23 December 2006

Ireng Maulana, Didiek SSS, R Tonny Suwandi


Oleh Lambertus L. Hurek

TIGA pemusik jazz, yang kebetulan beragama Katolik, Fransiskus IRENG MAULANA (gitar), Robertus TONY SUWANDI (saksofon), dan Aloysius DIDIEK SSS (flute) akhir-akhir ini kerap tampil di gereja. Main musik mengiringi kor gereja setempat. Biasanya, kor anak muda alias mudika. Biasanya pula, untuk penggalangan dana.

Siapa tak kenal IRENG MAULANA? Dia bukan saja gitaris jazz top indonesia, tapi juga penggagas dan penyelenggara Jakarta Jazz Festival atawa JAK JAZZ. DIDIEK SSS? Dia adik almarhum EMBONG RAHARDJO, saksofonis top. DIDIEK SSS piawai bermain semua instrumen musik tiup. Juga mengaba dan membuat orkestrasi untuk Orkes Studio Jakarta. R TONNY SUWANDI? Beliau ini pun saksofonis kawakan, dulu pembuat orkestrasi di TVRI Jakarta.

Berbeda dengan di panggung festival, rekaman, atau siaran televisi, trio musisi ini banyak ‘mengalah’ saat main di gereja. Permainan solo sangat sedikit. Improvisasi sekadar saja. Mereka memilih menjadi pemanis kor. Paduan suara dan umat menyanyi, IRENG-DIDIEK-TONNY mengiringi dengan sentuhan musik yang profesional. Tapi, namanya juga orang jazz, sesekali trio ini memperlihatkan kepiawaiannya.

“Saya sudah tiga tahun ini ikut pelayanan untuk mencari dana di gereja,” ujar IRENG MAULANA. Sebetulnya IRENG termasuk pendatang baru. Dia menggantikan posisi EMBONG RAHARDJO yang meninggal dunia. Sebelumnya, trio musisi itu, ya, EMBONG-DIDIEK-TONNY. Koordinatornya EMBONG. “Sekarang saya yang jadi koordinator,” jelas DIDIEK SSS yang tampil memukau di JAK JAZZ 2006.

“Main di gereja ini lain sekali dengan di festival jazz atau di pertunjukan biasa. Suasananya berbeda,” kata IRENG MAULANA. Maksudnya, tentu, pemusik tak bisa improvisasi seenaknya, gaya-gayaan, dan sebagainya. Suasana ibadah harus tetap dijaga agar jemaat dikondisikan untuk memuji, mengelu-elukan Tuhan. Bukan memuji si musisi!

DIDIEK SSS menambahkan, talenta musik yang mereka terima berasal dari Tuhan, sehingga perlu dikembalikan kepada-Nya. “Semua untuk kemuliaan Dia,” ujar DIDIEK SSS, yang kian rajin memproduksi album instrumentalia rohani.

Di halaman gereja, DIDIEK juga berjualan kaset/CD, sebagian hasilnya disumbangkan untuk gereja. Saya lihat di Surabaya CD-CD milik DIDIEK SSS laku keras. “Puji Tuhan,” begitu seruan DIDIEK SSS yang juga piawai menyampaikan kesaksian hidupnya kepada jemaat.

Bagi saya, sikap trio musisi ini layak diteladani. Mereka orang hebat, populer, terkenal, luar biasa di belantika musik. Tapi mereka mau ‘turun ke tengah jemaat’ karena sadar bahwa mereka hanyalah debu di mata Tuhan. Musisi, artis top, pun manusia biasa. Ketika kita meninggal, maka segala reputasi, popularitas, kekayaan, pangkat, jabatan, pun lenyap sama sekali.

4 comments:

  1. akhirnya nemu juga artikel bagus ttg trio didik sss, ireng maulana, r. toni suwandi. thanks for your good work. kreatif banget deh bung hurek ini.

    ReplyDelete
  2. saya mau beli cdnya, dmna y?
    xaverius_em10@yahoo.com

    ReplyDelete
  3. Sampean bisa cari di toko2 kaset rohani. Tapi stoknya terbatas. Faktor nasib sangat penting.

    ReplyDelete
  4. Bravo for Mr. Tony Suwandi....
    He's my best teacher!!

    ReplyDelete