24 June 2006

Bedah Bukune Yudi


Suatu ketika Cak Kartolo (59) melawak di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sumberporong, Lawang. Penontonnya pasien yang dianggap sudah agak waras, bisa diajak berkomunikasi. Cak Kartolo pun memainkan berbagai jurus lawakan untuk mengundang tawa penonton.

Tidak mempan. Ratusan penonton itu diam saja. “Saya dan teman-teman bingung, apanya yang salah,” cerita Cak Kartolo di acara peluncuran buku ‘Sketsa Tokoh Surabaya’, di Hotel Tunjungan, Sabtu (24/6) siang. Buku ini karya Agus Wahyudi, wartawan RADAR Surabaya.

Beberapa saat kemudian, cerita Cak Kartolo, layar panggung ambruk. Dengan wajah merah padam, pelawak kelahiran Pasuruan 2 Juli 1947 ini tergopoh-gopoh menyelamatkan diri. Eh, para penghuni RSJ Sumberporong tertawa terbahak-bahak. “Sing gendheng tibakno ludruke,” kenang Cak Kartolo disambut tawa seratusan hadirin.

Acara peluncuran sekaligus bedah buku ini menjadi hidup berkat cerita-cerita ringan, celetukan, serta pernyataan ceplas-ceplos dari Cak Kartolo. Selain dia, dihadirkan dua pembicara lain, yakni Wakil Wali Kota Surabaya Arif Afandi serta Prof Johan Silas, ahli tata kota dari ITS.

Mereka membahas buku sketsa 21 tokoh Suroboyo itu. Kota Surabaya yang baru saja merayakan hari jadi ke-713 itu sebetulnya kaya tokoh. Tokoh bisnis, politik, birokrat, seniman, olahragawan, pendidik, aktivis LSM, hingga pelawak. Lantas, kenapa Agus Wahyudi (34) hanya memilih 21 orang untuk buku perdananya? Pertanyaan, yang sebetulnya sudah lama diantisipasi, itu akhirnya muncul dalam diskusi.

Agus Wahyudi sendiri mengakui keterbatasan itu. “Ini hanya awal. Kalau ada teman-teman penulis yang mau melanjutkan, silakan,” ujar redaktur metro (kota) RADAR Surabaya itu, diplomatis.

Namun, secara umum para pembicara maupun audiens mengapresiasi kesungguhan Agus Wahyudi menggali sisi-sisi lain di balik 21 tokoh itu. Siapa tak kenal Cak Kartolo? Gombloh, Johan Silas, Kaisar Victorio, Suparto Brata, Buby Chen, Nyoo Kim Bie, Lim Keng, Soekirno, Rusdy Bahalwan, RM Soekotjo, Poernomo Kasidi. Dua tokoh terakhir ini mantan wali kota Surabaya yang dianggap paling sukses saat menjabat.

“Saya kenal betul Pak Poer dan Pak Kotjo. Kedua orang ini luar biasa,” puji Johan Silas, guru besar ITS yang kerap dimintai masukan oleh kedua bekas wali kota ini.

Menurut Silas, Pak Poer dan Pak Kotjo semakin menarik karena latar belakang mereka sebenarnya bukan orang pemerintahan. Pak Poer dokter, Pak Kotjo tentara. Pak Poer sampai sekarang dikenang sebagai ‘wali kota got’, Pak Kotjo berjasa memodernisasi Kota Surabaya.

Mengapa keduanya paling sukses sukses sebagai wali kota?

“Mereka mau mendengarkan masukan dari luar, termasuk orang kampus seperti saya,” ujar Johan Silas. “Mereka pandai memilih staf yang hebat,” tambah Cak Kadaruslan, ketua Putra Surabaya (Pusura).

Setelah membaca buku setebal 321 halaman ini, Wawali Arif Afandi mengaku menemukan jawab atas beberapa pertanyaan mendasar seputar Surabaya. Juga banyak inspirasi dari para tokoh. Menurut Arif, figur-figur yang diangkat Agus Wahyudi layak menjadi teladan karena tiga hal: sederhana, memberi inspirasi, dan berbuat untuk orang lain.

“Lain dengan selebriti, mereka terkenal, populer, tapi untuk dirinya sendiri. Kecuali Cak Kartolo,” ujar bekas pemimpin redaksi Jawa Pos itu.

Seperti juga Johan Silas, Wawali Surabaya menilai masih banyak tokoh-tokoh di Kota Surabaya yang layak diangkat sebagai inspirasi warga kota. Dia menyebut kompleks pecinan di Kembang Jepun yang terkesan kumuh, tua, sederhana. Di balik tampilan luar seperti itu, ternyata jumlah uang beredar di sana mencapai miliaran rupiah per hari.

“Saya menilai Agus Wahyudi ini bukan wartawan biasa. Dia wartawan serius, dan itu sangat langka di zaman serba instan seperti ini. Asal tahu saja, sekarang ini wartawan-wartawan dihinggapi budaya kloning, copy-paste,” tukas Arif Afandi.

Dia memuji karya Agus Wahyudi ini sebagai kumpulan features yang berhasil merangsang keinginantahuan pembaca tentang tokoh tertentu.

19 June 2006

Noordin Mat Top Haram ke Malaysia

Kabar penggerebekan markas anak buah Noordin Mat Top di Wonosobo, Jawa Tengah, 30 April 2006, mendapat perhatian luas di Malaysia. Kabar seputar teroris Melayu itu mendapat porsi besar di koran-koran Malaysia.


Secara umum warga Malaysia ingin agar Noordin Mat Top [begitu nama Noordin M Top di koran-koran Malaysia] sesegera mungkin diringkus polisi Indonesia. Ditangkap hidup-hidup atau ditembak mati, seperti Dr. Azhari Husin, tak jadi soal. Sebab, sepak terjang Noordin Mat Top ini dinilai sudah keterlaluan, sehingga merusak citra Malaysia di forum antarabangsa.

“Noordin Mat Top terus diburu,” begitu judul besar di koran Utusan Malaysia edisi 1 Mei 2006.

Koran Berita Harian, juga terbitan Kuala Lumpur, pun membahas cukup panjang peristiwa penggerebekan markas anak buah Noordin di Wonosobo akhir pekan lalu.

Sejumlah warga Malaysia yang saya temui di Kuala Lumpur dan Putrajaya rata-rata ‘kecewa’ karena si Noordin ini belum berhasil diringkus polisi.

“Lebih cepat ditangkap, lebih baik. Kita tak ingin keamaan di kawasan Asia Tenggara terus diganggu oleh ulah Noordin Mat Top dan kaki tangannya,” kata Nasaruddin Ibrahim, pemandu wisata di negara jiran itu.

Semenjak Dr. Azahari, pasangan Noordin Mat Top, tewas di tangan Densus 88 Polri di rumah kontrakan, Vila Flamboyan Blok A1/7, Batu, Malang, pada 9 November 2005, warga Malaysia sangat antusias mengikuti kabar seputar penggerebekan teroris di Indonesia. Televisi dan koran tempatan selalu mengikuti perkembangan operasi antiteror di Indonesia.

“Rakyat Malaysia tidak suka dengan cara-cara seperti dilakukan Noordin Mat Top dan Dr. Azahari. Itu jihad yang tidak islami. Jihad yang benar harus dilakukan dengan cara yang positif, bukan dengan terorisme,” kata Nasaruddin Ibrahim, ayah enam anak ini, serius.

Ibrahim berkali-kali menegaskan bahwa pemerintah Malaysia tidak pernah berkompromi dengan para terorisme dalam bentuk apa pun. Jangankan teroris, yang sudah jelas-jelas melakukan aksi pengeboman, bibit-bibit terorisme pun sejak dini mendapat perlawanan serius dari aparat negara.

Karena itulah, menurut Nasaruddin, orang-orang Malaysia yang ‘nyeleneh’ macam Noordin Mat Top atau Dr Azhari meninggalkan Malaysia dan membentuk jaringan di luar negeri.

“Di sini ada intel-intel yang bekerja 24 jam untuk memantau jaringan mereka. Mereka akan langsung dipegang kalau bikin ulah macam-macam,” kata Nasaruddin Ibrahim.

Tak heran, sejak awal 2000-an, pemerintahan Mahathir Muhammad gencar merazia rumah-rumah dan lembaga-lembaga pendidikan yang diyakini menjadi tempat pendidikan dan latihan para calon teroris.

Bukan itu saja. Kampanye antiterorisme dilakukan secara gencar lewat berbagai cara, di antaranya media massa. Kebetulan sekali, hampir semua media massa cetak dan elektronik di Malaysia punya kebijakan redaksional yang sejalan dengan pemerintah. Ini memudahkan pemerintah Malaysia menyebarkan pandangan-pandanannya soal keselamatan dan keamanan negara kepada warganya.

Dan, jangan lupa, di sana ada Internal Security Act, sejenis Undang-Undang subversi di Indonesia pada era Orde Baru, di mana aparat keamanan berhak menahan siapa pun yang dianggap berpotensi mengganggu keamanan negara tanpa proses hukum normal.

Dalam rangka kampanye antiterorisme itu, papar Nasaruddin, pemerintah Malaysia memberikan iming-iming hadiah besar bagi warga yang mengetahui keberadaan teroris atau calon teroris.
“Masyarakat bisa menelepon atau mengirim SMS kepada polis,” papar Nasaruddin.

"Jangan-jangan Noordin Mat Top sering berkomunikasi dengan keluarga di Malaysia, bahkan pulang kampung?" tanya saya.

“Oh, tak mungkin. Kalau pulang, pasti sudah dipegang intel polis. Noordin pun tak boleh bicara di telepon karena pasti sudah disadap. Tak ada tempat untuk Noordin Mat Top di Malaysia,” tegas Nasaruddin.

Menurut pria yang murah senyum ini, sejak beberapa tahun terakhir rumah Noordin Mat Top, Dr Azhari, serta kaki tangannya di Malaysia telah dikepung oleh intel sehingga sulit bagi mereka untuk pulang ke Malaysia.

Jangan heran, Noordin memilih 'mengamankan' diri di Indonesia, negara yang dianggapnya aman. Apalagi, banyak kaki tangan teroris yang melindunginya. Juga banyak pengacara yang pintar bersilat lidah untuk membenarkan berbagai aksi terorisme yang mencelakakan banyak orang itu.

18 June 2006

Nyanyi Klasik, Jantung Sembuh

Ang Swie Tjhaiy [65 tahun] tak pernah menyangka kalau bisa menyanyi di depan umum bersama sebuah orkes simfoni. Menyanyi klasik lagi!

"Seumur-umur saya nggak pernah tampil menyanyi di depan orang ramai. Paling satu dua kali di karaoke," ujar Ang Sarjono, sapaan pengusaha yang bermarkas di kawasan Jalan Raden Saleh Surabaya.

Ang mengaku sejak remaja suka menikmati musik, khususnya lagu-lagu romantis dan slow. Di rumah, Ang berusaha melantunkan lagu-lagu itu sebagai hiburan biasa.

"Nggak terpikir untuk menyanyi di depan umum. Saya ini kan pengusaha yang jauh dari urusan seni suara dan musik," paparnya kepada saya.

Namun, perjalanan waktu akhirnya 'memaksa' Ang Sarjono untuk menekuni dunia menyanyi secara serius. Sambil terus menekuni bisnis logam, tentu saja. Ayah dua anak kelahiran Surabaya, 22 November 1942, ini tiba-tiba terkena penyakit jantung.

Ia pun harus berobat rutin ke dokter, menelan begitu banyak obat. "Saya lakoni itu, tapi penyakitnya nggak sembuh-sembuh," tutur Ang.

Suatu ketika, sang dokter bertanya, "Pak Ang ini hobinya apa?"

Ang menjawab sekenanya, menyanyi! "Ya, sudah, mulai sekarang Anda harus latihan menyanyi. Carilah guru nyanyi yang baik biar nyanyinya nggak karuan!" tutur Ang menirukan kata-kata dokter spesialis jantung.

Ang akhirnya dipertemukan dengan Xiao Cia, guru vokal asal Korea di Surabaya. Xiao Cia ini dinilai sangat keras dan disiplin. Olah vokal dan olah pernapasan harus dilakukan sungguh-sungguh, layaknya penyanyi klasik beneran. Suara pun harus dikeluarkan secara maksimal.

