02 December 2006

Gus Ali dan Bumi Shalawat Sidoarjo



Sekitar 2.000 jemaah dari berbagai daerah di Jawa Timur (bahkan luar Jawa Timur dan luar Jawa), belum lama ini mengikuti haul sekaligus hari lahir PONDOK PESANTREN BUMI SHALAWAT di Desa Kenongo, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Para jemaah diminta meneruskan api perjuangan MBAH MUKHDAR.

Kiai Mukhdar tak lain kakek KH AGOES ALI MASHURI, pengasuh Bumi Shalawat sekarang yang lebih dikenal dengan GUS ALI. "Kita datang jauh-jauh ke sini bukan sekadar mendengarkan shalawatan dari Gresik. Yang paling penting, napak tilas perjuangan Kiai Mukhdar," tegas KH MAGHFUR USMAN, ustaz dari Jakarta.

Menurut Maghfur, apa yang dirintis oleh Mbah Mukhdar itu sekarang sudah bisa dirasakan buahnya di Sidoarjo dan sekitarnya. Tugas para jemaah BUMI SHALAWAT, yang rutin menggelar pengajian dua kali seminggu, adalah meneruskan perjuangan itu.

Di antaranya, dengan mewariskan ilmu (semua ilmu, tak hanya ilmu agama) kepada anak-cucu. "Menularkan ilmu itu bukan petenthang-petentheng bawa kitab, tapi bisa juga dengan mendengarkan. Bisa juga dengan tidak menghalang-halangi orang yang mengadakan pengajian," katanya.

Dalam ceramah sekitar satu jam, Maghfur Usman menggunakan bahasa Jawa ngoko, dengan uraian-uraian sederhana. Sekali-sekali sang kiai menyelipkan humor yang membuat para jemaah tersenyum simpul. "Di sini selain Gus Ali juga diundang pembicara tamu yang memberi wawasan kepada para jemaah," kata Irfan, pria asal Tulangan.

Yang menarik, sebagian besar jemaah di haul ini berasal dari luar Kabupaten Sidoarjo. Paling banyak dari Bangil, Pasuruan, Probolinggo, serta kabupaten lain di Jawa Timur. "Saya sudah tiga tahun ini rutin datang ke Tulangan. Saya baru absen kalau pas lagi sakit atau halangan berat," kata ZAINURI, asal Bangil.

Gus Ali sejak awal mengemas BUMI SHALAWAT sebagai pesantren terbuka. Ini agak berbeda dengan pesantren umumnya. Kompleks pesantren tidak terlalu luas karena santri mondok tidak banyak. Santri-santri Gus Ali justru tersebar di berbagai kawasan di tanah air, sehingga sulit dipastikan berapa jumlahnya.

"Mereka yang datang ke sini seperti saya, ya, santrinya Gus Ali. Saya kira sudah ratusan ribu orang, bahkan jutaan orang," jelas Zainuri.

Gus Ali dalam wawancara dengan saya mengatakan, BUMI SHALAWAT selain untuk penguatan iman Islam, juga penguatan ekonomi umat. Di tengah berbagai kesulitan, harga barang-barang naik, pengangguran, kemiskinan, "Pemberdayaan ekonomi umat harus diutamakan," jelas kiai yang juga kolumnis masalah sosial keagamaan serta pengamat sepak bola itu.




REPUTASI dan popularitas Pondok Pesantren BHUMI SHALAWAT, Tulangan, Sidoarjo, rasanya tidak seimbang dengan bangunan fisiknya. Pesantren ini kecil saja, berbaur dengan rumah penduduk. Halaman atau pekarangan tidak ada.

Maka, setiap kali pengajian (Senin malam), ribuan jemaah terpaksa nebeng di jalan kampung atau halaman rumah warga. Pemandangan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Bandingkan dengan pondok-pondok besar, misalnya di Jombang, yang asrama dan halamannya sangat luas, bisa mencapai satu kampung. Karena itu, bila ada pengajian (tiap Senin malam) atau kedatangan Megawati jalan masuk ke Bhumi Shalawat dipinjam sementara untuk lesehan.

