04 November 2006

Trimoelja D Soerjadi


Oleh Lambertus L. Hurek

HARI-HARI ini kita dipusingkan oleh semburan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Musibah itu menyebabkan ribuan warga kehilangan rumah, pekerjaan, makam, dan harta benda lainnya. Sedikitnya 20 pabrik tutup. Dan, PT Catur Putra Surya (CPS) adalah pabrik pertama yang tutup. Maklum, ‘pabrik Marsinah’ ini paling dekat dengan pusat semburan lumpur yang terjadi sejak 29 Mei lalu itu.

Ingat CPS, ingat Trimoelja D Soerjadi, I Wayan Titip Sulaksana, Richard Wahyudi, serta beberapa pengacara yang gigih dalam menangani kasus Marsinah pada 1993 silam. Marsinah, buruh pabrik arloji CPS, tewas secara misterius, dan sampai sekarang belum diketahui siapa pembunuhnya.

“Sampai kapan pun pemerintah harus berusaha mengungkap kasus Marsinah. Itu menjadi pekerjaan rumah bangsa ini,” kata Trimoelja D Soerjadi kepada saya dalam berbagai kesempatan.

Pak Tri, sapaan akrabnya, arek Suroboyo tulen. Dia lahir di Surabaya pada 7 Januari 1939, lulusan Fakultas Hukum Universitas Airlangga pada 1979. Menangani kasus Marsinah, yang sarat rekayasa, tak ayal melambungkan nama Trimoelja D Soerjadi ke blantika hukum nasional dan internasional. Tidak takut waktu itu?

“Kenapa takut? Saya justru senang menangani kasus-kasus menantang seperti itu. Ada tantangan,” tegas suami Diah Eko Rahayu itu.

Dengan menangani kasus-kasus berisiko tinggi, macam Marsinah, Trimoelja ‘dipaksa’ untuk mengasah kemampuannya mengungkap berbagai rekayasa hukum di lapangan. Dia juga ingin membuktikan bahwa mereka-mereka yang duduk sebagai terdakwa di pengadilan belum tentu bersalah. Asas praduga tak bersalah, kata dia, jangan sampai dilupakan.

“Kalau saya membela Yudi Susanto (bos PT CPS), itu bukan berarti saya membela pembunuh Marsinah. Sebab, saya tahu bahwa sejak awal kasus ini sarat dengan rekayasa,” tutur putra almarhum Mr Soerjadi ini.

Sang ayah dikenal sebagai presiden Landraad di Pengadilan Negeri Surabaya pada masa penjajahan Belanda, 1930-an.

Saat menangani kasus Marsinah, Trimoelja mendapat banyak teror. Di Pengadilan Negeri Surabaya, Trimoelja dicibir ratusan ‘suporter’ karena dianggap kebliner membela dalang pembunuhan Marsinah. Mobilnya, yang diparkir di rumah, pun dirusak orang tak dikenal. Toh, Tri tak gentar. Saat menyampaikan pledoi, Tri justru menjadikan teror ketakutan ini sebagai bahan pledoi menarik. “The republic of fear,” begitu judul pledoi Trimoelja D Soerjadi yang bersejarah itu.

Pada 30 Juni 1994 PN Surabaya memvonis Yudi Susanto dengan hukuman 17 tahun penjara. Tri tak menyerah. Dia yakin kebenaran akan berpihak padanya. Dan, di Pengadilan Tinggi Jawa Timur, 22 November 1994, Yudi Susanto dinyatakan bebas murni. Tesis Trimoelja tentang rekayasa hukum dalam kasus Marsinah semakin sahih ketika pada 3 Mei 1995 Mahkamah Agung membebaskan semua terdakwa kasus Marsinah dari segala tuduhan.

"Saya yakin sejak awal para terdakwa kasus Marsinah, termasuk Yudi Susanto, adalah hasil rekayasa untuk menutupi kejadian yang sebenarnya," tegas Trimoelja.