"Jadi, setiap kali menyanyi jantung saya dipacu untuk bekerja keras. Pernapasan jalan, pokoknya seluruh organ tubuh ikut bekerja. Saya merasa, oh, ternyata inilah terapi yang harus saya jalankan untuk meyembuhkan penyakit jantung saya," tutur Ang Sarjono dengan wajah berseri-seri.

Untuk kesehatan, Ang berpendapat bahwa menyanyi lagu biasa--apalagi sekadar di karaoke--sama sekali tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah teknik vokal secara baik dan benar.

"Dan menurut pengetahuan saya, hanya teknik seriosa yang bisa. Kalau nyanyi di karaoke itu kan kayak orang ngomong saja. Nggak ada tantangan sama sekali, nggak bakalan keringat, jantung nggak ikut terpacu," papar Ang, serius.

Setelah dua tahun menekuni seni suara--tanpa bermaksud menjadi vokalis klasik--Ang Sarjono mengecek kesehatannya ke dokter. Bukan main! Ternyata, kondisi jantungnya semakin baik.

Ang Sarjono semakin terpacu untuk berguru di Xiao Cia, kemudian menerapkan hasil latihan di rumahnya.

"Suaranya keras sekali, tapi enak. Saya sendiri kaget kok sekarang suara suami saya seperti penyanyi profesional," papar Li Yuliani, istri Ang Sarjono.

Pada tahun ketiga, Ang Sarjono kaget bukan kepalang. Kenapa? Penyakit jantung yang diidapnya hilang sama sekali. Sembuh total.

"Sekarang ini saya sudah tidak lagi makan obat. Obat saya, ya, menyanyi dan menyanyi terus," ujar Ang Sarjono.

Suatu ketika, Ang Sarjono menyanyi santai bersama rekan-rekan bisnis di sebuah restoran. Tak dinyana, Solomon Tong, dirigen Surabaya Symphony Orchestra, berada di situ.

"Saya kaget, kok ada orang yang sudah sepuh suaranya bagus sekali," papar Solomon Tong.

Tong kemudian menelepon Ang Sarjono untuk diminta tampil dalam sebuah konser SSO di Hotel JW Marriott beberapa waktu lalu. Penggemar musik klasik terkejut, tak menyangka, ada lansia bisa menyanyi dengan baik.

Permintaan Tong diteruskan ke Xiao Cia, sang guru. Mereka berdua berlatih membawakan komposisi terkenal karya G. Verdi Brindisi. Komposisi yang sangat lincah dibawakan dengan apik oleh Ang Sarjono dan Xiao Cia.

Mudah-mudahan tambah sehat, Pak!

16 June 2006

Balawan di FSS 2006


Menjalin Dialog antara Timur dan Barat

Jumat, 16 Juni 2006

Tak salah kalau panitia Festival Seni Surabaya (FSS) memilih I Wayan Balawan (33) sebagai pamungkas perhelatan yang dimulai pada 1 Juni lalu. Kamis (15/6) malam, Balawan bersama grupnya, Batuan Ethnic Fusion, berhasil menerjemahkan dengan baik Dua Dunia: Perubahan dan Kesinambungan, tema FSS ’06.

Dengan gitar leher ganda (two necks guitar) buatan Julius Salaka asal Porong, Sidoarjo, Balawan memosisikan diri sebagai wakil dunia ‘moderen’, sementara para pemain instrumen Bali mewakili kubu ‘tradisi’. Dua kubu ini diupayakan agar bisa berjalan seiring. Dan itu tidak mudah mengingat karakter musik Barat dan Timur pada dasarnya memang beda.

''Saya akui memainkan musik seperti ini tidak gampang. Kami harus terus-menerus melakukan dialog, saling menyesuaikan diri, terus-menerus,” ujar Balawan kepada saya.

Sadar bahwa penonton Indonesia kurang akrab dengan ramuan musik jazz etnik, Balawan banyak bercanda dengan penonton. Mulai cerita-cerita ringan tentang Bali hingga logat orang Bali yang ‘aneh’. Lebih istimewa lagi si ‘magic finger’ ini dikarunia talenta musik luar biasa yang membuat dia bisa mengocok perut penonton dengan bebunyian aneh dari gitarnya.

“Main apa ya? Panitia bilang pokoke main saenake awe, ya wis... kita ngawur-ngawuran saja,” ujar Balawan enteng. Penonton gerrr.

Begitulah. Komposisi-komposisi jazz etnik versi Balawan malam itu memang ‘ngawur-ngawuwan’, rancak, dinamis, penuh improvisasi, yang bikin penonton terpingkal-pingkal. Diawali Bird Song, kemudian Janger, Magic Reong, Country Beleganjur, Globalism, Meli Tuak, bahkan What a Wonderful World (dari Louis Armstrong) diracik sedemikian rupa sejalan dengan karakter musik Bali yang memang dinamis.

“Unsur kecepatan dan kelincahan Bali itu yang saya eksplorasi,” tutur lulusan Austalian Institute of Music, Sydney, itu. Karena itu, Balawan mengaku bingung menemukan komposisi slow untuk mendinginkan suasana konser di Balai Pemuda yang panas karena AC rusak berat.

Secara umum, kelebihan Balawan adalah penguasaan teknik gitar yang dahsyat serta penguasaannya pada musik tradisi kampung halamannya, Bali. Ditambah dengan modifikasi gitar made in Sidoarjo, Balawan dengan enteng mampu menghasilkan sekian macam bunyi. Di nomor Dialogue Frogman and Reong, misalnya, Balawan menghasilkan percakapan antara katak dengan seorang gadis (atau waria). Bercanda, membentak, marah-marah, menggelundungkan batu besar, hingga rayuan gombal. Sekitar 500 penonton pun sakit perut lantaran terlalu banyak tertawa.

Wayan Balawan mengatakan, gitar synthesizer dua leher yang ia miliki sekarang membuat ia bisa membuat suara atau bebunyian apa saja tanpa kesulitan.

“Yah, mirip keyboard-lah. Kalau ditanya berapa jenis bunyi yang bisa dihasilkan, saya jawab tidak terbatas. Bunyi apa saja bisa. Dan itu yang saya eksplorasi di Festival Seni Surabaya ini,” ujar gitaris muda itu.

Konsep ‘Dua Dunia’ juga diusung grup jazz etnik Krakatau bersama Rafli (seniman Aceh) pada pembukaan FSS, 1 Juni lalu. Kalau Balawan mengusung kerangka musik tradisi Bali, Krakatau berangkat dari musik tradisi Nanggroe Aceh Darussalam yang tak kalah ancak dan eksotis.

Seperti Balawan, Dwiki Dharmawan sejak awal meniatkan Krakatau sebagai grup jazz yang berakar pada musik tradisi Nusantara, namun tetap dibalut dengan musik Barat universal. Nada-nada pentatonis Timur diusahakan kawin dengan diatonis Barat.

Ini bisa dibaca sebuah langkah nyata membangun dialog Timur-Barat secara berkesinambungan, terus-menerus, ajek, kendati tidak mudah. Di musik, khususnya jazz, dua peradaban itu tidak dibenturkan--ingat tesis The Clash of Civilization dari Samuel P Huntington--tapi dipadukan.

Mudah-mudahan inti pesan FSS ’06--Dua Dunia: Perubahan dan Kesinambungan--yang berhasil disajikan Balawan dan Kakatau, bisa menyebar di Tanah Air.

15 June 2006

Buby Chen


Oleh AGUS WAHYUDI
Wartawan Radar Surabaya

Tidak ada yang lebih mengasyikkan bagi Bubi Chen selain bermain piano. Bagi sang legenda jazz Indonesia, bermain piano seperti orang berbicara. Berdialog. Dia bisa memainkan jari-jemarinya, melekuk-lekuk memencet tuts-tuts dengan lincah. Seperti ada impuls yang terus membimbingnya tanpa pernah ingin berhenti.


Itulah yang dilakukan Bubi Chen pada 12 Oktober 2002. Saat itu ia hadir dalam Konser Jazz Bubi Chen & Launching Piano Kuno, berbarengan dengan penampilan Gerard Mosterd, koreografer asal Belanda.

Bubi Chen yang tampil di konser jazz yang digelar Unit Pelayanan Teknis Dinas Balai Pemuda (Surabaya) itu serasa terbuai. Ia memainkan piano kuno bermerek GrotnanSteinmeg. Piano itu peninggalan Belanda yang sudah berumur 96 tahun, dihitung sejak Balai Pemuda berdiri tahun 1907.

Yang paling mengesankan, Bubi yang telah malang melintang di berbagai even baik berskala nasional maupun internasional ternyata pernah memainkan pian itu saat itu berusia 16 tahun. Ia acap mengiringi acara dansa yang dihadiri menir-menir dan noni-noni Belanda.

Pengakuan Bubi Chen ini mengejutkan Nirwana Juda, kepala UPDT Balai Pemuda. Sebab, dia sendiri sebelumnya buta akan piano itu. Katanya, saat ia ditempakan di Balai Pemuda piano itu nyaris tidak terawat. Dibiarkan tergeletak begitu saja di salah satu ruangan Balai Pemuda. Nah, akhirnya muncul ide untuk memamerkan piano itu. Tapi itu semua butuh perjuangan ekstra. Ya, untuk memindahkan piano itu dari kantor ke Gedung Utama Balai Pemuda yang jaraknya 10 meter harus diusung 25 orang. Belum lagi piano itu harus disetem hampir setengah hari.

Lantas, saat memainkan piano tua itu Bubi Chen sempat memutar memori lama saat ia memainkan komposisi lawas ‘Surabaya Oh Surabaya’. Komposisi cukup nostalgis. Mengingat komposisi itu seakan membuka lembaran masa silam, yang bertutur tentang semangat perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah. Saat tampil di Balai Pemuda setelah puluhan tahun, Bubi Chen juga mengungkapkan kekagumannya, terutama pada bangunan fisik Balai Pemuda.

Katanya, “Saya tak bisa membayangkan betapa kokohnya gedung ini setelah sekian tahun saya tak mengunjunginya.”

Balai Pemuda memang estetik. Langgam arsitekturnya yang mewarnai corak bangunan pergantian abad 19 ke 20 itu sangat beragam, dipengaruhi perkembangan arsitektur di Belanda. Di antaranya, neogotik, neorenaisans, neoklasik, niewe kunst (art nouveau versi Belanda), Amsterdam School, dan de stijl, yang berpengaruh pada aliran asitek kolonial di Surabaya.

Pengaruh itu juga bisa dilihat dari dominasi arsitek-arsitek Belanda yang berkarya di Indonesia. Keunikan yang membedakan arsitektur masa lalu Indonesia dengan negeri lain adalah kondisi bangunan di Indonesia telah disesuaikan dengan kondisi sosial, budaya, dan iklim tropis Indonesia.

Di mata Bubi Chen, fungsi Balai Pemuda seyogianya menggugah kesadaran seniman Surabaya. Hanya saja, lagi-lagi soal keterbatasan ruang untuk berekspresi dan modal menjadi kendala utama. Jika musik jazz ingin digairahkan lagi, Bubi Chen sepenuhnya percaya akan lahir musisi-musisi jazz berbobot dari Surabaya. Lahirnya musisi-musisi andal itu sangat memungkinkan mengingat Surabaya memang sempat menjadi barometer jazz di Tanah Air.

Untuk memulainya, Bubi Chen menawarkan langkah yang paling sederhana. Yakni, dengan menggelar secara periodik pergelaran musik jazz tiga bulan sekali. Dari situ akan terbentuk komunitas jazz yang selama ini terlihat tidur.

Apa yang dikatakan Bubi Chen tersebut diamini Ireng Maulana dan Margie Segers. Saat tampil bareng dalam konser jazz pada 19 Desember 2003, Ireng yang dikenal sebagai gitaris serba bisa berucap, “Jangan pernah lupakan sejarah. Surabaya dulu adalah barometer musik jazz di Tanah Air.”

Ireng Maulana mengunkapkan rasan-rasan para musisi jazz dulu seperti Maryono, Bill Saragih, Jack Lesmana, Benny Mustofa, Benny Likumahuwa, dan masih banyak lagi. Kata mereka, kepuasan belum klimaks kalau belum bisa tampil di Surabaya dan beroleh sambutan meriah. Bahkan, ucap Ireng, Surabaya pantas bersyukur punya Bubi Chen. Dia telah memberikan banyak inspirasi dan kenangan bagi musisi-musisi jazz di Tanah Air.

Lahir di Surabaya 9 Februari 1938, Bubi Chen mulai aktif bermain piano sejak umur tiga tahun. Dia mulai belajar serius umur lima tahun. Saat itu ayahnya, Tan Khing Hoo, menitipkan Bubi kepada Di Lucia, seorang pianis berkebangsaan Italia, untuk belajar piano. Kendati belum bisa membaca, bahkan memahami not balok, Di Lucia bisa mengajarinya.

Ketertarikan mempelajari jazz lantaran Bubi Chen sering melihat latihan dan pertunjukkan kakak-kakaknya, Jopie dan Teddy Chen. Ia sempat belajar piano klasik dengan Josef Bodmer, guru piano berkebangsaan Swiss, dan menekuni musik-musik karya Mozart, Beethoven, dan Chopin.

Tatkala belajar bersama Bodmer ini, suatu ketika Bubi tertankap basah oleh sang guru sedang memainkan aransemen jazz. Bodmer tidak marah, justru malah berpesan, "Saya tahu jazz adalah duniamu yang sebenarnya. Oleh karena itu, perdalamlah musik itu.” Bubi Chen belajar cukup lama hingga umur 16 tahun pada Josef Bodmer.

Bubi Chen belajar jazz secara otodidak. Dia mengikuti kursus tertulis pada Wesco School of Music, New York, antara tahun 1955-1957. Salah satu gurunya adalah Teddy Wilson, murid dari tokoh swing legendaris Benny Goodman. Sejak anak-anak bakat Bubi Chen sudah terasah. Ia mengaku senang mendengarkan musik jazz. Dari seni Tatum sampai Artie, dan Benny Goodman.

Bersama mendiang Jack Lesmana, mendiang Maryono, Kiboud Maulana, Benny Mustofa dan kakaknya, Jopie Chen, ia juga tergabung dalam Indonesian All Stars. Kelompok ini sempat berangkat dan tampil di Berlin Jazz Festival pada 1967. Setelah itu mereka rekaman dan menelurkan album yang kini menjadi barang langka, Djanger Bali. Album ini digarap bersama seorang klarinetis ternama asal Amerika Serikat Tony Scott.

Bubi Chen pernah membuat rekaman jazz bersama Nick Mamahit (pianis jazz terkenal, almarhum, red) dan diproduseri Suyoso Karyoso yang akrab dipanggil Mas Yos. Tahun 1959 bersama Jack Lesmana, Bubi Chen membuat rekaman di Lokananta. Rekaman bertitel Bubi Chen with Strings ini pernah disiarkan oleh Voice of America dan dikupas oleh Willis Conover, kritikus jazz ternama dari AS.

Bubi Chen juga pernah membentuk Chen Trio bersama saudaranya Jopie Chen dan Teddy Chen di tahun 1950-an. Di tahun yang sama ia juga bergabung dengan Jack Lesmana Quartet yang kemudian berganti menjadi Jack Lesmana Quintet. Di Kota Pahlawan, Surabaya, Bubi Chen membentuk sebuah grup bernama The Circle bersama Maryono (saksofon), FX Boy (bongo), Zainal (bas), Tri Wijayanto (gitar), dan Koes Syamsuddin (drums).

Bubi Chen menularkan ilmu yang dimilikinya. Beberapa di antara ‘murid’ Bubi yang cukup dikenal antara lain Abadi Soesman, Hendra Wijaya, Vera Soeng, dan Widya Kristanti.

Bubi Chen telah merilis banyak album. Beberapa di antaranya: Bubi Chen and His Fabolous 5, Mengapa Kau Menangis, Mr Jazz, Pop Jazz, Bubi Chen Play Soft and Easy, Kedamaian (1989), Bubi Chen and His Friends (1990), Bubi Chen-Virtouso (1995), Jazz the Two of Us (1996), All I am (1997)... dan masih banyak lagi.

Kemampuan Bubi Chen ini mendapat dukungan keluarganya, yang sama-sama berbakat main musik. Teddy Chen, kakak tertua, pemain biola jempolan, juga tertarik dengan jazz. Kakak dan ayahnya, pemain biola, memang lebih tertarik dengan musik jazz. Tahun 1965 Bubi Chen sempat bergabung dengan band pimpinan Tonny Scott, pemain jazz dari Amerika Serikat. Tony Scott akhirnya memilih Bubi Chen bergabung dengannya dalam tur-tur musik jazz.

Tahun 1967 Bubi Chen membuat konser keliling Eropa dengan sejumlah bintang Indonesia, antara lain Jack Lesmana (gitar), Jopie Chen (bas), Maryono (saksofon), Benny Mustafa (drum), dan Kiboud Maulana (gitar kedua). Dia juga tampil berkolaborasi bersama Tonny Scott di kelompok jazz bersama Albert Mangelsdorf, Benny Bailey, dan Philly Joe Jones. Dan pada tahun yang sama Bubi Chen tampil lagi bersama Tonny Scott pada festival jazz di Berlin dan mendapatkan predikat sebagai pemain piano internasional (band internasional). Joachim Ernst Berendt, pengamat jazz dari Jerman, memanggilnya sebagai Tatum se-Asia.

Yamaha mengundangnya berkunjung ke pabrik dan sekolah musik Yamaha di Jepang. Pemerintah Australia mengundangnya berkunjung ke Australia, mengadakan penelitian, dan membuat perbandingan antara pendidikan musik dan pertukaran musisi pada 1979. Di tahun 1984, pemerintah Amerika Serikat mengundangnya tampil bersama saudaranya (Percy, Jimmy, dan Albert) dan Woody Shaw Quintet. Selama melawat dia membuat sebuah album jazz trio bersama Albert ‘Tootie’ Heath dan John Heard dan album jazz duet dengan pemain bass bernama Paul Langosh. Bubi Chen juga sempat mengunjungi dan meneliti beberapa konservasi musik dan sekolah di AS, dan berbincang-bincang dengan Willis Cannover dari Voice of America (Music USA).

Bubi Chen tak pernah melewatkan masa mudanya. Pernah suatu ketika Bubi Chen dan teman-temannya berangkat ke Pulau Garam, Madura. Kala itu ia berniat mencari sasaran yang bagus untuk objek foto, salah satu hobinya. Namun, di tengah jalan mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Bubi yang duduk di depan telempar ke luar setelah membentur kaca depan yang hancur berantakan.

Bubi ingat, ketika sadar sudah tengkurap di rerumputan pinggir jalan. Lalu, apa yang pertama dilakukannya? Bubi langsung menggerakkan sepuluh jemari tangannya. Setelah tahu jemari itu masih utuh dapat digerakkan, Bubi pingsan lagi.

“Kupikir, waktu itu biarlah semuanya rusak asalkan janan jemari ini. Artinya, aku masih bisa main piano,” ucap Bubi Chen seraya tertawa. Akibat kecelakaan itu, wajahnya harus dijahit dan dia mengalami gegar otak ringan.

Bubi Chen adalah pianis yang seluruh jiwanya dicurahkan kepada musiknya. Apa pun yang keluar dari tangannya pada piano selalu mencerminkan musikalitasnya yang berakar pada jazz. Karyanya juga kerap menghiasi stasiun radio, misalnya Radio KFAI 90.3 FM di Minneapolis, KUSP 88.9 FM di Santa Cruz, California, AS, yang menyiarkan nomor dari Bubi Chen dalam acara Global Beat.

Bubi juga punya hobi khusus dalam melatih kesabaran: merakit miniatur mesin perang. Hobi ini, kata dia, bisa menekan emosinya yang sejak muda mudah sekali marah. “Atas saran dokter saya diajurkan melakoni hobi yang bisa mengendalikan emosi. Lantas, saya coba memancing tapi gagal karena tak sabar. Kemudian saya bealih ke hobi utak-atik. Hingga sekarang koleksi hasil hobi saya sudah beraneka ragam,” paparnya.

Untuk merakit miniatur ini Bubi Chen butuh waktu 30 sampai 40 jam. Bahkan, bila ditotal mencapai dua tahun. Bubi menyelesaikan setiap ada waktu luang. Lama waktu merakit bergantung pada mudah-sukarnya bentuk pesawat. “Terkadang ada pesawat yang terlihat simpel bentuknya, tapi ternyata rumit bagian-bagiannya,” kata Buby Chen.

Siapa sangka kalau Bubi Chen sejak kecil memang sangat menggemari perang. Namun, bukan berarti ia cinta peperangan. "Saya gemar membaca cerita, perlengkapan, dan trik perang melalui buku-buku. Kalau dihitung, sudah tak terhitung lagi buku-buku saya soal perang,” katanya.

Kegemaran ini dilakoninya sejak awal 1960-an. Ketika itu ia membeli miniatur pesawat tempur dan tank tempur yang masih belum berbentuk. Koleksi-koleksi itu semula didapatkan dari Amerika Serikat dan Inggris. “Dulu mendapatkannya sangat sulit, sehingga saya mendatangkan langsung dari AS dan Inggris sebanyak satu peti tiap kali datang. Kalau sekarang mungkin sudah banyak, ya, di Surabaya.”

Sedikitnya 300 buah telah selesai dia rakit. Dia sendiri masih menyisakan sejumlah rakitan. Pesawat-pesawat itu mirip benar dengan aslinya meski bentuknya kecil. Namanya juga miniatur. Kalau pesawat aslinya terkena bom pada bagian lambungnya, maka pesawat yang dirakit Buby pun gosong warnanya seperti kena bom.

"Memang ada rasa kesal saat merakit. Tapi setelah jadi pesawat tank dan tempur, saya measa senang dan puas. Saya nggak peduli diolok teman (saya) seperti anak kecil. Kalau saya mengunjungi toko mainan untuk membeli koleksi, teman-teman pasti mengatai saya mengunjungi TK,” ujar Bubi Chen lalu terkekeh.

Di usianya yang mulai merapat senja, Bubi Chen sangat mensyukuri hidup. Dia tak pernah ngersulo (mengeluh), puluhan tahun bergelut di musik jazz. Baginya, jazz telah memberinya spirit untuk tetap hidup. Dan jazz telah memberikan kedamaian hati hingga membawanya sebagai sang maestro jazz Indonesia.

BIODATA SINGKAT

Nama : Bubi Chen
Lahir : Surabaya, 9 Februari 1938
Alamat : Jl Kupang Indah I/16 Surabaya
Istri : Endang Sulisetyaningsih
Anak-anak : Howie Chen, Benny Chen, Yana Chen, Serena Chen

13 June 2006

TKI Dibayar Murah di Malaysia


Ini suasana di Putrajaya, ibukota [ibu pejabat] Malaysia. Sepi, panas... tapi ditata dengan bagus. Indah nian. Hampir semua kantor menteri dan pejabat tinggi Malaysia disatukan di sini. Kapan ya Indonesia punya konsep menata kantor-kantor pemerintah macam di Malaysia?


Tenaga kerja Indonesia di Malaysia sebenarnya dibayar sangat murah dibandingkan pekerja asli Malaysia. Toh, ribuan TKI terus berdatangan ke negara jiran itu.

Untuk ukuran Malaysia, Mohammad Nasruddin bin Ibrahim termasuk keluarga besar. Saat ini rata-rata warga Malaysia hanya punya dua anak.
Nasruddin punya enam anak kandung dan satu anak angkat.

Meski begitu, pria asal Johor ini bahagia karena mampu memenuhi kebutuhan anak istrinya. Selain menjadi pemandu wisata, Encik Nas membuka usaha kelontong kecil-kecilan di dekat rumahnya.

“Lumayan untuk tambah uang saku anak,” katanya kepada saya di Putrajaya, pusat pemerintahan Malaysia, di luar Kuala Lumpur.

Lalu, berapa penghasilan Nas sebulan?

“Yah, sekitar RM 11 ribu [Rp 27,5 juta lebih] per bulan. Tapi, kalau lagi ramai pelancong, bisa kali dua,” beber Nas.

Artinya, take home pay Encik Nas mencapai Rp 55 juta. Luar biasa untuk ukuran kita, tapi biasa-biasa saja untuk Malaysia.

Berapa pula upah buruh rendahan?

Pemerintah Malaysia mematok upah minimal 2.000 ringgit atau sekitar Rp 5 juta per bulan.

