21 July 2006

Sekilas Sejarah Melayu - Dangdut




Oleh J.J. Rizal
Sumber: Kompas 8 Juni 2005

Dari tengah kota Jakarta, dari mulut seorang penyanyi muda Betawi bernama Ellya, melantunlah sebuah lagu Boneka dari India. Daun kalender menunjuk angka tahun 1956. Publik tergetar. Tergoda oleh sensualitas dan dinamisme yang unik dalam musiknya, serta penampilannya yang mendebarkan saat membawakan lagu yang diciptakan oleh Husein Bawafie itu.

Lantas, seperti dapat diduga, Ellya pun masuk dunia film dan selama beberapa tahun membeludaklah pengikut musik Melayu yang kemudian sohor sebagai dangdut.

Pada awalnya tidak selalu menarik hati orang terpelajar, tetapi basis pengikutnya yang luar biasa luas di kalangan masyarakat kelas bawah telah mengundang banyak orang untuk memperbincangkannya. Tidak habis-habis orang mempertanyakan bagaimana mungkin dangdut bisa begitu fenomenal. Ia gencar dipertunjukkan dalam media televisi dan radio serta melalui pertunjukan-pertunjukan langsung di panggung-panggung terbuka. Merangsang masyarakat umum, bahkan anak-anak dan kalangan remaja, untuk menjadikannya sebagai pilihan saluran ekspresi.

Salah satu yang ikut dalam perbincangan itu adalah Dharmo Budi Suseno. Pada awal tahun 2005 terbit bukunya, Dangdut Musik Rakyat. Namun, bersama ini dipermaklumkan dengan hormat kepada para insan yang doyan memperbincangkan dangdut, lelaki atau perempuan, supaya memahami betul-betul perihal buku ini, sehingga tidaklah jadi menyesal di belakang hari, menggerutu atau memaki-maki, ibarat orang membeli barang lancung.

Patut diketahui, sebanyak 60 persen isi buku Dangdut Musik Rakyat adalah teks dan notasi lagu dangdut yang sering dibawakan pedangdut dan diminta penonton. Tambah 10 persen semacam cerita pendek tentang sepak terjang dan petualangan seorang dara yang berhasil memenangi kejuaraan dangdut, tetapi gagal menghadapi massa dangdut di panggung pertamanya.

Lalu, sebanyak 5 persen khusus dipersembahkan oleh sang pengarang untuk diva dangdut Cici Paramida unjuk gigi sebagai seorang pemegang gelar doktor dari America University dengan menuliskan pengantar. Nah, 25 persen sisanya barulah diisi dengan perbincangan hal ihwal dangdut yang meliputi sejarah, perkembangan aspek musikalitasnya yang merambah macam-macam jenis musik lain, serta perjalanan karier pesohor dangdut lengkap dengan rupa-rupa goyangnya dari ngebor sampai ngecor.

DARI yang 25 persen itulah dapat diketahui istilah dangdut muncul pada sekitar tahun 1972-1973, sebagai ejekan yang dicomot begitu saja dari bunyi gendang oleh intelek perkotaan Billi Silabumi di majalah Aktuil, ketika membahas musik Melayu yang laris manis bagai kacang goreng di kalangan masyarakat bawah.

Sayangnya, Dharmo dalam menguraikan sejarah dangdut hanya mentok sampai pada tahun 1950-an dan perkaitannya dengan kelompok-kelompok orkes Melayu yang tumbuh marak saat itu. Padahal, beberapa pengamat melihat bahwa musik yang digambarkan secara onomatopoetik itu memiliki sejarah panjang dan asal-usul yang rumit.

Saking panjang dan rumitnya, William H Frederick dalam sebuah esainya yang menantang, "Rhoma Irama and Dangdut Style: Aspect of Contemporary Indonesian Popular Culture" di majalah Indonesia (1982) menyebut bahwa dangdut itu-baik semangat sosial maupun peralatannya-bermula dari periode awal kolonial, saat paduan alat musik Indonesia, Arab, dan Barat dimainkan bersama-sama dalam tanjidor, yaitu orkestra mini yang khas dan dipertunjukkan sambil berjalan oleh para budak peliharaan tuan-tuan putih penguasa perkebunan di sekitar Batavia.

Sepanjang abad ke-19, pengaruh-pengaruh lain diserap, seperti dari ansambel China-Betawi yang disebut gambang keromong, lalu keroncong yang dimainkan dalam pertunjukan stambul dan tonil, sebuah drama populer perkotaan yang sedang naik daun sat itu.

Tahun 1940-an harmoni gaya lama secara bertahap memberi tempat untuk bereksperimen dengan irama Melayu yang dipermodern dan banyak dipengaruhi orkestrasi Barat serta irama samba dan rumba. Tahun 1950-an yang atmosfer politiknya menekankan pada pencarian sesuatu yang menunjukkan keaslian, akhirnya membawa para musisi keroncong modern tersebut memasuki tradisi orkes Melayu yang berkembang di daerah yang jauh dari ibu kota dan tempat tinggal para musisi dan kritikus musik, terutama daerah Padang dan Medan. Lagu-lagu ini sohor disebut sebagai lagu Melayu Deli.

Pada tahun 1953 P Ramlee, aktor dari Semenanjung (Malaysia) melalui film Djuwita, bukan saja telah membuat wabah gaya sisiran rambut sedeng alias belah pinggir, tetapi juga membawa sukses besar lagu-lagu Melayu Deli itu.


Said Effendi mendapat sumber inspirasi yang sama untuk film musikal Serodja (1959), di mana dia menulis sendiri musiknya dan menunjukkan akting yang sangat bagus, baik sebagai penyanyi maupun aktor. Dari sinilah bintang Said Effendi mulai bersinar bersama-sama dengan pencipta lagu dan penyanyi lain, seperti A Chalik, Husein Bawafie, dan Hasnah Thahar.

Mereka diikuti penyanyi muda, Ellya, yang kemudian sangat terkenal dengan lagu Boneka dari India dan dianggap pantas untuk ditunjuk sebagai lagu dangdut pertama, sekalipun istilah dangdut belum pernah digunakan saat itu.

Keberhasilan itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari kepiawaian Husein Bawafie, si pencipta lagu Boneka dari India, dalam mengambil irama dan tekstur bunyi baru (khususnya suara yang ditimbulkan gendang Indonesia, Arab, India, suling dan sitar) yang sebagian besar diambil dari film-film India yang ketika itu membanjiri Indonesia, tetapi dengan tetap menaruh setia pada irama Melayu.

Mungkin sebab itu pula pengamat sejarah Jakarta, Ridwan Saidi, menyatakan bahwa Husein Bawafie yang lahir tahun 1919 itu sebagai penggagas musik Melayu Jakarta dan tokoh yang memegang peranan penting sehingga Jakarta pada tahun 1950-an membukukan kedudukannya sebagai kiblat musik Melayu.

Saat itu memang ada beberapa orkes Melayu (OM) besar yang berdiri di Jakarta, seperti OM Sinar Medan di bawah pimpinan Umar Fauzi Asseran dengan penyanyi A Haris dengan lagu hit Kudaku Lari, Hasnah Thahar yang mendendangkan hit Chayal Penyair, Munif Bahaswan dengan lagu pertama Ditinggal Kekasih.

Ada juga OM Kenangan pimpinan Hussein Aidit dengan lagu yang terkenal Aiga, OM Bukit Siguntang pimpinan A Khalik dengan vokalis Suhaimi yang mencetak hit Burung Nuri, Halimun Malam, dan Cinta Sekejap, dan akhirnya adalah OM Irama Agung pimpinan Said Effendi yang memopulerkan lagu Khayalan Suci.

Namun, dari sekian banyak orkes Melayu itu, Husein Bawafie yang sejak tahun 1930-an telah menciptakan ratusan lagu melalui kelompok musiknya, OM Chandra Lela, dengan penyanyi M Mashabi dan Munif Bahaswan, telah membuat irama Melayu merajai dunia hiburan Jakarta dan memicu berdirinya orkes Melayu hampir di setiap kelurahan.

Ia telah banyak memberikan sumbangan pada pembentukan tradisi musik Melayu Jakarta yang mempunyai kekhasan pada rancak yang dinamakan calte, serta rancak tabla, dan pukulan gendangnya yang berbeda dengan Deli dan Semenanjung. Selain itu, musik Melayu Jakarta juga meniadakan penggunaan gong sebagaimana menjadi ciri musik Melayu Deli dan Semenanjung.



