22 December 2006

C Hasaniyah Waluyo: Penerjemah Alkitab Bahasa Madura



Sejak kecil, di pelosok Flores Timur, saya menikmati cerita bersambung karya C HASANIYAH WALUYO di HIDUP. Ini majalah mingguan Katolik yang diterbitkan oleh Keuskupan Agung Jakarta, beralamat di Jalan Kebon Jeruk Raya 85 Jakarta. Gaya bertuturnya khas. Ada nasihat, kata-kata bijak, serta pandangan hidup Katolik. Tapi isinya universal, bisa dinikmati semua manusia di bumi ini, apa pun agama dan keyakinannya.

Setelah merantau di Tanah Jawa, saya menemukan beberapa buku cerita (novel) karya C HASANIYAH WALUYO di toko buku. Saya sempat meminjam beberapa novel di Perpustakaan Pukat, Jalan Bengawan 3 Surabaya. “Novel-novel karya Bu Waluyo memang banyak yang suka,” ujar Andre, pengelola perpustakaan.

Saya pun mengecek siapa gerangan C HASANIYAH WALUYO itu. Aha, ternyata dia berasal dari Pulau Madura. Tepatnya di Pamekasan. Karena penasaran, suatu ketika, saya berusaha bertemu C HASANIYAH WALUYO di Pamekasan. (C di depan ini Caecilia, nama permandian.)

Ternyata tidak sulit. Cukup bertanya kepada umat paroki, gerejanya di dekat alun-alun, alamat C HASANIYAH WALUYO mudah ditelusuri. “Nggak jauh kok rumah BU Waluyo,” ujar seorang jemaat.

BU WALUYO alias C HASANIYAH WALUYO pun menyambut kedatangan saya. Ramah sekali. Basa-basi sebentar, minum kopi panas. Ditemani PAK WALUYO, suaminya, pengarang senior ini cerita banyak tentang novel-novelnya. Di usia sepuh (60-an tahun), beliau masih menulis, menulis, dan menulis. Dia suka menulis novel, cerita pendek, singkatnya fiksi.

"Saya memang tidak bisa berhenti menulis. Menulis sudah jadi panggilan jiwa saya,” tutur sang pengarang. Logat Maduranya kental. Artikulasinya jelas.

"Saya punya beberapa novel yang belum diterbitkan,” papar Bu Waluyo. Dia juga bertanya kenapa majalah HIDUP tidak seperti pada 1970-an hingga pengujung 1980-an. Waktu itu karya-karya C HASANIYAH WALUYO sangat sering dimuat. Sekarang sulit, katanya.

“Apa ada kebijakan baru atau apa ya? Padahal, cerita-cerita itu kan ada muatan moralnya. Penting untuk generasi muda.”

Saya bukan orang HIDUP, meski waktu mahasiswa saya banyak menulis di HIDUP, sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan Bu Waluyo. "Saya kira itu pertimbangan redaksi HIDUP. Tapi, yang jelas, tulisan Ibu sangat bagus,” kata saya, tulus. Kalau tak bagus, buat apa saya capek-capek mencari C HASANIYAH WALUYO di Pamekasan, bukan?

Selain menulis, Bu Waluyo memberi les bahasa Inggris kepada anak-anak muda di Pamekesan. Mengajar. Sebab, pasutri Waluyo-Hasaniyah ini memang sejak dulu berbakti sebagai guru. Jiwa pendidik sangat terasa dari dua sosok sederhana ini. Pak Waluyo asli Jawa, luwes, pandai bergaul.

Hasaniyah asli Madura, fasih beberapa bahasa asing. Saya menilai kedua insan ini sebagai pasangan suami-istri yang bahagia meski hidup di rumah sederhana, masuk gang sempit.

SETELAH berbincang agak panjang, saya terperanjat ketika Bu Waluyo menyebutkan bahwa dialah penerjemah ALKITAB berbahasa Madura. Wah, luar biasa ibu ini! Ternyata, orang hebat itu terserak di mana-mana, hingga ke pelosok Madura. Puji Tuhan, saya beroleh kesempatan bertemu dengan C HASANIYAH WALUYO.

Ceritanya, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sejak 1980-an bikin program penerjemahan Alkitab alias Bibel (Bible, Bijbel) ke dalam bahasa-bahasa nusantara. Tujuannya, ya, agar umat kristiani lebih mudah menangkap cerita-cerita dan ajaran luhur dari kitab sucinya. Sebab, sudah menjadi rahasia umum, masih banyak warga Indonesia yang belum paham bahasa Indonesia. Contohnya, ya, orang di pelosok Flores, Lembata, Adonara, Solor, Alor, Maluku, Papua, Nias, Dayak.

"Saya kemudian diminta bantuan oleh LAI untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Madura,” tutur Bu Waluyo lalu tersenyum simpul. Kalau menerjemahkan novel biasa (dari bahasa Inggris) sih sudah biasa bagi Bu Waluyo. Beberapa karya terjemahannya bahkan sudah diterbitkan PT Gramedia, Jakarta.

Tapi menerjemahkan Alkitab? Aha, ini bukan pekerjaan main-main. Alkitab itu firman Allah, sehingga kata-katanya harus pas. Terjemahan dengan tingkat akurasi sangat-sangat tinggi.

Awalnya, Bu Waluyo merasa berat, namun dia akhirnya menerima ‘tantangan’ LAI di Jakarta. “Sebelumnya saya berdoa, minta bantuan Roh Kudus, agar dimampukan untuk melakukan pekerjaan besar ini,” kata Bu Waluyo.

Jangan lupa, Bu Waluyo harus menerjemahkan seluruh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dari KEJADIAN hingga WAHYU. Total 66 kitab. Tujuh kitab DEUTEROKANONIKA (versi Katolik) tidak diterjemahkan mengingat ini proyek LAI, lembaga milik Kristen Protestan. (Katolik punya lembaga sendiri, namanya LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA.)

Berbeda dengan menerjemahkan novel, C HASANIYAH WALUYO harus dites dulu. Pakar-pakar Alkitab dari LAI memintanya menerjemahkan beberapa pasal. Untuk itu, Bu Waluyo menggunakan beberapa rujukan Alkitab bahasa Indonesia, bahasa Inggris (beberapa versi), bahasa Belanda, dan beberapa bahasa lain. Juga merujuk bahasa asli Alkitab (Ibrani).

Cek sana, cek sini, recek... kata per kata, kalimat, ayat, perikop, hingga pasal. Akurasi adalah segalanya, sehingga pekerjaan besar ini tidak pakai tenggat waktu alias deadline.

Mirip anak sekolah, setiap selesai menerjemahkan, pakar-pakar LAI dan pakar bahasa Madura membelejeti karya Bu Waluyo secara cermat. Meleset sedikit diulang... dan seterusnya.

Singkat cerita, Alkitab dalam bahasa Madura itu pun tuntas. Betapa bangganya C HASANIYAH WALUYO mampu menyelesaikan ‘tantangan’ LAI itu. “Puji Tuhan. Saya percaya ini karena campur tangan Tuhan. Kalau kita percaya Tuhan, maka selalu ada jalan. Tak ada yang mustahil bagi Tuhan,” ujar Bu Waluyo yang piawai main organ di gereja itu.

Saya puas dan bahagia bisa bertemu Pak Waluyo dan Bu Waluyo di Pamekasan. Terima kasih, Tuhan, saya diberi kesempatan bertemu dengan orang sederhana yang dianugerahi talenta luar biasa!

5 comments:

  1. Penerjemahan dan penerbitan Alkitab bahasa Madura misalnya, berkali-kali usaha ini mengalami kegagalan. Usaha ini seolah-olah menabrak benteng baja yang berujung maut.

    Pada pertengahan abad ke-19, ada seorang penduduk pulau Jawa keturunan Madura yang bernama Tosari. Setelah ia menjadi orang Kristen pada tahun 1843, Tosari berusaha menyebarkan Injil Kristen ke pulau nenek moyangnya. Karena orang-orang Madura tidak mau menerimanya, maka ia kembali ke Jawa Timur. Beberapa tahun kemudian ia dijunjung tinggi sebagai salah seorang pendekar gereja Jawa, dengan nama kehormatan Kiyai Paulus Tosari.

    Salah seorang utusan misionaris dari negeri Belanda yang beroperasi di Jawa Timur pada masa hidup Paulus Tosari adalah Samuel Harthoorn. Pada tahun 1864 Harthoorn dan istrinya itu mulai menetap di Pamekasan, sebuah ibu kota kabupaten di Madura. Selama empat tahun mereka berusaha menjajaki persahabatan dengan penduduk setempat. Mereka berharap agar keakraban itu dapat menjadi suatu jembatan pengkristenan.

    Usaha ini gagal dan terhenti setelah terjadi tragedi pada tahun 1868. Ketika Pendeta Harthoorn sedang keluar kota, segerombolan orang Madura di Pamekasan mengepung rumahnya dan membunuh istrinya. Setelah peristiwa yang begitu mengerikan itu, Harthoorn hengkang membawa trauma dan dukanya meninggalkan Madura selama-lamanya.