“Tapi, jarang sekali pekerja kami berpenghasilan seperti itu. Biasanya jauh lebih tinggi,” ucap Nas yang ramah dan murah senyum itu.

Menurut Encik Nas, perkembangan ekonomi yang sangat pesat membuat lapangan pekerjaaan, khususnya tenaga kasar, terbuka luas di Malaysia. Pekerjaan banyak, khususnya bidang konstruksi.

Orang Malaysia sendiri kurang suka pekerjaaan kasar karena tersedia banyak lowongan di kantor, jasa, atau perniagaan. Penghasilan pun lebih elok lah. Di sinilah TKI datang mengisi lowongan kerja kasar itu.

“Saya rasa, dua juta lebih orang Indonesia bekerja di sini,” tutur Encik Nas.

Saya kemudian betemu dengan Slamet Widodo, pemuda asal Bantul, Jogjakarta. Dia telah tiga tahun bekerja sebagai kuli bangunan di Sepang, tak jauh dari Kuala Lumpur. Tinggal di rumah susun bersama 100-an orang Indonesia [kebetulan semuanya suku Jawa], Slamet dengan tekun mengais ringgit di situ.

“Majikan saya orang China Malaysia,” ujarnya.

Menurut Slamet, sebagian besar TKI bekerja di proyek konstruksi sebagai buruh harian lepas. Mula-mula ia dibayar 28 ringgit per hari atau sekitar Rp 70 ribu. Upah itu harus dipotong untuk perusahaan jasa tenaga kerja (PJTKI), yang sudah berjasa mengirimnya ke Kuala Lumpur.

“Saya bayar 1.470 ringgit kepada PJTKI setiap bulannya. Gaji langsung dipotong selama enam bulan,” papar Slamet Widodo.

Ini berarti PJTKI mengutip uang Rp 22 juta dari seorang TKI macam Slamet Widodo. Belum uang muka Rp 800 ribu yang harus dibayar saat hendak berangkat ke Malaysia. Panen uang inilah yang menggoda begitu banyak orang Indonesia untuk mendirikan PJTKI fiktif.

Slamet sendiri pasrah karena di Jogja ia sulit mendapat pekerjaaan layak. “Mau kerja apa? Ijazah saya hanya SMP,” ujar pria berusia 25 tahun ini.

Nah, setelah kinerjanya dinilai bagus, beberapa bulan kemudian upah Slamet naik menjadi 35 ringgit [sekitar Rp 87.500] per hari. Ditambah uang lembur, bonus, uang kaget, Slamet mengaku bisa mendapatkan uang 500 ringgit [Rp 1,25 juta] per bulan.

“Kalau dibandingkan sama orang Melayu sih jauh banget lah. Mereka kan paling apes 2.000 ringgit.
Tapi jelas lebih baik ketimbang di Indonesia kita nggak punya penghasilan,” ujar Slamet seraya tertawa kecil.

Enaknya, Slamet dan kawan-kawan yang bekerja di Projek Palma Tropika, Sepang, ini mendapat fasilitas flat gratis. Tidak mewah memang, tapi cukup memadai sebagai tempat tinggal para bujangan.

“Kerja di sini kami dilarang bawa istri. Jadi, semua TKI di tempat saya itu bujangan. Kalau saya memang bujang tulen karena belum pernah menikah,” kata pria kelahiran Pajangan, Bantul, Jogjakarta, itu.

Mereka juga mendapat fasilitas kesehatan dari tauke alias majikan. Saat Lebaran maupun Imlek, Slamet dan kawan-kawan mendapat bonus lumayan. Karena itu, selama tiga tahun dia bisa menabung dan mengirim sebagian penghasilannya ke kampung halaman.

“Sekarang saya mau pulang untuk buka usaha di kampung,” ujarnya, bangga.

Begitulah.

Penghasilan warga negara Malaysia dan Slamet Widodo [TKI] sungguh kontras. Encik Nas dalam sebulan bisa mengantungi uang Rp 55 juta, sementara Mas Slamet cukup Rp 1,25 juta.

Toh, mereka sama-sama puas. Namanya juga kerja di negara orang. Bisa kerja saja sudah syukur, Cak!

07 June 2006

Dukun Main Bola

Agama Katolik sudah ratusan tahun masuk Flores Timur, ksususnya di Kota Larantuka. Tapi kepercayaan lama terhadap dukun, suanggi, tukang sihir, NAKAW/MENAKA, pemali… masih sangat terasa sampai sekarang. Paham-paham gereja masih belum diterima 100 persen.

Karena itu, setiap menjelang pertandingan sepak bola antarkampung para dukun kampung ini dimintai bantuan untuk membacakan mantra dan doa-doa agar timnya menang. Tim lain pun melakukan hal yang sama: minta restu dukun-dukun dan tuan-tua adat kampung.

“Kalau tidak minta, saya kurang mantap,” ujar Petrus, teman saya, bekas pemain bola jempolan.

Ironis, karena turnamen antarkampung biasanya digelar bersamaan dengan Paskah atau Natal, hari raya umat kristiani. Kenapa tidak berdoa saja secara Katolik (atau Islam untuk yang muslim)? Memang dilakukan juga, tapi jasa dukun tidak bisa dicampakkan begitu saja.

Setelah si dukun membaca mantra, para pemain diberi minum air putih. Katanya, sudah diberi ‘isi’ sehingga mereka nanti bisa bermain bagus, penuh semangat, tidak lekas loyo. Bola yang akan dipakai dalam pertandingan pun disirami air putih. Untuk apa?

Katanya, agar menguntungkan tim kita, sebaliknya merugikan tim lawan. Kalau bisa diusahakan agar bola yang sudah disirami air sakti itu yang dipakai dalam pertandingan 2 x 45 menit.

Pernah gawang klub kampung kami kebobolan banyak sekali. Lebih dari lima gol, sementara kami hanya membalas satu gol. Kiper kami yang biasanya cekatan, tangkapannya lengket, waktu itu (1980-an) tampil sangat buruk. Bola yang tidak begitu berbahaya pun tak bisa ditangkap atau dihalau dengan baik.

Kami semua penasaran. Ada apa ini?

“Bagaimana bisa menangkap dengan baik? Saya melihat bola yang datang ke gawang itu bukan satu tapi tiga. Ternyata yang saya tangkap itu bayangannya bola. Bola aslinya masuk gawang,” ujar sang kiper.

Sulit dibuktikan karena hanya dia yang bisa menyaksikan dua bola palsu plus bola beneran masuk ke gawang. Jangan-jangan hanya dalih si kiper yang kebetulan waktu itu tidak konsentrasi. Bisa juga karena dukun tim lawan lebih tangguh ketimbang dukun kami. Dukun lawan dukun, ya, beginilah hasilnya.

Saya baca di koran, sejumlah tim nasional yang berlaga di Piala Dunia 2006 Jerman (7 Juni sampai 7 Juli) pun tidak lupa membawa dukun (alias tim spiritual) untuk memaksimalkan potensi timnya.

Di Jawa Timur tim-tim terkenal seperti Persebaya, Deltras, Arema, Persema, Persik, Persekabpas… tak pernah lupa sowan ke ‘kiai-kiai sepuh dan khos’ menjelang pertandingan-pertandingan besar.

Wualah… dukun main bola ternyata tidak hanya ada di Flores!

Piala El Tari

Sudah banyak gubernur yang memimpin Nusa Tenggara Timur (NTT), tapi yang terkenal hanya sedikit. Menurut saya, hanya ada dua gubernur yang punya jejak besar di Bumi Flobamora: El Tari dan Ben Mboi.

Nama El Tari ini diabadikan sebagai nama bandara di Penfui, Kupang, serta turnamen sepak bola antarkabupaten. Piala El Tari atau juga disebut El Tari Memorial Cup selalu heboh, membangkitkan fanatisme kedaerahan, meskipun skopnya hanya di NTT.

Pemenangnya belum layak diangkat ke tingkat nasional karena kualitas yang masih jauh dari standar bola Indonesia. Biasanya, El Tari Cup digelar di Stadion Merdeka, Kupang, karena pertimbangan fasilitas lebih bagus, lebih ‘netral’, panitianya berpengalaman.

Yang tak kalah penting, orang-orang daerah umumnya senang sekali menikmati keramaian di ibukota NTT itu. Kalau harus digelar di daerah, katakanlah Kalabahi, akan sangat repot. Penginapan. Makan-minum. Transportasi.

Seingat saya, dari 12 kabupaten (sekarang mekar jadi 15), hanya beberapa kesebelasan/kabupaten yang termasuk unggulan. Yakni, Kupang, Flores Timur, PS Ngada, Sikka, Ende, Manggarai. Ini merupakan lumbung pemain-pemain ‘berbakat alam’ yang kemudian mencuat di kancah sepak bola regional dan nasional.

Beberapa nama layak disebut: Johanes Geohera, Herry Ratu, Cor Monteiro, Valens Fernandez, Sinyo Aliandu, Edward Mangilomi, Nimus Buyanaya.

Waktu saya remaja dulu, Perseftim (Flores Timur) senantiasa diperhitungkan di ajang El Tari Cup. Lawan abadinya adalah PSK (Kupang), PSN (Ngada), PS Sikka. Begitu serunya pertandingan, sehingga kerap kali dilakukan adu penalti untuk menentukan jawara. Saya yang dulu selalu mengikuti laporan pandangan mata pertandingan via RRI Kupang ikut hanyut bersama ribuan penonton yang melihat langsung di stadion.

Saya tidak tahu persis kelanjutan turnamen El Tari Cup ini. Dia ibarat ‘Piala Dunia’ mini khusus di NTT. Hasilnya, ya, kebanggaan daerah yang menang, tidak lebih. Tidak ada kelanjutan untuk peningkatan mutu bola kaki secara keseluruhan karena lingkupnya memang hanya di NTT.

Kalau sekadar ramai-ramai, okelah. Tapi di masa sekarang, ketika bola kaki menjadi industri yang luar biasa, seharusnya pemerintah daerah mengevaluasi lagi Piala El Tari: diubah, modifikasi, atau diteruskan seperti selama ini.

Sudah saatnya pemda berpikir makro. Memajukan bola kaki NTT agar diperhitungkan di tingkat nasional. Buat apa hanya main di NTT lantas buyar? Saya salut dengan kerja keras PS Ngada yang berusaha mencuat lewat kompetisi Divisi II PSSI meskipun masih terseok-seok.

Kristenisasi Sontoloyo



Gereja Katolik Paroki Situbondo, Jawa Timur, yang dibakar bersama 11 gereja Protestan, Pentakosta, dan Karismatik pada awal Oktober 1996. Pembakaran massal ini dipicu oleh isu Kristenisasi. Sontoloyo!


EMPAT puluh hari setelah Paskah (kebangkitan), Yesus Kristus naik ke surga. Selama 40 hari itu, Yesus bolak-balik menampakkan diri kepada para pengikut-Nya dalam berbagai cara.

“Masih banyak hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus. Tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu,” kata Rasul Yohanes (Yoh 21:25).

Momentum kenaikan Yesus, yang sudah lama ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional, mengandung amanat penting–sangat penting–bagi Kristianitas. Memang, hari ini tak ada perayaan dan pesta meriah layaknya Natal atau Paskah, tapi dimensi rohaninya justru sangat signifikan. Sebab, Yesus sempat menyampaikan amanat agung kepada 11 pengikut (Mrk 16:14-20).

Amanat agung yang sangat penting itu bisa kita baca di ayat 15: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk!”

Perintah ini secara populer biasa disebut ‘Kristenisasi’. Dalam sejarah, kita tahu, bagaimana sejumlah ‘negara Kristen’ menyisipkan misi Kristenisasi ini dalam petualangannya ke seluruh dunia. Trias G–Gold (kekayaan), Gospel (pekabaran Injil), dan Glory (kejayaan)–diselundupkan dalam misi mereka. Begitu banyak dampak negatif, yang terjadi gara-gara pekabaran Injil diselundupkan dalam imperialisme.

Begitu banyak tradisi budaya lokal hancur. Penduduk lokal banyak dipaksa untuk menganut agama baru, dipaksa untuk percaya kepada Juru Selamat yang tak mereka kenal. Agama (religi) asli setempat dianggap ‘kafir’, karena itu, harus diganti dengan peradaban baru.