Demikianlah, akar-akar sejarah penjadian dangdut sehingga dapatlah lebih terang dan jelas bahwa musik Melayu yang dimaksud oleh Dharmo sebagai akar musik dangdut itu adalah musik Melayu yang berkembang di Jakarta. Selain itu, ada aspek penting dalam perkembangan musik Melayu Jakarta itu sampai ke dangdut yang tampaknya diabaikan oleh Dharmo, yaitu aspek dorongan politik Demokrasi Terpimpin. Pengabaian aspek ini pula yang membuat Dharmo melakukan kesalahan dalam penulisannya.

Dharmo menyebutkan bahwa memasuki tahun 1960, musik Melayu mulai terdesak oleh kehadiran musik rock yang berkembang di perkotaan. Justru pada masa itu yang terjadi adalah sebaliknya. Saat itu orientasi politik-budaya yang mencari keaslian bukan saja telah membawa musisi ke arah irama Melayu, tetapi juga di tingkat massa rupanya dapat memuaskan kebutuhan ideologis masa itu dengan sifatnya yang merakyat dan menawarkan alternatif untuk musik Barat.

Apalagi pada tahun 1960-an itulah tengah gencar-gencarnya dilakukan pengganyangan terhadap musik Barat yang oleh kelompok sayap kiri dan nasionalis disapa dengan sebutan musik ngak-ngik-ngok dan dianggap sebagai musik yang merusak moral dan jauh dari kepribadian Indonesia.

Berbarengan dengan meletus peristiwa G30S tahun 1965 dan Soekarno serta segala eksperimen politiknya digulung, barulah perkembangan musik Melayu terlindas oleh gelombang musik rock, country, dan pop Barat yang membanjir mengisi kekosongan yang tercipta akibat larangan pemerintah terhadap musik impor sebelumnya. Apalagi pemerintah Orde Baru pimpinan Soeharto, sebelum membuka pintu untuk kegiatan ekonomi Barat, terlebih dulu membuka lebar-lebar pintu untuk musik rock Inggris dan Amerika yang di era Soekarno justru ingin dilinggis dan disetrika.

Pascaperiode itu, Dharmo memang membahas bahwa dangdut sempat terpukul, tetapi pada tahun 1970-an dangdut mengalami kebangkitan yang menandai era baru jenis musik ini melalui seorang anak muda kawasan modern Tebet, Jakarta Pusat, bernama Rhoma Irama. Ia telah merevolusi musik dangdut dalam peralatan ke arah elektrik sepenuhnya, pembawaan yang teateristik, irama serta lirik yang energetik dan realistik.

Namun, ada satu segi penting yang luput diperhatikan oleh Dharmo, yaitu revolusi dalam tataran profesionalitas bisnisnya yang ditunjukkan dengan mencopot Orkes Melayu di depan nama Soneta, seraya menambahkan kata Group di belakangnya, mengikuti perusahaan-perusahaan multinasional yang ramai bermunculan saat itu (Sinar Group, Kartini Group).

Suatu tanda yang dapat dibaca sebagai ambisi agar kreativitas musik Soneta dapat berkombinasi dengan limpahan uang dan teknologi media elektronik (televisi, radio, dan film) untuk membentuk selera dan pasar raksasa. Termasuk juga perlunya dipaparkan segi kompleksitas hubungan dangdut Rhoma Irama dengan Islam dan fenomena sosial tahun 1970-an, di mana kian menganga jurang antara yang kaya dan miskin, yang berkuasa dan yang tidak berdaya, gedongan-kampungan.

19 July 2006

Misa Dolo-dolo



ORANGNYA kurus, berkacamata tebal, tegas. Pak Wari, sapaan akrab Mateus Wari Weruin, pada 1970-an hingga 1980-an merupakan kepala Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Podor, Larantuka, Flores Timur. Saya masih ingat ke mana-mana beliau naik sepeda motor bebek warna merah dari Podor ke Postoh, Weri, ke mana-manalah.

