15 December 2006

Natal Borjuis di Jawa



Waktu masih anak-anak, ketika saya tinggal di kampung pelosok FLORES TIMUR, Pater WILLEM VAN DE LEUR SVD (almarhum), selalu menyindir orang-orang kristiani di kota. Mereka bikin perayaan Natal, Santa Claus, pohon terang, pesta mewah... lepas sama sekali dari Kristus. Istilah PATER VAN DE LEUR: ‘Natal tanpa Kristus’.

“Kelihatan dari luar mereka memperingati Natal, tapi tidak ada Kristusnya. Nggak ada urusan dengan Kristus,” kritik pastor asal Belanda yang selalu keliling 15 desa di Paroki Ile Ape dengan sepeda pancal.

“Kalian ingat itu: Natal tidak boleh dipisahkan dari Kristus,” begitu Pater mengingatkan kami, anak-anak kampung.

Dulu, saya tak paham apa maksud sang misonaris dari Societas Verbi Divini itu. Setelah tinggal di kota besar (Malang, jember, Jakarta, Surabaya), tengara Pater van de Leur terbukti benar. Sangat benar!

Lihatlah di mal, plasa, hotel, pusat rekreasi, televisi, tempat hiburan, bahkan tempat remang-remang macam karaoke. Pohon terang. Salju palsu. Christmas carols. Setelah pekan pertama Desember, aksesoris Natal begitu mudah ditemui. Tak ada urusan yang pasang itu tahu hakikat Natal atau tidak. Yah... Natal tanpa Kristus lah!

Lebih gila lagi di Singapura. Negara kecil itu sejak awal November 2006 sudah bikin festival Natal terbesar di dunia. JAWA POS bikin reportase khusus langsung dari sana. Yah, tak ada urusan dengan Kristus atau nasrani. Praktis, niai-nilai rohani Natal lenyap sama sekali. Diganti dengan pesta belanja, dagang, berkedok Christmas Festival. Natal cuma bungkus thok. Yang penting, dagang, bisnis, jualan laku.

Saya baca koran-koran lokal di Surabaya. Isinya, ya, banyak cerita tentang natalan di hotel, restoran, mal, plasa. Nyanyi-nyanyi, konser, artis, pohon terang, pak jengot Santa Claus. Klise banget. Asal tahu saja, jumlah nasrani di Surabaya (apalagi Jawa Timur) hanya ‘seupil’ alias sangat-sangat kecil. Tak sampai 2 persen. Tapi heboh bisnis berkedok natalan luar biasa.

Saya dan teman-teman Flores hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pameran ‘Natal tanpa Kristus’ yang dilakukan terang-terangan itu.

Bagaimana dengan liturgi?

Ini pun saya lihat makin kacau alias melenceng dari pakem gereja. Lingkaran Adventus, yang berlangsung empat minggu, hanya ada di dalam gereja. Itu pun sudah hambar. Keluar gereja, ada saja orang yang bikin kebaktian Natal, perayaan Natal, dan macam-macam lagi.

“Natal itu kan mulai 24 Desember, saat misa malam viligi Natal. Lha, sebelum tanggal itu kok orang sudah ramai-ramai natalan? Pakemnya bagaimana?” gugat saya dalam hati.

Ini mirip orang Islam yang berlebaran, padahal masih bulan Ramadan. Kacau! Meskipun sudah terbiasa dengan ‘Natal tanpa Kristus’, sampai sekarang, sebagai anak Flores Timur, saya belum bisa menerima kenyataan yang begitu dahsyat di kota-kota besar itu.

Lalu, ada konser Natal: pop, klasik, paduan suara, dan sebagainya. Tempatnya di hotel mewah. Bayar karcis ratusan ribu. Ikut Sinterklas bayar sekian. Ketemu Santa Claus tidak gratis.

Sungguh kontras dengan kisah Natal di Bethlehem yang begitu sederhana: Yesus lahir di kandang binatang. Yusuf dan Maria tak kebagian (dan tak bisa bayar) hotel. Ditemani gembala-gembala Bethlehem. Bau pesing. Natal pertama di Bethlehem sungguh-sungguh milik orang-orang termiskin, the poorest of the poor.

Nah, kini, di kota-kota Pulau Jawa wong cilik ini benar-benar tersingkir dari Natal.

Substansi Natal sejati--sederhana, lemah, hina, dina, miskin (istilah Romo YUSUF BILYARTA MANGUNWIJAYA Pr)--hilang sama sekali.

Bukan itu saja. Orang miskin pun semakin minder saat hendak masuk ke dalam gereja-gereja di Jawa yang semakin mirip kompleks elite, hall mewah, ala hotel berbintang.

Jangan heran, agama Kristen (Katolik, Protestan, Pentakosta, Karismatik, Adven, Baptis...) semakin menjadi AGAMA BORJUIS yang jauh dari masyarakat akar rumput. Kekristenan pun menjadi menara gading. Menjadi bahan tertawaan di mana-mana.

No comments:

Post a Comment