"Pondok saya itu kecil saja, Ibu MEGAWATI soekarnoputri. Saya ini cuma guru ngaji di desa," kata KH AGOES ALI MASHURI (GUS ALI), pengasuh pesantren terkemuka di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) ini. Gus Ali menyampaikan hal ini di depan Megawati, yang waktu itu menjabat Presiden Indonesia Raya. Putri Bung Karno hanya senyam-senyum.

Andai saja tak ada plang/papan nama, kemungkinan besar para tamu tidak tahu bahwa rumah kediaman Gus Ali itu pesantren ternama. Begitu biasa, samalah dengan rumah penduduk. Tapi, justru sempitnya lahan untuk pengembangan pesantren membuat Gus Ali mengolah sistem 'ngaji' yang berbeda dengan pondok konvensional.

"Saya punya metodologi sendiri," jelas Gus Ali. Pernyataan ini diulangi lagi di depan MEGAWATI SOEKARNOPUTRI dan rombongan pejabat pusat dan daerah.

Metodologi khusus itu karena santri-santri BHUMI SHALAWAT tersebar di seluruh Indonesia, bahkan luar negeri. Tak salah kalau BHUMI SHALAWAT menggunakan peta bumi Indonesia sebagai logonya. "Bagaimana bisa menghitung santri saya? Saya sendiri nggak tahu," kata kiai yang suka main catur ini.

Tiap Senin malam--tak peduli kemarau atau hujan--ribuan orang dari berbagai daerah, termasuk luar Jawa, datang ke BHUMI SHALAWAT untuk menerima siraman rohani dari Gus Ali. Selain jemaah lama, selalu muncul orang-orang baru yang ingin menerima barokah dari Gus Ali. Anak-anak, remaja, artis, pejabat, pengusaha, konglomerat, berbaur jadi satu.

Di arena pengajian Gus Ali, semua orang sama. Semua santri (temporer dan tetap) lesehan.

"Kenapa lesehan? Karena Gus Ali ini tidak dapat kursi. Kursi kami sudah diambil orang-orang itu," begitu guyonan berbau politik ala Gus Ali. Zikir. Pengajian. Siraman rohani. Kursus mengelola usaha kecil. Hal-hal itu menjadi agenda rutin di BHUMI SHALAWAT.

Metodologi khusus, yang menjadi andalan Gus Ali, adalah pemberdayaan ekonomi. Seorang kiai, 'guru ngaji', bagi Gus Ali, harus bisa menjadi agen pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.


Pendekatan ekonomi inilah yang selalu ditekankan Gus Ali dalam pengajian-pengajiannya. Banyak hal sudah dilakukan BHUMI SHALAWAT, seperti koperasi, pengembangan usaha kecil dan menengah. "Kalau nggak mimir ekonomi umat, susah kita ini," ujarnya.

Para jemaah BHUMI SHALAWAT yang saya temui rata-rata memiliki kesan mendalam terhadap Gus Ali. WAHYUDI asal Pandaan, misalnya, melihat Gus Ali sebagai tokoh yang memiliki kemampuan komplet dalam bidang apa pun.

"Apa saja dia bisa. Dan itu yang membuat saya tidak pernah absen dalam pengajian beliau," katanya. Pria ini selalu datang ke Tulangan bersama 200-an warga Pandaan.

Tak salah, memang. Selain kiai berpengaruh, Gus Ali dikenal pula sebagai analis masalah sosial, politik, budaya, bahkan pengamat sepak bola jempolan. Dengan analisisnya yang tajam, dan disiarkan beberapa media massa, Gus Ali pada Euro 2004 lalu, misalnya, sejak awal sudah melihat keunggulan tim Yunani. Yunani memang akhirnya menjadi juara pertama.

