06 December 2006

Sinterkas di Sidoarjo



Saya main-main ke Gereja Salib Suci di kawasan Wisma Tropodo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Kebetulan ibu-ibu WKRI (Wanita Katolik Republik Indonesia) bikin acara Sinterklas.

Ini memang keunikan gereja yang tak jauh dari Bandara Juanda itu. Di gereja-gereja lain, saya pastikan tidak ada 'tradisi' Sinterklas ala Belanda setiap 5 atau 6 Desember. Paling-paling natalan anak-anak pada 25-26 Desember.

"Kita ingin mengambil hikmah positif dari sosok Sinterklas bagi anak-anak. Maka, acara Sinterklas selalu untuk anak-anak di paroki," ujar BU SUKISNO, anggota WKRI Salib Suci, kepada saya.

[Ada semacam kebiasaan kami di paroki untuk memanggil ibu-ibu dengan nama suaminya. BU SUKISNO atau BU SUKIS karena dia istrinya PAK SUKISNO. Teman kuliah saya, MARGARETA INDAH LESTARI, kini berubah nama menjadi BU BAMBANG. YUSTINA WIGATI jadi Bu NDARU. Saya akui, Gereja Katolik memang masih patriarkis.]

Nah, SINTERKLAS alias SINTERKLAAS, kakek jenggot putih yang baik hati, petang itu, persis 5 Desember 2006, datang di Sidoarjo, tepatnya Wisma Tropodo, Waru. Sekitar 500 anak-anak tampak gembira menyambut sang kakek. Sinterklas pakai jenggot dan kumis putih lebat dengan jubah uskup, lengkap dengan tongkat kebesaran. Ini sesuai dengan cerita klasik versi Eropa, khususnya Belanda.

Syahdan, Sinterklas itu dulunya uskup yang penuh perhatian pada anak-anak.

Sinterklas diiringi dua pengawal setianya, PIET HITAM, membawa karung dan sapu lidi. Badannya hitam legam bak pantat wajan. Anak-anak nakal diancam akan dimasukkan ke dalam karung atau dikasih 'pelajaran' dengan sapu lidi. Tapi tidak dibanting ala smack down di televisi.

Kontan saja, begitu SINTERKLAS dan PIET HITAM masuk Balai Paroki, anak-anak berteriak histeris. Beberapa anak balita menjerit ketakutan ketika hendak disentuh si Piet Hitam.

"Tidak usah takut, anak-anak. Piet Hitam itu baik hati. Kalau anak-anak tidak nakal, ikut nasihat orang tua, Piet Hitam akan kasih kamu orang hadiah," sapa SINTERKLAS dalam bahasa Indonesia logat 'londo'.

Lantas, anak-anak yang duduk lesehan bernyanyi dan berjoget bersama Sinterklas dan Piet Hitam. Suasana pun mencair. Anak-anak yang tadinya takut, kini ramai-ramai mendekati Sinterklas untuk minta hadiah.

"Sabar, sabar, sabar... semua akan dapay bagian. Kakek Sinterklas tahu kalau kalian semua anak-anak baik, tidak nakal," ujar Sinterklas yang diperankan aktivis mudika setempat.

Acara Sinterklas di Sidoarjo ini berbeda dengan SANTA CLAUS, juga kakek jengot putih, di mal, plasa, atau pusat perbelanjaan. Pesta di Waru ini ni jauh dari kesan komersial. Sebab, ibu-ibu WKRI mengajak sekitar 30 anak yatim dari Panti Asuhan Bhakti Luhur (Tropodo) untuk bergembira bersama teman-temannya.

"Anak-anak Bhakti Luhur itu latar belakangnya macam-macam. Ada yang ditemukan di pinggir jalan, diserahkan orang tuanya, singkatnya manusia yang selama ini disingkirkan dari masyarakat," kata BU SUKIS alias Maria Margareta Sukisno itu.

Sambil menikmati hiburan bersama Sinterklas dan Piet Hitam, para orang tua secara spontan mengumpulkan sumbangan sukarela untuk anak-anak yatim. Ibu-ibu WKRI juga menyerahkan paket khusus kepada anak-anak yatim. "Ini hanya pancingan. Kita mengajak semua umat untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang tidak beruntung," jelas Bu Sukis.

Acara gembira bersama Sinterklas dan Piet Hitam selama dua jam lebih itu pun berakhir. Saya dan ibu-ibu di balai paroki pun diingatkan bahwa Natal akan segera tiba. Siapkah hati, siapkan jiwa! Mengutip Injil Markus 1:3:

"... Get the road ready for the Lord. Make a straight path for him to travel."

No comments:

Post a Comment