04 November 2006

Wayan Titip Sulaksana


Kantor Unit Konsultasi Penyuluhan dan Bantuan Hukum (UKPBH) Universitas Airlangga di Jalan Dharmawangsa Surabaya sangat sederhana. Sempit ruangannya, fasilitas seadanya. Hampir setiap hari kerja, kantor ini didatangi aneka macam wong cilik. Buruh yang di-PHK, petani yang tanahnya diserobot, hingga rakyat biasa yang ‘disakiti’ aparat negara.

Tak jauh dari pintu masuk tampaklah I Wayan Titip Sulaksana, S.H., M.S. Berbadan ramping, logat Bali kental, Wayan kerap saya jumpai memakai topi haji. Buku-buku agama Islam pun terlihat di meja kerjanya. “Yah, begini ini kantor saya. Semua serba sederhana,” ujar Wayan Titip.

Ihwal religiositasnya ini, Wayan Titip mengatakan, semua ini penting agar dia dan timnya kuat menghadapi tekanan di lapangan yang berat. “Sandaran saya cuma Allah. Saya tidak takut sama siapa pun, kecuali Allah. Kalau kita punya Tuhan, insya Allah, kita akan maju dengan tegar, penuh keberanian,” ujar Wayan mengungkap ‘rahasia’ di balik keberaniannya.

Sementara itu, di kursi tamu terlihat beberapa warga berpakaian lusuh, wong cilik, antre untuk minta bantuan hukum. Untuk kasus-kasus praktis macam itu, Wayan Titip meminta para mahasiswa bimbingannya untuk memberikan konsutasi serta mempelajari kasusnya. Maklum, UKPBH Unair ini sejatinya sebuah laboratorium hukum bagi mahasiswa Fakultas Hukum Unair.

Mahasiswa yang sebentar lagi menjadi sarjana hukum sengaja dikondisikan oleh Wayan untuk menghadapi kasus-kasus nyata. Dus, mereka tidak hanya baca buku teks, garap tugas, menulis skripsi, ujian, dan sebagainya. Ilmu tanpa praktik tak ada gunanya, begitu prinsip Wayan Titip. Karena terlalu banyak praktik inilah, jenjang karier akademik Wayan Titip cenderung stagnan. Sejak dulu ia tetap dosen cum pengacara, padahal ilmunya sudah setaraf profesor doktor.

“Wayan Titip itu harusnya sudah mencapai jenjang karier akademik tertinggi. Tapi, rupanya, panggilan jiwanya ada di lapangan. Dia ingin selalu berjuang bersama rakyat kecil,” ujar seorang bekas dosen Unair kepada saya. “Sulit mencari orang kayak dia.”

Yah... Wayan Titip memang manusia luar biasa. Berkat kepemimpinannya, UKPBH Unair yang sejatinya hanya laboratorium hukum, tempat praktik mahasiswa FH Unair, berkembang menjadi semacam lembaga bantuan hukum (LBH) tandingan. Dulu, di era Orde Baru, pilihan bagi wong cilik yang menghadapi kasus-kasus struktural di Jawa Timur, ya, ke LBH Surabaya di Jl Kidal. Hadirnya UPKBH Unair tak ayal menjadi alternatif bantuan atau advokasi hukum bagi masyarakat.

“Kebetulan visi dan misi UPKBH dan LBH sama. Apalagi, aktivis LBH itu kan banyak yang alumni Unair,” jelas Wayan yang masih mengandalkan sepeda motor butut itu. "Kita selalu koordinasi dan kerja sama,” tambahnya.

Nama I Wayan Titip Sulaksana mencorong ke masyarakat seiring dengan geger kasus Marsinah. Yudi Susanto, bos PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, dituduh mendalangi pembunuhan aktivis buruh itu bersama tujuh orang lainnya. Yudi kemudian minta bantuan Prof JE Sahetapy SH MA, waktu itu guru besar FH Unair yang sangat berpengaruh, menjadi penasihat hukum.

Karena Sahetapy bukan pengacara, dia meminta Richard Wahyudi dan Wayan Titip di UPKBH untuk mengatasi persoalan pelik ini. Lalu, UPKBH bekerja sama dengan LBH Surabaya untuk melakukan advokasi dan pembelaan yang heroik di PN Surabaya.

Wayan Titip kebagian membela Mutiari, manajer personalia PT CPS. Seperti kasus Yudi Susanto, tim pengacara Kasus Marsinah ini menemukan fakta bahwa kematian Marsinah pada 1993 itu sarat rekayasa. Yudi Susanto, Mutiara, dan kawan-kawan hanyalah tumbal untuk menutup-nutupi kedok pembunuh sebenarnya.

“Rekayasanya jelas sekali. Kami sudah ungkap semuanya di pengadilan dan media massa,” papar Wayan yang juga komentator masalah sosial politik itu.

Tidak diteror waktu membela Mutiari?

“Wah, jangan tanya lagi. Setiap hari saya diteror. Begitu juga dengan teman-teman lain yang menangani Kasus Marsinah. Saya selalu katakan, teror selalu jadi makanan sehari-hari,” ungkap pria yang juga kerap menangani kasus pers itu.

Ternyata, teror demi teror ini tak membuat Wayan Titip surut langkah. Makin diteror dia malah makin berani. Kenapa? "Niat saya hanya menegakkan hukum. Tegakkanlah hukum walaupun langit runtuh,” tegasnya.

Dan, sebagai muslim yang saleh, Wayan Titip sangat yakin bahwa Allah senantiasa melindungi hamba-Nya. Doa dan jeritan orang-orang tertindas tak akan sia-sia.

Benar saja. Pada 3 Mei 1995 Mutiara dan semua terdakwa Kasus Marsinah dibebaskan oleh Mahkamah Agung, waktu itu ketua majelis kasasinya Adi Andojo Sutjipto. Wayan mengaku tidak kaget karena memang tidak ada fakta hukum apa pun yang menyatakan bahwa Mutiara dkk terlibat pembunuhan Marsinah. Karena itu, dia pun meminta agar si pembunuh sebenarnya harus dicari sampai ketemu.

Setelah Kasus Marsinah, Wayan Titip Sulaksana bersama UPKBH-nya fokus menangani kasus-kasus wong cilik. Wayan paling suka kasus struktural kendati ancamannya besar. Padahal, uangnya tidak ada. “Uang apa? UPKBH ini lembaga prodeo. Kita beri pelayanan bantuan hukum secara gratis. Paling, ya, sekadar uang transporlah,” ujarnya blak-blakan.

Beberapa tahun lalu, Wayan menangani kasus penyerobotan tanah rakyat kecil oleh Golkar. Partai beringin itu membebaskan tanah di Jl Ahmad Yani Surabaya untuk bikin kantor DPD Golkar Jatim. Ternyata, selama bertahun-tahun Golkar tidak melaksanakan kewajibannya: membayar kompensasi secara wajar.

Wayan pun harus berhadapan dengan Mbah Progo (alm), nama populer HM Said, dedengkot Golkar Jawa Timur.
“Alhamdulillah, akhirnya bisa diselesaikan dengan baik,” papar Wayan.

Wayan Titip manusia idealis. Dia berprinsip bahwa orang seharusnya mengandalkan hidup dari gaji atau penghasilan resmi yang halal. Dia sangat benci korupsi, suap, amplop, angpao, dan sejenisnya. Menurut Wayan, seorang dosen PNS tak akan bisa kaya karena gajinya pas-pasan. Kalau mau kaya, janganlah mau jadi dosen atau PNS. Jangan heran, meski telah malang melintang sebagai dosen sekaligus pengacara, Wayan Titip belum bisa membeli mobil.

“Tapi ini sudah menjadi panggilan hidup saya. Kalau mau kaya, ya, jangan jadi dosen,” tegasnya.

Dari sini, kita bisa mengerti mengapa komentar Wayan Titip di media massa seputar korupsi, perilaku pejabat, anggota dewan yang suka ngelencer, pungutan liar... begitu keras. Di koran ini Wayan pernah mengatakan, anggota DPRD Jatim (periode lalu, red) tidak pernah pakai otak dalam membuat kebijakan.

“Otaknya ada di dengkul,” kata Wayan Titip. Kenapa? “Lha, rakyatnya susah mereka ngelencer seenaknya. Menentukan gaji dan tunjangan tanpa memperhitungkan kesusahan rakyat.” Wayan kemudian dipanggil dan ‘diadili’ DPRD Jatim. Toh, dia berani beragumentasi dan akhirnya masalah ini selesai.

Ihwal kiprah Wayan Titip, pengacara senior yang juga bekas dosen Unair, Harlem Napitupulu, menyebutnya sebagai pendekar putih. Menurut Harlem, dunia kepengacaraan di Indonesia itu ibarat rimba persilatan. Ada pendekar putih, pendekar hitam, pendekar abu-abu. Pendekar hitam terlalu banyak sehingga sering kali menyulitkan pendekar putih.

“Wayan Titip itu pendekar putih. Makanya, dia selalu bicara lantang, keras, apa adanya, lurus, blak-blakan. Sehebat-hebatnya pendekar hitam, dia tidak akan bisa melawan pendekar putih,” kata Harlem Napitupulu.


Sudah tiga puluh tahun lebih I Wayan Titib Sulaksana SH MH bergelut di bidang hukum. Namun, pria kelahiran Bali, 10 Agustus 1956, ini tidak pernah mengubah prinsip hidupnya. Wayan konsisten membela masyarakat menengah ke bawah.

Dia mengaku bukan seperti pengacara swasta. Alumnus Universitas Airlangga Surabaya ini berangkat dari tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bidang pengembangan hukum. “Untuk itu, saya tidak boleh menangani klien dari kalangan atas,” katanya.

Memulai karier sebagai pengacara sejak 1988, Wayan mengaku hanya mau kalau kliennya itu mempunyai pemikiran seiring dengannya. Artinya, segala bukti-bukti yang dibutuhkan dalam persidangan diberikannya, tidak ada yang ditutup-tutupi.

"Hal yang paling menyenangkan adalah memenangkan perkara. Kebahagiaannya tidak ternilai dengan materi," ujar ketua Unit Pelaksana Teknis Konsultasi dan Bantuan Hukum (UPTKBH) Unair ini.

Sementara, hal yang paling tidak menyenangkan jika kliennya bertindak sendiri di luar sepengetahuannya. "Apalagi sampai ada klien yang berusaha sendiri kemudian mentok, lantas menghadap saya lagi. Itu sangat menyulitkan," ujar bapak dari tiga anak ini.

“Saya tidak senang jika ada klien tidak jujur. Dia hanya mengungkapkan yang baik-baik saja tentang dirinya. Kalau tidak jujur, dia akan menyesatkan di persidangan," imbuh Wayan.

No comments:

Post a Comment