02 December 2006

Salena Jones, Jak Jazz, dan Saya



JAKARTA INTERNATIONAL JAZZ FESTIVAL, alias JAK JAZZ, baru saja digelar pada 24-26 November 2006. Ini pergelaran kedelapan setelah vakum hampir 10 tahun. JAK JAZZ bisa bergulir lagi berkat kerja keras dan 'kenekatan' IRENG MAULANA, pemusik jazz yang piawai dan rendah hati.

"Orang jazz itu berani mati. Kalau tidak nekat, maka kita tidak akan pernah menggelar festival jazz di Indonesia," ujar Ireng Maulana kepada saya sebelum Jak Jazz 2006 berlangsung.

Ireng benar. Bikin acara jazz di Jakarta, Surabaya, Bandung... singkatnya di Indonesia, tidak gampang. Kenapa?

Bagi sebagian besar orang Indonesia, jazz bukan musik yang gampang 'dimengerti'. Lagu yang sulit dinikmati. Jangankan awam, wartawan musik saja masih kepontal-pontal bila harus menulis jazz. Musik yang aslinya dari negro Amerika, kaum budak, kuli perkebunan... entah kenapa, di Indonesia dianap musik kelas atas, elite.
Musik mahal. Musik yang sulit dijangkau oleh wawasan (dan kantong) masyarakat kebanyakan.

"Yah, makanya kita harus terus melakukan sosialisasi. Anda sebagai wartawan perlu terus-menerus meluruskan salah paham ini," ujar Ireng yang bernama lengkap EUGENE LODEWIJK WILLEM MAULANA.

Nah, dalam suasana apresiasi jazz yang sangat minim inilah Jak Jazz digelar di Jakarta. Nama-nama penampil tak asing lagi, bagi peminat jazz, seperti PHIL PERRY, SHAKATAK, ERIC MARIENTHAL, KAZUMI WATANABE, SMOMA, MONDAY MICHIRU, SALENA JONES.

Dari dalam negeri ada nama-nama LULUK PURWANTO, IRENG MAULANA ALL STARS, ERMY KULIT, INDRA LESMANA, BUBI CHEN, BENNY LIKUMAHUA, IDANG RASJIDI, TRISUM, OELE PATTISELANO, MARGIE SEGERS, YANCE MANUSAMA, DIDIEK SSS, ANDIEN, TOMPI. Saya yakin, anak-anak muda penggemar musik pop (pop culture umumnya) serta masyarakat awam peminat dangdut, nama-nama ini ibarat manusia planet. Asing!

Di antara semua penampil, saya punya 'ikatan batin' dengan SALENA JONES. Lahir di Virginia, Amerika Serikat, 29 Januari 1944, wanita negro ini punya kualitas musikal di atas rata-rata. Dia membawakan lagu apa saja dengan sangat baik. Blues. Jazz. Swing. Latin. Pop gampang simak (easy listening).

Salena Jones ditanya oleh wartawan Indonesia: Apakah Anda penyanyi jazz?

"No. I'm just a singer. Saya hanya penyanyi. Saya suka menyanyikan jazz, blues, dan lainnya. Jazz itu lebih ke soal rasa," ujar Salena Jones yang berusia 62 tahun ini.

Di Jak Jazz Salena Jones membawakan lagu Hello, In a Mellow Tone, It Don't Mean a Thing (If It Ain't Got That Swing. Kemudian jazz standar macam Summertime, Let's Fall in Love, Misty, Since I Feel for You, Everybody Hurts, Feeling, Just the Way You Are.

Salena diiringi lima pemusik kita: JEFREY TAHALELE (bas), OELE PATTISELANNO (gitar), GLENN DAUNA (piano), ARIEF SETYADI (saksofon/flute), RAYENDRA SUNITO (drum). Tanpa banyak latihan, Salena mampu berinteraksi dengan pemusik jazz kita. Ini memang kelebihan orang jazz yang memang sangat komunikatif.

Saya sendiri sejak lama 'menggilai' Salena Jones. Dulu saya punya empat kasetnya, tapi sekarang tinggal dua. THE BEST OF SALENA JONES terbitan Victor Entertainment, Jepang. Vokal Salena itu tebal (kontra-alto), berat, improvisasi tidak dibuat-buat (bandingkan dengan penyanyi AFI atau Indonesia Idol), mulus. Swing-nya berasa. Saya hafal betul gayanya.

Lagu-lagu lama, yang dipopulerkan lebih dulu oleh penyanyi lain, menjadi LAIN ketika dibawakan Salena Jones. Ini talenta luar biasa. "Saya bernyanyi sesuai dengan apa yang saya rasakan. Saya bernyanyi dengan seluruh emosi saya," kata Salena yang sejak 1978 menjadi penyanyi paling digemari di Jepang.

Salena Jones hanya satu dari sekian penampil di Jak Jazz. Ada lagi BUBI CHEN (69 tahun), maestro jazz kita, kemudian IRENG MAULANA, LULUK PURWANTO, MARGIE SEGERS.

Mereka-mereka ini ibarat anggur: Makin tua makin menjadi! Makin tua makin unggul! Beda sekali dengan penyanyi pop kita yang rata-rata menekankan tampilan fisik daripada kualitas seni musik. Pemusik jazz, macam Salena Jones, tak perlu capek-capek menutupi gurat ketuaannya. Tak perlu operasi plastik, sedot lemak, mengecat rambut, membesarkan payudara, pakai kostum aneh-aneh, bahasa yang dibuat-buat.

Orang jazz itu apa adanya. Sederhana, tidak neko-neko, tapi berisi. Dan, itu sebabnya, saya menggemari Salena Jones dan jazz.

1 comment: