni spektakuler untuk mengajak masyarakat untuk peduli pada musibah lumpur panas di Sidoarjo. Para musisi rock asal Jawa Timur akan dilibatkan.

MUSIBAH semburan lumpur panas di Porong dan sekitarnya sejak 29 Mei 2006 lalu membawa efek berantai. Ribuan jiwa jadi korban. Bangunan, harta benda, pabrik, sawah, halaman... ludes. Tol patah, jalan raya macet total sampai hari ini. Praktis, seluruh warga Jawa Timur terkena dampaknya.

UCOK ANDALAS DATUK OLOAN HARAHAP mengaku sangat prihatin dengan bencana di Sumur Banjarpanji-1 milik Lapindo Brantas Inc itu. Melihat semburan lumpur sulit dijinakkan, sekitar dua bulan lalu, pria berambut keriting ini menghubungi orang-orang dekat pejabat di Sidoarjo dan Surabaya.

"Saya ingin berbuat sesuatu yang konkret di lokasi lumpur," cerita Ucok Andalas Datuk Oloan Harahap, yang lebih dikenal sebagai Ucok AKA Harahap di Surabaya, kemarin.

Dedengkot grup rock legendaris AKA (akronim dari Apotik Kali Asin) akhirnya sempat bicara dengan kaki tangan pejabat setempat.

"Permintaan saya sederhana saja. tidak neko-neko," kata Ucok. "Saya hanya minta panggung 2 x 2 meter di dekat semburan lumpur. Saya minta itu dengan niat baik. Sekarang ini tidak tepat kalah kita saling hujat, saling menyalahkan."

Saat itu, sedikitnya 300 dukun atau paranormal sudah menjajal kesaktian di lokasi lumpur. Apalagi, ada iming-iming hadiah rumah dan uang dari Hasan, kepala desa Kedungbendo. Eh, hasilnya semburan lumpur malah makin hebat. Karena itu, para petugas lapangan maupun orang dekat pejabat menganggap Ucok Harahap ini sama saja dengan dukun yang ikut sayembara berhadiah rumah.

"Wah, saya malah disamakan dengan paranormal," cerita pemusik senior yang mendirikan AKA Rock Band pada 1969 di Surabaya itu.

"Saya jelaskan bahwa saya bukan dukun. Saya hanya minta panggung 2 x 2 meter. Saya juga tegaskan, kegiatan saya tidak boleh diketahui media massa, entah itu televisi maupun surat kabar," tutur Ucok yang kini tinggal di Lawang, Kabupaten Malang.

"Wah, jangan, Pak. Anda akan mati kalau nekat ke dekat lumpur. Apa Anda mau jadi tumbal? Kami tidak bisa memberikan izin," tegas petugas lapangan.

"Anda tahu apa, kok berani bilang saya akan mati di lumpur?" semprot Ucok.

Singkat cerita, Ucok Harahap dilarang 'buka panggung' di kawasan lumpur panas. "Terus terang, saya sakit hati dengan penolakan itu. Manusia itu kan ada punya kelebihan, ada punya kekurangan. Semua itu kita serahkan kepada Tuhan," tambah pria 67 tahun itu.

Ucok Harahap kemudian mengingatkan saya tentang kiprah AKA, ben yang juga diperkuat ARTHUR VICTOR GEORGE JEAN ANESZ KAUNANG (bas), SYECH ABIDIN JEFFRIE (drum), dan SUNATHA TANJUNG (gitar) pada 1970-an. Konser AKA waktu itu sangat eksentrik, gila-gilaan, digemari masyarakat, berkat ulah si Ucok.

Dia nyanyi dengan kepala di bawah. Telentang di panggung. Terjun ke dalam kolam. Bergelantungan di talang air. Meloncat dari ketinggian tiga sampai lima meter tanpa cedera.

"Konser AKA itu 60 persen untuk mata, 40 persen untuk telinga. Kalau rekaman, ya, 100 persen untuk telinga," papar Ucok.

Minggu (26/11/2006) malam, dia sempat unjuk sisa-sisa kebolehan dalam konser rock di Balai Pemuda bersama sejumlah bintang rock tempo dulu.

Menurut dia, aksi-aksi berbahaya khas AKA ini setidaknya menjadi bukti bahwa dirinya paling tidak punya sedikit 'kelebihan'. Apa salahnya dicoba di lumpur Lapindo?

"Tapi sudahlah. Sakit hati jangan terlalu lamalah," kata pemilik Klinik Musik Ucok AKA di Jalan Sumberpacar 49 Lawang ini.

Ditolak di Porong, Ucok Harahap menemui sejumlah rekannya di Bandung. Ucok banyak bercerita tentang lumpur di Sidoarjo.

"Sudahlah, kamu ini kan seniman. Buktikan kepedulianmu dengan cara seniman. Jangan sakit hati atau sedih," begitu nasihat seorang spiritualis di Bandung.

"Akhirnya, saya bertekad membuat sesuatu sebagai wujud kepedulian terhadap musibah lumpur di Sidoarjo," ujar penulis sejumlah lagu hit seperti Badai Bulan Desember, Utjok Reflection, Grazy Joe, dan Sky Ryder ini.

Pulang dari Bandung, Ucok Harahap memfokuskan energi kreatifnya untuk bikin karya musik tentang lumpur. Dia berencana membuat 10 lagu 'rock merah-putih'.

"Musik rock asalnya memang dari sono, Barat. Tapi saya kemas dengan sentuhan etnik menjadi rock merah-putih'. Sekarang sudah siap tujuh lagu," kata Ucok.

KINI, Ucok AKA Harahap mengaku sudah menyusun tujuh komposisi musik rock 'merah-putih'. Kenapa 'merah-putih'? Hubungannya dengan nasionalisme? Dedengkot bekas supergrup AKA (Apotik Kaliasin) ini mengaku ingin menyampaikan gagasan, sekaligus keprihatinannya, melalui bahasa musik. Prihatin ala seniman musik rock.

UCOK ANDALAS DATUK OLOAN HARAHAP, nama lengkap pria 67 tahun ini, menunjuk Pinky Floyd. Grup rock progresif ini ternyata mengadopsi gamelan Bali dalam beberapa komposisinya. Begitu juga sejumlah pemusik Barat yang tergila-gila dengan keeksotikan musik timur, khususnya Indonesia.

"Nah, kenapa kita yang orang Indonesia lupa dengan kekayaan musik kita sendiri?" gugat Ucok AKA Harahap saat berbincang dengan saya, Selasa (28/11).

Singkatnya, Ucok ingin agar konser peduli musibah lumpur panas ini dikemas dalam warna nusantara yang kental. Musik etnik harus terlibat. Alat musik (instrumen) nusantara harus ada. Sementara penampilnya, dia berharap, musisi rock yang ada di Jawa Timur.

"Sebab, musibah ini terjadi di Jawa Timur, telah mengganggu aktivitas dan perekonomian di Jawa Timur. Dan saya ingin yang muda-muda ikut. Bila perlu saya hanya di belakang layar," jelas Ucok.

Kalau sekadar bikin rekaman kaset/CD, bagi Ucok Harahap, tidak sulit. Sebab, rekamanan itu hanya untuk konsumsi telinga. "Kalau untuk show, saya tetap ingin porsinya 60 persen konsumsi mata. Ini sudah menjadi tradisi kami di AKA dulu," papar rocker yang masih energik di usia senja itu.

Mengutip cerita Theodore KS, wartawan musik senior, pada 10-11 November 1973 AKA Rock Band bikin heboh di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Ucok memanjat tembok dan ke atas genteng. Ketika muncul di pentas, dia buka baju. Membiarkan dirinya dihajar dua algojo. Kakinya diikat dan digantung. Setelah 'ditusuk' dengan pedang, Ucok dimasukkan ke dalam peti mati.

Ih.. seram!

Apakah East Java Rockers All Stars nanti pun akan dibuat heboh?

"Hehehe... yang jelas, kita buat semenarik mungkin. Penonton kan ingin menikmati show yang bagus, yang menarik. Kalau show-nya biasa-biasa saja, ya, buat apa?" kata pemilik klinik musik di Lawang, Kabupaten Malang.

Karena itu, Ucok AKA Harahap membutuhkan banyak pemusik siap pakai. Pemusik tradisional. Properti. Pencahayaan (lighting). Tentu saja, biaya serta sponsor pendukung. "Kita sudah sempat bicarakan dengan sejumlah teman di Surabaya menjelang acara di Balai Pemuda kemarin," katanya.

Gayung bersambut. Sejumlah rocker Surabaya seperti Pungky Deaz, Yoyok, Endah Kuswantoro, mendukung penuh. "Saya salut sama Eyang Ucok. Dia tidak hanya sekadar buat konsep, tapi juga mau merealisasikan konsep itu," ujar Endah Kuswantoro, kemarin.

Menurut Endah, lady rocker 1980-an yang juga penggemar berat The Rolling Stones, konser rock legendaris yang ikut didukung RADAR SURABAYA (26/11/2006) itu hanyalah tahap awal untuk mewujudkan beberapa program rock yang lebih besar.

"Kita akan jalan terus. Apa yang bisa kita garap, ya, mari kita garap bersama-sama," ujarnya.

Lalu, kapan program musik amal ini terlaksana?

"Kita belum pastikan. Mudah-mudahan bisa secepatnya karena semburan lumpur saat ini sedang gila-gilanya. Dan semakin hari semakin banyak warga yang jadi korban," kata Ucok AKA Harahap.

Putra pemilik Apotik Kali Asin di Surabaya pada 1960-an itu dengan tegas membantah anggapan bahwa dia mau bikin sensasi lagi setelah kiprahnya di musik rock surut seiring usianya yang senja.

"Kasus lumpur di Sidoarjo ini benar-benar serius, bukan ajang untuk cari sensasi. Saya hanya ingin menjadikan momentum ini untuk mengingatkan kita semua untuk tidak saling hujat. Tidak saling menyalahkan. Kita kembalikan kepada Tuhan," tegasnya.

Konser digelar di Porong? "Tidak. Saya pastikan di Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur. Sebab, misi saya mengajak semua masyarakat Jawa Timur untuk peduli," paparnya.

Misi sampingan, tentu saja, menggairahkan kembali kehidupan musik rock di Surabaya yang sempat mati suri cukup lama.

Yeaah! Yeaaah!!! Old rocker never die! Rock! Rock! Rock!

Basuki Hadimuljono Ketua Timnas Lumpur Sidoarjo



Nama Dr. Ir. BASUKI HADIMULJONO MSi (52) belakangan mencuat di balik bencana lumpur panas di Porong, Sidoarjo. Maklum, dia dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin tim nasional penanggulangan lumpur. Siapakah Basuki itu?

ORANGNYA sederhana, tidak suka protokoler. Dia lebih suka di lapangan daripada berada di balik meja. Pria berkumis lebat itu merasa seperti pulang kampung saat diperintahkan Presiden SBY ke Sidoarjo sejak 8 September lalu. Orang tuanya asli Surabaya, tinggal di Jalan Jimerto 40 Surabaya.

Ketua Balitbang Departemen Pekerjaan Umum itu mengaku tidak menduga kalau dirinya dipercaya memimpin tim nasional penanggulangan lumpur Lapindo, yang berjumlah delapan orang. "Saya juga tidak tahu mengapa justru saya yang dipilih," tuturnya.

Lahir di Solo pada 5 November 1954, Basuki sering berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Ini karena ayahnya anggota TNI AD. Meski lahir di Solo, SD dan SMP justru diselesaikan di Palembang. Ayahnya selama enam tahun bertugas di sana, 1963-1968. Belum sempat tamat SMP di Palembang, ayahnya keburu pindah ke Irian Jaya (sekarang Papua, red). Basuki pun terpaksa harus ganti sekolah lagi, menyesuaikan diri dengan teman-teman barunya.

"Ayah saya empat tahun di Irian Jaya, dan saya pun sekolah di sana," cerita ayah tiga anak itu di Graha Pena –Jawa Pos, Surabaya. Lucunya, SMA belum sempat tamat, ayahnya pindah lagi ke Surabaya.

Di Surabaya ia bisa menikmati sekolah unggulan, SMA Negeri 5. Basuki di SMAN 5 itulah kualitas intelektualnya terbentuk, sehingga dia berhasil diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM), kampus elite di Jogja. Ketika pindah ke SMAN 5, Basuki bersahabat dengan WIN HENDRARSO, yang sekarang menjabat bupati Sidoarjo.

"Saya satu kelas dengan Win," kenangnya.

Tidak hanya itu. Kedua sahabat ini sama-sama kuliah di UGM, hanya beda fakultas. Nah, sekarang Basuki menjadi ketua timnas, Win jadi anggota timnas. Tali persahabatan masa lalu ini pun tersambung lagi di lokasi lumpur panas Lapindo.