    Sementara itu, di negeri Belanda ada J.P. Esser, seorang pendeta muda yang pandai. Ia belajar teologia dan memperdalam bahasa Madura sampai mencapai gelar doktor. Tahun 1880 ia memasuki pulau Madura dengan misi Kristen. Karena misinya gagal, maka meninggalkan Madura dan menetap di Bondowoso, lalu pindah ke Sumberpakem. Kedua kota kecil di Jawa Timur itu penduduknya banyak yang keturunan suku Madura.

    Berkat usaha Dr Esser dan kawan-kawannya, seorang Madura bernama Ebing dibaptiskan di Bondowoso pada 23 Juli 1882. Dialah orang Madura pertama yang memeluk agama Kristen. Tanggal ini kemudian dijadikan tonggak awal berdirinya jemaat Sumberpakem, meskipun peresmian sebagai gereja jemaat baru pada tahun 1900.

    Pada tahun 1886, Dr. Esser menyelesaikan terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Madura. Lalu ia mengambil cuti dinas ke Belanda, agar terjemahannya itu dapat diterbitkan. Tetapi proyek penerjemahan Bibel bahasa Madura ini kembali mengalami kegagalan karena Esser meninggal dunia pada umur 37 tahun, dan sebagian naskah terjemahan hasil karyanya itu raib.

    Pada tahun 1889, seorang pendeta muda bernama H van der Spiegel, berangkat ke Jawa Timur untuk meneruskan misi mendiang Esser. Ia mengerahkan tiga orang Madura untuk menolong penyempurnaan naskah Kitab Perjanjian Baru peninggalan Esser.

    Ketika naskah buram terjemahan itu selesai, Spiegel pulang ke Belanda pada tahun 1903 untuk menerbitkan seluruh Perjanjian Baru dalam bahasa Madura. Pada saat Spiegel memperjuangkan proyek penerbitan Bibel bahasa Madura di Belanda, sebuah tragedi terjadi di Madura. Gereja Ebing dibakar massa. Seorang misionaris bersama istrinya nyaris tewas, pada saat rumah mereka dikepung dan dibakar.

    Berita buruk ini sampai ke negeri Belanda, sehingga proyek Spiegel terganggu. Akibatnya, hasil karya Spiegel yang diterbitkan hanyalah “Ketab Injil Sotceh see Toles Yohanes” (Kitab Injil Suci Karangan Yohanes).

    Salah seorang rekan sekerja Spiegel ialah Pendeta F Shelfhorst. Sejak tahun 1912 ia dan keluarganya tinggal di Kangean Madura. Shelfhorst berusaha menyebarkan kekristenan melalui bantuan sosial dan pengobatan. Tapi, usaha pendeta ini tak membuahkan hasil sama sekali. Tak satu orang pun orang Madura yang masuk Kristen. Hingga pada tahun 1935 Pendeta Shelfhorst pensiun atas permohonannya sendiri. Ia tidak pulang ke Belanda, tetapi menetap di pegunungan Jawa Timur sambil menerjemahkan Bibel ke dalam bahasa Madura. Usaha ini pun gagal karena daerah pegunungan itu dikepung bala tentara Jepang pada tahun 1942. Tiga tahun kemudian, Shelfhorst meninggal dalam sebuah kamp tahanan Jepang di Jawa Tengah. Gagal lagi penerjemahan kitab agama Kristen ke dalam bahasa Madura.

    Akhirnya, penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Madura baru selesai 130 tahun sejak kegagalan Pendeta Samuel Harthoorn, tepatnya pada bulan September 1994. Penerjemahnya adalah Ny. Cicilia Jeanne d’Arc Hasaniah Waluyo, seorang guru agama Katolik di SMP Pamekasan. Bibel bahasa Madura ini diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dengan nama “Alketab E Dhalem Basa Madura.”

    ReplyDelete
    Replies
    1. Catatan sejarah yg sangat menarik tentang proses penerjemahan sekaligus pekabaran injil di madura. Semoga almarhum ibu Hasaniah Waluyo berbahagia di sisi Tuhan. Kerja keras yg luar biasa.

      Delete
  2. salut sama bu hasanah. kerja menerjemahkan alkitab gak gampang, butuh ketelatenan dan ketelitian luar biasa. God bles you Ibu!!!

    ReplyDelete
  3. Br nemu tulisan ini..bu hasaniah ini nenek sy..terima kasih byk atas ulasan positifnya

    ReplyDelete
  4. terimakasih sdh menulis sekelumit kisah perjalanan hidup ibu saya, tapi beliau sudah meninggal dunia sejak 14 agustus 2010. smoga karya-karya beliau tidk akan lekang ditelan waktu

    ReplyDelete