02 December 2006

Grace Rozella Pemusik Jenius Surabaya


Oleh Lambertus Lusi Hurek

Surabaya punya segudang anak berbakat. Di usia hijau mereka berhasil mencetak prestasi fenomenal. Nama mereka pun tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI sebagai pemegang rekor nasional.

Dalam pengamatan saya, sebagian besar remaja dan anak berbakat Surabaya ini berasal dari keluarga Tionghoa kaya. Orang tuanya sangat peduli dengan bakat dan pendidikan anaknya. Kursus musik klasik, biasanya sejak empat tahun, ikut lomba, master class, hingga konser bersama pemusik dewasa. Bukan main!

GRACE ROZELLA SOETEDJA, lahir di Surabaya 23 Mei 1994, merupakan salah satu gadis berbakat yang saya kenal. Putri pasangan ANDY SOETEDJA dan CATHRIN SOETEDJA ini sejak 1999 (usia 5 tahun) sudah ikut lomba piano di Hongkong. Tahun 2001 (usia 7 tahun) Grace menjadi juara II lomba piano di Hongkong. Di usia 9 tahun Grace menerima sertifikat MURI usai konser bersama SURABAYA SYMPHONY ORCHESTRA (SSO) di Hotel JW Marriott Surabaya.

MURI Semarang memberikan penghargaan istimewa kepada Grace Rozella Soetedja karena pada 16 April 2004 dia berhasil membawakan Concerto for Violin in Bes Major karya WA Mozart bersama orkes simfoni. MURI sempat ragu-ragu. Apakah mungkin bocah sembilan tahun mampu memainkan konserto panjang? Bisakah Grace lolos dari tekanan psikologis? Ternyata, Grace mampu.


Adalah JAYA SUPRANA, bos MURI, yang langsung menyerahkan sertifikat MURI kepada Grace. "Tadinya saya tidak percaya. Tapi setelah melihat sendiri, ternyata anak ini benar-benar istimewa. Saya langsung menjadi saksi ahli," puji Jaya Suprana, yang dikenal sebagai pianis klasik hebat itu.

Sukses dengan Concerto for Violin in Bes Major karya WA Mozart, Solomon Tong (dirigen SSO) memberi tantangan lebih berat: Concerto for Violin No 3 in G Major, masih karya Mozart. Tingkat kesulitannya dua kali lipat ketimbang sebelumnya. "Repertoar ini hanya bisa dimainkan oleh violinis profesional. Bukan anak-anak. Tapi Grace mampu memainkan tanpa ragu," puji Solomon Tong.

Tong tak berlebihan. Saya sering melihat langsung Grace berlatih bersama SSO. Gadis remaja ini praktis tak pernah membuat kesalahan. Permainannya bersih. Justru beberapa pemusik dewasa kerap kehilangan konsentrasi mengingat komposisi ini sangat panjang. Solomon Tong beberapa kali menghentikan latihan, bahkan sempat melontarkan kata-kata keras kepada anak buahnya, karena kurang fokus.

"Grace saja bisa mulus kok kalian tidak bisa?" kira-kira begitulah ungkapan Tong di markas SSO, Jalan Gentengkali, Surabaya. Grace terlihat santai, sedikit cuek, melihat kakak-kakak dan paman-bibinya 'dimarahi' Solomon Tong.

Di panggung, Grace sangat percaya diri. Tak ragu-ragu membuat improvisasi. Grace hafal komposisi di luar kepala, sehingga tidak butuh partitur (score).

Namun, di luar panggung, Grace pemalu. Tak banyak bicara. Kalau diwawancara, Grace hanya bicara seperlunya. "Pokoknya senang deh bisa dapat piagam MURI," kata bungsu dari lima bersaudara itu.

Grace dikarunia talenta musik yang luar biasa. Karena itu, orang tuanya [ANDY SOETEDJA dan CATHRIN SOETEDJA] langsung menyalurkan Grace ke sekolah musik. "Bakat itu harus diasah. Kalau tidak nanti tidak bisa berkembang," ujar Cathrin kepada saya.

Di usia empat tahun, 1998, Grace belajar piano di bawah asuhan TAN FEY LAN dan PUSPITA. Talenta, dukungan orang tua, rajin berlatih, membuat Grace Rozella cepat sekali melejit.

Selang setahun, 1999, Grace sudah mengikuti lomba piano di Hongkong. Meski belum menang, karena usia Grace baru lima tahun, penampilan di arena internasional ini semakin memperlihatkan bakat Grace. Tahun 2001 Grace kembali mengikuti lomba piano di Hongkong, dan berhasil merebut juara II.

Selepas itu, Grace makin 'gila' saja berlatih piano. Minimal dia berlatih tiga jam sehari. Satu jam latihan di tempat kursus, dua jam di rumah. Ketika anak-anak seusianya bersantai-santai, Grace justru kecanduan piano. "Pokoknya, saya suka piano. Enak deh kalau main musik," kata Grace.

Piano memang segalanya bagi Grace. Maklum saja, empat kakaknya juga pianis berbakat. Mereka sering berlatih bersama di rumah.

Lalu, kenapa Grace justru menjadi violinis pencetak rekor MURI? Bukan piano? Aneh memang. Kepada saya, gadis yang sekolah di Yayasan Petra Surabaya ini mengaku hanya belajar violin kurang dari setahun pada SHIENNY KURNIAWATI, guru musik di SSO. Habis itu dia digembleng lagi oleh FINNA KURNIAWATI, juga pemusik SSO.

Eh, ngomong-ngomong apa cita-citamu? Grace malah bingung. "Enaknya apa ya?" tanya Grace kepada SYBIL POZELI, kakak kandungnya, yang juga pianis berbakat.

1 comment:

  1. Ini berita ke dua ya? Wow! Keren! Kamu sempurna ya, Shien?

    ReplyDelete