"Saya dengan Win saling bertukar pengalaman dan pengetahuan. Programnya pun bisa sejalan karena misi kami sama, yaitu membantu masyarakat untuk menanggulangi luapan lumpur," ujar Basuki.

Lulus dari UGM pada 1979, Basuki bekerja di Departemen Pekerjaan Umum. Instansi itu pula yang memberikan bea siswa ke luar negeri. Basuki mengambil S2 dan S3 bidang pengairan. "

Spesialisasi pendidikan saya memang bidang pengairan," tutur Basuki.

Karena itu, tidak salah kalau Presiden SBY memercayakan Basuki menjadi ketua timnas yang setiap hari memantau perkembangan penanganan lumpur Lapindo. Menurut Basuki, luas tanggul yang ditanganinya di Porong itu delapan kilometer. Tapi, bila dihitung dengan tanggul-tanggul yang ada di dalam, seluruhnya mencapai 18 kilometer. Tanggul itu harus ditangani setiap hari agar tidak jebol.

Sejak menjadi ketua timnas, Basuki jarang pulang ke Jakarta. "Bagaimana lagi? Tanggung jawab saya di Porong ini sangat besar," katanya.

Berdasar laporan H.M. Nasaruddin Ismail

29 November 2006

Lina Mencari Ayahnya di Danau Lumpur




GADIS kecil ini duduk termenung didampingi saudara sepupu dan bibinya. Sabtu (25/11, Lina yang bernama lengkap Perina Dilanti datang ke lokasi ledakan pipa gas sekitar pukul 16.00 WIB. Mata gadis kecil ini berkaca-kaca.

Dia dengan cermat memandang isi danau lumpur panas tersebut. Seperti diketahui, ayahanda Lina, Rudi Tri Hariadi, tewas akibat ledakan dahsyat di Kilometer 38 Tol Gempol-Porong bersama 14 korban lainnya.

Kalau 13 mayat korban lain sudah ditemukan oleh tim Search and Rescue (SAR), dan sudah pula dikebumikan oleh keluarga masing-masing, mayat Rudi Tri Hariadi masih tak jelas rimbanya. Diduga kuat, masih berada di dalam kubangan lumpur panas.

"Saya mau menunggu Papa di sini," kata Lina, siswi sebuah taman kanak-kanak di Surabaya.

Saya pun terenyuh mendengar pengakuan polos Lina. Apalagi, tampak sekali kalau Lina baru saja menangis setelah ditinggal pergi sang ayah tercinta sejak Rabu malam. "Pokoknya, saya menunggu Papa," tambahnya.

Sekitar lima menit kemudian, Lina memerhatikan sebuah mobil yang parkir tak jauh dari situ. Mobil itu biasa dipakai petugas lapangan Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo. Rupanya, Lina hafal benar kendaraan kerja almarhum ayahnya.

"Lho, itu kan mobilnya Papa! Itu kan mobilnya Papa!" ujar Lina. "Tapi kenapa Papa kok belum ketemu ya?" tambah putri pasangan Rudi Tri Hariadi (alm) dan Yulinawati.

Mendengar komentar Lina, saya dan beberapa petugas yang mendengarnya nyaris tak mampu menahan linangan air mata. "Bagaimanapun juga kita perlu mencari jasad Rudi sampai ketemu. Insya Allah, dalam waktu dekat sudah bisa ditemukan," bisik seorang petugas Timnas.

Si gadis kecil, Lina, tetap terpaku pada mobil yang biasa dipakai ayahnya di kawasan semburan lumpur panas Lapindo.

Lalu, dia berkata dengan suara keras, "Mama... aku sudah ketemu mobilnya Papa. Tapi Papa belum pulang, Ma."

Mendengar ucapan Lina, sang bibi kemudian meminta penjelasan dari petugas tentang alasan penghentian pencarian jenazah korban ledakan pipa gas, Rabu malam lalu. Petugas mengatakan bahwa upaya pencarian akan terus dilakukan sampai mayat Rudi Tri Hariadi, pegawai Pemkot Surabaya, itu ditemukan. Itu sudah menjadi tekad dan komitmen petugas di lapangan.

"Mohon bersabar. Kalau peralatannya sudah normal, kita akan mencari lagi sampai ketemu," ujar si petugas. Lalu, sejurus kemudian si kecil Lina bersama bibi dan kakak sepupunya (15 tahun) meninggalkan lokasi tewasnya Rudi Tri Hariadi.

"Saya tidak tegas melihat anaknya almarhum Rudi di atas tanggul. Benar-benar pemandangan yang membuat perasaan siapa pun teriris-iris," kata Abdullah.

Almarhum Rudi Tri Hariadi tinggal di Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perum TAS) Blok B2 Nomor 35, Tanggulangin, Sidoarjo. Yulinawati, istri pegawai Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemkot Surabaya, saat ini sedang hamil tiga bulan. Kemarin, Yuli tidak menemani Lina ke danau lumpur panas karena masih dilanda kesediahan mendalam.

Yuli mengaku pasrah atas nasib nahas yang menimpa suami tercinta. "Sekarang ini saya tidak bisa mikir apa-apa. Saya hanya bisa pasrah. Mudah-mudahan suami saya segera ditemukan," katanya.

Seperti jeritan anaknya, Lina, Yulinawati meminta tim SAR, Timnas, Lapindo Brantas Inc, Pemkab Sidoarjo, serta para relawan untuk segera menemukan jenazah suaminya. "Biar jelas langkah saya. Tidak seperti sekarang ini, mau melangkah masih bimbang," katanya.

27 November 2006

Olahraga Jarang, Makin Gemuk


Sejak tiga tahun terakhir ini badan saya menggemuk. Bobot naik terus, kata pakar-pakar, kurang bagus untuk kesehatan. Orang gemuk pun kurang sedap dipandang mata. Kata orang, laki-laki sebetulnya tak perlu panik dengan badan gemuk. Lain dengan cewek yang memang membutuhkan penampilan lebih langsing dan proporsional.

Terus terang, badan saya yang menggemuk ini tak lepas dari gaya hidup dan pola kerja. Sebagai penyunting surat kabar, saya mau tak mau pulang kantor tengah malam. Paling cepat 23:30 WIB cabut dari kantor.

Di jalan raya saya selalu tergoda untuk cangkrukan di pinggir jalan raya--biasanya kawasan Aloha, Urip Sumoharjo, Kedungdoro--untuk 'memantau situasi'. Ngobrol sama pedagang kaki lima, plus pelanggannya, memang asyik. Ada-ada saja info yang diutarakan, dan itu bagus untuk bahan berita. Paling tidak bumbu-bumbu berita.

Nah, tentu saja, cangkrukan ini diselingi dengan minum kopi, jajan pisang goreng, ketela rebus, donat, hingga mi atau nasi goreng. Saat Piala Dunia 2006 lalu cangkrukan lebih meriah karena ada pertandingan bola kelas dunia yang ditunggu-tunggu. Nontong barenglah!

Kebiasaan makan malam-malam ini jelas menyumbang gumpalan lemak di badan saya. Habis, pulang, tidur, tak ada aktivitas. Kalori yang tidak dibakar niscaya menumpuk jadi lemak. Ujung-ujungnya badan menjadi gemuk. Berat badan saya sekarang berkisar 73-76 kg, tinggi tetap saja 170 cm. Idealnya sih jauh di bawah angka itu.

Sebetulnya sudah banyak usaha untuk mengurangi berat badan. Mengurangi daging, gorengan, hingga menjajaki produk pelangsing badan. "Hurek, coba deh produk saya, pasti efektif. Kalau tidak berhasil, uang kembali," kata Fefe alias Fenny, teman saya yang vegetarian sejati.

Fefe lalu menawarkan Herbalife, produk andalannya, dengan harga sangat miring. "Kalau untuk orang lain, mahal lho," tambah wanita Tionghoa Surabaya itu.
Saya pun membawa oleh-oleh Herbalife rasa strawberry.

Produk ini pada dasarnya susu rendah kalori sebagai pengganti makan nasi. "Anda silakan pilih makan sepuas-puasnya satu kali sehari, entah pagi, siang, atau malam. Tidak perlu pantang makanan apa pun," begitu tips si Fefe.

Namun--ini yang penting, sekaligus sangat BERAT--dua kali jam makan diganti dengan mengonsumsi herbalife satu gelas. Kesimpulannya: makan satu kali sehari, yang dua kali lagi hanya boleh minum 'susu' Herbalife.

Karena ingin kurus, saya pun mencoba resep Herbalife ala Fefe, bekas model lulusan Unika Widya Mandala Surabaya itu. Waduh, rasanya berat sekali. Beraaat! Bayangkan, nafsu makan saya yang selalu tinggi, tiba-tiba harus ditekan secara drastis ala Herbalife. Makan satu kali, dua kali minum susu, tak boleh jajan lagi.

"Anda kan mau sehat? Kalau punya niat, insya Allah, sukses," begitu pesan Fefe dalam beberapa kesempatan. "Oke, oke," jawab saya, lemas.

Beberapa hari saya terpaksa menahan lapar... demi mengurangi berat badan. Belum sebulan, saya diajak ke sebuah hotel bintang lima di Surabaya untuk mengikuti diskusi penting. Makan enak, tentu saja. Godaan makanan lezat kelas hotel sungguh menggoda. Makan... tidak... makan... tidak... makan... tidak... makan...

Yah, teman-teman saya makan dengan lahap, sehingga saya pun akhirnya jatuh dalam godaan. Puasa ala Herbalife batal. Saya makan seperti tak pernah ikut program diet yang ketat itu. Apa boleh buat, produk si Fefe itu pun mubazir. Saya biarkan beberapa hari, kemudian isinya dibuang di tempat sampah. Saya belum mampu ikut program diet seketat itu.

Sampai sekarang tekad untuk menguruskan badan tetap ada, namun saya tak ingin ikut program ala Herbalife lagi. Berat!

"Lebih baik olahraga saja yang teratur. Kalau bisa jangan makan di atas jam enam petang. Sarapan buah saja," usul teman saya, wartawan senior.

Yah... saya sekarang mulai membiasakan diri olahraga lompat tali (skipping) di halaman. Namun, repornya, saya ini belum bisa menjadikan olahraga sebagai gaya hidup sehari-hari. Masih musiman. Kadang-kadang begitu semangat, kadang-kadang tak pernah olahraga. Sementara itu, malam hari godaan mi goreng, nasi goreng, camilan kecil... di pinggir jalan masih sulit dilawan.

Ada kata-kata bijak yang sering dikutip Gus Ali, kiai terkenal di Tulangan, Sidoarjo. "Makanlah kalau Anda lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang!" ujar pengasuh Ponpes Bumi Shalawat, yang beberapa kali saya liput pengajiannya.

Ternyata, ini merupakan kata-kata hikmah dari Nabi Muhammad SAW. Berhenti makan sebelum kenyang! Saya selalu ingat mantra bijak ini:

Berhenti makan sebelum kenyang!
Berhenti makan sebelum kenyang!
Berhenti makan sebelum kenyang!
Berhenti makan sebelum kenyang!
Berhenti makan sebelum kenyang!


Kata-kata ini gampang diucapkan, namun tak mudah dilaksanakan, setidaknya bagi saya. Kenapa? Di kampung saya, Flores Timur, mama-mama di rumah selalu bilang:

"Makan sampai kenyang! Tambah lagi! Ayo, nasinya dihabiskan!"

Jika makanan tidak dihabiskan, apalagi makan sedikit, dikira kita kurang menghargai mereka yang sudah capek-capek memasak dan menyiapkan makanan. Tapi kalau makan sampai kenyang -- ikat pinggang dikendorkan -- risikonya badan kita akan dijejali bantalan lemak.

Susah!!!

26 November 2006

Ian Antono Achmad Albar God Bless


Oleh Lambertus Lusi Hurek

Sabtu, 26 November 2006, kantor RADAR SURABAYA di Graha Pena dikunjungi ACHMAD ALBAR dan IAN ANTONO. Albar 60, Ian 56, sama-sama legenda musik rock Indonesia. Kebetulan esok harinya, Albar, Ian bersama para mantan dedengkot rock Surabaya bikin ‘konser reuni’ di Balai Pemuda, Surabaya.

Koran RADAR SURABAYA ikut mensponsori even langka itu. “Anggap aja main musik untuk kangen-kangenan. Saya dan Ian main tidak sebagai GOD BLESS,” kata Achmad Albar, kelahiran Surabaya, 16 Juli 1946.