Pak Wari bukan sekadar kepala sekolah (dulu disebut direktur), tapi guru musik, pembina paduan suara, tokoh musik liturgi terkemuka dari Kabupaten Flores Timur. Kalau di Jakarta ada Pranadjaja, maka di Flores Timur siapa lagi kalau bukan Pak Wari.

Bedanya, Pranadjaja mendidik musik langsung ke anak-anak, Pak Wari menggembleng para calon guru di SPG. Lulusan SPG yang akan mengajar di berbagai SD di Flores Timur, bahkan seluruh NTT, itulah yang nantinya menggembleng anak-anak didiknya dengan musik dan nyanyian.

Maka, tak berlebihan kalau Pak Wari ini saya sebut sebagai Bapak Musik Flores Timur. Hitung saja, sudah berapa banyak warga Flores Timur (dan NTT) yang telah menikmati jasa-jasa beliau sejak 1960-an hingga 1990-an? Saya tidak pernah diajar langsung oleh Pak Wari, tapi saya tidak membantah bahwa guru-guru saya di SD dan SMP di Flores Timur jelas merupakan hasil didikan Pak Wari.

Sebagai anak kampung di Lembata (tahun 1980-an belum ada listrik), dulu saya tidak pernah menikmati kor (paduan suara) yang menyanyi dengan benar, indah, artistik. Di kampung kor-kor gereja hanya kor-koran yang belum bisa mengunakan teknik produksi suara, dinamika, tempo, yang benar.

Nah, setelah duduk di SMPK San Pankratio Larantuka (sore) kami pun wajib mengikuti upacara bendera hari-hari nasional di Stadion Postoh. Hampir pasti kornya dari SPG Podor dengan dirigen Mateus Wari Weruin. Lagu Indonesia Raya, Himne Guru, Nyiur Hijau…. Tanpa iringan alat musik apa pun, Pak Wari mengambil nada dengan garputala, lalu mulailah kor favorit Flores Timur itu menyanyi.

“Aih… suara malaikat. Saya tidak pernah dengan suara macam ini sebelumnya. Kok bisa ya kor begitu bagus, bisa membuat ribuan orang ketagihan di stadion yang panas,” begitu antara lain decak kagum saya.

Sejak itulah saya mulai mencoba menekuni kor seraya serius di sekolah. Pak Petrus Pedo Beke, yang menikah dengan putri Pak Wari, adalah guru musik dan seni suara kami. Waktu itu belum ada buku musik yang baik, sehingga Pak Wari menerbitkan buku stensilan musik untuk para pelajar SLTP di Kabupaten Flores Timur.

Namanya juga anak kampung, saya akui pelajaran musik versi Pak Wari ini sangat detail, kompleks, sudah sekelas akademi musik. Saya tidak paham, tapi selalu gembira karena musik itu indah.

“Suaramu tidak jelek, bisa baca not angka dan not balok, tapi kamu itu pemalu. Percaya dirilah,” begitu nasihat Pak Pedo Beke.

Dulu, setiap kali disuruh menyanyi di depan kelas, wah, rasanya langit mau runtuh saja. Apalagi kalau dipaksa jadi solis yang harus menyanyi seorang diri.

Jasa Pak Wari juga dirasakan umat Katolik di Indonesia. Sebab, beliaulah penggubah Misa Dolo-Dolo yang sangat terkenal itu. Lagu-lagu Misa Dolo-Dolo ini diadopsi dari lagu rakyat (folk song) Flores Timur, kemudian disesuaikan di sana-sini sesuai dengan kaidah musik liturgi gereja Katolik.

Kalau tidak salah, Pak Wari sendirilah yang mula pertama memperkenalkan Misa Dolo-Dolo pada upacara penahbisan Uskup Larantuka Mgr Darius Nggawa SVD di Stadion Postoh, Larantuka, pada 1974. Ribuan warga Flores Timur menyambut misa jenis baru ini dengan sangat antusias.

Mereka seakan-akan menemukan kekayaan liturgi yang digali dari buminya sendiri, bukan hasil contekan liturgi Barat yang asing dan kering. Dalam tempo singkat Misa Dolo-Dolo pun menyebar ke seluruh Flores Timur, dinyanyikan di mana-mana, bukan saja di gereja, tapi di perjalanan, sambil mandi di laut, di halaman sekolah, dan sebagainya.

