22 November 2006

Warung Setan di Surabaya


Rawon Setan di Jalan Embong Malang, Surabaya, selalu diburu pelanggan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun pernah mencicipinya. Warung ini didirikan oleh MUSIATI (76) pada 1950 dan bertahan hingga generasi ketiga, ENDANG MARTININGSIH (37).

By Ning Heti

WARUNG di pinggir Jalan Embong Malang itu seperti warung biasanya. Tempatnya tak luas. Lantai tegel dan dinding dibiarkan dengan cat lama. Kusam. Perabotnya juga sederhana. Kalau ada yang istimewa, mungkin sederatan foto artis: INTAN NURAINI, YUNI SHARA, NICKY ASTRIA, GUNAWAN, PIYU Padi....

"Sejak masih di seberang jalan, mepet dengan gedung NIROM (bekas RRI) sudah banyak artis yang datang seperti RATNO TIMOER, MUS MULYADI, dan DORCE GAMALAMA," kata Musiati, pendiri Rawon Setan, di rumahnya Jalan Blauran Kidul, tak jauh dari WARUNG SETAN.

Ingatan Musiati masih kuat. Musi tampil segar setelah mandi dan berbedak tebal. Hanya, Musi tak kuat berdiri dan berjalan sejak kena stroke pada 2000. Sehari-harinya dia istirahat di dipan kayu berkasur kapuk di ruang tamu, ditemani SADIYO (83), sang suami. "Kalau warung tutup, saya dan Ibu yang di rumah," kata Sadiyo.

Usaha warung rawon itu mulanya dirintis Musi dan Sadiyo begitu kembali dari pengungsian di Jombang pada 1950. Sejak 1946 Sadiyo--yang tinggal di Surabaya sejak 1936--bertemu dan menikahi Musi. "Saat kembali ke Surabaya, istri saya ingin bantu saya cari uang dengan jualan."

Usai Sadiyo bekerja, warung dibuka mulai pukul 02.00 hingga 07.00. Musi memasak dan meladeni pembeli, Sadiyo cuci piring. Karena buka dini hari itulah, rawon Mbah Musi dijuluki pembeli sebagai RAWON SETAN.

"Nama itu makin jadi cap ketika koran RADAR SURABAYA menulis dengan sebutan itu," kata Musi.

Saat masih Musi dan Sadiyo yang mengelola, masakan rawon bukan satu-satunya menu jualan. Masih ada ketan srundeng yang juga diminati pembeli. "Rawonnya kira-kira masih seharga Rp 20," kata Musi.

Belakangan, warung rawon itu digusur karena Gedung NIROM yang berubah fungsi menjadi hotel bintang lima. Musi pun memindahkannya ke seberang jalan, nunut di depan kios orang lain. Kian lama, warung kian ramai hingga tempatnya tak cukup menampung pelanggan. Pada 2004 Musi memutuskan untuk menyewa sebuah kios tiga lantai seharga Rp 40 juta setahun, tepat di depan rumahnya.

Sebelum Musi sakit, ENDANG MARTININGSIH, cucunya dari Djuwariah, menjadi tangan kanan Musi yang mengelola warung. Tapi sejak Endang mendirikan warung rawon dengan namanya sendiri pada 2005, WARUNG SETAN diserahkan ke Djuwariah.

"Soal buka warung, anak dan cucu saya izinkan asal dengan nama mereka sendiri," kata ibu empat anak itu. Selain Endang, masih ada RAWON BU SUP--menantu Musi yang menikah dengan anak keempatnya, Mulyadi.

Meski tak ditangani sendiri, Musi yang asli Tulungagung itu tak pernah membiarkan warungnya tanpa pengawasan. Memang Musi tak turun tangan meracik bumbu, mengupas kluwak, hingga meladeni pembeli. Ada sepuluh orang yang membantunya bekerja.
"Paling-paling Mbah mencicipi bumbu dan masakan yang sudah jadi," kata Indah, salah satu cucu Musi yang terlibat begitu lulus SMEA pada 1997.

