30 November 2006

Ucok AKA Harahap dan Lumpur Sidoarjo



UCOK AKA HARAHAP (67) diam-diam tengah mempersiapkan sebuah proyek seni spektakuler untuk mengajak masyarakat untuk peduli pada musibah lumpur panas di Sidoarjo. Para musisi rock asal Jawa Timur akan dilibatkan.

MUSIBAH semburan lumpur panas di Porong dan sekitarnya sejak 29 Mei 2006 lalu membawa efek berantai. Ribuan jiwa jadi korban. Bangunan, harta benda, pabrik, sawah, halaman... ludes. Tol patah, jalan raya macet total sampai hari ini. Praktis, seluruh warga Jawa Timur terkena dampaknya.

UCOK ANDALAS DATUK OLOAN HARAHAP mengaku sangat prihatin dengan bencana di Sumur Banjarpanji-1 milik Lapindo Brantas Inc itu. Melihat semburan lumpur sulit dijinakkan, sekitar dua bulan lalu, pria berambut keriting ini menghubungi orang-orang dekat pejabat di Sidoarjo dan Surabaya.

"Saya ingin berbuat sesuatu yang konkret di lokasi lumpur," cerita Ucok Andalas Datuk Oloan Harahap, yang lebih dikenal sebagai Ucok AKA Harahap di Surabaya, kemarin.

Dedengkot grup rock legendaris AKA (akronim dari Apotik Kali Asin) akhirnya sempat bicara dengan kaki tangan pejabat setempat.

"Permintaan saya sederhana saja. tidak neko-neko," kata Ucok. "Saya hanya minta panggung 2 x 2 meter di dekat semburan lumpur. Saya minta itu dengan niat baik. Sekarang ini tidak tepat kalah kita saling hujat, saling menyalahkan."

Saat itu, sedikitnya 300 dukun atau paranormal sudah menjajal kesaktian di lokasi lumpur. Apalagi, ada iming-iming hadiah rumah dan uang dari Hasan, kepala desa Kedungbendo. Eh, hasilnya semburan lumpur malah makin hebat. Karena itu, para petugas lapangan maupun orang dekat pejabat menganggap Ucok Harahap ini sama saja dengan dukun yang ikut sayembara berhadiah rumah.

"Wah, saya malah disamakan dengan paranormal," cerita pemusik senior yang mendirikan AKA Rock Band pada 1969 di Surabaya itu.

"Saya jelaskan bahwa saya bukan dukun. Saya hanya minta panggung 2 x 2 meter. Saya juga tegaskan, kegiatan saya tidak boleh diketahui media massa, entah itu televisi maupun surat kabar," tutur Ucok yang kini tinggal di Lawang, Kabupaten Malang.

"Wah, jangan, Pak. Anda akan mati kalau nekat ke dekat lumpur. Apa Anda mau jadi tumbal? Kami tidak bisa memberikan izin," tegas petugas lapangan.

"Anda tahu apa, kok berani bilang saya akan mati di lumpur?" semprot Ucok.

Singkat cerita, Ucok Harahap dilarang 'buka panggung' di kawasan lumpur panas. "Terus terang, saya sakit hati dengan penolakan itu. Manusia itu kan ada punya kelebihan, ada punya kekurangan. Semua itu kita serahkan kepada Tuhan," tambah pria 67 tahun itu.

Ucok Harahap kemudian mengingatkan saya tentang kiprah AKA, ben yang juga diperkuat ARTHUR VICTOR GEORGE JEAN ANESZ KAUNANG (bas), SYECH ABIDIN JEFFRIE (drum), dan SUNATHA TANJUNG (gitar) pada 1970-an. Konser AKA waktu itu sangat eksentrik, gila-gilaan, digemari masyarakat, berkat ulah si Ucok.

Dia nyanyi dengan kepala di bawah. Telentang di panggung. Terjun ke dalam kolam. Bergelantungan di talang air. Meloncat dari ketinggian tiga sampai lima meter tanpa cedera.

"Konser AKA itu 60 persen untuk mata, 40 persen untuk telinga. Kalau rekaman, ya, 100 persen untuk telinga," papar Ucok.

Minggu (26/11/2006) malam, dia sempat unjuk sisa-sisa kebolehan dalam konser rock di Balai Pemuda bersama sejumlah bintang rock tempo dulu.

Menurut dia, aksi-aksi berbahaya khas AKA ini setidaknya menjadi bukti bahwa dirinya paling tidak punya sedikit 'kelebihan'. Apa salahnya dicoba di lumpur Lapindo?

"Tapi sudahlah. Sakit hati jangan terlalu lamalah," kata pemilik Klinik Musik Ucok AKA di Jalan Sumberpacar 49 Lawang ini.

Ditolak di Porong, Ucok Harahap menemui sejumlah rekannya di Bandung. Ucok banyak bercerita tentang lumpur di Sidoarjo.

"Sudahlah, kamu ini kan seniman. Buktikan kepedulianmu dengan cara seniman. Jangan sakit hati atau sedih," begitu nasihat seorang spiritualis di Bandung.

"Akhirnya, saya bertekad membuat sesuatu sebagai wujud kepedulian terhadap musibah lumpur di Sidoarjo," ujar penulis sejumlah lagu hit seperti Badai Bulan Desember, Utjok Reflection, Grazy Joe, dan Sky Ryder ini.

Pulang dari Bandung, Ucok Harahap memfokuskan energi kreatifnya untuk bikin karya musik tentang lumpur. Dia berencana membuat 10 lagu 'rock merah-putih'.

"Musik rock asalnya memang dari sono, Barat. Tapi saya kemas dengan sentuhan etnik menjadi rock merah-putih'. Sekarang sudah siap tujuh lagu," kata Ucok.