Albar vokalis, sekaligus pendiri God Bless, Ian gitaris ben hard rock yang berdiri pada 5 Mei 1973 itu. Ada dua personel lagi di formasi God Bless, yakni DONNY FATTAH (55 tahun, bas) serta ABADI SOESMAN (55, keyboard). Pada akhir November 2006 God Bless pincang karena tak punya drummer.

“Gilang Ramadhan sudah tidak di God Bless,” jelas Achmad Albar. Gilang, yang malang melintang di beberapa ben, rupanya terlalu sibuk sehingga sulit fokus ke God Bless.

“Sekarang kita lagi cari drummer. Siapa yang mau gabung?” canda Achmad Albar. Teman-teman wartawan, para rocker Surabaya, yang mendampingi Albar-Ian ke Graha Pena, tertawa lebar.

“Bagaimana kalau YAYA MUKTIO?” tanya Sumarlin, wartawan RADAR Surabaya. Muktio drummer Gong 2000, ben yang juga diperkuat Ian, Albar, Donny, dan Harry Anggoman.

“Oh, Yaya Muktio itu drummer bagus,” tukas Ian Antono.

“Tapi kayaknya dia gak bisa gabung,” sambung Albar.

Maka, empat personel God Bless, yang sudah tergolong sepuh ini, masih berusaha melengkapi formasinya. Baik Ian maupun Albar bertekad terus main musik, hard rock, sampai fisik tak kuat lagi. "Kita olahraga terus lah,” kata Albar, lagi-lagi dengan nada canda. “Tapi sakitnya juga sama,” tambah Ian.

God Bless merupakan grup hard rock legendaris Indonesia. Semua personel rata-rata pakar di bidangnya. Kebolehan Ian Antono memetik gitar siapa yang meragukan? Donny Fatah, basis terbaik, juga komposer hebat. Lihat saja lagu ‘Musisi’, karya Donny yang luar biasa itu.

Sayang, grup ini sulit sekali merilis album. Sejak 1973 sampai 2006, sekitar 33 tahun, God Bless hanya berhasil merilis lima album. HUMA DI ATAS BUKIT (1976), CERMIN (1980), SEMUT HITAM (1987), MARET 1989 (1989), APA KABAR (1997).

Artinya, hampir sembilan tahun God Bless tidak bikin album baru. Padahal, mereka masih sering ikut konser besar seperti Soundrenaline, Salam Lebaran, hingga Konser 20 Kota. Penggemar God Bless masih banyak, termasuk anak-anak muda kelahiran 1990-an yang usianya sebaya dengan anak-anak para personel God Bless.

Kenapa begitu sulit merilis album? Saya pikir, antara lain, karena seringnya berganti personel. JOCKIE SOERYOPRAYOGO out diganti ABADI SOESMAN, pemain lama. TEDDY SUJAYA (drummer) keluar. “Sekarang Teddy bikin sekolah musik. Dia ngajar drum,” tutur Ian Antono.

Sempat ada ‘harapan’ ketika GILANG RAMADHAN masuk menggantikan Teddy. Formasi ini sempat dikenal luas publik musik Tanah Air. Sayang, Gilang tidak lama di God Bless.

Rencana bikin album pada 2005, seperti pernah disampaikan Donny Fattah kepada saya di Malang pada 2004, hanya tinggal rencana. Padahal, peminat God Bless, termasuk saya, terus menanti-nantikan album baru ben yang pernah mendampingi DEEP PURPLE saat konser di Jakarta, 5 Desember 1975 itu.

“Ngomong-ngomong, kapan bikin album baru?” tanya Sumarno, wartawan RADAR Surabaya.

“Yah... mudah-mudahan secepatnya. Kita pun sudah tidak sabar lagi,” kata Achmad Albar.

“Prosesnya sedang berjalan. Sekarang sudah delapan lagu,” tambah Ian Antono.

Biasanya, album rock di Indonesia berisi 10-12 lagu. Artinya, rencana God Bless merilis album anyar sebetulnya tinggal soal waktu saja. kendalanya, ya itu tadi, God Bless belum punya penabuh beduk Inggris.

“Doakan aja semoga bisa rilis tahun depan,” kata Albar.


Di antara rombongan yang datang ke Graha Pena, malam itu, terdapat wanita setengah baya. Namanya TITI SAELAN. Dia tak lain istri Ian Antono. Saya dan dia pernah ngobrol santai di sela-sela konser di Malang pada 2004. Eh, sekarang ketemu lagi di Graha Pena.

"Nggak terasa saya sudah 32 tahun mendampingi God Bless ke mana-mana. Begitulah, saya tidak bisa dipisahkan dari God Bless,” kata Titi Saelan, bekas drummer sebuah ben perempuan.

Bincang-bincang di Graha Pena ini hangat, sangat akrab. Ian Antono dan Achmad Albar, yang garang di atas panggung itu, ternyata rendah hati. Mereka memang layak menjadi ikon musik rock di Indonesia.

25 November 2006

Gereja Santo Paulus Juanda



Saya tinggal di Desa Bangah, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Karena itu, sebagai umat Katolik, daerah kami otomatis masuk wilayah Paroki Santo Paulus. Gerejanya di Jalan Raya Bandara Juanda.

Andai tuan melintas di jalan raya kawasan bandara internasional itu, maka tuan mudah menemukan gereja baru di pinggir jalan. Sebab, tak ada gereja lain di kawasan itu.
Arsitekturnya unik, karya Ir Benny Purbandanu dari Universitas Kristen Petra, Surabaya. Pintu gerbang mirip candi peninggalan Majapahit. Tepat di belakangnya ada pura, tempat ibadah umat Hindu. Dua tempat ibadah ini berdiri berkat fasilitas tanah yang diberikan TNI Angkatan Laut.

Kenapa berbentuk candi?

"Kita ingin gereja lebih berwajah Indonesia. Ramah pada lingkungan," kata Romo HERIBERT BALLHORN SVD dalam sebuah khotbah di gereja. Pastor asal Jerman, lahir pada 2 Juni 1938 ini, paling gigih memperjuangkan berdirinya Gereja Santo Paulus di Juanda.

Romo Heri (sapaan akrabnya) sangat disiplin. Beberapa umat bilang dia 'keras dan kaku'. Anak-anak tak boleh main-main atau menangis di dalam gereja. Dia minta para orang tua, yang punya anak kecil, agar duduk di bangku bagian belakang. Maksudnya, kalau anak-anak itu rewel, ya, silakan keluar sebentar.

"Romo Heri ini tipe pastor konservatif. Dia nggak mau liturgi terganggu," ujar Deddy, aktivis Gereja Salib Suci, Waru, Sidoarjo. Kebetulan Romo Heri ini bertugas di Gereja Juanda dan Gereja Salib Suci.

*******

Gereja Santo Paulus Juanda tergolong baru di Keuskupan Suraaya. Misa perdana digelar pada 20 Agustus 2005. Misa pontifikal itu dipimpin langsung oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia MGR MALCOM A RANJITH.

Diikuti sekitar seribu umat, dubes asal Srilangka ini didampingi Romo JULIUS HARYANTO CM (Administrator Keuskupan Surabaya), Romo COSMAS BENEDIKTUS SENTI FERNANDEZ Pr (Sidoarjo), Romo HERIBERT BALLHORN SVD (Juanda, Salib Suci, Sidoarjo), dan Romo AGUS SUDARYANTO CM (Surabaya). Sekitar 20 pastor dari berbagai kota di Jawa Timur ikut hadir.

Selama hampir 30 menit, Dubes Vatikan memberkati beberapa elemen penting gereja seperti tempat baptis, altar, mimbar, tabernakel, ruang sakramen tobat, salib besar, patung Bunda Maria. Di akhir misa konselebrasi dilakukan penandatanganan prasasti.

"Acara di Juanda ini tergolong istimewa. Biasanya peresmian (oleh pejabat negara) dulu baru pemberkatan. Apalagi, yang memberkati Yang Mulia Dubes Vatikan untuk Indonesia Mgr Malcom A Ranjith," kata JOHANES SUBEKTI, juru bicara panitia, kepada saya selepas misa.

Gereja Katolik Juanda ini dibangun di atas tanah seluas 4.000 meter persegi milik TNI Angkatan Laut. TNI AL memang menghadiahkan lahannya kepada umat Katolik untuk rumah ibadah. Sebelumnya, di belakang Gereja Juanda, umat Hindu juga mendapat hadiah tanah untuk PURA JALA SIDDI AMERTHA.

Setelah mendapat izin dari Pemkab Sidoarjo, kata STEFANUS TRIBUDI, Gereja Katolik Juanda mulai dibangun pada 27 April 2003. Ketua dewan Paroki Salib Suci, Waru, ini menjelaskan bahwa prosesnya cukup panjang dan melelahkan. "Dan ini memberikan tambahan pengalaman serta iman kepada kami," katanya.

Karena itu, Stefanus berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Mabes TNI AL, Pemkab Sidoarjo, donatur, serta berbagai pihak yang telah mewujudkan Gereja Santo Paulus di kawasan Juanda. "Kami semakin bahagia karena Panglima Armatim (Y. Didik Heru) ikut hadir dalam upacara pemberkatan dan misa perdana di sini," kata Stefanus. Dia menyebut biaya pembangunan gereja sekitar Rp 3,25 miliar.

Sementara itu, Dubes Vatikan berpesan kepada umat untuk selalu menjaga kesucian diri dan gerejanya. Datanglah beribadah karena cinta Tuhan. Berbusana rapi. "Come dressed properly. The church is not a catwalk for a fashion show," ujar MGR MALCOM A RANJITH.

Dubes kelahiran Polgahawela, Srilangka, 15 November 1947 ini, mengingatkan tradisi orang Thailand yang sangat santun ketika bertemu rajanya. Mereka berlutut, usai bertemu mundur dalam posisi tetap berlutut, dan terus memandang sang raja.

"Seharusnya begitu juga sikap kita di gereja. Kita datang menghadap Tuhan, Raja Segala Raja," kata Mgr. Malcom A. Ranjith.

Romo VICTOR GERMANI BERSET CM

"SEKALI Swiss tetap Swiss, tetapi saya cinta Indonesia," ujar Romo VICTOR GERMANI BERSET CM. Pastor 85 tahun ini berkebangsaan Swiss. Sehari-hari dia lebih dikenal dengan nama panggilan ROMO BERSY.

Terakhir dia bertugas di Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, Surabaya. Sampai kini dia menghabiskan masa pensiun dan istirahat di Rumah CM, Jalan Kepanjen 9 Surabaya.

Menjadi romo memang cita-citanya sejak kecil. Ditahbiskan pada 29 Juni 1945 bersama 11 orang teman diakonnya dari Swiss, Prancis, dan Libanon. Tahun 1946 dia dkirim ke Tiongkok. Di sana Bersy sempat mengalami perlakuan yang kurang baik, bahkan dipenjara.

Tahun 1952 diusir dari Tiongkok dan pindah ke Vietnam sampai 1976. Selanjutnya pindah ke Swiss sampai 1977. Dari Swiss diutus ke Indonesia, tepatnya di Kalimantan dan Jawa.

Dalam perjalanan imamatnya, Romo Bersy juga pernah menikmati hadiah, berkeliling dunia Mei-Oktober 1970 ke Inggris, Irlandia, Amerika Serikat, Meksiko, Hongkong kembali ke Vietnam. Tahun 1995 kembali melakukan perjalanan ke Eropa, tetapi hanya beberapa bulan.

ROMO BERSY lahir pada 21 Januari 1921. Dia sulung dari 12 bersaudara. Dari segi umur, Romo Bersy memang sudah tua, tapi daya pikir, daya ingat, dan semangatnya tidak kalah dengan anak muda. Luar biasa! Apa resepnya?

Pertama, Romo Bersy mengaku tak pernah berhenti membaca, dengan bantuan kacamata dan kaca pembesar. Kedua, tetap berkarya seturut kemampuannya. Ketiga, hidup sehat. Keempat, aktif mendengar siaran radio.

*******

Dua kali dia jatuh di gereja dan mengalami patah tulang pada 2000 dan 2004. Namun, hal ini tak menyurutkan semangatnya. Dengan kursi rodanya beliau masih bisa melayani umatnya.

Ayahnya meninggal dunia tahun 1954 dalam usia 64 tahun, sedang ibunya dalam usia 90 tahun. Beliau masih ingat dengan jelas di tahun 1989 menerima kunjungan keluarganya dari Swiss. Adiknya, keponakan, dan saudara ipar, semuanya berjumlah 12 orang. Hubungan kekeluargaan masih terjalin baik sampai sekarang.

Apakah Romo Bersy ingin kembali ke negeri asalnya?

"Oh tidak, saya cinta Indonesia," katanya, mantap.