Perlawanan pun terjadi, sehingga begitu banyak misionaris dibantai, termasuk di Indonesia. Darah misionaris menyeburkan iman, begitu kata satu pepatah. Dan, memang, ada dampak ‘positif’ di mana Injil bisa tersebar ke mana-mana, termasuk bumi Nusantara.

Tapi, di balik itu semua, misi Trias G yang dipaksakan pada abad ke-14 meninggalkan stigma atau cap buruk di Indonesia sampai hari ini. Stigma buruk karena penjajah–yang jelas-jelas memelintir amanat agung Yesus Kristus beberapa menit sebelum naik ke surga–disalahtafsirkan. Maka, muncullah image buruk tentang Kristenisasi sampai hari ini.

Orang–di luar Kristen, tentu saja–mengartikan Kristenisasi sebagai gerakan sistematis, masif, terencana, berdana tak terbatas, untuk mengkristenkan warga yang belum menganut agama Kristen. Seakan-akan Kristenisasi adalah sebuah gerakan untuk memurtadkan (proselitasi) orang dari agama yang dipeluknya. Dus, Kristenisasi merupakan bahaya yang harus diperangi.

Begitu banyak salah paham tentang Kristenisasi di masyarakat. Dan, ini menimbulkan hubungan yang ‘tak harmonis’ antara Islam dan Kristen di Indonesia. Kalau mau jujur, semua ketegangan bernuansa SARA (baca: agama) di Indonesia selama ini dipicu oleh stigma Kristenisasi dan kontra-Kristenisasi di pihak lain.

Ada bakti sosial kalangan Gereja sering dicurigai sebagai Kristenisasi terselubung. Hanya kedok agar orang lain masuk Kristen. Bagi-bagi beras sembako mi instan dilecehkan sebagai ‘dakwah supermi’. Sekolah Katolik dan Protestan, dalam orasi saat demo UU Sisdiknas kemarin, dituduh menjadi ajang Kristenisasi anak-anak beragama lain. Bahkan, hubungan cinta cowok atau cewek yang berbeda agama pun sering dibaca sebagai akal-akalan agar sang pasangan bisa masuk Kristen. Wah, wah, wah!

Masih terlalu banyak contoh betapa ‘Kristenisasi’ dianggap sebagai momok. Akibatnya, bangunan gereja baru sulit berdiri karena warga khawatir terjadi pemurtadan massal. “Lebih mudah orang mendirikan panti pijat atau tempat hiburan ketimbang gereja,” keluh Ruyandi Hutasoit, ketua umum Partai Damai Sejahtera (PDS) di depan Presiden Megawati Soekarnoputri, Selasa (18/5), di Jakarta.

Faktanya memang demikian. Dan, itu akibat resistensi penduduk karena stigma ‘Kristenisasi’ warisan kolonial yang melekat sampai sekarang.

Lalu, bagaimana hakikat Kristenisasi sebenarnya? Sudah banyak pembahasan tentang itu. Jauh sebelum ensiklik tentang Evangelisasi Baru dari Paus Yohanes Paulus II tahun 2000–sebagai penjabaran amanat agung Yesus–ada Konsili Vatikan II (1962-1965) yang mengoreksi habis pandangan lama Gereja. Semboyan ‘extra ecclesia nulla salus’, tak ada keselamatan di luar Gereja (Katolik), tak boleh lagi dipakai.

Dalam dokumen Konsili seperti Gaudeum et Spes, Lumen Gentium, dan khususnya Nostra Aetate, sikap positif Gereja terhadap agama lain, termasuk agama Islam, sangat jelas.

Perhatian khusus terhadap agama Islam [dan ini penting untuk koteks Indonesia] dimuat di Nostra Aetate artikel 3.

“Gereja menghargai umat Islam yang menyembah Allah satu-satunya yang hidup dan berdaulat, penuh belas kasihan dan mahakuasa, pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepada manusia. Kaum Muslimin berusaha menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan-ketetapan Allah yang juga bersifat rahasia, seperti dahulu Abraham (Ibrahim), umat Islam dengan sukarela mengacu kepadanya….”

Implikasinya jelas. Bahwa Kristenisasi tak bisa ditafsirkan sebagai ‘mengkristenkan’ orang Islam, orang Budha, orang Hindu, dan seterusnya. Kristenisasi alias Evangelisasi Baru berarti mewujudkan semangat Yesus, Kerajaan Allah, di mana keadilan, kedamaian, cinta kasih, kesejahteraan, terwujud di muka bumi.

“Serigala akan tinggal bersama domba. Macan tutul berbaring di samping kambing. Anak sapi akan merumput bersama anak singa, dan anak kecil menggiring mereka. Sapi akan makan rumput bersama beruang, anak-anaknya berbaring bersama-sama. Singa makan jerami seperti sapi” (Yes 11:6-7).

Dapatkah pekabaran Injil alias Kristenisasi alias Evangelisasi tanpa triumfalisme, tanpa proselitasi, dilakukan di Indonesia? Kenapa tidak. Yusul Bilyarta Mangunwijaya Pr (Romo Mangun) telah membuktikannya di Kali Code, Jogja. Selama mengabdi untuk wong cilik dan anak-anaknya di Code, almarhum tak pernah membaptis seorang pun untuk menjadi Katolik. Warga yang Islam tetap menjadi Islam yang baik, Pentakosta demikian, Hindu (kalau ada) pun begitu. “Kita boleh berbeda agama, tapi iman kita sama,” kata Romo Mangun dalam berbagai kesempatan.

Dan, menurut Rasul Yakobus (Yak 2:14-26), iman harus dibuktikan dalam perbuatan atau tindakan. “Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak 2:26). Inilah beban atau pekerjaan rumah besar yang harus bisa dibuktikan oleh umat Kristiani. Tanpa itu, saya yakin, stigma bahwa Kristenisasi sebagai gerakan sistematis untuk memurtadkan orang yang bukan Kristen tak akan hilang dari bumi Indonesia. (*)

Musik Liturgi Flores




Setiap mengikuti misa di gereja-gereja Katolik di Jawa, saya selalu terharu. Juga teringat kampung halaman di Flores Timur sana. Kenapa? Jawabannya: misa dolo-dolo, misa senja, misa damai, misa syukur… serta lagu-lagu liturgi khas Flores sering sekali dinyanyikan kor dan umat.

Saya pernah aktif sebagai pembina kor mudika (muda-mudi Katolik), kor ibu-ibu, bahkan kor mahasiswa Katolik di Jember dan Malang. Dari situ saya sadari bahwa ternyata lagu-lagu liturgi yang berbau Flores sangat digemari umat.

“Kak, pakai gaya Flores aja deh, enak,” begitu permintaan sebagian besar anggota kor saat latihan.

Sebelum 1992, ketika umat Katolik di Jawa masih menggunakan buku nyanyian MADAH BAKTI, lagu-lagu liturgi inkulturasi sangat marak dipakai di gereja-gereja (konteks tulisan ini Gereja Katolik, bukan Protestan, Pentakosta, Karismatik, Advent, atau denominasi lain).

Di MADAH BAKTI terbitan Pusat Musik Liturgi (Jogja) itu selalu dicantumkan ‘gaya Flores’, ‘gaya Jawa’, ‘gaya Irian’, ‘gaya Manado’, ‘gaya Batak’… dan seterusnya. Ternyata, berdasarkan pantauan saya, sejak MADAH BAKTI dipakai pada awal 1980-an hingga 1992/93/94, lagu-lagu gaya Flores menjadi top hits di Indonesia.

Apa karena banyak pastor, suster, bruder, berasal dari Flores atau NTT? Aktivis kor orang Flores? Saya kira, belum ada penelitian resmi. Namun, berdasar omong-omong dengan umat, lagu gaya Flores itu sederhana, gampang diikuti, dan manis. Semanis orangnya hehehe….

Simak saja ordinarium misa senja, misa syukur, atau misa dolo-dolo. Pendek-pendek, melodius, mudah dipecah secara spontan menjadi suara satu, suara dua, suara tiga, dan seterusnya. Lagu-lagu berat karya JS Bach, Handel, Mozart, jelas tidak bisa ‘dipecah’ begitu saja oleh umat yang rata-rata awam pengetahuan musik tingkat tinggi.





KALAU mau jujur, lagu-lagu liturgi gaya Flores ini sangat sederhana. Begitu sederhananya, sehingga untuk menciptakannya tak perlu pengetahuan atau teori musik yang muluk-muluk. Saya masih ingat waktu SD di kampung Napasabok, Lembata, pada 1970-an (menjelang 1980), guru-guru SD memberi pelajaran sederhana tentang cara membuat lagu.

Karena orang Flores itu rata-rata miskin, tidak bisa beli alat musik mahal, ya, anak-anak di sana umumnya tidak mampu memainkan alat musik apa pun, termasuk gitar.
Lalu, bagaimana cara bikin lagu?

Pakai suara! Bukankah Tuhan memberi semua orang suara? Suara itu alat musik lho, begitu kata Pak Guru. Maka, saya dan teman-teman mulai bersenandung, mengarang melodi-melodi sederhana… untuk kemudian ditempeli kata-kata. Jadilah lagu! Tentu saja, ada yang berhasil, ada setengah berhasil, ada yang gagal. Mereka yang berhasil biasanya punya ‘bakat alam’.

Setelah diasah, mendapat teori yang benar, akhirnya muncul sebagai pemusik atau penggubah lagu-lagu liturgi. Dibandingkan daerah lain di Indonesia, saya jamin, penggubah lau-lagu liturgi Katolik paling produktif dan paling banyak berasal dari Flores. Karya mereka saat ini telah mewarnai liturgi di lingkungan Gereja Katolik Indonesia.

Sekali lagi, lagu-lagu rakyat maupun liturgi ala Flores itu sederhana sekali. Karena diniati sebagai nyanyian jemaat (community singing), rentang nada alias ambitusnya sedang-sedang saja. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Sehingga, tidak perlu ngoyo kalau dinyanyikan. Nada atas paling tinggi sekitar d (re tinggi), nada bawah G/A (sol/la). Tidak percaya?

Coba nyanyikan ‘Bergemarlah dan Bersukaria’ di PUJI SYUKUR nomor 323 gubahan Mateus Wari Weruin pada 1974. Melodinya diadopsi dari lagu rakyat Flores Timur, Ina Peni Bote Ade.

Syarat lain, harus ada refrein atau ulangan atau chorus.

Bagian ini dibawakan secara bersama-sama, langsung disambar oleh solis. Di Flores Timur solis perempuan bersuara bening, bersih, tajam (sopran) jauh lebih disukai ketimbang suara laki-laki atau perempuan bersuara berat dan tidak bersih. Bagian solo ini bisa dibawakan satu atau dua perempuan dengan pembagian suara.

Tidak afdal kalau solo dibawakan dua orang dengan satu suara (unisono). Lebih tidak afdal lagi, bagian solo dinyanyikan ramai-ramai seperti di kebanyakan gereja di Pulau Jawa.

(Teman-teman di Jawa mengaku sulit mencari solis yang berani pamer suara sendiri. Padahal, pamer suara solis menjadi salah satu tuntutan lau-lagu rakyat Flores).

Masih ada lagi beberapa ciri khas komposisi musik liturgi khas Flores, tapi terlalu teknis untuk dibeberkan di blog sederhana ini.

Saya ingin mengutip catatan Pater Karl Edmund Prier SJ, pakar musik liturgi sekaligus Direktur PML Jogjakarta, yang menerbitkan buku-buku nyanyian liturgi, termasuk MADAH BAKTI tentang kekhasan musik liturgi di Flores dan Nusa Tenggara Timur umumnya:

“Pulau Flores sejak dulu terkenal karena yang merdu. Mungkin hal ini pun mempengaruhi penjajah Portugis pada abad 15 untuk memberi nama ‘Flores’ berarti ‘bunga’ kepada pulau ini. Habis Konsili Vatikan II (tahun 1965) dalam musik Gereja Katolik terjadi suatu vakum. Belum ada lagu liturgi dalam bahasa Indonesia seperti yang diinginkan oleh Konsili.

“Maka tidak mengherankan bahwa umat Katolik di Flores bersama para tokoh musik gereja di Pulau Timor termasuk di antara pelopor musik liturgi postkonsiliar. Misa Dolo-Dolo ciptaan Mateus Weruin dari Flores Timur, Misa Damai ciptaan Theo Mukin dari Ndona (Ende), dan Misa Cinta Kasih ciptaan Apoly Bala dari Kupang (Timor) merupakan beberapa contoh yang dengan cepat digemari pula oleh umat Katolik di lain tempat.
Inkulturasi musik liturgi selalu berkaitan erat dengan tradisi musik, dengan lagu-lagu yang dipakai orang dalam upacara dan perayaan hingga zaman sekarang.