Di lokasi sekarang, omzet RAWON SETAN tak pernah turun. Tiap hari Musi masih mampu menjual rawon hingga tujuh panci besar dengan omzet Rp 6-7 juta. Dari buka mulai pukul 06.00 hingga 03.00, Musi menghabiskan daging 60 kilogram, beras sekitar 30 kilogram dan bumbu kluwak (paling utama) sekitar 4 kilogram.

"Semuanya dimasak di sini," kata Musi.

ENDANG MARTININGSIH mewarisi resep RAWON SETAN dengan mendirikan warung sendiri. Endang berusaha mengembangkan warung rawon sendiri. Namanya warung ENDANG MARTINGINGSIH.

Meski memakai resep asli dari Musiati, sang nenek, warungnya dikelola dengan cara lain. Jika warung rawon Musiati buka pukul 18.00-03.00, maka empat cabang WARUNG ENDANG di Genteng Kali, Simpang Dukuh, HR Mohammad, dan Sidoarjo buka pukul 05.00 sampai 15.00.

Tak sekadar beda, pilihan jam buka itu menurut Endang agar para pemburu makanan ini tak perlu menunggu malam hari. "Banyak yang khusus datang dari jauh, tapi masih harus nunggu malam untuk bisa makan," kata anak pertama dari sepuluh bersaudara ini.

Meski mereknya lain, Endang menjamin rasa rawon tetap senikmat racikan sang nenek. Sebagai cucu Musiati, yang terlibat di warung sejak umur sepuluh, Endang tahu betul bagaimana neneknya memasak, membuat bumbu, dan melayani pembeli. Begitu pintarnya, Endang langsung mewarisi kepercayaan dari Musiati melewati ibunya, Djuwariah, yang kini diserahi warung sejak Endang membuka warung sendiri.

Saat rawon neneknya makin dikenal orang, posisi Endang yang menjadi orang terdepan melayani pembeli dihafali pelanggan. Maka, ketika ia mendirikan warung yang memasang foto close up di atas nama MBAK ENDANG, pelanggan mengenalnya sebagai pengelola RAWON SETAN Embong Malang. Dengan bekal itulah, Endang berani mandiri membuka warungnya sendiri.

Pelanggan pun ramai-ramai menuju ke warung Endang. "Memang mintanya rawon punya Mbah, tapi minta saya yang meladeni. Bingung juga kan? Tapi, setelah saya jelaskan, pelanggan bisa terima," katanya.

Seperti warung neneknya, WARUNG ENDANG MARTININGSIH juga mulai populer. Punya pelanggan sendiri. Terbukti, hanya dalam waktu delapan bulan Endang sudah bisa buka tiga cabang di Surabaya (2) dan Sidoarjo (1). Demi mengurus warung, dia rela meninggalkan pekerjaan sebagai karyawan di sebuah toko.

"Saya putuskan berhenti kerja karena pendapatan di warung selama tiga hari sama dengan kerja sebulan di toko," terang Endang.

Endang meraih omzet jutaan rupiah per hari. Jika satu warung menghasilkan Rp 6-7 juta per hari, berarti penghasilannya mencapai Rp 24-28 juta sehari. Tiap cabang bisa menghabiskan 80-90 kilogram daging sapi. Dengan karyawan 60 orang, Endang seperti punya perusahaan besar.

Tak seperti Musiati yang mengurus warung dengan manajemen keluarga, Endang berusaha memgembangkan warungnya ala waralaba. Misalnya, rencana membuka cabang di Bandara Juanda dan Singapura. Kabarnya, untuk bisa membuka warung rawon dengan namanya, pemodal harus mengeluarkan uang Rp 150 juta.

"Yang di Singapura tak lama lagi kok. Dua bulan lagi (Desember 2006) harus berdiri," tekadnya. (*)

No comments:

Post a Comment