THERESIA, perawat yang energik, dengan setia merawat dan menemani Romo Bersy. Karena itulah, Romo Bersy masih aktif melayani umat yang datang konsultasi, minta motivasi, minta Sakramen Konsiliasi dan sebagainya. Sedang kegiatan sehari-hari yang rutin dan pasti adalah BERDOA dan MENDENGARKAN RADIO.

Di akhir percakapan, Romo VICTOR GERMAIN BERSET CM berpesan:

"Jika menerima panggilan Tuhan harus taat dan setia sampai akhir hidup."

24 November 2006

Undang-Undang Pers

UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS

Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Nomor: 40 TAHUN 1999 (40/1999)
Tanggal: 23 SEPTEMBER 1999 (JAKARTA)


DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:

a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, sehingga kemerdekaan mengeluarkan pikiran dan pendapat sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 harus dijamin;

b. bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis, kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat sesuai dengan hati nurani dan hak memperoleh informasi, merupakan hak asasi manusia yang sangat hakiki, yang diperlukan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa;

c. bahwa pers nasional sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi, dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari manapun;

d. bahwa pers nasional berperan ikut menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial;

e. bahwa Undang-undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967 dan diubah dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1982 sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman;

f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c, d, dan e, perlu dibentuk Undang-undang tentang Pers;

Mengingat:

1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 27, dan Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945;

2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia;

Dengan persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PERS.

BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Undang-undang ini, yang dimaksud dengan:

1. Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

2. Perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi.

3. Kantor berita adalah perusahaan pers yang melayani media cetak, media elektronik, atau media lainnya serta masyarakat umum dalam memperoleh informasi.

4. Wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik.

5. Organisasi pers adalah organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers.

6. Pers nasional adalah pers yang diselenggarakan oleh perusahaan pers Indonesia.

7. Pers asing adalah pers yang diselenggarakan oleh perusahaan pers asing.

8. Penyensoran adalah penghapusan secara paksa sebagian atau seluruh materi informasi yang akan diterbitkan atau disiarkan, atau tindakan teguran atau peringatan yang bersifat mengancam dari pihak manapun, dan atau kewajiban melapor, serta memperoleh izin dari pihak berwajib, dalam pelaksanaan kegiatan jurnalistik.

9. Pembredelan atau pelarangan penyiaran adalah penghentian penerbitan dan peredaran atau penyiaran secara paksa atau melawan hukum.

10. Hak Tolak adalah hak wartawan karena profesinya, untuk menolak mengungkapkan nama dan atau identitas lainnya dari sumber berita yang harus dirahasiakannya.

11. Hak Jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.

12. Hak Koreksi adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik *9980 tentang dirinya maupun tentang orang lain.

13. Kewajiban Koreksi adalah keharusan melakukan koreksi atau ralat terhadap suatu informasi, data, fakta, opini, atau gambar yang tidak benar yang telah diberitakan oleh pers yang bersangkutan.

14. Kode Etik Jurnalistik adalah himpunan etika profesi kewartawanan.

BAB II

ASAS, FUNGSI, HAK, KEWAJIBAN DAN PERANAN PERS

Pasal 2

Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum.

Pasal 3

(1) Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.

(2) Di samping fungsi-fungsi tersebut ayat (1), pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi.

Pasal 4

(1) Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.

(2) Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran.

(3) Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

(4) Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak.

Pasal 5

(1) Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah.

(2) Pers wajib melayani Hak Jawab.

(3) Pers wajib melayani Hak Koreksi.

Pasal 6

Pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut:

a. memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui;
b. menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan;
c. mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar;
d. melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal *9981 yang berkaitan dengan kepentingan umum;
e. memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

BAB III Wartawan

Pasal 7

(1) Wartawan bebas memilih organisasi wartawan.

(2) Wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik.

Pasal 8

Dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum.

BAB IV PERUSAHAAN PERS

Pasal 9

(1) Setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers.

(2) Setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum Indonesia.

Pasal 10

Perusahaan pers memberikan kesejahteraan kepada wartawan dan karyawan pers dalam bentuk kepemilikan saham dan atau pembagian laba bersih serta bentuk kesejahteraan lainnya.

Pasal 11

Penambahan modal asing pada perusahaan pers dilakukan melalui pasar modal.

Pasal 12

Perusahaan pers wajib mengumumkan nama, alamat dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan; khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan.

Pasal 13

Perusahaan pers dilarang memuat iklan:

a. yang berakibat merendahkan martabat suatu agama dan atau mengganggu kerukunan hidup antarumat beragama, serta bertentangan dengan rasa kesusilaan masyarakat;
b. minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.

Pasal 14

Untuk mengembangkan pemberitaan ke dalam dan ke luar negeri, setiap warga negara Indonesia dan negara dapat mendirikan kantor berita.

BAB V DEWAN PERS

Pasal 15

(1) Dalam upaya mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional, dibentuk Dewan Pers yang independen.

(2) Dewan Pers melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut:

a. melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain; b. melakukan pengkajian untuk pengembangan kehidupan pers; c. menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik; d. memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers; e. mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat, dan pemerintah; f. memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturan-peraturan di bidang pers dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan; g. mendata perusahaan pers.

(3) Anggota Dewan Pers terdiri dari:

a. wartawan yang dipilih oleh organisasi wartawan; b. pimpinan perusahaan pers yang dipilih oleh organisasi perusahaan pers; c. tokoh masyarakat, ahli di bidang pers dan atau komunikasi, dan bidang lainnya yang dipilih oleh organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers.

(4) Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pers dipilih dari dan oleh anggota.

(5) Keanggotaan Dewan Pers sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) pasal ini ditetapkan dengan Keputusan Presiden.

(6) Keanggotaan Dewan Pers berlaku untuk masa tiga tahun dan sesudah itu hanya dapat dipilih kembali untuk satu periode berikutnya.

(7) Sumber pembiayaan Dewan Pers berasal dari:

a. organisasi pers; b. perusahaan pers; c. bantuan dari negara dan bantuan lain yang tidak mengikat.

BAB VI PERS ASING

Pasal 16

Peredaran pers asing dan pendirian perwakilan perusahaan pers asing di Indonesia disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB VII PERAN SERTA MASYARAKAT

Pasal 17

(1) Masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan menjamin hak memperoleh informasi yang diperlukan.

*9983 (2) Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa:

a. memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum, etika, dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan oleh pers; b. menyampaikan usulan dan saran kepada Dewan Pers dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas pers nasional.

BAB VIII KETENTUAN PIDANA

Pasal 18

(1) Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(2) Perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal 13 dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3) Perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 9 ayat (2) dan Pasal 12 dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

BAB IX KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 19

(1) Dengan berlakunya undang-undang ini segala peraturan perundang-undangan di bidang pers yang berlaku serta badan atau lembaga yang ada tetap berlaku atau tetap menjalankan fungsinya sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru berdasarkan undang-undang ini.

(2) Perusahaan pers yang sudah ada sebelum diundangkannya undang-undang ini, wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan undang-undang ini dalam waktu selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak diundangkannya undang-undang ini.

BAB X KETENTUAN PENUTUP

Pasal 20

Pada saat undang-undang ini mulai berlaku:

1. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers (Lembaran Negara Tahun 1966 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2815 ) yang telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1982 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967 (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3235);

2. Undang-undang Nomor 4 PNPS Tahun 1963 tentang Pengamanan Terhadap *9984 Barang-barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum (Lembaran Negara Tahun 1963 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2533), Pasal 2 ayat (3) sepanjang menyangkut ketentuan mengenai buletin-buletin, surat-surat kabar harian, majalah-majalah, dan penerbitan-penerbitan berkala; dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 21

Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta pada tanggal 23 September 1999

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd

BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE

Diundangkan di Jakarta pada tanggal 23 September 1999

MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,

ttd

MULADI

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 166


PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS


I. UMUM

Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 menjamin kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. Pers yang meliputi media cetak, media elektronik dan media lainnya merupakan salah satu sarana untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan tersebut. Agar pers berfungsi secara maksimal sebagaimana diamanatkan Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 maka perlu dibentuk Undang-undang tentang Pers. Fungsi maksimal itu diperlukan karena kemerdekaan pers adalah salah satu perwujudan kedaulatan rakyat dan merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis.

Dalam kehidupan yang demokratis itu pertanggungjawaban kepada rakyat terjamin, sistem penyelenggaraan negara yang transparan berfungsi, serta keadilan dan kebenaran terwujud.

Pers yang memiliki kemerdekaan untuk mencari dan menyampaikan informasi *9985 juga sangat penting untuk mewujudkan Hak Asasi Manusia yang dijamin dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia, antara lain yang menyatakan bahwa setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi sejalan dengan Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Hak Asasi Manusia Pasal 19 yang berbunyi : "Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hak ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas wilayah".

Pers yang juga melaksanakan kontrol sosial sangat penting pula untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan baik korupsi, kolusi, nepotisme, maupun penyelewengan dan penyimpangan lainnya.

Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu dituntut pers yang profesional dan terbuka dikontrol oleh masyarakat.

Kontrol masyarakat dimaksud antara lain : oleh setiap orang dengan dijaminnya Hak Jawab dan Hak Koreksi, oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti pemantau media (media watch) dan oleh Dewan Pers dengan berbagai bentuk dan cara. Untuk menghindari pengaturan yang tumpang tindih, undang-undang ini tidak mengatur ketentuan yang sudah diatur dengan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Cukup jelas

Pasal 2

Cukup jelas

Pasal 3

Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Perusahaan pers dikelola sesuai dengan prinsip ekonomi, agar kualitas pers dan kesejahteraan para wartawan dan karyawannya semakin meningkat dengan tidak meninggalkan kewajiban sosialnya.

Pasal 4

Ayat (1) Yang dimaksud dengan "kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara" adalah bahwa pers bebas dari tindakan pencegahan, pelarangan, dan atau penekanan agar hak masyarakat untuk memperoleh informasi terjamin. Kemerdekaan pers adalah kemerdekaan yang disertai kesadaran akan pentingnya penegakan supremasi hukum yang dilaksanakan oleh pengadilan, dan tanggung jawab profesi yang dijabarkan dalam Kode Etik Jurnalistik serta sesuai dengan hati nurani insan pers. Ayat (2) Penyensoran, pembredelan, atau pelarangan penyiaran tidak berlaku pada media cetak dan media elektronik. Siaran yang bukan merupakan bagian dari pelaksanaan kegiatan jurnalistik diatur dalam ketentuan undang-undang yang berlaku. *9986 Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Tujuan utama Hak Tolak adalah agar wartawan dapat melindungi sumber informasi, dengan cara menolak menyebutkan identitas sumber informasi. Hak tersebut dapat digunakan jika wartawan dimintai keterangan oleh pejabat penyidik dan atau diminta menjadi saksi di pengadilan. Hak Tolak dapat dibatalkan demi kepentingan dan keselamatan negara atau ketertiban umum yang dinyatakan oleh pengadilan.

Pasal 5

Ayat (1) Pers nasional dalam menyiarkan informasi, tidak menghakimi atau membuat kesimpulan kesalahan seseorang, terlebih lagi untuk kasus-kasus yang masih dalam proses peradilan, serta dapat mengakomodasikan kepentingan semua pihak yang terkait dalam pemberitaan tersebut. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas.

Pasal 6

Pers nasional mempunyai peranan penting dalam memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui dan mengembangkan pendapat umum, dengan menyampaikan informasi yang tepat, akurat dan benar. Hal ini akan mendorong ditegakkannya keadilan dan kebenaran, serta diwujudkannya supremasi hukum untuk menuju masyarakat yang tertib.

Pasal 7

Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan "Kode Etik Jurnalistik" adalah kode etik yang disepakati organisasi wartawan dan ditetapkan oleh Dewan Pers.

Pasal 8

Yang dimaksud dengan "perlindungan hukum" adalah jaminan perlindungan Pemerintah dan atau masyarakat kepada wartawan dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 9

Ayat (1) Setiap warga negara Indonesia berhak atas kesempatan yang sama untuk bekerja sesuai dengan Hak Asasi Manusia, termasuk mendirikan perusahaan pers sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pers nasional mempunyai fungsi dan peranan yang penting dan strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu, negara dapat mendirikan perusahaan pers dengan membentuk lembaga atau badan usaha untuk menyelenggarakan usaha pers. Ayat (2) Cukup jelas

Pasal 10

*9987 Yang dimaksud dengan "bentuk kesejahteraan lainnya" adalah peningkatan gaji, bonus, pemberian asuransi dan lain-lain. Pemberian kesejahteraan tersebut dilaksanakan berdasarkan kesepakatan antara manajemen perusahaan dengan wartawan dan karyawan pers.