KINI, Ucok AKA Harahap mengaku sudah menyusun tujuh komposisi musik rock 'merah-putih'. Kenapa 'merah-putih'? Hubungannya dengan nasionalisme? Dedengkot bekas supergrup AKA (Apotik Kaliasin) ini mengaku ingin menyampaikan gagasan, sekaligus keprihatinannya, melalui bahasa musik. Prihatin ala seniman musik rock.

UCOK ANDALAS DATUK OLOAN HARAHAP, nama lengkap pria 67 tahun ini, menunjuk Pinky Floyd. Grup rock progresif ini ternyata mengadopsi gamelan Bali dalam beberapa komposisinya. Begitu juga sejumlah pemusik Barat yang tergila-gila dengan keeksotikan musik timur, khususnya Indonesia.

"Nah, kenapa kita yang orang Indonesia lupa dengan kekayaan musik kita sendiri?" gugat Ucok AKA Harahap saat berbincang dengan saya, Selasa (28/11).

Singkatnya, Ucok ingin agar konser peduli musibah lumpur panas ini dikemas dalam warna nusantara yang kental. Musik etnik harus terlibat. Alat musik (instrumen) nusantara harus ada. Sementara penampilnya, dia berharap, musisi rock yang ada di Jawa Timur.

"Sebab, musibah ini terjadi di Jawa Timur, telah mengganggu aktivitas dan perekonomian di Jawa Timur. Dan saya ingin yang muda-muda ikut. Bila perlu saya hanya di belakang layar," jelas Ucok.

Kalau sekadar bikin rekaman kaset/CD, bagi Ucok Harahap, tidak sulit. Sebab, rekamanan itu hanya untuk konsumsi telinga. "Kalau untuk show, saya tetap ingin porsinya 60 persen konsumsi mata. Ini sudah menjadi tradisi kami di AKA dulu," papar rocker yang masih energik di usia senja itu.

Mengutip cerita Theodore KS, wartawan musik senior, pada 10-11 November 1973 AKA Rock Band bikin heboh di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Ucok memanjat tembok dan ke atas genteng. Ketika muncul di pentas, dia buka baju. Membiarkan dirinya dihajar dua algojo. Kakinya diikat dan digantung. Setelah 'ditusuk' dengan pedang, Ucok dimasukkan ke dalam peti mati.

Ih.. seram!

Apakah East Java Rockers All Stars nanti pun akan dibuat heboh?

"Hehehe... yang jelas, kita buat semenarik mungkin. Penonton kan ingin menikmati show yang bagus, yang menarik. Kalau show-nya biasa-biasa saja, ya, buat apa?" kata pemilik klinik musik di Lawang, Kabupaten Malang.

Karena itu, Ucok AKA Harahap membutuhkan banyak pemusik siap pakai. Pemusik tradisional. Properti. Pencahayaan (lighting). Tentu saja, biaya serta sponsor pendukung. "Kita sudah sempat bicarakan dengan sejumlah teman di Surabaya menjelang acara di Balai Pemuda kemarin," katanya.

Gayung bersambut. Sejumlah rocker Surabaya seperti Pungky Deaz, Yoyok, Endah Kuswantoro, mendukung penuh. "Saya salut sama Eyang Ucok. Dia tidak hanya sekadar buat konsep, tapi juga mau merealisasikan konsep itu," ujar Endah Kuswantoro, kemarin.

Menurut Endah, lady rocker 1980-an yang juga penggemar berat The Rolling Stones, konser rock legendaris yang ikut didukung RADAR SURABAYA (26/11/2006) itu hanyalah tahap awal untuk mewujudkan beberapa program rock yang lebih besar.

"Kita akan jalan terus. Apa yang bisa kita garap, ya, mari kita garap bersama-sama," ujarnya.

Lalu, kapan program musik amal ini terlaksana?

"Kita belum pastikan. Mudah-mudahan bisa secepatnya karena semburan lumpur saat ini sedang gila-gilanya. Dan semakin hari semakin banyak warga yang jadi korban," kata Ucok AKA Harahap.

Putra pemilik Apotik Kali Asin di Surabaya pada 1960-an itu dengan tegas membantah anggapan bahwa dia mau bikin sensasi lagi setelah kiprahnya di musik rock surut seiring usianya yang senja.

"Kasus lumpur di Sidoarjo ini benar-benar serius, bukan ajang untuk cari sensasi. Saya hanya ingin menjadikan momentum ini untuk mengingatkan kita semua untuk tidak saling hujat. Tidak saling menyalahkan. Kita kembalikan kepada Tuhan," tegasnya.

Konser digelar di Porong? "Tidak. Saya pastikan di Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur. Sebab, misi saya mengajak semua masyarakat Jawa Timur untuk peduli," paparnya.

Misi sampingan, tentu saja, menggairahkan kembali kehidupan musik rock di Surabaya yang sempat mati suri cukup lama.

Yeaah! Yeaaah!!! Old rocker never die! Rock! Rock! Rock!

5 comments:

  1. Hidup Bang Ucok AKA! Rock never die!!!

    ReplyDelete
  2. cak, tak copas ndik Mplu yo..Kanggo obat kangen arek2 fans-e Ucok. suwun

    ReplyDelete
  3. silakan tiwi. suwun wis ngutip tulisanku. hehe

    ReplyDelete
  4. om Ucok! ingat Q!!!! Q efriana Om, yg dulu prnah jd pencundang ingn jd seorang penyanyi trknal,,,,,
    krg Q benci banget yg namanya jd terkenal kalau memang jd pembohong dan penipu!!!!!
    salam wat siska, adek dimas, from efriana puspantari, Gus......

    ReplyDelete