“Di Flores pun terdapat lagu tradisional yang merupakan suatu ungkapan hidup masyarakat dan mampu menjadi sumber inspirasi bagi lagu gereja baru.”


PRAKTIS lagu-lagu liturgi ala Flores pendek-pendek, sederhana, melodius, sehingga bisa dinyanyikan oleh jemaat dengan mudah. Tanpa perlu latihan pun kita sudah bisa menyanyi. Harmoninya sederhana. Siapa pun bisa membuat suara dua, suara tiga, suara empat.

Tapi di sinilah persoalannya. Karena senang membuat suara dua dan suara tiga, teman-teman Flores ini sering kali ‘merusak’ aransemen paduan suara. Dia membuat improvisasi sendiri, kurang mengindahkan partitur asli dari sang komponis. Jangan heran, orang Flores (umumnya) kesulitan membawakan lagu-lagu liturgi serius klasik ala Johan Sebastian Bach (Kepala yang Berdarah), WA Mozart (Ave Verum Corpus), dan seterusnya.

“Orang Flores juga agak sulit membunyikan nada-nada kromatis. Harusnya FI dinyanyikan FA, SEL dibunyikan SOL, SA jadi SI…. Kalau dirigen tidak awas, aransemen paduan suara jadi rusak,” kritik Pak Ferdy Levi, penggubah lagu-lagu liturgi khas Flores yang tinggal di Ende.

Pak Ferdy ini boleh dikata merupakan penggubah musik liturgi Katolik paling produktif di Flores, bahkan Indonesia.

‘Penyakit’ orang Flores kalau menyanyi di paduan suara adalah sektor TENOR, atau biasa disebut suara tiga. Para pria bersuara tinggi ini senang sekali pamer suara dengan bernyanyi keras-keras, sehingga menutupi suara SOPRAN. Ini bahaya karena melodi pokok atau cantus firmus hampir selalu di SOPRAN.

Kalau sudah bisa menutupi tiga suara lain (sopran, alto, bas), para tenor ini merasa sangat bangga. “Kita menang hehe…”

Namanya juga manusia, ada kelebihan, tapi juga banyak kelemahan.

Misa Dolo-Dolo di Flores Timur

Islam di Flores Timur

Masjid Nurul Jannah di Mawa, Ileape, Lembata, kampung saya.




Flores is a Catholic island! Julukan ini tidak berlebihan. Maklum, sejak abad ke-15, daerah ini menjadi salah satu basis utama penyebaran agama Katolik di Nusantara.

“Seperti Maluku, Flores juga menjadi tempat berpijak yang paling penting bagi pedagang-pedagang Portugis dan kegiatan misionaris selama kehadiran mereka di Indonesia hingga 1512 hingga 1605,” tulis Kapten Tasuku Sato dan Mark Tennien dalam bukunya I Remember Flores, New York, 1957.

Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Thom Wignyanta, wartawan senior, surat kabar mingguan DIAN yang terbit di Ende.

“Yang pertama-tama berkarya di Flores ialah para padri Dominikan yang berasal dari Portugis. Mereka membuka misi pertama di Pulau Solor, kira-kira 350 tahun lalu. Dari Solor mereka berpindah ke Larantuka dan Maumere yang terletak di pantai utara Flores. Karya mereka pada abad ke-17 itu boleh dikatakan berhasil baik. Meskipun jumlah imam sedikit, toh berhasil menobatkan beberapa ribu orang dari pulau itu,” tulis Tasuku Sato, komandan Angkatan Laut Jepang di Flores pada 1943.

Pada 1914-1920 ada dua kongregasi yang bekerja di Flores, yakni Serikat Yesus alias Societas Jesu (SJ) dan Societas Verbi Divini (SVD). Pada 1920 Serikat Yesus meninggalkan Flores, dan menyerahkan tongkat penggembalaan umat Katolik kepada SVD. Sampai sekarang Flores umumnya dikenal sebagai basis SVD paling besar di dunia.

Yang menarik, seperti dikutip Frans M. Parera (2002), sebelum misi Katolik ini masuk sudah ada penduduk Flores yang menganut agama Islam. Selain itu, tentu saja ‘agama asli’, yang masih mayoritas mutlak. Tidak disebutkan kapan persisnya Islam masuk ke Flores. Di sekolah-sekolah di Flores Timur, sejarah masuknya Islam ke Flores Timur praktis tak pernah diajarkan.

“Biara SVD berkompetisi dengan juru dakwah agama Islam di Flores untuk mengembangkan agama masing-masing…. Ternyata, Biara SVD lebih unggul dalam strategi marketing mereka daripada juru dakwah dari lingkungan agama Islam untuk berpengaruh di tengah-tengah suku-suku Flores Tengah dan Flores Barat. Suku-suku etnis itu mayoritas memeluk agama Katolik sepanjang abad ke-20,” tulis Frans Parera dalam buku yang sama.

Dari sini, saya berkesimpulan bahwa agama Islam sudah hadir di Flores sebelum tahun 1512. Jadi, bukan agama baru. Penyebaran Islam tak lepas dari aktivitas nelayan atau pelaut asal Jawa, Sumatera, Kalimantan, atau daerah-daerah lain di Nusantara. Ingat, Flores Timur adalah daerah pesisir yang sangat mudah dijangkau perahu atau kapal laut.

Bung Karno (Ir Soekarno, presiden pertama Indonesia) pada 1934-1938 diasingkan oleh rezim Hindia Belanda di Pulau Flores, tepatnya Ende. Di Flores inilah Bung Karno banyak memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam, berkorespondensi dengan ulama-ulama terkenal di Jawa, menulis artikel-artikel menarik seputar Islam, dialog dengan kiai di Flores, serta tak lupa berdiskusi dengan pastor-pastor SVD.

Bung Karno punya sahabat karib Pater Huyting SVD, misionaris di Biara Santo Yosef, Ende. Dari sinilah Bung Karno menulis ’surat-surat Islam’ dari Flores, yang bisa kita baca di buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’.

Saya kutip tulisan Bung Karno di ‘Di Bawah Bendera Revolusi’ Jilid I halaman 330-331:

“… saja sendiri banjak bertukaran fikiran dengan kaum pastoor di Endeh. Tuan tahu bahwa Pulau Flores itu ada ‘pulau missi’ jang mereka sangat banggakan. Dan memang pantas mereka banggakan mereka punja pekerdjaan di Flores itu. Saja sendiri melihat bagaimana mereka bekerja mati-matian buat mengembangkan mereka punja agama di Flores. Saya ada respect buat mereka punja kesukaan bekerdja itu.

“Kita banjak mentjela missi, tapi apakah jang kita kerdjakan bagi menjebarkan agama Islam dan memperkokoh agama Islam? Bahwa missi mengembangkan roomskatholicisme, itu adalah mereka punja hak yang kita tak boleh tjela atau gerutu. Tapi kita, kenapa kita malas? Kenapa kita teledor? Kenapa kita tak mau kerdja? Kenapa kita tak mau giat? Kenapa misalnja di Flores tiada seorang pun muballigh Islam dari sesuatu perhimpunan Islam jang ternama (misalnja Muhammadijah) buat mempropagandakan Islam di situ kepada orang kafir?

“Missi di dalam beberapa tahun sahadja bisa mengkristenkan 250.000 orang kafir di Flores. Tapi berapa orang kafir yang bisa ‘dihela’ oleh Islam di Flores itu? Kalau difikirkan, memang semua itu salah kita sendiri, bukan salah orang lain. Pantas Islam selamanja diperhinakan orang!”

Agama Islam memang bukan agama baru di daerah saya, Flores Timur. Kita sangat mudah menemukan masjid, langgar, surau di kampung-kampung. Jauh lebih sulit menemukan kapela, apalagi gereja, di Jawa ketimbang menemukan masjid.

Di desa saya, Napasabok, Kecamatan Ile Ape, Lembata, ada Masjid Nurul Jannah yang megah, dibangun secara gotong-royong oleh penduduk (mayoritas Katolik), padahal umat Islam hanya segelintir. Justru tak ada gereja meskipun 97 persen penduduk beragama Katolik (plus agama asli). Kami bangga dengan masjid itu. Itulah simbol toleransi, Bhinneka Tunggal Ika.

Ini jarang saya jumpai selama belasan tahun tinggal di Pulau Jawa. Di Jawa, jangankan bekerja bahu-membahu bikin rumah ibadah agama lain, sekadar memberi restu atau izin saja susahnya minta ampuuuuun! Gereja yang sudah berdiri pun masih dipertanyakan izin-izinnya.

Saya bisa membagi pemeluk Islam di Flores Timur dalam tiga kategori. Pembagian ini hanya garis besar, tidak ilmiah, hanya untuk memudahkan pemahaman kita tentang komunitas Islam di Flores Timur, Provinsi Nusatenggara Timur.

Mama Siti Manuk (adik kandung mama saya) dan Mama Masita Hurek (kanan).



SATU, komunitas Islam asli Flores Timur atau Islam Lamaholot.

Latar belakang mereka sama-sama penduduk bumiputra yang mula-mula menganut ‘agama asli’ atau meminjam istilah Bung Karno ‘orang kafir’. Dalam buku sejarah, agama asli biasa disebut animisme-dinamisme. Ketika datang agama baru, entah Katolik atau Islam, penduduk mulai konversi alias pindah agama. Agama asli identik dengan kekolotan atau primitivisme karena terkait erat dengan dukun-dukun serta kepercayaan alam gaib yang sulit berterima di alam moderen.

Karena sama-sama asli Lembata, Adonara, Solor, Flores Timur daratan, jemaat Islam ini benar-benar menyatu dengan umat Katolik atau penganut agama asli. Sama-sama diikat oleh adat, budaya, serta keturunan yang sama. Kalau diusut-usut, golongan ini punya hubungan darah yang sangat erat.

Fam atau marga saya, Hurek Making, misalnya, banyak yang menganut Islam. Bapak Muhammad Kotak Hurek bahkan jadi takmir Masjid Nurul Jannah di kampung. Muhammad Anshar Paokuma, keluarga dekat dari pihak ibu saya, malah imam masjid tersebut. Hubungan persaudaraan erat luar biasa.

Bedanya: umat Islam tidak makan daging babi dan anjing, sementara saudara-saudaranya non-Islam sangat doyan. Kalau ada pesta, saudara-saudara muslim ini ‘wajib’ menyiapkan daging khusus untuk kaum muslim, mulai dari menyembelih kambing, memasak, hingga siap saji di meja makan. Tradisi lokal ini untuk menjaga agar makanan itu terjamin kehalalannya.

Pak Hamid, juga masih kerabat saya, dikenal sebagai tukang jagal kambing dan sapi paling top. Begitu tahu bahwa daging kambing itu disembelih oleh Pak Hamid, saudara-saudara muslim itu pun menyantap dengan nikmat.

Rombongan haji asal Lembata, paling kanan Haji Anwar Tadong, paman saya.




DUA, komunitas Islam pesisir.

Mereka ini campuran antara pendatang dan penduduk asli yang sudah bercampur-baur secara turun-temurun. Disebut pesisir–ini istilah saya saja–karena tinggalnya di pesisir, bekerja sebagai nelayan ulung. Selain itu, mereka pedagang ‘papalele’ hingga pedagang besar.

Mereka ini menganut Islam berkat dakwah para pedagang atau pelaut Sulawesi, Sumatera, Jawa, Sumbawa. Ada juga nelayan Sulawesi yang akhirnya menetap di Flores karena kerap bertualang di laut. Ada tanah kosong di pinggir laut, lantas mereka mendirikan rumah di situ. Akhirnya, muncul banyak kampung-kampung khusus Islam di beberapa pesisir Flores Timur.

Berbeda dengan Islam jenis pertama (asli Flores), golongan kedua ini benar-benar pelaut sejati. Di beberapa tempat, rumah mereka bahkan dibuat di atas laut. Karena tak punya tanah, namanya juga pendatang, mereka tidak bisa bertani. Kerjanya hanya mengandalkan hasil laut, tangkap ikan, serta berdagang.