Pasal 11

Penambahan modal asing pada perusahaan pers dibatasi agar tidak mencapai saham mayoritas dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 12

Pengumuman secara terbuka dilakukan dengan cara : a. media cetak memuat kolom nama, alamat, dan penanggung jawab penerbitan serta nama dan alamat percetakan; b. media elektronik menyiarkan nama, alamat, dan penanggungjawabnya pada awal atau akhir setiap siaran karya jurnalistik; c. media lainnya menyesuaikan dengan bentuk, sifat dan karakter media yang bersangkutan. Pengumuman tersebut dimaksudkan sebagai wujud pertanggungjawaban atas karya jurnalistik yang diterbitkan atau disiarkan. Yang dimaksud dengan "penanggung jawab" adalah penanggung jawab perusahaan pers yang meliputi bidang usaha dan bidang redaksi. Sepanjang menyangkut pertanggungjawaban pidana menganut ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 13

Cukup jelas

Pasal 14

Cukup jelas

Pasal 15

Ayat (1) Tujuan dibentuknya Dewan Pers adalah untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kualitas serta kuantitas pers nasional. Ayat (2) Pertimbangan atas pengaduan dari masyarakat sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf d adalah yang berkaitan dengan Hak Jawab, Hak Koreksi, dan dugaan pelanggaran terhadap Kode Etik Jurnalistik. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Ayat (7) Cukup jelas

Pasal 16

Cukup jelas

Pasal 17

Ayat (1) Cukup jelas *9988 Ayat (2) Untuk melaksanakan peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dapat dibentuk lembaga atau organisasi pemantau media (media watch).

Pasal 18

Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam hal pelanggaran pidana yang dilakukan oleh perusahaan pers, maka perusahaan tersebut diwakili oleh penanggungjawab sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 12. Ayat (3) Cukup jelas

Pasal 19

Cukup jelas

Pasal 20

Cukup jelas

Pasal 21

Cukup jelas

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3887

Koes Plus Tak Pernah Mati



YON KOESWOYO memang gaek, tapi masih kuat bernyanyi. Di Surabaya, belum lama ini, dia sanggup membawakan 36 hits KOES PLUS di Gedung Balai Pemuda. Yon berhasil melepas kerinduan sekitar 400 peminat Koes Plus di Surabaya dan sekitarnya.

Yon tampil dengan bendera 'Koes Plus', namun grup legendaris asal Tuban ini hanya menyisakan YON KOESWOYO sebagai personel asli KOES PLUS. Tiga personel lain semuanya anak muda. Mereka diajak Yon untuk menghidupkan kembali ‘roh’ KOES PLUS. Mereka adalah DANANG (gitar/keyboard), SONI (bas), dan SENO (drum).

"Saya dan Danang baru diajak empat bulan lalu untuk gabung. Kebetulan selama ini band kami (di Jakarta) selalu main lagu-lagu Koes Plus. Pasti lagunya Koes Plus. Jadi, kita nggak ada masalah. Justru makin semangat setelah tampil di Surabaya," ujar Soni kepada saya.

Pemain bas asal Jakarta ini tampil bagus dengan gaya panggungnya yang lincah. Segar, bergairah. Begitu naik panggung, YON KOESWOYO langsung mengajak hadirin menyanyi ‘Kisah Sedih di Hari Minggu’. Lagu lama yang dipopulerkan kembali oleh MARSHANDA ini, kata Yon, mengingatkan dia pada tsunami di Aceh, 26 Desember 2004.

"Tsunami di Aceh terjadi hari Minggu. Jadi, memang kisah sedih di hari Minggu," ujar pria pendiam ini.

Lagu-lagu KOES PLUS (lanjutan KOES BERSAUDARA) sederhana, gampang dicerna, melodinya manis, syairnya tentang peristiwa keseharian di masyarakat. Putus cinta dengan Diana, putri paman petani, tak membuat Koes Plus larut dalam duka dan cengeng.

"Diana, Diana kekasihku… bunuh saja orang tuamu," begitu syair yang dipelesetkan oleh penonton di Surabaya. Gayeng, akrab, renyah.

Tiga lusin lagu yang dibawakan Yon Koeswoyo--di antaranya, tiga lagu oleh Danang--antara lain Pusaka, Kembali, Manis dan Sayang, Bis Sekolah, Kembali ke Jakarta, Layang-Layang, Tul Jaenak, Cinta Buta, Gethuk Ijo, Cintamu Telah Berlalu, Bujangan, Why Do You Love Me, Dara Manisku, Nusantara, Telaga Sunyi, Pelangi, Bunga di Tepi Jalan, Kroncong Pertemuan, Muda-Mudi, Hidup Yang Sepi, Mengapa. Konser ditutup dengan Kapan-Kapan.

Ditanya berapa lagu yang bakal dibawakan, Yon Koeswoyo mengatakan, "Ya, sakuate. Pokoke sakuate!"

Yon ternyata bisa membuktikan sesumbarnya. Ketika sudah membawakan 30-an lagu, justru penonton yang tidak kuat karena karena sudah mendekati pukul 24:00. "Kalau saya lagi senang, ya, saya bisa menyanyi puluhan lagu. Itu sudah biasa bagi saya," ujar Yon.

Resepnya apa? tanya saya.

“Sederhana saja. Minum air putih sebanyak-banyaknya.”

Banyaknya lagu yang dinyanyikan Yon juga tak lepas dari popularitas KOES PLUS. Karena hampir semua lagu dikuasai penonton, Yon lebih banyak memberi kesempatan kepada penonton untuk menyanyi. Jadilah paduan suara dadakan di Balai Pemuda.

"Yang banyak menyanyi malah penonton," komentar HERI LENTHO, pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur.

Pura Baru di dekat Bandara Juanda




Umat Hindu di Kabupaten Sidoarjo layak berbahagia. Sebab, kini ada Pura Jala Siddhi Amartha di Jl Raya Bandara Juanda, Kecamatan Sedati, sebagai pura kedua di Kabupaten Sidoarjo. Pura di kompleks TNI Angkatan Laut ini juga berstatus 'pura provinsi'.

"Jadi, Pura Juanda itu dipakai untuk berbagai kegiatan umat Hindu di Jawa Timur," kata Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jawa Timur I Wayan Suwarna kepada saya. Karena itu, walaupun berlokasi di Sidoarjo, Pura Juanda (nama populernya) tak hanya dipakai oleh umat Hindu yang tinggal di Kabupaten Sidoarjo.

Pembangunannya pun ditangani langsung oleh PHDI Jawa Timur.

Menurut Wayan Suwarna, Pura Juanda tak hanya digunakan untuk ritual keagamaan rutin, tapi juga aktivitas lain yang berkaitan dengan agama Hindu. Ada fasilitas Pasraman Jala Siddhi Amartha untuk pelajaran agama bagi anak-anak SD hingga SMA, kemudian aula pertemuan, perpustakaan, dan sebagainya.

"Kita bersyukur karena pura ini terletak di lokasi yang sangat trategis," ujar Wayan Suwarna.

Berjarak hanya sekitar dua kilometer dari Bandara Juanda, pura baru ini tentu mudah dijangkau umat Hindu dari luar Jawa Timur. Masyarakat dari luar kota, misalnya, bisa langsung mampir untuk beribadah di tempat ibadah umat Hindu Dharma tersebut. Ini berbeda dengan Pura Jagat Natha Margo Wening di Desa Balonggarut, Kecamatan Krembung, yang lokasinya jauh di balik perkebunan tebu rakyat.

Brigjen (Pur) Gusti Nyoman Adnya, ketua pembangunan Pura Juanda, menjelaskan, pura ini berdiri di atas lahan seluas 3.000 meter persegi, dilengkapi lahan parkir 2.000 meter persegi. Tanah ini merupakan pemberian TNI Angkatan Laut. Dibangun sejak tahun lalu, Pura Juanda masih dalam tahap awal pembangunan.

Gubernur Bali I Dewa Brata memberikan perhatian khusus kepada Pura Juanda. Beberapa waktu lalu Dewa Brata melakukan peninjauan ke lokasi, sekaligus memberikan sedikit bantuan. Gubernur Bali itu menawarkan bantuan 'padmasana' jadi dari Pulau Dewata.
Tapi, rupanya PHDI Jatim Dan PHDI Sidoarjo lebih memilih 'mentahannya' saja, berupa uang Rp 80 juta.

Dana sumbangan Gubernur Bali itu, kata Wayan Suwarna, akan digunakan panitia untuk membangun padmasana bergaya Jawa alias Kerajaan Majapahit. Bukan itu saja. Gubernur Dewa Brata menyumbang satu set gamelan Bali. Dewa Brata jugalah yang datang meresmikan.

Hari Raya Nyepi tahun 2005 menjadi tahun bersejarah bagi Pura Juanda. Inilah kali pertama pura di pinggir jalan raya itu menggelar ritual Nyepi untuk umat Hindu di Sidoarjo dan sekitarnya. Sebelumnya, umat Hindu di Sidoarjo mengikuti ritual di dua tempat, yakni Pura Krembung Dan Pura Tanjung Perak, Surabaya.

Hindu di Sidoarjo



Pada 1980 umat Hindu asli Sidoarjo, yang tinggal di kawasan Krembung, Prambon, Tulangan, dan sekitarnya, memiliki tempat ibadah. Namanya Pura Jagat Natha Marga Wening di Desa Balonggarut, Kecamatan Krembung.

Sikap low profile, nrimo, tak banyak menuntut, khas Jawa, memang sangat melekat di hati umat Hindu asli Sidoarjo. Karena itu, sejak dulu kala mereka ‘enjoy aja’ meskipun tidak punya tempat ibadah yang layak.

Bagi mereka, kalau bisa beribadah sendiri di rumah sendiri, buat apa capek-capek mengurus pembangunan pura. Toh, ratusan tahun mereka bisa bersembahyang, bersekutu dengan sesama umat Hindu, di mana saja dan kapan saja. Tapi, lama-kelamaan jumlah umat Hindu kian banyak, dan semangat untuk menggelar ritual bersama pun kian tinggi.

Sejak itulah Karyo, pemangku alias pendeta asli Krembung, dan umat lain mulai memikirkan secara serius sebuah tempat ibadah yang layak.

Akhirnya, rumah seorang umat di kawasan Balonggarut, Kecamatan Krembung--yang sebelumnya sudah jadi pura keluarga--dijadikan cikal bakal pura bersama.

Lokasinya strategis, dekat perkebunan tebu, agak jauh dari perkampungan warga. Ini penting dalam proses pengurusan IMB kelak. Sebab, dengan begitu, diharapkan tak ada penolakan atau resistensi dari warga sekitar seperti yang kerap terjadi dalam proses pendirian rumah ibadah.

Berkat doa-doa dan ketekunan umat setempat, perluasan pura pribadi sebagai pura bersama pun berlangsung mulus. Dan, pada 1980 Bupati Sidoarjo datang ke sana untuk meresmikan Pura Jagat Natha Marga Wening, yang luasnya hanya 480 meter persegi. Sangat bersejarah karena baru sejak itulah di Kabupaten Sidoarjo berdiri tempat ibadah umat Hindu (pura).

Di pihak lain, sejak 1980-an itu Kabupaten Sidoarjo semakin berkembang, menjadi buffer zone atau kawasan penyangga Kota Surabaya. Berbagai perumahan baru didirikan di Sidoarjo, sehingga datang puluhan ribu orang baru yang berdomisili di 18 kecamatan Sidoarjo.

Perubahan demografi Sidoarjo ini sedikit banyak punya implikasi terhadap komposisi umat Hindu. Sebab, warga keturunan Bali pun tidak sedikit yang membeli rumah, kontrak rumah, alias menjadi warga Kabupaten Sidoarjo.

Dari sinilah orang-orang Bali itu kemudian tahu bahwa di kawasan Krembung, Prambon, dan sekitarnya ternyata ada umat Hindu asli Jawa yang sudah menganut agama itu sejak ratusan tahun lalu. Mirip umat Hindu di kawasan Tengger, Probolinggo. Maka, tau solidaritas sesama umat Hindu pun muncul. Orang Bali yang semula mengikuti acara-acara ritual di Surabaya akhirnya berpaling ke Pura Jagat Natha, Krembung.

“Sejak 1987 terjadi pembauran antara umat Hindu dari suku Jawa dan Bali serta pendatang,” jelas I Nyoman Simpen, salah satu tokoh Hindu di Sidoarjo.

