07 December 2006

Solomon Tong Doktor HC


Solomon Tong bersama Maya Hasan, harpis terkenal usai konser bersama SSO di Surabaya, beberapa waktu lalu.



SELASA, 5 DESEMBER 2006, saya main-main ke SURABAYA SYMPHONY ORCHESTRA alias SSO. Satu-satunya orkes simfoni di Jawa Timur ini bermarkas di Jalan Gentengkali 15 Surabaya, dipimpin SOLOMON TONG. Lahir di Xiamen, Tiongkok, 20 Oktober 1939, Solomon Tong merupakan pendiri sekaligus konduktor SSO.

Saya disambut YANTI, staf SSO, dengan keramahan yang khas. "Mau minum apa? Coca Cola? Sprite?" tanya wanita Surabaya yang kawin dengan pria Nusa Tenggara Barat ini.

"Terserah lah," jawab saya.

"Waduh, Coca Cola habis. Sprite juga habis. Air putih sajalah."

"Oke. Air putih justru bagus untuk kesehatan."

Beberapa saat kemudian Solomon Tong datang. Saya menyalaminya, basa-basi sejenak, lalu ngobrol santai ditemani YANTI dan MIMIN, staf SSO yang sudah saya kenal baik. "Ini ada pisang enak," kata Solomon Tong sembari memperlihatkan pisang kepok. Hm... besar dan segar. Saya menikmati pisang itu dengan lahap, maklum belum makan.

Lalu, mulai berbincang tentang konser Natal SSO yang diadakan di Hotel JW Marriott Surabaya pada 13 Desember 2006, hari Rabu. Tema konser: GOLDEN CHRISTMAS CONCERT atawa konser emas. "Sebab, ini merupakan penampilan SSO ke-50. jadi, namanya konser emas. Golden concert," ujar Solomon Tong yang juga menikmati pisang kepok.

Konser ke-50 ini sekaligus menandai tahun ke-10 usia Surabaya Symphony Orchestra yang didirikan pada 1996 dengan susah payah oleh SOLOMON TONG bersama SUWADJI WIDJAJA (pengusaha) dan RUDY SETIAWAN (pengusaha).

Program konser, seperti biasa, menampilkan nomor-nomor khas Natal, opera, serta simfoni klasik. Di antaranya, Le Nozze di Figaro, La Clemenza di Tito, Die Zauberflote karya Mozart. Dari Pucini ada La Boheme. Juga Phantom of Opera dari Weber.

Seperti biasa juga, PAULINE POEGOEH, soprano sekaligus guru vokal andalan SSO, menjadi primadona dalam urusan opera. Vokalnya dahsyat, pemahamannya pada seni suara klasik Barat jauh di atas rata-rata penyanyi Indonesia. Juga ada beberapa juara lomba vokal Mozart versi SSO macam LINDA HARTONO (juara I dewasa), DODY SOETANTO (juara 2 dewasa), serta Audrey Azarine (juara 2 anak-anak).

GAVIOTA HARTONO, violinis muda, membawakan Concerto for Violin in B-flat major Kv 207 karya Wolfgang Amadeus Mozart. Saya juga melihat nama AGUS P. SIMORANGKIR, kepala divisi regional V Telkom Jawa Timur sebagai konduktor tamu. Apa benar bekas manajer Persebaya itu jadi konduktor? Apa bisa?

"Oh, dia hanya memimpin lagu untuk kebaktian," ujar Solomon Tong seraya tersenyum. "Kalau sekadar jadi dirigen untuk kebaktian kan gampang."

MEMELIHARA eksistensi orkes simfoni selama 10 tahun, dengan konser rutin, pemain tetap, di Indonesia, bukan perkara gampang. 10 tahun 50 konser! Artinya, satu tahun lima konser.

Di awal berdirinya SSO, Tong diingatkan salah satu dedengkot radio di Surabaya, ERROL JONATHANS, bahwa orkes simfoni paling-paling hanya bisa bertahan lima tahun. Setelah itu habis.

Maklum, audiens musik klasik di Surabaya sangat terbatas. Dukungan sponsor kurang. Gedung kesenian atawa concer hall tidak ada. Media massa adem ayem. Namun, Solomon Tong jalan terus dengan idealismenya.

Menurut Tong, konser musik klasik itu hanya berdurasi satu dua jam, tapi persiapannya ratusan jam. Untuk konser bulan Desember 2006, misalnya, Tong sudah melakukan persiapan sejak Januari 2006. Susun program, orkestra, hingga pesan tempat di hotel sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. "Kami berusaha profesional, tidak amatiran," ujar suami ESTHER KARLINA MAGAWE (pianis dan guru musik SSO) itu.