Misa Dolo-Dolo semakin populer setelah dimuat di MADAH BAKTI, yang sempat menjadi buku resmi liturgi Gereja Katolik di Indonesia pada awal 1980-an hingga 1992/93/94. Setelah MADAH BAKTI habis masa baktinya, diganti PUJI SYUKUR, Misa Dolo-Dolo ini tetap dimuat namun dengan sejumlah perubahan syair.

Perubahan ini memang sempat melahirkan ‘kebingunan massal’ di kalangan umat Katolik, termasuk saya. Untung saja, melodi asli Misa Dolo-Dolo tetap dipertahankan sehingga jejak Pak Wari tidak sampai hilang sama sekali.

Kini Pak Wari telah tiada. Tapi jasa-jasanya dalam memajukan musik liturgi di Flores selalu kami kenang.

12 July 2006

Flobamora Song



Flobamora
Lagu/Lirik: Apoly Bala


Flobamora, tanah airku yang tercinta
Tempat beta dibesarkan Ibunda
Meski sudah lama jauh di rantau orang
Beta ingat Mama janji, pulang e

Biarpun tanjung teluknya terpeleh nusaku
Tapi selalu terkenang di kalbuku
Anak Timor main sasando, dan menyanyi lelebo
Rasa girang dan berdendang, pulang e

Hampir siang beta bangun sambil menangis
Mengenangkan Flobamora lelebo
Masa kini beta ingat dipangku Mama
Air mata basah pipi lelebo

Biarpun.......


Suatu ketika saya jalan-jalan ke Pantai Kenjeran, Surabaya. Ramai sekali, hiruk-pikuk, maklum hari Minggu. Ini memang objek wisata pantai paling murah yang dikelola Pemerintah Kota Surabaya. Orang tua bisa mengajak anak-anaknya berekreasi setelah capek kerja atau sekolah selama enam hari.

Nah, di dekat pintu masuk berkumpul sekitar 10 anak muda, usia di bawah 24 tahun. Kulit mereka agak gelap, rambut ikal, beda dengan orang Jawa umumnya. Salah satunya membawa gitar. Lalu, suara kor merdu terdengar. Tiga suara berpadu: suara satu, suara dua, suara tiga. Ah, tak salah lagi… Flobamora.

Saya yang berasal dari kampung kecil di Pulau Lembata, Flores Timur, tak asing lagi dengan lagu ini. Dulu, waktu SD di Ileape, Flobamora bahkan saya anggap sebagai ‘lagu kebangsaan’ orang Nusa Tenggara Timur (NTT). Bagaimana tidak. Setiap hari kami, anak-anak SD di udik yang miskin itu, membawakan lagu ini dengan sikap sempurna.

Lagu Flobamora ini digubah oleh Apoly Bala, penggubah lagu asal Lembata (yah, satu pulau dengan saya juga) yang sudah lama tinggal di Kupang, ibukota Povinsi NTT. Pak Apol, sapaan akrabnya, juga dikenal sebagai penulis lagu-lagu liturgi Gereja Katolik yang produktif.

Di buku PUJI SYUKUR, misalnya, termuat tiga komposisi karya Apoly Bala: nomor 601, 659, dan 424. Di buku MADAH BAKTI pun lagu-lagu Pak Apol ada. Seperti umumnya penggubah lagu asal Flores atau NTT, lagu-lagu Pak Apol melodius, menekankan melodi, terasa manis, mendayu, dan gampang dipecah dalam beberapa suara.

Saya menyimak baik-baik lagu Flobamora yang dibawakan adik-adik di Pantai Kenjeran itu. Ternyata, liriknya masih sama dengan ketika saya masih duduk di SD di kampung Mawa, Ileape, Lembata, Flores Timur.

Di tahun 2006 ini, lagu Flobamora masih lestari, masih dinyanyikan orang di mana-mana, khususnya di rantau. Syairnya begitu menggugah, mengajak kita untuk pulang kampung, setidaknya tidak lupa kampung halaman.

Bae sonde bae, Flobamora lebe bae to!!!!

07 July 2006

Sayur Merungge alias Kelor



Sayur apa yang paling terkenal di Lembata? Pertanyaan ini sering saya dapatkan selama tinggal di Jawa. Apa ya? Pikir sebentar, saya pun menukas, “Merungge!”