Menurut dia, umat Hindu di 18 kecamatan Sidoarjo sepakat untuk bergabung dengan saudara-saudaranya Hindu asli Jawa di Krembung dan sekitarnya. Pembauran ini membuat pura lama yang sempit itu (480 meter persegi) terasa sangat kecil, apalagi kalau ada even-event besar semacam arak-arakan ogoh-ogoh atau tawur kesanga (menjelang hari Nyepi).

Setelah pembauran Jawa-Bali ini, terbentuk pula Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sidoarjo dipimpin Ngakan Putu Tagel, almarhum. Ngakan tinggal di kawasan Waru ini berhasil menghidupkan kegiatan-kegiatan agama Hindu di Sidoarjo, sekaligus aktif berdialog dengan pemuka agama lain dan Pemkab Sidoarjo.

Hasilnya, pemerintah merestui renovasi sekaligus perluasan Pura Jagat Natha di dekat kompleks pura yang lama.

Usai menghadiri pelantikan 44 anggota DPRD Sidoarjo, 21 Agustus 2004, Bupati Win Hendrarso datang ke Krembung untuk meresmikan Pura Jagat Natha Marga Wening. Dibangun dengan dana sekitar Rp 2,1 miliar, pura ini sangat artistik sehingga pantas menjadi salah satu ikon budaya di Kabupaten Sidoarjo.

Sementara itu, proses pembauran antara Hindu asli Sidoarjo dan para pendatang semakin mendekati sempurna.

22 November 2006

Gereja Advent Tertua di Jatim


Oleh Lambertus Lusi Hurek

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (THE SEVENTH DAY ADVENTIST CHRUCH) justru muncul pertama kali di Jawa Timur di kaki gunung. Sayang, bangunan cagar budaya itu tidak asli lagi.


BANGUNAN itu berdiri kokoh di atas bukit Sumberwekas, Kecamatan Prigen, Pasuruan. Lokasinya strategis, persis di simpang tiga, jalan tanjakan ke Puncak Trawas. Sehingga, siapa pun yang melintas di kawasan sejuk itu niscaya pernah melihat keindahan gedung ini. Taman dengan bunga-bunga indah tampak asri dan terawat.

Yah, itulah GEREJA ADVENT SUMBERWEKAS. Gereja ini jadi istimewa karena dilengkapi bumi perkemahan yang sangat luas. Para pemuda gereja dan pelajar umum sering berkemah di situ.

“Gereja kami ini tergolong tua. Dia jadi saksi sejarah kehadiran Gereja Advent di Jawa Timur, bahkan Indonesia,” jelas EBENHEIZER SEMBIRING, pendeta yang bertugas di situ, kepada saya.

Menurut Sembiring, gereja ini dibangun pada 1926 di masa penjajahan Belanda. Waktu itu kawasan Trawas, Prigen, dan sekitarnya yang sangat sejuk memang sudah menjadi favorit tuan-tuan Belanda untuk istirahat. Nah, kebetulan ada orang Belanda yang menguasai tanah di perbukitan Sumberwekas punya ide membangun Gereja Advent.

“Jadi, gereja ini lebih tua ketimbang di Tanjunganom (Surabaya),” ujar pendeta yang masih bujang ini.

Gereja Advent punya doktrin yang sangat berbeda dengan gereja-Gereja Protestan atau Katolik. Kalau gereja-gereja lain menggelar kebaktian atau misa hari Minggu, Advent melakoninya Sabtu alias hari ketujuh. Jemaat Advent juga sangat menganjurkan vegetarianisme alias hanya mengonsumsi makanan nabati. Mereka hidup sederhana, tekun baca Alkitab.

Karena itu, orang-orang Belanda penganut Advent terpaksa menyingkir ke bukit Prigen untuk membuat tempat ibadahnya. Bukan itu saja. Dibuat juga bumi perkemahan yang luas sebagai sarana penggemblengan mental dan fisik jemaat.

“Gereja dan kompleks perkemahan memang sudah ada sejak zaman Belanda. Berdirinya hampir bersamaan,” kata Sembiring yang lupa nama pendiri Gereja Advent di Sumberwekas.

Tahun 1985, kondisi bangunan sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Keropos! Karena itu, pengurus gereja yang berpusat di Jalan Tanjung Anom 3 Surabaya ini melakukan renovasi total. Gereja lama dirobohkan, dibangun gereja baru, lokasinya sama. Model arsitektur disesuaikan dengan cikal bakalnya.

“Sebetulnya sayang juga (dirobohkan), tapi kondisinya sudah benar-benar tidak memungkinkan lagi. Yang penting, spiritnya tetap kami pertahankan,” ujar Sembiring.

Usai merenovasi gereja, pihak Advent juga membenahi bumi perkemahan seluas dua hektare lebih. Sebuah aula besar juga didirikan. Namanya AULA MAHANAIM. Ini karena Gereja Advent Konferensi Jawa bagian Timur dipercaya sebagai tuan rumah jambore pemuda Advent Asia-Pasifik yang diikuti sekitar 5.000 orang.

Tak tanggung-tanggung, Menteri Pemuda dan Olahraga (waktu itu) Hayono Isman datang ASIA-PACIFIC ADVENTIST YOUTH CAMPORE ini, sekaligus meresmikan Bumi Perkemahan dan Aula Mahanaim pada 12 Agustus 1997. Sejak itulah nama Advent Sumberwekas tersebar ke mancanegara karena beberapa bekas peserta jambore menuliskan catatan tentang suasana Sumberwekas di internet.

Kapan jadi tuan rumah jambore besar lagi? “Wah, kayaknya belum. Soalnya, selalu digilir dari negara ke negara. Tapi kalau untuk Indonesia, saya rasa, Sumberwekas ini paling memenuhi syarat,” tutur Sembiring, bangga.

Karena tak ada even besar, suasana di kompleks Gereja Advent Sumberwekas ini adem-ayem. Kosong. Hanya PAK SAIM yang tampak sibuk merapikan rumput di bumi perkemahan internasional itu.

Kompleks gereja tua itu baru ‘hidup’ lagi setiap hari ketujuh, Sabtu pagi, tatkala 100-an jemaat dari Sumberwekas dan sekitarnya datang bersekutu. Kebaktian bersama memuji Sang Pencipta.

Warung Setan di Surabaya


Rawon Setan di Jalan Embong Malang, Surabaya, selalu diburu pelanggan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun pernah mencicipinya. Warung ini didirikan oleh MUSIATI (76) pada 1950 dan bertahan hingga generasi ketiga, ENDANG MARTININGSIH (37).

By Ning Heti

WARUNG di pinggir Jalan Embong Malang itu seperti warung biasanya. Tempatnya tak luas. Lantai tegel dan dinding dibiarkan dengan cat lama. Kusam. Perabotnya juga sederhana. Kalau ada yang istimewa, mungkin sederatan foto artis: INTAN NURAINI, YUNI SHARA, NICKY ASTRIA, GUNAWAN, PIYU Padi....

"Sejak masih di seberang jalan, mepet dengan gedung NIROM (bekas RRI) sudah banyak artis yang datang seperti RATNO TIMOER, MUS MULYADI, dan DORCE GAMALAMA," kata Musiati, pendiri Rawon Setan, di rumahnya Jalan Blauran Kidul, tak jauh dari WARUNG SETAN.

Ingatan Musiati masih kuat. Musi tampil segar setelah mandi dan berbedak tebal. Hanya, Musi tak kuat berdiri dan berjalan sejak kena stroke pada 2000. Sehari-harinya dia istirahat di dipan kayu berkasur kapuk di ruang tamu, ditemani SADIYO (83), sang suami. "Kalau warung tutup, saya dan Ibu yang di rumah," kata Sadiyo.

Usaha warung rawon itu mulanya dirintis Musi dan Sadiyo begitu kembali dari pengungsian di Jombang pada 1950. Sejak 1946 Sadiyo--yang tinggal di Surabaya sejak 1936--bertemu dan menikahi Musi. "Saat kembali ke Surabaya, istri saya ingin bantu saya cari uang dengan jualan."

Usai Sadiyo bekerja, warung dibuka mulai pukul 02.00 hingga 07.00. Musi memasak dan meladeni pembeli, Sadiyo cuci piring. Karena buka dini hari itulah, rawon Mbah Musi dijuluki pembeli sebagai RAWON SETAN.

"Nama itu makin jadi cap ketika koran RADAR SURABAYA menulis dengan sebutan itu," kata Musi.

Saat masih Musi dan Sadiyo yang mengelola, masakan rawon bukan satu-satunya menu jualan. Masih ada ketan srundeng yang juga diminati pembeli. "Rawonnya kira-kira masih seharga Rp 20," kata Musi.

Belakangan, warung rawon itu digusur karena Gedung NIROM yang berubah fungsi menjadi hotel bintang lima. Musi pun memindahkannya ke seberang jalan, nunut di depan kios orang lain. Kian lama, warung kian ramai hingga tempatnya tak cukup menampung pelanggan. Pada 2004 Musi memutuskan untuk menyewa sebuah kios tiga lantai seharga Rp 40 juta setahun, tepat di depan rumahnya.

Sebelum Musi sakit, ENDANG MARTININGSIH, cucunya dari Djuwariah, menjadi tangan kanan Musi yang mengelola warung. Tapi sejak Endang mendirikan warung rawon dengan namanya sendiri pada 2005, WARUNG SETAN diserahkan ke Djuwariah.

"Soal buka warung, anak dan cucu saya izinkan asal dengan nama mereka sendiri," kata ibu empat anak itu. Selain Endang, masih ada RAWON BU SUP--menantu Musi yang menikah dengan anak keempatnya, Mulyadi.

Meski tak ditangani sendiri, Musi yang asli Tulungagung itu tak pernah membiarkan warungnya tanpa pengawasan. Memang Musi tak turun tangan meracik bumbu, mengupas kluwak, hingga meladeni pembeli. Ada sepuluh orang yang membantunya bekerja.
"Paling-paling Mbah mencicipi bumbu dan masakan yang sudah jadi," kata Indah, salah satu cucu Musi yang terlibat begitu lulus SMEA pada 1997.

Di lokasi sekarang, omzet RAWON SETAN tak pernah turun. Tiap hari Musi masih mampu menjual rawon hingga tujuh panci besar dengan omzet Rp 6-7 juta. Dari buka mulai pukul 06.00 hingga 03.00, Musi menghabiskan daging 60 kilogram, beras sekitar 30 kilogram dan bumbu kluwak (paling utama) sekitar 4 kilogram.

"Semuanya dimasak di sini," kata Musi.

ENDANG MARTININGSIH mewarisi resep RAWON SETAN dengan mendirikan warung sendiri. Endang berusaha mengembangkan warung rawon sendiri. Namanya warung ENDANG MARTINGINGSIH.

Meski memakai resep asli dari Musiati, sang nenek, warungnya dikelola dengan cara lain. Jika warung rawon Musiati buka pukul 18.00-03.00, maka empat cabang WARUNG ENDANG di Genteng Kali, Simpang Dukuh, HR Mohammad, dan Sidoarjo buka pukul 05.00 sampai 15.00.

Tak sekadar beda, pilihan jam buka itu menurut Endang agar para pemburu makanan ini tak perlu menunggu malam hari. "Banyak yang khusus datang dari jauh, tapi masih harus nunggu malam untuk bisa makan," kata anak pertama dari sepuluh bersaudara ini.

Meski mereknya lain, Endang menjamin rasa rawon tetap senikmat racikan sang nenek. Sebagai cucu Musiati, yang terlibat di warung sejak umur sepuluh, Endang tahu betul bagaimana neneknya memasak, membuat bumbu, dan melayani pembeli. Begitu pintarnya, Endang langsung mewarisi kepercayaan dari Musiati melewati ibunya, Djuwariah, yang kini diserahi warung sejak Endang membuka warung sendiri.

Saat rawon neneknya makin dikenal orang, posisi Endang yang menjadi orang terdepan melayani pembeli dihafali pelanggan. Maka, ketika ia mendirikan warung yang memasang foto close up di atas nama MBAK ENDANG, pelanggan mengenalnya sebagai pengelola RAWON SETAN Embong Malang. Dengan bekal itulah, Endang berani mandiri membuka warungnya sendiri.

Pelanggan pun ramai-ramai menuju ke warung Endang. "Memang mintanya rawon punya Mbah, tapi minta saya yang meladeni. Bingung juga kan? Tapi, setelah saya jelaskan, pelanggan bisa terima," katanya.

Seperti warung neneknya, WARUNG ENDANG MARTININGSIH juga mulai populer. Punya pelanggan sendiri. Terbukti, hanya dalam waktu delapan bulan Endang sudah bisa buka tiga cabang di Surabaya (2) dan Sidoarjo (1). Demi mengurus warung, dia rela meninggalkan pekerjaan sebagai karyawan di sebuah toko.