Maka, komunitas Islam pesisir ini sangat solid dan homogen di pesisir. Kampung Lamahala di Adonara Timur dan Lamakera di Solor Timur merupakan contoh kampung Islam pesisir khas Flores Timur. Di Kampung Baru serta sebagian Postoh (Kota Larantuka) pun ada kampung khusus Islam pesisir.

Mereka ini menggunakan bahasa daerah Flores Timur, namanya Bahasa LAMAHOLOT, dengan dialek sangat khas. Perempuannya cantik-cantik, rambut lurus… karena itu tadi, nenek moyangnya dari Sulawesi, Sumatera, Jawa. Tapi ada juga yang agak hitam, sedikit keriting, karena menikah dengan penduduk asli yang masuk Islam.

Karena tinggal di pantai (bahasa daerahnya: WATAN), di Flores Timur umat Islam disebut WATANEN alias orang pantai. Sebaliknya, orang Katolik disebut KIWANEN, dari kata KIWAN alias gunung. WATANEN mencari ikan, KIWANEN bertani, hasilnya bisa barter untuk mencukupi kebutuhan orang Flores Timur. Jadi, kedua kelompok ini, WATANEN-KIWANEN tak bisa dipisahkan meskipun berbeda agama.

Oh, ya, karena tak bisa bertani (wong, nggak punya tanah), mereka tumbuh sebagai pedagang-pedagang yang tekun dan berhasil. Saya bisa pastikan, pasar-pasar Inpres di Flores Timur hampir dikuasai secara mutlak oleh muslim pesisir. Mereka juga punya banyak armada kapal laut antarpulau yang menghubungkan pulau-pulau di Flores Timur, Nusatenggara Timur, bahkan Indonesia.

Saat berada di Jawa, saya senang dengan teman-teman Islam pesisir, khususnya Lamahala, kalau diminta main bola memperkuat tim mahasiswa Flores Timur. Militansinya tinggi, nekat, pantang menyerah… dan sedikit ‘nakal’. Saking getol membela Flores Timur, teman-teman muslim ini tak segan-segan berkelahi manakala dicurangi wasit atau pemain lawan.

Pemain-pemain bola muslim Flores ini juga sejak dulu menjadi andalan PS Flores Timur, khususnya penjaga gawang. “Mungkin karena sering menangkap ikan, jadi pandai menangkap bola juga,” begitu saya menggoda Taslim Atanggae, teman asal Lamahala, yang jago kiper.

“Jangan lupa main-main ke rumah ya? Biar saya bisa omong bahasa daerah dengan kamu. Di sini semuanya orang Jawa,” kata Ahmad Wahab, asli Lamahala, yang kini tinggal di pelosok Sukodono, Kabupaten Sidoarjo.

Orang Lamahala memang bangga dengan bahasa daerahnya, Lamaholot, dengan dialek khas dan keras. Teman-teman muslim pesisir yang sangat taat beragama ini selalu membuat saya, orang KIWAN alias Katolik, bahagia.

Masjid di Desa Lewotolok, Ile Ape, Lembata. Imam dan takmir masjidnya Haji Anwar Tadong.



TIGA, komunitas Islam pendatang baru.

Berbeda dengan komunitas pertama dan kedua, komunitas ketiga ini pendatang baru dalam arti sebenarnya. Mereka datang, bekerja, dan menetap di Flores Timur, menyusul gerakan transmigrasi pada era 1970-an, 1980-an… sampai sekarang. Ada juga yang pegawai negeri sipil, pegawai swasta, profesional yang bekerja di Flores.

Mereka tak punya kampung seperti muslim asli dan muslim pesisir. Kampungnya ya di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan seterusnya. Kalau Lebaran, mereka ramai-ramai pulang ke kampung untuk silaturahmi dengan keluarganya. Sebaliknya, orang Islam jenis satu dan dua ramai-ramai pulang ke Flores Timur karena orang tua, keluarga besar, memang di Flores Timur.

Komunitas ketiga ini juga tak bisa berbahasa daerah seperti orang Lamahala atau Lamakera. Bahasanya, ya, bahasa Jawa, bahasa Betawi, bahasa Padang, dan seterusnya. Komunikasi dengan penduduk lokal, tentu saja, dengan bahasa Indonesia. “Terima kasih untuk bahasa Indonesia,” mengutip pujangga favorit saya, Pramoedya Ananta Tour.

Namun, berbeda dengan Islam pesisir (WATANEN) yang hanya tinggal di kampung-kampung khusus Islam, muslim pendatang baru ini sangat fleksibel. Mereka bisa tinggal di mana saja: kampung Islam, kampung Katolik, pantai, pegunungan, pelosok, kota. Luar biasa luwes!

Dokter Puskesmas (PTT), guru-guru SMA/SMP negeri, tentara, polisi, asal Jawa dikenal sebagai muslim pendatang yang sangat luwes. Saking luwesnya, kerap kali mereka kecantol dengan gadis lokal (Flores Timur, non-Islam) lalu menikah. Pernikahan semacam ini hampir ‘mustahil’ dilakukan oleh komunitas muslim pesisir alias jenis kedua.

Teman-teman Islam jenis ketiga (muslim pendatang baru), bagi saya, punya nilai tersendiri bagi kami di Flores Timur. Kenapa? Mereka membuktikan bahwa masyarakat itu bisa tinggal berbaur di mana saja, bertetangga dengan siapa saja, apa pun agamanya. Segregasi alias pemisahan permukiman penduduk atas dasar agama berhasil ‘diterobos’ oleh muslim pendatang baru.

Nah, komunitas Islam pendatang baru ini mirip Islam jenis pertama, hanya saja tak punya kampung di Flores Timur.

Zaman makin maju. Orang Flores merantau ke mana-mana. Sehingga, tentu saja, komposisi masyarakat akan terus berubah, termasuk tiga jenis Islam ala Flores Timur ini. Tak ada yang abadi di dunia, bukan?


Budaya Minum Tuak


Daerah Flores Timur–Nusa Tenggara Timur, umumnya–punya tradisi minum tuak. Kenapa tuak? Tanah Flores Timur yang kering dan tandus memang sangat kondusif bagi tumbuhnya pohon lontar atau siwalan. Di mana-mana ada lontar yang tumbuh liar. Pohonnya sangat kekar, keras, tangguh.

Pohon lontar atau siwalan atau Borassus flabellifer (nama Latin) adalah sejenis palma yang tumbuh di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pohon ini terutama tumbuh di daerah-daerah kering.

Dari malai pohon lontar inilah penduduk laki-laki mendapatkan nira serbaguna. Pada dasarnya nira lontar berasa manis, sangat nikmat kalau langsung diminum sesaat setelah disadap. ‘Gula lempe’ khas Rote dan Sabu dibuat dari nira awal yang berasa manis alamiah itu.

Untuk minuman tradisional (adat), nira ini dicampur dengan ramuan tertentu sehingga terjadi reaksi kimia fermentasi. Jadilah minuman yang mengandung alkohol kadar rendah hingga sedang, yang dikenal dengan tuak.

Tuak ini macam-macam. Ada yang keras (alkohol tinggi), sedang, hingga enteng. Kaum perempuan biasanya senang melahap tuak manis, alias nira lontar yang belum mengalami proses fermentasi. Kalaupun sudah terfermentasi, prosesnya belum apa-apa, sehingga kadar alkohol amat sangat rendah.

Tuak dalam konteks cerita ini tentu yang fermented sehingga beralkohol. Minum tuak itu bikin sekian banyak penduduk laki-laki ketagihan, khususnya sebelum 1980-an. Ibarat rokok, bagi para pecandu, hidup tanpa tuak, bagi sejumlah kerabat saya di kampung, ibarat kehilangan separuh napas. Bukan main!

Bapak-bapak, kakek-nenek, bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk minum tuak sembari ngomong ngalor-ngidul alias bicara ke sana ke mari. Semakin banyak minum tentu kadar alkohol di dalam tubuh makin tinggi, sehingga bicaranya semakin ngelantur. Lama kelamaan, kalau lepas kontrol, mabuklah dia.

Karena tuak itu social drink, minuman sosial, maka lazimnya air tuak berwarna keputihan (macam susu) itu lebih enak kalau diminum ramai-ramai. Dulu, saya tak tahu sekarang, jarang sekali orang minum tuak seorang diri di kamar atau rumahnya. Maka, para peminum tuak ini punya semacam grup-grup yang cukup solid.

Setelah menyadap nira petang hari–biasanya disadap pagi dan sore, atau hanya sore–orang membawa tuak di ‘nahwing’, wadah dari bambu ke lokasi pertemuan grup itu tadi. Tempatnya bisa berpindah-pindah atau di lokasi yang tetap, sesuai kesepakatan. Teman lain pun membawa tuaknya. Ada yang bawa makanan, jagung titi, rumpu rampe, ikan bakar, ikan lawar (ikan mentah dicacah kemudian dicampur cuka)… ke tempat pesta tuak.

Acara ini namanya ‘moting’: tempat kumpul-kumpul, minum tuak, bicara bersama, sering diisi dengan berbalas pantun atau dolo-dolo tradisional. Biasanya, penerangannya cukup mengandalkan cahaya bulan yang temaram.

Bagaimana kalau bulan gelap? Ya, tetap saja acara minum tuak bersama, plus makan-makan, ini jalan terus. Sebab, setiap hari tuak itu disadap dan harus dikonsumsi. Sayang kalau ‘air ajaib’ itu disia-siakan begitu saja.

Terlepas dari efek buruknya, yakni mabuk, bagi mereka yang tidak tahan alkohol, acara minum tuak ini menunjukkan semangat gotong-royong yang luar biasa. Ada saja ide-ide bagus keluar saat berkumpul di acara moting. Informasi tentang kondisi desa pun akan cepat sekali disosialisasikan di forum khas Flores Timur itu.

Tak hanya mendengar, bapak-bapak langsung menyusun rencana aksi. Misalnya, ada warga yang rumahnya rusak, perlu perbaikan, maka peserta moting tadi bersepakat untuk membantu menggarapnya ramai-ramai.


PESTA di kampung tak akan lengkap tanpa kehadiran tuak. Ibarat sayur tanpa garam. Jika tuak ini tak ada, saya pastikan pesta akan segera bubar atau hambar sama sekali.
Lalu, bagaimana menyediakan tuak sekian ratus liter untuk manusia sebanyak itu?

Beli di pasar, jelas tidak mungkin. Jangan khawatir, ada hukum adat di kampung saya–kawasan Ile Ape, Lembata–yang tidak tertulis, tapi sangat dipahami masyarakat dari masa ke masa. Yakni, masyarakat bebas mengambil tuak langsung di atas pohonnya, milik siapa saja, kapan saja, selama pesta dilangsungkan.

Dulu, waktu kecil, saya sering ikut anggota ‘pasukan pencari tuak’ untuk kebutuhan pesta pernikahan, pertunangan, kematian, dan sebagainya. Kita tinggal membawa wadah untuk menampung tuak segar langsung di pohonnya. Namun, tetap ada syarat penting: kita harus memperlakukannya dengan sangat hormat. Tidak boleh merusak wadah, memasang kembali wadah bambu penampung tira yang dipasang persis di bekas irisan pada malai lontar.

Setelah dipasang kembali, kita beralih ke pohon lontar lain–milik siapa saja, baik suku yang terlibat pesta maupun bukan. Kalau dirasa masih kurang, kita boleh beralih ke kampung tetangga untuk mengambil tuak di pohon-pohon mereka. Mengambil tanpa izin pemilik lebih dulu, tapi tidak pernah dianggap sebagai aksi pencurian. Sebabnya, itu tadi, kita mengambil tuak untuk kebutuhan pesta. Kalau di luar urusan pesta, jangan coba-coba memanjat pohon lontar milik orang lain untuk mengambil tuaknya. Bisa geger!

OLEH segelintir penduduk, tuak ini diolah lagi menjadi arak. Porsesnya tak lain destilasi atau penyulingan air tuak biasa tadi. Tuak dipanaskan, air biasa menguap…. Destilasi ini menyisakan alkohol kadar tinggi di tangki pengembunan. Itulah arak!

Jika penyulingan dilanjutkan, hasilnya arak yang sangat keras. Arak kepala, istilah orang kampung, adalah arak dengan kadar alkohol tinggi sekali. Ini sangat berbahaya karena efeknya yang korosif. Mabuk? Hampir pasti. Sebab, kadar alkoholnya jauh di atas kadar alkohol tuak biasa.