Lain lagi komentar SYAMSUL, warga Tulangan. Ia tak pernah absen dalam pengajian Gus Ali. Apa kelebihan Gus Ali? "Zikirnya mantap. Pokoke mantaplah. Saya nggak bisa menjelaskan, tapi itu terasa sekali. Kiai yang satu ini lain," tegas pria berusia 40-an tahun ini.

Para pejabat seperti bupati, gubernur, menteri, bahkan presiden, sudah biasa 'mampir' ke Bhumi Salawat. Apa pun niat dan motivasi para pejabat itu, Gus Ali selalu berusaha menjadi tuan rumah yang baik. Senyum khas serta guyonan ala kiai Nahdlatul Ulama (NU) tak ayal membuat tamu-tamunya tertawa ngakak.

17 comments:

  1. i'm the one of your 'santri. I'm very proud to meet you

    ReplyDelete
  2. ucapan dan perbuatan bisa dipertanggung jawabkan seorang kh gus ali

    ReplyDelete
  3. Gus Ali memang siiiiiiiiippppppppp!!!!!!!
    Kyai saya K.H M.S Chudlori yang merupakan santri beliau saja hebat,,,apalagi gurunya....

    ReplyDelete
  4. He is the great mursyid. and he is the one

    ReplyDelete
  5. mantab jaya...
    gus Ali adalah salah satu santri dari Kh. Abdul Hannan Maksum kwagean, pare, kediri. Gus Ali aja ampuh apalagi mbah yai Hannan...

    ReplyDelete
  6. mana bos free mp3 KH Gus Ali yg bisa di donwload ?? sukron jazakallah

    ReplyDelete
  7. Bener gan, he is a great great great leader

    ReplyDelete
  8. disitu Lah diriku di didik dan di kembangkan sampai menjadi skrang ini,
    YA ALLAH terima kasih teLah Engkau jadikan Dunia yang selama ini aku belum tau jd mengetaui betapa besar nya ke AGUNGAN diriMU...

    ReplyDelete
  9. terima kasih buat mas hurek, sohibul blog. sudilah kiranya untuk menguplod foto2 gus ali tulangan yang lebih banyak lagi, saya tunggu mas...

    Bhandeng@facebook.com
    bandeng_@hotmail.com

    ReplyDelete
  10. ass kum maaf tolong ingin tau no tlp di pondok bumi sholawat barapa ya

    ReplyDelete
  11. Allahuma Sholi 'ala Sayyidina Muhammad...
    Barokahe Gus....

    ReplyDelete
  12. minta Barokah Gus...
    Allahuma Soli 'ala Sayyidina Muhammad...

    ReplyDelete
  13. YA ALLAH, JADIKANLAH ILMU YANG KITA DAPAT DARI SEMUA PARA KIYAI PARA USTADZ ILMU YANG BERMANFA'AT AMIN.

    ReplyDelete
  14. saya bustanul ulum dr kab:jember kec:puger. sangat salut terhadap gus ali semoga kepulangan saya dri PONPES BUMI SHOLAWAT mendapatkan berkah hidayah serta inayah dr allah melalui do'a-do'a gus ali amin......3x. alhamdhulillah saya sudah sampai dirumah dg selamat sehat wal'afiat.

    ReplyDelete
  15. biasa wae, biografi tentang perjuangan gus ali yg tahu tolong di tulis di wikipedia dong, yg ditentang, di cemooh dan akhirnya tahu dengan sendirinya siapa gus ali, soalnya saya dapat tugas kuliah, nulis tokoh pesantren ya kira2 kyak gitu,,

    ReplyDelete
  16. Kenyataanya Gus Ali memang seorang Kiai yg sederhana rendah hati istilah jawanya, lembah manah andap asor. System pembaharuan kualitas Islam amat sangat berhasil. AllohuAkbar.

    ReplyDelete