"Saya putuskan berhenti kerja karena pendapatan di warung selama tiga hari sama dengan kerja sebulan di toko," terang Endang.

Endang meraih omzet jutaan rupiah per hari. Jika satu warung menghasilkan Rp 6-7 juta per hari, berarti penghasilannya mencapai Rp 24-28 juta sehari. Tiap cabang bisa menghabiskan 80-90 kilogram daging sapi. Dengan karyawan 60 orang, Endang seperti punya perusahaan besar.

Tak seperti Musiati yang mengurus warung dengan manajemen keluarga, Endang berusaha memgembangkan warungnya ala waralaba. Misalnya, rencana membuka cabang di Bandara Juanda dan Singapura. Kabarnya, untuk bisa membuka warung rawon dengan namanya, pemodal harus mengeluarkan uang Rp 150 juta.

"Yang di Singapura tak lama lagi kok. Dua bulan lagi (Desember 2006) harus berdiri," tekadnya. (*)

21 November 2006

Lambert NUSA INDAH meninggal


Penerbit Nusa Indah, salah satu pelopor penerbitan Katolik yang berpusat di Ende, Flores, berdukacita. Belum lama ini LAMBERTUS RESI, kepala GUDANG BUKU NUSA INDAH di Jalan Polisi Istimewa Nomor 9 Surabaya, kompleks Soverdi, meninggal dunia.


Lambert, sapaan akrabnya, meninggal di RKZ St Vincentius a Paulo Surabaya karena hipertensi. Penyakit darah tinggi ini memang sudah lama diidap pria asal Ende, Flores, itu.

“Masuk rumah sakit hari Minggu, Seninnya sudah nggak ada,” tutur YOHANA ERNANI, kolega almarhum di Gudang Buku Nusa Indah, Surabaya, kepada saya.

Lambert energetik, suka membaca (maklum, selama 16 tahun mengurus buku-buku Nusa Indah), senang diskusi, dan kritis terhadap berbagai masalah sosial kemasyarakatan dan gerejawi. Dia juga aktif di Paroki Hati Kudus Yesus (Katedral Surabaya) sebagai pengurus lingkungan, paduan suara, serta kegiatan-kegiatan lain.

“Aneh kalau orang Flores tidak aktif di gereja,” ujar Lambert kepada anak-anak muda Flores yang baru datang ke Jawa untuk kuliah atau bekerja.

Menurut Lambert, orang Katolik tidak cukup hanya rajin ke gereja setiap minggu. Aktif di kegiatan-kegiatan rohani, lingkungan, wilayah, paroki, kategorial, tak kalah penting dengan liturgi rutin. Bagaimana kalau tidak sempat?

“Yah, diusahakanlah. Jangan sampai orang Flores tidak kenal gereja setelah merantau di Jawa. Ingat, gereja itu kekuatan kita,” begitu pesan ayah empat anak itu kepada kaum muda Flores di Surabaya.

Istrinya, PAULINA NATALIA KASIATI, bekerja di kantor Palang Merah Indonesia Cabang Surabaya. Mengurus distribusi buku-buku Nusa Indah--dan beberapa ‘anak’ perusahaan, plus terbitan Kanisius, Dioma, CLC, dan penerbit Katolik lain--membuat Lambert punya banyak relasi. Sudah tak terbilang jemaat kristiani yang terbantu berkat jasa baik Lambert.

Tak heran, banyak pencinta buku di Surabaya sangat kehilangan almarhum. "Saya ingat betul ketika Pak Lambert membantu saya mengirim SYUKUR KEPADA BAPA, buku nyanyian liturgi yang dulu dipakai di Flores. Di toko buku mana pun nggak ada karena nggak dicetak lagi. Eh, almarhum akhirnya mengirim buku itu ke alamat saya di Jember,” kenang Kopong, asal Flores Timur.

Almarhum selalu berusaha memuaskan para pencinta buku meskipun fasilitas dari Penerbit Nusa Indah pas-pasan saja, beda jauh dengan penerbit besar macam PT Gramedia Pustaka Utama.

Selain warga lingkungan/wilayah, beberapa pastor SVD secara khusus memimpin upacara pelepasan jenazah Lambert ke tempat istirahat terakhirnya. Di antaranya, Pater LUKAS BATMOMALIN SVD (direktur Penerbit Nusa Indah), Pater ELIAS DONI SVD, serta Pater LAMBERT PAJI SERAN SVD.

Pater Lambert yang berasal dari Adonara Timur itu merupakan salah satu teman diskusi almarhum Lambert Resi. Saya pun selalu dapat informasi tentang buku-buku baru dari almarhum.

Selamat jalan, Sahabat!

Requiescat in pace!

20 November 2006

Cina Tionghoa Tiongkok RRC RRT


Oleh Lambertus Lusi Hurek

Surat kabar JAWA POS di Surabaya, dan media-media di lingkungan GRUP JAWA POS, selepas Reformasi 1998 menghidupkan lagi istilah TIONGHOA, TIONGKOK, REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK alias RRT. Istilah CINA tidak boleh dipakai karena dianggap menghina warga keturunan Tionghoa di Indonesia.

Kalau pakai ‘h’, China, sehingga dibaca ala bahasa Inggris, masih boleh. Dan itu yang dipakai harian Kompas. Pakai CINA (tanpa ‘h’), apalagi CINO (ala orang Jawa umumnya)... dirasa sebagai penghinaan luar biasa.

Adalah DAHLAN ISKAN (lahir di Magetan 17 Agustus 1951), chairman Grup Jawa Pos, yang memopulerkan ‘gerakan kembali ke Tiongkok, Tionghoa, dan RRT itu. Kebetulan Pak Bos (sapaan akrab Dahlan Iskan di kalangan wartawan-wartawan Grup Jawa Pos) ini punya kedekatan dengan Tiongkok. Fasih bahasa mandarin, sempat belajar lama di sana, bolak-balik ke Tiongkok.

“Kayaknya Tiongkok sudah jadi negara keduanya Pak Bos,” kata teman-teman di Graha Pena, markas besar Grup Jawa Pos, di Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya.

Tak mudah memang, mengubah kebiasaan ber-CINA ria, meski dianggap baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dengan ber-TIONGHOA atau ber-TIONGKOK ria. Hampir tiap hari ada saja teman-teman bercanda seputar CINA, TIONGHOA, TIONGKOK. Dan... masih banyak wartawan atau redaktur yang belum bisa memahami di mana letak penghinaan manakala kita menggunakan kata CINA.


Saya sendiri sudah lama bertanya kepada tokoh-tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya tentang istilah-istilah bernuansa rasis ini. DJONO ANTOWIJONO alias LIEM OE YEN, pengurus teras Paguyuban Masyarakat Tionghoa Indonesia (PMTI) pun menjelaskan kepada saya, dan beberapa teman wartawan, tentang pentingnya ‘memahami perasaan’ orang Tionghoa.

“Gunakan TIONGHOA, jangan CINA. Kami selalu pakai RRT, republik rakyat Tiongkok, bukan RRC, Republik Rakyat Cina. Kalian sebagai wartawan, tolong sosialisasikan istilah yang benar kepada masyarakat. Organisasi kami PMTI, paguyuban masyarakat Tionghoa Indonesia, bukan paguyuban masyarakat Cina Indonesia,” jelas Liem, pengusaha besi lonjoran di kawasan Kembang Jepun, Surabaya.

“Kenapa begitu?” tanya saya.

Ceritanya panjang, kata Liem. Menurutnya, CINA merupakan istilah penghinaan yang dipaksakan rezim Jepang saat menjajah negeri Tiongkok. “Istilah CINA itu sangat menyakitkan karena warga Tiongkok dianggap ANJING,” jelas LIEM OE YEN kepada saya pada 20 November 2006.

“Siapa sih yang mau dijelek-jelekkan dengan kata ANJING?” tambah Liem.

Ternyata, papar Liem, kebijakan rezim Jepang yang menjajah Tiongkok ini diadopsi Orde Baru. Rezim Soeharto ini secara sistematis meminggirkan warga Tionghoa di Indonesia. Kebijakan ganti nama. Ganti agama. Larangan berusaha di luar ibukota kabupaten. Larangan ekspresi budaya Tionghoa. Barongsay haram. Kelenteng tak boleh diperbaiki. Aksara Tionghoa haram.

Masih panjang daftar kebijakan rezim Orde Baru (1966-1998) yang rasis. Sangat anti-Tionghoa.

Saya akhirnya menemukan beberapa buku yang mampu menjawab polemik ini. Salah satunya karangan SIAUW GIOK TJHAN, tokoh masyarakat Tionghoa asal Kapasan, Surabaya. Di masa perjuangan hingga menjelang Orde Baru, nama Siauw sangat kondang karena pernah menjabat menteri kabinet Presiden Soekarno. Bukunya berjudul LIMA ZAMAN, PERWUJUDAN INTEGRASI WAJAR.

Sebagai bekas menteri, tokoh pergerakan, uraian Siauw Giok Tjhan sangat jelas, lengkap, dan tajam. Deskripsinya kuat. Banyak data. Data sejarahnya komplet. Siauw bicara pakai data, tak asal ngomong, sehingga kita sulit membantah argumentasinya.

“Ayah saya memang pecinta buku,” kata Dr Siau Giok Djien, putra almarhum Siauw Giok Tjhan, saat berkunjung ke Surabaya beberapa waktu lalu. Siauw yunior kini berdomisili di Australia.

Nah, di halaman 365 buku ini, Siauw Giok Tjhan membeberkan bahwa pada 25 Juli 1967 penguasa militer (TNI Angkatan Darat) mengeluarkan keputusan supaya istilah TIONGHOA diganti CINA. Alasan Orde Baru: CINA sudah banyak digunakan rakyat sejak zaman dulu kala.

“Ada yang bilang istilah CINA harus dipakai untuk meniadakan rasa rendah diri, inferiority complex, dari rakyat Indonesia. Apalagi, CINA lebih dekat dengan istilah Inggris, China,” beber Siauw, yang menyebut pandangan ini ‘sangat tidak tepat’.

Menurut Siauw, lahir di Surabaya 23 Maret 1914, istilah CINA yang mengandung penghinaan itu tidak banyak dipakai setelah didirikan TIONGHOA HWEE KOAN di Jakarta (Betawi) pada 1900.

“Penggunaan istilah TIONGHOA dikokohkan di Indonesia setelah revolusi rakyat Tiongkok mencapai kemenangan di bawah pimpinan Dr Sun Yat Sen, 10 Oktober 1911. Jadi, penggunaan istilah CINA dengan TIONGHOA secara umum di Indonesia merupakan hasil revolusi rakyat Tiongkok,” tulis Siauw Giok Tjhan.

Tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia di zaman penjajahan Belanda, tulis Siauw, menggunakan istilah TIONGHOA, tidak lagi memakai CINA. Kenapa? Ada konvensi bahwa sebuah kemenangan revolusi rakyat harus dihargai oleh pejuang-pejuang kemerdekaan.

Siauw Giok Tjhan menyebut nama-nama tokoh yang menggunakan istilah TIONGHOA, bukan CINA. Di antaranya, Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, Cokroaminoto, Dr Soetomo, Bung Karno. Wartawan-wartawan kawakan masa lalu, macam Muchtar Lubis dan Burhanuddin Muhammad Diah, pun konsisten memakai istilah TIONGHOA dalam tulisan-tulisannya.

*******

Nama resmi Tiongkok setelah revolusi nasional adalah CHUNGHUA MINKUO atau REPUBLIK TIONGKOK. CHUNGHUA adalah ucapan mandarin berdasar dialek Hokkian. Setelah 1 Oktober 1949, nama negara Tiongkok menjadi CHUNGHUA REN MIN LIEN HUO KUO. Kalau diindonesiakan menjadi REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK alias RRT.

“Jadi, bila mau resmi-resmian harus menyebut TIONGKOK dengan CHUNGKUO dan bahasa serta orangnya diterjemahkan menjadi CHUNGHUA dalam lidah mandarin dan TIONGHOA dalam dialek Hokkian. Terserah... tapi yang pasti bukan CINA. Apalagi orang Indonesia tentu bukan orang Inggris yang menyebut TIONGKOK dengan CHINA,” tulis Siauw Giok Tjhan.

Saya ingat baik-baik pesan Liem Oe Yen kepada saya. “RRC itu nggak ada. Yang ada RRT. Kalau Saudara pakai istilah Tionghoa, itu lebih bersahabat. Hindari pakai CINA. Harep Saudara ingat, kami sejak tahun 1912 itu disebut suku Tionghoa, bukan suku Cina,” tandas Liem Oe Yen.