“Merungge iku jangan opo to? Kayake aku gak tau krungu?” (Merungge itu sayur apa to? Kayaknya saya belum pernah dengar.) Begitu kata teman-teman Jawa saya.

Memang, orang Jawa, termasuk intelektualnya, tak banyak yang periksa kamus bahasa Indonesia. Mereka lebih mengikuti kata-kata bahasa daerah, atau kata-kata bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Jawa. Indonesia-Jawa, begitulah.

Di kamus, MERUNGGE itu ditulis merunggai = semacam pohon yang daunnya biasa disayur (Kamus Sutan Mohammad Zain, terbit 1952). St. M. Zain ini seorang munsyi (ahli bahasa asal Sumatera, sehingga kamusnya dulu menjadi rujukan intelektual Indonesia. Kamus Baku Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Departemen Pendidikan Nasional, yang menjadi buku pintar kaum penyunting seperti saya, pun dengan jelas mencantumkan ‘merunggai’ di salah satu lemanya.

Dus, merungge (nama ilmiah: Moringa oleifera) sebetulnya bukan sayur yang ‘asing’, kecuali di tanah Jawa. Orang Jawa menyebut MERUNGGE dengan KELOR.

“Lha, kalau kelor sih banyak, tapi nggak ada yang makan. Daun kelor itu dipakai untuk menghilangkan ilmunya orang mati yang sakti,” jelas Gatot, sahabat saya.

Konotasi merungge di Jawa memang selalu ke peti mati. Arwah orang sakti (dukun), ilmu hitamnya banyak, diyakini tak akan lempang jalannya. Nah, agar ilmu itu hilang, daun-daun merungge dipukulkan ke jenazah. Ihhh… seram.



Di Pulau Lembata (FOTO pantai dan kampung) merungge alias merunggai alias kelor alias MOTONG (bahasa daerah) ini sayur yang sangat populer. Beda dengan kol atau sawi, merungge tumbuh di mana-mana. Tidak perlu budidaya.

Tanaman ‘liar’ ini mudah dijumpai di samping rumah, ladang, atau hutan. Saya heran, kenapa merungge yang selalu dinikmati (hampir) saban hari itu tidak dibudayakan seperti komoditas tanaman lain. “Buat apa capek-capek, merungge kan bisa tumbuh sendiri,” begitu kata orang-orang di kampung.

Daun merungge yang kecil-kecil itu melekat di tangkainya. Dan itu harus dipisahkan. Caranya gampang-gampang sulit. Mama-mama dan kaum wanita di kampung, karena sudah biasa, cepat sekali memisahkan daun si kelor ini dari tangkainya.
Sementara itu, air dipanaskan (bahasa lokal: dijerang) hingga mendidih. Setelah mendidih, masukkan MOTONG LOLON (daun merungge) tadi. Tutup panci, tunggu beberapa menit.

Bumbunya sederhana saja: garam (sudah pasti), bawang merah, bawang putih, penyedap rasa. Bisa bervariasi tergantung selera. Aduk dan segera diangkat! Daun merungge ini kalau dibiarkan terlalu lama di air panas, ya, cepat rusak.

Sayur merungge pun siap dinikmati. Saya biasa mencampur merungge ini dengan mi instan (orang kampung bilang supermi, apa pun merek dagangnya). Teman-teman Jawa yang mendengar cerita saya tentang merungge hanya geleng-eleng kepala.

“Wah, wuaaaaneh banget…. Godhong kelor kanggo nggebuk mayit kok dipangan. Hehehe….” (Aneh sekali. Daun kelor untuk memukul mayat kok dimakan.)

Lain lubuk lain ikannya, lain daerah lain pula sayurnya.

Di Jawa, saya tidak pernah makan sayur merungge karena dijamin takkan pernah dijual di warung kali lima hingga restoran mewah. Biasanya, saya dan teman-teman Flores membuat sayur merungge secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui orang Jawa. Khawatir dikira sedang menggelar ritual menghilangkan kesaktian orang mati.

02 July 2006

Anak Becak Flores Tembus Akpol


FOTO: Keluarga tukang becak: Pak Geba dan istrinya, Bu Heni, sama anaknya Hawa, di Sidoarjo.