Lalu, siapa pembunuh Marsinah? Menurut dia, kalau dilihat dari kronologi kejadian 13 tahun lalu, sebetulnya aparat penegak hukum bisa mengungkap kasus ini dengan mudah. Tinggal: berani atau tidak? Mau atau tidak?

Selain kasus Marsinah, masih banyak lagi kasus-kasus berisiko (risiko kehilangan nyawa, juga risiko tidak dibayar) ditangani Trimoelja. Di masa Orde Baru kasus-kasus ini selalu bersifat struktural alias bertalian dengan rezim otoriter itu. Sebut saja perkara aktivis Partai Rakyat Demokratik (Dita Indah Sari, Coen Husein Pontoh, dan Mochamad Soleh).

Ada lagi kasus David Hendra (1992), Hermawan Hertanto (1992), kasus Muhadi di Magetan (1994), kasus Permadi di Sleman, kasus pernikahan Budi-Lanny (umat Konghuchu), kasus Partai Demokrasi Indonesia, hingga kasus pembredelan majalah TEMPO. Tak banyak yang tahu, Tri juga menangani kasus-kasus rakyat miskin (sehingga tak bisa bayar pengacara) macam kasus Muhadi (sopir) serta seorang warga Tionghoa miskin.

Pada 10 Desember 1994, Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia mengganjar kerja keras dan idealisme Trimoelja dengan Yap Thiam Hien Award. Ini penghargaan tertinggi terhadap orang yang dinilai berjasa dalam memperjuangkan hak asasi manusia di Indonesia.

Goenawan Moehammad, Ketua Yapusham, saat pemberian penghargaan ini, bilang, "Dari seribu pengacara, hanya satu yang berhasil menjadi pengacara sejati. Dialah Trimoelja."

Kiprah Trimoelja D Soerjadi setidaknya membuktikan bahwa pengacara atau advokat dari Surabaya (Jatim umumnya) masih ada. Kita, warga Surabaya, layak bangga.


Trimoelja D. Soerjadi
Jalan Embong sawo 16 Surabaya
Telepon [031] 534 4842

4 comments:

  1. Dear Berny,

    I read some articles about Trimoelja, one of them is yours, and i am realy proud of him.
    If you have a chance to meet him again, please deliver my regard to him. Well, i know that he might wonder who i am. Btw, do you know how to contact him? or u have his number or email address maybe? would grateful if you can share it with me, i will use it properly, i promise. Thank b4.

    FYI, I also like to write a blog, but haven't got the chance to join the blogspot, only on my friendster account.

    Thanks 4 ur time reding my comment.

    Regards,

    /May
    maybeagb@yahoo.com
    mei_alfagama@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. Pak Tri adalah advokat senior yang sangat hebat! Two thumbs up!

    ReplyDelete
  3. Semua orang tahu kok, bahwa pembunuh Marsinah itu tentara. Pemilik pabrik sebenarnya tidak bersih 100%. Saya pernah indekos di rumah yang dimiliki oleh teman pemilik pabrik tersebut. Yudi minta bantuan kenalannya di tentara (maklum jaman Orde Baru, tiap pengusaha harus punya backing tentara kalau mau aman).

    Tapi tentaranya keblinger. Setelah mengamankan Marsinah -- mungkin karena Marsinah orangnya pemberani -- oknum-oknum tentara tersebut jadi marah dan mereka menyiksanya sampai beliau mati.

    Pak Trimoelja memang hebat. Dan betul. Tidak sulit kalau mau mengusut dan menghukum tuntas. Cuma kemauan politik saja yang tidak ada.

    Yah begitulah di Indonesia.

    ReplyDelete
  4. Semoga pak Tri bisa mendampingi pak Ahok dengan baik dan sukses. Pengalaman anda di masa orde baru dalam mendampingi kaum lemah sudah sangat teruji.

    ReplyDelete