Seperti juga jutaan warga Tionghoa lain, Liem dipaksa Orde Baru untuk mengganti nama menjadi Djono Antowijono. “Nama itu kan pemberian orang tua, harus kita hargai. Lha, kok kami malah disuruh ganti nama,” pungkasnya.

PPLH Seloliman 15 Tahun


Saya di depan pintu gerbang PPLH Seloliman, Trawas, Mojokerto.
Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, pada tahun 2006 genap 15 tahun. Usia yang cukup hijau, di tengah tantangan yang makin berat.



DUA bus pariwisata tampak terparkir rapi di depan pintu gerbang PPLH Seloliman. Tak lama kemudian, para penumpang bus pun turun. Ternyata, mereka bukan wisatawan biasa, melainkan bocah taman kanak-kanak dari Sidoarjo. Wisata di kompleks PPLH yang berada di kaki Gunung Penanggungan?

"Yah, ekowisata merupakan salah satu program kami di sini," ujar Direktur PPLH Seloliman, SUROSO, kepada saya. Kami menikmati makanan dan minuman organik, hasil produksi rekanan PPLH di desa-desa sekitar.

Tak hanya anak-anak, sejumlah perusahaan besar di Surabaya, Malang, Sidoarjo, dan beberapa daerah di Jawa (bukan hanya Jawa Timur) pun bertandang ke PPLH untuk belajar bagaimana bersahabat dengan lingkungan. Suroso mengaku gembira karena beberapa bulan terakhir animo kalangan pelajar (TK hingga SLTA) yang belajar lingkungan hidup meningkat pesat.

PPLH diresmikan oleh PANGERAN BERNHARD dari Belanda 15 tahun lalu. Di sini ada penginapan sederhana, namun bersih dan eksotik. Dua restoran khusus menyediakan makanan organik hasil produksi para petani di Seloliman dan sekitarnya. Saking banyaknya peminat, grup ekowisata harus memesan tempat (booking) beberapa pekan sebelumnya.

"Kalau mendadak, kami yang kewalahan," tutur Suroso.

Berapa pengunjung PPLH dalam setahun? Suroso menyebutkan, selama tahun 2005 pengunjung resmi mencapai 16.500 orang. Ini belum termasuk pengunjung tidak resmi macam saya. Warga yang hanya sekadar mampir, lalu pulang... jumlahnya sangat banyak. PPLH di dekat Cagar Budaya Jolotundo ini selalu menjadi tempat singgah para aktivis lingkungan, budayawan, seniman, wartawan, dari berbagai kota. Nama-nama turis beginian biasanya tidak pernah tercatat di buku tamu.

Dari 16.500 pengunjung itu, kata Suroso, 70 persen pelajar. Kota Surabaya, sejak PPLH dibuka sampai sekarang, tercatat sebagai penyumbang wisatawan terbanyak. Para duta wisata Surabaya (Cak dan Ning) serta Putri Lingkungan Hidup dari Kota Surabaya beberapa kali memilih PPLH sebagai ajang karantina.

Banyak hal yang bisa dipelajari di PPLH, khususnya untuk anak-anak dan remaja. Sederhana saja. Cara daur ulang sampah. Mengenal ekosistem hutan. Mengenal tanaman obat. Energi alternatif. Teknologi tepat lingkungan. Suvenir dari bahan-bahan sisa. Analisis dampak lingkungan. Pertanian ekologis. Pembangkit listrik mikrohidro. Menjelajah alam. Seni lingkungan atawa green art.

PPLH pun bekerja sama dengan biro perjalanan (travel) internasional macam INTERPAD. Karena itu, hampir setiap pekan selalu ada turis Eropa yang mampir ke PPLH. Program ke PPLH bahkan menjadi salah satu agenda resmi para pelancong Eropa itu sebelum ke Bali atau Bromo. Karena itu, ada guyonan: PPLH di Seloliman ini ternyata lebih dikenal turis Eropa ketimbang warga Indonesia sendiri.

"Saya senang bisa menikmati alam yang begitu indah seperti di PPLH. Suasana seperti ini jarang saya rasakan di Eropa," kata MENEER JOOST, warga Belanda, kepada saya.

Ucapan senada disampaikan Christine Rod, perempuan 50-an tahun asal Swiss.

Christine bahkan selalu menyempatkan diri datang ke PPLH (dan Jolotundo) saat cuti panjang di Indonesia. Di kawasan PPLH pulalah, Christine jatuh cinta pada pelukis asal Sidoarjo, NASRULLAH, dan akhirnya menjadi pasangan suami-istri. Christine bilang, PPLH ini bisa menjadi tempat yang ideal bagi anak-anak muda untuk belajar bagaimana bersahabat dan mencintai lingkungan hidup.

SEBELUM tahun 1994, warga kampung Seloliman tidak bisa menikmati listik. Kampung gelap gulita, warga hanya mengandalkan lampu minyak tanah untuk penerangan. Mirip kampung-kampung sederhana di pelosok nusantara.

Lokasinya yang terlalu jauh di kaki Gunung Penanggungan, sementara jumlah penduduk sedikit dan terpencar-pencar, membuat PT (Perser) Perusahaan Listrik Negara bepikir tujuh kali untuk mengembangkan sambungan lisrik ke sana. Tak heran, kampung Seloliman terkesan 'primitif'.

Melihat kondisi ini para pengelola PPLH berpikir keras, bagaimana menghadirkan listrik desa, berdaya kecil, untuk kebutuhan warga kampung. Paling tidak untuk penerangan, setrika, atau sekadar menikmati televisi. Setelah dikaji secara akademis, ternyata KALI MARON, sungai kecil yang melintas di persawahan Dusun Jinjing, sangat memadai untuk menggerakkan turbin mini.

Gayung bersambut. Donatur asal Jerman bersedia membiayai. Maka, PPLH bersama warga Dusun Jinjing, Desa Seliliman, bergotong-royong membangun pembangkit sederhana dengan memanfaatkan tenaga air. Jadilah sebuah pembangkit listrik tenaga air sekala kecil (mikrohidro). Dusun yang tadinya gelap gulita akhirnya bisa menikmati listrik dengan biaya sangat murah. Sedikitnya 55 rumah dilayani pembangkit listrik tersebut.

"Yang mengelola, ya, warga sendiri melalui PAGUYUBAN KALIMARON," cerita Direktur PPLH Suroso kepada saya.

Menurut Suroso, pelibatan warga dusun ini agar mereka punya rasa memiliki (handarbeni), merawat aset berharga tersebut, sehingga ujung-ujungnya menjaga kelestarian hutan. Warga sangat marah bila hutan dirusak karena takut PLTA mininya mati. Mereka tak ingin kembali ke 'zaman kegelapan' pra-1994.

Keberadaan PLTA mini mendapat respons positif Pemkab Mojokerto, PT PLN, bahkan pemerintah pusat. Ini dianggap sebagai proyek pilot, yang perlu ditiru kampung-kampung pelosok lain di Indonesia. Dalam kenyataan, pembangkit listrik desa berkapasitas 25 kilowatt ini banyak nganggurnya. Sebab, pemakaian siang hari hanya 5 kW, sedangkan malam 12 kW. Artinya, hampir separuh kapasitasnya tidak terpakai.

PT PLN pun tertarik membeli sebagian daya milik Paguyuban Kalimaron itu. Daripada membuka jaringan sendiri ke dusun itu, padahal skala ekonominya sangat rendah. Proyek rugi, bukan? Maka, setelah bernegosiasi ke sana ke mari, akhirnya pada 5 Desember 2003 disepakati kerja sama antara Paguyuban Kalimaron (PPLH plus Dusun Jinjing) dengan PT PLN.

"Dirjen sendiri yang datang ke sini untuk meresmikan," kata Suroso, bangga. Dirjen yang dimaksud DR IR LULUK SUMARSO MSC, dirjen pengembangan energi Depatemen Energi dan Sumber Daya Mineral. "Sekali-sekalilah Pak Dirjen jalan kaki ke tengah sawah lah," tambah Suroso lalu tertawa kecil.

Kerja sama ini sangat menguntungkan, karena setiap bulan PT PLN harus menyetor Rp 6 juta ke kas Paguyuban Kalimaron. Ditambah rekening bulanan para pelanggan (besarnya separuh harga rekening PLN), masyarakat bisa menikmati listrik 24 jam sehari.

Kata Suroso, hubungan antara PPLH dan masyarakat setempat kini ibarat ikan dan air. Sangat lengket! Keberadaan PPLH dirasakan manfaat langsungnya oleh warga. Belum lama ini PPLH membuka restoran megah. Restoran ini khusus menampung bahan-bahan makanan seperti sayur-mayur, buah-buahan, ikan, daging, dari warga setempat.

"Masyarakat lokal memang menjadi target utama kami," tegas bos PPLH ini.

Bunker Kejawen di Jolotundo



Saya baru saja jalan-jalan ke Jolotundo, cagar budaya terkenal di Trawas, Mojokerto. Ini candi sekaligus petirtaan suci peninggalan Prabu Airlangga. Tak jauh dari situ, sekitar 100 meter, ada petilasan Narotama. Lain dengan Jolotundo, Narotama dibikin oleh beberapa penggiat kejawen. Sukoyo alias Mbah Koyo salah satu sponsornya.

Istirahat di Narotama cukup nyaman. Udara segar, lihat petani desa, makan nasi kulup masakan Ny Sukardjono alias Bu Jono. Ibu ini setiap hari menerima tetamu, tak diundang, yang ingin olah spiritual di Narotama. Juga pemburu nomor togel, sejenis judi gelap khas wong cilik.

"Bu Jono ini ngelaku. Dia jualan tidak untuk cari duit, tapi olah sprititual," jelas Harryadjie Bambang Subagyo, pelukis Sidoarjo. Pak Bambang ini 'pelanggan' tetap Narotama.

Sekitar 10 meter dari cungkup makam, yang biasanya didatangi penganut Hindu dan kejawen, ada bunker. Tutupnya dari semen. "Bunker ini untuk menjaga keseimbangan alam di Jawa Timur," kata Erwin alias Mbah Grandong, aktivis Javanologi, kepada saya.

"Kami yang buat, karena kami cinta alam, cinta budaya, cinta kehidupan."

'Kami' yang dimaksud Erwin Grandong tentu Javanologi, organisasi para penggiat kejawen yang berpusat di Surabaya.

Isi bunker, kata Erwin, bukanlah bom, bahan peledak, pelet, atau harta karun, melainkan benda-benda ritual macam belerang, garam, air aki, tembaga. Erwin berkata, tidak boleh sembarangan orang menggali atau merusak dengan alasan apa pun. Harus ada izin Javanologi.

"Silakan tanggung sendiri risikonya. Sebab, misi kami itu menjaga keseimbangan alam, menetralisir udara di Pulau Jawa," jelas pria brewok ini.

Erwin selalu wanti-wanti karena bunker sejenis, juga milik Erwin dkk di Bojonegoro, pernah dicurigai sebagai tempat persembunyian bahan-bahan bom milik kaki tangan Dr Azahari (tewas) dan Noordin M Top. Dua nama ini orang Malaysia, gembong teroris Asia tenggara.

Erwin bilang ke saya, kalau bunker ini dibuat setelah Mpu Modo alias Sumaji, tokoh Javanologi, mendapat wangsit dari atas. Buatlah bunker, isinya ini, ini, ini.... "Anda kok percaya dengan hal-hal irasional begini?" tanya saya.

"Apanya yang irasional? Saya tegaskan, ada rasional dan irasionalnya. Kami kombinasikan demi menjaga keseimbangan alam. Anda kan tahu sendiri suhu di Jawa Timur makin panas. Dulu di sini (Trawas) dingin sekali. Sekarang gak adem blas. Ini karena keseimbangan alam terganggu. Ngerti?" tegas Erwin rada marah.

"Setelah ada bunker suhu kok masih sama?"

"Eh, Hurek, saya ingatkan, bunker yang diperlukan di Jawa itu tujuh. Sekarang baru dua: satu di Jolotundo ini, satu lagi di Bojonegoro," katanya.

"Kapan buat lima bunker lagi?"

"Kami masih usahakan. Bikin bunker itu nggak murah lho. Kalau ada sponsor, pasti dilanjutkan."

Asal tahu saja, biaya bikin satu bunker Rp 10-20 juta.

"Ini sains Jawa ala leluhur. Jangan dikira orang Jawa zaman dulu nggak ngerti ilmu pengetahuan. Kita gak kalah lho. Cuma kita ini keblinger, lupa budaya sendiri. Makanya, negara nggak karuan kayak sekarang. Boleh maju, moderen, tapi ojo lali kebudayaan leluhur," pesan Mbah Grandong alias Erwin, bekas aktivis PDI Perjuangan di Sidoarjo.