Di Jawa Timur, sebagian besar orang Flores menjadi pekerja kasar: Kuli pelabuhan. Buruh pabrik. Kuli bangunan. Tukang kebun. Tukang sapu. Satpam. Penjaga tempat hiburan (klub) malam. Debt collector. Tukang pukul. Petinju atau atlet.

Pegawai negeri sangat sedikit. Dosen bisa dihitung dengan jari. Pengusaha hampir tidak ada. Pastor dan suster banyak. Penjual togel (kupon judi gelap) juga lumayan.
Tapi selama belasan tahun di Jawa, saya belum pernah ketemu tukang becak asal Flores.

Maka, saya sangat terkejut melihat berita di televisi tentang anak tukang becak Flores yang diterima di Akademi Kepolisian (Akpol). Ah, yang benar saja?

"Benar. Namanya khas Flores, tinggal di Sidoarjo," ujar seorang wartawan senior di Graha Pena, Surabaya, markas Grup Jawa Pos.

Saya pun mengecek. Ternyata benar. Tukang becak itu Geradus Geba (47 tahun), asal Bomba, Kecamatan Ende. Istrinya Felicitas Nugraini (46 tahun), asli Blitar, pesuruh di TK Santa Maria Sidoarjo. Mereka punya dua anak: Robertus Rujito (19 tahun) dan Maria Natalia Hawa (13 tahun). Rumah mereka sangat sederhana di kampung Magersari Gang VII Nomor 31-B RT 20 Kelurahan Magersari, Kabupaten Sidoarjo.

"Kamu tanya saja Pak Ambon, pasti semua kenal. Saya biasa mangkal di dekat kantor pos Sidoarjo," ujar Geradus Geba kepada saya. Menurut dia, di Sidoarjo ada dua abang becak asal Flores, sama-sama bernama Geradus. "Geradus yang satunya orang Maumere."

Sebelum menjadi tukang becak, Geradus mengaku 'kerja ikut orang' sebagai kuli bangunan. Buat bangunan megah di mana-mana, tapi mustahil bisa dimiliki orang kecil. Dia juga mengaku disuruh-suruh, dimarahi, didikte, dan seterusnya. Tidak bebas.

"Lha, daripada begitu saya memilih jadi tukang becak. Saya bebas, nggak ada yang merintah saya," ujarnya tegas. Saya senang mendengar ucapannya yang ceplas-ceplos, khas Ende. Ada semangat kemandirian yang besar.

BAGAIMANA Jito, sapaan Robertus Rujito, lolos ke Akpol? Geba mengaku tak tahu banyak. Sebab, si Jito ini mengurus pendaftaran dan wira-wiri seorang diri. Modal uang nol.

Berbekal nilai ujian nasional yang di atas rata-rata (nilai rata-rata STTB pun tinggi), Jito mendaftarkan diri ke Polda Jatim. Uang masuk Akpol nol rupiah. "Jito memang sejak lama ingin jadi polisi, tapi saya bilang uangnya dari mana? Teken polisi di mana-mana kan pakai uang," ujar Geba.

Ternyata, jalan hidup Rujito lain sekali. Pada 4 Juli 2006 Jito berangkat ke kampus Akpol di Semarang untuk testing. Pada 17 Juli 2006 Jito kirim kebar dari Semarang lewat telepon tetangga di Sidoarjo. "Tukang becak nggak kuat bayar telepon," kata Geba.

Jito bilang ia diterima bersama 14 peserta lain asal Jawa Timur. Maka, Robertus Rujito menjadi satu-satunya anak wong cilik yang bisa menikmati pendidikan di kampus elite tersebut. Geba alias Pak Ambon pun tiba-tiba menjadi terkenal di Sidoarjo karena masuk koran.

Kapan syukuran potong kambing? goda saya. "Gampang itu. Tunggu kalau Jito sudah pakai pangkat di bahu," ujar Geba.

Pria yang merantau sejak remaja itu percaya bahwa lolosnya Jito ke Akpol semata-mata berkat anugerah Tuhan. Dan itu membuatnya tak henti-hentinya mengucap syukur kepada-Nya. "Ini mukjizat dari Tuhan," katanya.