Biaya operasional per bulan Rp 25 juta, ditanggung anggota Yayasan SSO yang jumlahnya sembilan orang. Biaya GOLDEN CHRISTMAS CONCERT ini mencapai Rp 250-Rp 300 juta. Sementara tiket yang terjual, rata-rata seribu penonton, tak sanggup menutup separuh saja biaya konser. "Soalnya, banyak yang tidak bayar," papar Solomong Tong.

Tiket konser SSO bervariasi mulai Rp 100 ribu, Rp 150 ribu, hingga Rp 350 ribu. Sulit menaikkan harga karena kemampuan rata-rata warga Surabaya berada di kisaran ini. Karena itu, Tong mengaku selalu rugi sekitar Rp 100 juta setiap kali mengadakan konser.

Lalu, dari mana duit untuk menutupi defisit anggaran? Tong, yang juga pendiri beberapa gereja mandarin di Surabaya ini, menjawab diplomatis ala pendeta. "Uangnya dari Tuhan. Kami punya moto: WE ARE NOTHING BUT WE HAVE SOMETHING," ujar kakak kandung Pendeta Dr STEPHEN TONG dan Pendeta JOSEPH TONG itu.

"Something itu apa? Jawabnya FAITH, iman."

Berbekal iman yang teguh, FAITH, terbukti selama 10 tahun SSO mampu menggelar konser secara teratur di Kota Surabaya. SSO pun menjadi ikon musik klasik di kota terbesar kedua di Indonesia itu.

Saat dirikan pada 1996, Tong dan kawan-kawan menanamkan misi pendidikan dan budaya musik klasik di Surabaya. Ingin menjadikan Surabaya sebagai 'kota berbudaya' melalui musik klasik. Bukankah kota-kota besar di dunia senantiasa punya orkes simfoni? Tiongkok, misalnya, punya begitu banyak orkestra berkualitas. Sayang, misi mulia ini belum mendapat respons positif dari pemerintah kota.

Toh, di tengah berbagai kendala, Solomon Tong tetap optimis dan bahagia. Dia mengaku mendapat kepuasan mendalam. Apalagi, setelah beberapa siswa SSO mendapat prestasi yang diakui masyarakat musik nasional. Setidaknya tiga murid SSO tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) di bidang piano, biola, dan vokal. Ada lagi yang diterima di konservatorium di Amerika, Australia, dan Tiongkok.

"... menurunkan ilmu dan jika ini tercapai, maka kepuasan batin tak ternilaikan dengan materi," kata Solomon Tong.

Kepuasan batin yang lain, personel orkestra menganggap dirinya sebagai ayah, keluarga, sendiri. Dan ini membuat SSO relatif solid sampai sekarang.

DI sela-sela GOLDEN CHRISTMAS CONCERT, Solomon Tong mendapat anugerah doktor kehormatan (honoris causa) di bidang musik dari International Theological Seminary di Los Angeles, Amerika Serikat. Gelar ini terkait dengan dedikasi Solomon Tong di bidang musik selama bertahun-tahun.

Mengajar paduan suara sejak 1957 sampai sekarang, mengajar musik di berbagai lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi. "Jadi, tidak terasa saya sudah berpuluh-puluh tahun berkecimpung di bidang musik," ujar Tong yang belajar teknik vokal dari LE CLERG VAN HAMMEL pada 1956.

"Sebetulnya sudah lima tahun lalu saya ditawari gelar (doktor HC) itu. Tapi saya rasa belum pantas. Eh, sekarang mereka proses lagi karena board di kampus itu memandang saya memang memenuhi syarat," tegas Tong.

Gelar itu penting, tapi bukan segalanya. Bagi Solomon Tong, ada atau tidak gelar itu, dia bersama pemusik dan manajemen SSO tetap akan menyebarkan musik-musik indah di udara Surabaya yang panas. LET THERE BE MUSIC!

1 comment:

  1. halo om lambertus,
    salam kenal
    saya dody soetanto, kalo masih inget waktu itu ternyata nonton konser 10thn SSO ya.
    saya baru baca liputan nya di blog ini.
    masih sering pulang maumere?
    salam dari orang kupang.

    dody
    ^^
    ditunggu kabar nya
    dodysoetanto@yahoo.com

    ReplyDelete