Sejak dulu arak ini kurang ‘direstui’ aparat keamanan. Pembuatnya dianggap melanggar hukum, sehingga produksi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tahu sama tahulah! Saya sendiri tidak pernah minum arak dan tuak (kecuali tuak manis). Tapi teman-teman saya bilang, minum arak itu nikmat luar biasa.

“Seperti terbang ke bulan. Apalagi, arak itu sudah dicampur janinya kijang,” kata Jack, teman saya. Gila!!!!

KARENA ada tradisi minum tuak itulah, jangan heran orang NTT sampai sekarang masih banyak yang doyan minuman keras–bir, anggur, KTI, cap tikus, topi miring, brendy, whisky… dan seterusnya. Miras-miras ini sangat mahal sehingga menguras isi kantong. Juga melanggar hukum negara kita.

Jelas, miras agak berbeda dengan tuak, minuman tradisional beralkohol rendah, yang gratis karena langsung diambil dari kebun atau halaman pondok/rumah. Minum tuak ramai-ramai di MOTING menambah keakraban, persaudaraan, gotong-royong…, sementara minum minuman keras justru menambah musuh dan menhancurkan masa depan.

Saya rasa, dengan perubahan zaman, kualitas pendidikan yang kian bagus, wawasan makin luas, masyarakat Flores Timur (NTT umumnya) sudah bisa mengubah habitus lama yang kurang produktif. Habitus minum tuak sampai mabuk, bicara ngalor-ngidul tanpa juntrungan, jelas tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman sekarang yang serba cepat dan cenderung individualis.

06 June 2006

Joel Salaka Empu Gitar




Seorang empu gitar telah lahir tak jauh dari Kota Surabaya. Namanya Julius Salaka, usia 38 tahun. Saat ini Julius diincar para gitaris yang ingin mendapatkan gitar unik dan eksklusif.

RUANGAN itu sederhana saja, kurang dari satu lapangan bola voli. Sekitar 10 calon bodi gitar tergantung tak rapi di sebelah timur. Sementara itu, dua pemuda 20-an tahun asyik memperhalus potongan kayu kering.

Tak ada yang istimewa, memang. Tapi, siapa sangka kalau di bengkel kerja sederhana di Desa Juwetkenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, inilah tercipta gitar-gitar berkelas untuk sejumlah seniman gitar di dalam dan luar negeri.

“Saya dari dulu memang tidak suka diekspos. Saya menggarap gitar-gitar ini karena saya memang suka gitar,” ujar Julius Salaka kepada saya. Ayah dua anak ini santai saja, tak banyak bicara, namun diam-diam berhasil merancang gitar unik untuk gitaris-gitaris elite tanah air.

Julius sendiri tadinya tidak pernah mau diekspos media apa pun, karena dia hanya ingin menjadi pembuat gitar sekaligus gitaris di gerejanya di samping Kali Porong. Namun, tiba-tiba saja nama Julius Salaka mencuat seiring melejitnya nama I Wayan Balawan, pemusik asal Bali yang baru saja merilis album ‘Magic Fingers’. Balawan dikenal sebagai gitaris paling unik di Indonesia, bahkan dunia. Desain gitarnya lain dari lain: dua leher (double neck), 13 senar. Itu semua tak lain berkat karya Julius Salaka.

“Dengan gitar seperti itu, gitar Balawan itu seperti dimainkan tiga orang sekaligus. Melodi, bas, chord bisa dimainkan serentak. Dan kebetulan Balawan ini punya talenta luar biasa,” ujar Julius yang juga gitaris khusus untuk gerejanya di pinggir Kali Porong, sekitar 500 meter dari rumahnya di kawasan Pasar Porong.

Model gitar Balawan yang unik, kontan saja, menjadi perhatian penggemar musik, khususnya seniman-seniman gitar yang tak puas dengan gitar-gitar mass product di toko-toko musik. Mereka kemudian mencari tahu siapa gerangan pembuat gitar Balawan yang aneh bin unik itu. Salah satunya, I Dewa Bujana, gitaris Gigi yang lebih dikenal sebagai gitaris jazz. Begitu juga Tohpati.

Maka, ketika trio yang tergabung dalam ‘Trisum’ itu melakukan tur ke Jawa Timur, Julius Salaka pun didatangi. Tak hanya bertamu, Dewa Bujana bahkan langsung minta dibuatkan gitar khusus. Tohpati memesan gitar yang mampu menghasilkan sound kendang. Kedengaran musykil, namun Julius melayani pesanan para gitaris itu.

“Nah, sekarang gitarnya Bujana sudah jadi. Saya mau kirim ke Bujana karena dia sudah tunggu-tunggu,” ujar Julius Salaka seraya memperlihatkan gitar pesanan Dewa Bujana kepada saya.

Sekilas gitar milik Bujana itu tak berbeda jauh dengan gitar-gitar yang biasa digunakan para pemusik profesional kita. Lain sekali dengan gitar si Balawan yang memang sangat unik. “Kekhasan gitar Bujana, dia punya tiga sound sekaligus. Satu gitar bisa menghasilkan sound gitar elektrik, akustik, dan sekaligus untuk MIDI,” tutur pria kelahiran 23 Juli 1968 ini.

Sama dengan proses pembuatan gitar Balawan, sebelum merancang gitar khusus untuk Bujana, Julius Salaka melakukan diskusi intensif dengan sang pemesan. Mulai dari bahan bentuk body, neck, hingga pemilihan sound. Menurut Julius, diskusi lebih banyak dilakukan via email serta telepon. Setelah dirancang sangat matang, barulah dimulai proses produksi.

“Kalau gitarnya Bujana ini tidak lama. Lain dengan punyanya Balawan yang harus melalui eksperimen yang cukup panjang,” kata Julius Salaka seraya tersenyum ramah.
Huda, pemuda asal Wunut, Porong, merupakan salah satu anak buah Julius Salaka.
Dialah yang menggarap fisik gitar pesanan Balawan dan Bujana.

“Gitar pesanan Bujana itu tidak terlalu sulit kok. Hanya satu minggu sudah kelar,” ujar Huda kepada saya.

Huda serta lima karyawan lain memang hanya menggarap fisik gitar, tugas yang dianggap tidak sulit bagi para perajin kawakan itu. Pekerjaan canggih seperti memasang sound serta berbagai perlengkapan elektronik lain sepenuhnya ditangani Julius Salaka. Sulit?

“Ah, saya rasa tidak. Semua itu bisa dipelajari kalau kita mau belajar. Saya sendiri awalnya, ya, hanya coba-coba saja, tapi akhirnya bisa,” katanya.

Belakangan, alumnus Fakultas Teknik Sipil Universitas Brawijaya, Malang, itu kebanjiran pesanan. Di antaranya dari gitaris asal Palembang, Makassar, Ambon, bahkan Inggris dan Australia. “Yang dari Australia ini malah pesan dua gitar,” tuturnya.

Julius Salaka mengaku bekerja atas dasar hobi dan cinta. Kendati punya bengker kerja (workshop), karyawan, dia tak ingin menjadi perajin yang hanya membuat gitar-gitar kodian dalam jumlah besar. Karena itu, dia tak pernah mematok target kapan sebuah pesanan selesai. “Bisa satu bulan, dua bulan, bahkan lebih. Tapi rata-rata satu sampai dua bulan sudah siap dikirim,” kata Julius.

Ngomong-ngomong berapa harga gitar ‘made in Porong’? Sudah tentu Julius mematok harga yang spesial pula. Rata-rata Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per unit gitar, tergantung tingkat kesulitan gitar.

Sulit dipercaya bahwa Julius Salaka, yang belatar pendidikan teknik sipil, mampu menghasilkan gitar-gitar eksklusif (custom guitar) untuk para seniman gitar terbaik negeri ini, bahkan mancanegara. Asal tahu saja, Julius baru terjun ke produksi gitar pesanan pada 1997. Masih sangat baru.


Krisis moneter, disusul krisis ekonomi dan krisis politik, pada 1997 ternyata membawa bekah bagi alumnus Universitas Brawijaya itu. Blessing in disguise! Julius kehilangan pekerjaan di sebuah perusahaan. Toh, ia tak lantas putus asa. “Saya tetap main gitar bersama teman-teman di gereja,” tuturnya.

Pria kelahiran 23 Juli 1968 ini memang dikenal sebagai gitaris jempolan kendati hanya dikenal di lingkungan gerejanya. Nah, di saat menganggur itulah Julius mendapat ide untuk menekuni hobi lamanya semasa remaja dan mahasiswa dulu: main gitar, mengotak-atik gitar, memodifikasi, merancang sound-sound khas. Caranya?

“Saya rajin main internet. Bahan-bahan semuanya saya pelajari dari situ,” kata Julius.

Rekayasa gitar yang dilakukannya tidak selalu mulus. Prosesnya panjang, uji coba, trial and error, senantiasa dialaminya. Dan semakin dicoba, ia semakin menemukan ‘rahasia’ instrumen gitar yang tak habis-habisnya. Julius, yang didukung penuh pihak keluarga, pun kian tenggelam dalam dunia gitarnya yang asyik. Proses kreatifnya berjalan lancar, sehingga ia mampu mendesain bebeapa gitar unik.

“Saya tidak mau meniru begitu saja gitar-gitar yang sudah ada. Harus selalu ada yang baru. Kalau sekadar meniru, ya, kreativitas kita di mana?” ujar pria yang juga bos ‘Apotek Jitu’ di Desa Mindi, Jalan Raya Porong, Sidoarjo, itu.

Saat bermusik di lingkungan intern gereja, gitar unik karya Julius Salaka mendapat perhatian sesama musikus. Banyak yang bertanya, dan Julius menceritakan apa yang selama ini ia tekuni di rumahnya. Dan, entah siapa yang mengawali, desain gitar ‘made in Porong’ pun lekas menyebar di kalangan komunitas gitar.

Akhirnya, seorang gitaris, sekaligus wartawan musik, bernama Andra ‘mencium’ keunikan Julius Salaka. Sejak itu Julius diwawancara panjang lebar, gitarnya dicoba, digauli... dan ternyata lulus. Nama Julius pun berkibar karena dibahas secara khusus di media khusus komunitas gitar Tanah Air.

“Sejak dipublikasikan itulah saya banyak mendapat telepon dan email dari teman-teman gitaris. Mereka pesan gitar ke saya,” cerita ayah dua anak ini. Julius pun melayani permintaan mereka dengan antusias. Semakin tinggi tingkat kesulitan gitar, Julius merasa semakin tertantang. Dengan begitu, ia dipaksa untuk berpikir keras, belajar dan belajar lagi.

Nah, di antara para penggila gitar kelas satu yang tertarik dengan Julius adalah I Wayan Balawan. Gitaris muda asal Bali ini sejak lama dikenal sebagai pemusik yang doyan eksperimen. Bakatnya yang luar biasa membuat Wayan Balawan tidak bisa lagi dipuaskan dengan gitar-gitar standar musisi profesional baik di dalam maupun luar negeri. Maka, Balawan pun menantang Julius Salaka untuk dibuatkan sebuah gitar unik, lain dari lain, belum pernah ada di dunia.

“Kami melakukan komunikasi sangat intensif lewat email. Kita bahas bagaimana sebaiknya,” tuturnya. Julius Salaka akhirnya menemukan ide membuat gitar dengan dua leher (double neck) seperti yang biasa dipakai Wayan Balawan sekarang.

“Atasnya enam senar, bawah tujuh senar. Jadi, seluruhnya 13 senar,” ungkap Julius. Gitar konvensional, kita tahu, hanya satu leher dengan enam senar.

Lalu, bagaimana cara mainnya? Jelas membutuhkan skill tinggi. Dan kebetulan Balawan dianugerahi talenta istimewa untuk menaklukkan gitar paling unik garapan Julius Salaka. “Balawan itu cepat sekali beradaptasi dengan gitar buatan saya,” puji Julius.

Tidak tertarik memproduksi gitar dalam jumlah besar?

“Wah, saya yang belum siap. Anak buah saya hanya enam orang. Sebelumnya malah hanya tiga orang,” akunya.

Tak salah, memang. Sebab, seorang ‘empu’ di mana pun hanya mau menghasilkan karya-karya eksklusif dengan cita rasa dan standar kualitas tingkat tinggi.