16 November 2006

Twilite Orchestra, catatan kecil


TAK salah kalau Addie MS menjadikan Twilite Orchestra (TO) sebagai orkes pop (pop ochestra). Dia bisa menyedot begitu banyak penonton, bisa 'mengobok-obok' komposisi, hingga membanyol di atas panggung.

Konser musik klasik--apalagi orkes simfoni--yang formal, serius, cenderung kaku, kering, bisa berubah total. Orkes pop macam TO bisa berbuat apa saja tanpa harus terlalu mematuhi pakem-pakem konser klasik. Inilah yang tampak menonjol (dan sengaja ditonjol-tonjolkan) dalam Sampoerna Campus Symphony di kampus ITS Surabaya, belum lama ini.

Lihatlah penampilan (mayoritas) penonton. Saya sama sekali tidak melihat satu pun menggunakan gaun atau setelan jas lengkap. Yang ada, busana kasual, kaus oblong, dipadu jeans dan semacamnya.

Suasana benar-benar cair, penuh canda dan gelak tawa. Justru lebih heboh ketimbang show artis pop macam Krisdayanti atau Padi karena Addie MS dan krunya lebih 'cerdas' melawak.

Addie MS, sebagai konduktor dan konseptor TO, rupanya sadar betul bahwa audiens yang dihadapi orkesnya adalah para pemula yang boleh jadi tidak begitu akrab dengan musik klasik. Generasi pop yang doyan MTV, suka AFI, Indonesia Idol, senang menikmati musik-musik gampang cerna.

Maka, repertoar untuk konser di kampus ITS ini pun rata-rata kental dengan nuansa pop. Star Wars (John Williams), Nimrod (Edward Elgar), Farandole (George Bizet), Gethsemane (Andrew Lloyd Webber), atas The Sound of Music (Richard Rodgers and Oscar Hammerstein) jelas bukan komposisi yang sulit dicerna.

Karena itu, sebenarnya tanpa bantuan bintang-bintang pop semacam Rossa atau Baruna sekalipun TO sudah sangat mampu menyenangkan hati penonton. Saya pribadi menilai penampilan Rossa dan Baruna di ITS justru menjadi titik lemah konser di ITS. Kedua artis pop dan rock ini tampak kesulitan menyesuaikan diri dengan warna simfoni. Tempat Rossa dan Baruna bukan di situ.

Kontras mutu ini sangat terlihat kala Baruna berduet dengan Christopher Abimanyu di nomor La donna e mobile (G Verdi). Diawali vokal tenor yang dahsyat dari Abimanyu, mantan juara 'sejati' lomba Bintang Radio dan Televisi (BRTV) tingkat nasional tahun 1990-an, Baruna menyambung dengan suaranya yang terdengar parau dan 'cempreng'. Adu vokal yang njomplang!

Kontan saja, banyak penonton tertawa renyah. Ketika nada tinggi, Abimanyu menggunakan jurus khas klasik, falsetto alias suara kepala (head voice). Sebaliknya, Baruna tampak kewalahan sehingga harus bengak-bengok, yeah... khas vokalis rock.

Tapi, tidak apa-apa. Bukankah platform TO adalah orkes pop sehingga 'halal' melakukan terobosan apa saja? Bagaimanapun juga kerja keras Addie MS untuk mensosialisasikan orkes simfoni berbaju pop di Indonesia selama bertahun-tahun layak diapresiasi.

Pertanyaannya, apakah setelah menikmati konser TO, berikut lawakan-lawakannya, penonton kita mau menikmati juga konser orkes simfoni (beneran)? Ini yang tidak jelas.

No comments:

Post a Comment