21 December 2006

Ucok AKA & His Gang


Poster Grup AKA, 1967. Tulisan tangan Ucok sangat khas.


OLD ROCKERS NEVER DIE!
Rocker tua tak pernah mati!

Begitulah, The ROLLING STONES (MICK JAGGER 63 tahun, KEITH RICHARD 62, ROON WOOD, CHARLIE WATTS) hingga akhir tahun 2006 ini masih aktif menggelar tur konser ke seluruh dunia. Penontonnya melimpah. Penghasilannya... luar biasa!

Menurut BILLBOARD BOXSCORE, tur dunia ROLLING STONES bertajuk A BIGGER BANG mencatat rekor pendapatan sepanjang tahun 2006. Nilainya USD 437 juta atau setara Rp 4,15 triliun. Angka yang sulit kita bayangkan di Indonesia.

DEEP PURPLE, sebaya ROLLING STONES, pun terus bikin album dan tur ke seluruh dunia. ERIC CLAPTON masih terpilih sebagai pegitar terbaik di ujung 2006.

Di Indonesia? “Kondisinya agak beda,” kata Yoyok, bekas rocker top Surabaya kepada saya. Audiens musik kita berbeda, sehingga sulit bagi pemusik untuk menekuni kariernya sampai tua. Masa edar pemusik kita, apalagi rocker, rata-rata tak sampai 10 tahun. “Masih jauhlah kita dengan di Barat sana,” tambah Yoyok.

Masih lumayan, di kita masih ada ben tua yang bertahan sampai hari ini macam GOD BLESS. Didirikan pada 1973 oleh ACHMAD ALBAR, grup ini masih bertahan hingga 2006. Hanya saja, sayangnya, GOD BLESS tidak bisa bikin album secara rutin, sehingga popularitasnya tidak terjaga. Bayangkan, sejak 1975 sampai 2006 GOD BLESS hanya punya lima album.

Nah, selain GOD BLESS, masih ada rocker tua yang konsisten bertahan di jalur musik cadas. Siapa lagi kalau bukan UCOK ANDALAS DATUK OLOAN HARAHAP yang lebih dikenal dengan UCOK AKA HARAHAP, 67 tahun. Grupnya, AKA (Apotik Kali Asin) sudah lama bubar, tapi Ucok tetap bermusik sampai sekarang. Bikin kursus musik di Lawang. Main musik di Surabaya dan sekitarnya.

Terakhir, Ucok bikin proyek musik sosial peduli bencana lumpur panas di Porong, Kabupaten Sidoarjo. Katanya, musik sudah menjadi bagian dari hidupnya. "Saya pemusik. Sampai kapan pun saya akan tetap main musik,” tegas Ucok AKA Harahap.

SENIN, 18 DESEMBER 2006, saya menerima kiriman paket dari UCOK AKA HARAHAP, salah satu pemusik idola saya. Isinya: poster Grup AKA formasi 1967 (UCOK HARAHAP, SJECH ABIDIN, ARTHUR KAUNANG, SONATHA TANJUNG), CD lagu-lagu tentang lumpur Sidoarjo, foto Ucok AKA. Beliau memang ingin saya mendengar contoh rekamannya, terus dikomentari, dikritik, dinilai mana yang kurang.

Ucok juga menjelaskan grup barunya, UCOK AKA & HIS GANG. UCOK HARAHAP (eks AKA) vokalis, merangkap kibod. PHARDY ARTIN (eks THE GEMBELS) pegitar utama. TONI SUWARTO (eks THE WARROCK) drums. ROCHIM EFFENDY (eks THE MAGNIFICENT 7) bas. Manajernya EDI HAZTYANTO, pemilik STUDIO NADA MUSIKA, Jalan Jemursari 236 Surabaya.

“UCOK AKA & HIS GANG ini grup musik yang unik ditonton dan dinikmati beat-beat musiknya. Pemainnya empat orang, kadang-kadang atas permintaan ditambah dua penyanyi wanita,” jelas Ucok. Mereka main lagu-lagu era 1960-an hingga masa kini. Indonesia, Barat, selain hits grup-grup legendaris Tanah Air.

"Kami juga siap tampil di mana saja dan kapan saja. Pesta-pesta. Open air show. Rekaman iklan. Ben pengiring,” ujar Ucok mempromosikan grupnya.

Bagaimana kalau ada yang ingin menanggap UCOK AKA & HIS GANG? “Gampang,” kata Ucok. Hubungi saja EDY HAZTYANTO di Jalan Jemursari 236 Surabaya, telepon 031-8490772, 081-3300 27918.

RABU, 20 DESEMBER 2006.

UCOK AKA HARAHAP bicara di depan anggota DPRD Jawa Timur di Jalan Indrapura Surabaya. Dia bahas masalah pemusik jalanan atawa pengamen yang sering ‘digaruk’ oleh satuan polisi pamongpraja (satpol pp) di Surabaya, Malang, Jember, Sidoarjo, dan kota-kota lain di Jawa Timur.

Menurut Ucok AKA, razia pengamen seperti ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kenapa pemusik muda remaja itu diperlakukan macam penjahat? Solusinya apa? "Saya bicarakan itu di depan anggota DPRD Jawa Timur. Wakil rakyat harus cari solusi. Jangan terus membiarkan para pengamen kita diperlakuan tidak baik,” tegas Ucok.

Bagi Ucok, pemusik jalanan atau pengamen atau apa pun namanya adalah warga bangsa yang punya bakat musik. Dan bakat itu harus dirawat, dipupuk, dikembangkan. Bukan malah dibasmi oleh polisi pamong praja.

“Ingat, tidak semua orang bisa main musik. Lha, kalau pengamen yang cari uang sendiri, tidak korupsi... diperlakukan seperti itu, mau jadi apa bangsa ini?” tandasnya, blak-blakan.

Sebagai pemusik senior, rocker kawakan, guru musik, Ucok AKA diam-diam sudah melakukan kerja nyata di Lawang, Kabupaten Malang. Dia bikin studio musik, membagikan ilmu musiknya kepada anak-anak muda, sebagian di antaranya pengamen, agar skill musik generasi muda berkembang dengan baik.

“Omo Ucok memang tidak pernah kehilangan kreativitas,” komentar Sugeng Irianto, bekas wartawan musik koran JAWA POS, yang mengenal dekat Ucok AKA Harahap.

5 comments:

  1. pak ucok memang hebat. atraksi panggungnya belom ada yg bisa ngelawan.

    ReplyDelete
  2. ucok harap rocker gaek ! saya fans berat anda !

    jim rocker !

    ReplyDelete
  3. moga slalu tahes aja bes,rocker sejati buta bang ucok

    ReplyDelete
  4. om ucok!!!!!! are you remeber with efriana puspantari, kata orang om ucok hebat, sehebat kebohongan om terhadap saya!!!!salam wat siska dan adek dimas.

    ReplyDelete
  5. udah lama gak ke Lawang,,kerumah bang ucok..selamat jalan bang,,thanks 4 all

    ReplyDelete