15 November 2006

Sri Mulyani Penata Tari

















SRI MULYANI PENARI TERKEMUKA DI SIDOARJO, JAWA TIMUR UMUMNYA. KINI, SRI MEMBINA SRI PRODUCTION, SANGGAR TARI DI KAWASAN BLURU, SIDOARJO.

SRI Mulyani membuktikan bahwa ia bukan hanya bisa menari, tapi juga mencetak penari-penari baru. Didampingi suaminya, KI TORO (Subiyantoro), pelan tapi pasti Sri membina anak-anak muda dari berbagai kecamatan di Sidoarjo.

"Mereka latihan di rumah saya, kadang-kadang di pariwisata. Tergantung kebutuhanlah," ujar Sri Mulyani kepada saya. Sri Production bermarkas di Perumahan Bluru Permai BH/2 Sidoarjo.

Yang menarik, dalam beberapa waktu terakhir Sri Production mencetak prestasi bagus di blantika seni tari Jawa Timur. Ketika dipercaya mewakili Kabupaten Sidoarjo di Gelar Tari Jatim, Surabaya, anak-anak asuhan Sri terpilih sebagai penampil terbaik. Beberapa grup 'the best' tadi dievaluasi lagi untuk memilih satu grup ke Jakarta, mewakili provinsi Jatim.

Hasilnya? Sidoarjo terpilih. "Kami sudah mendapat pemberitahuan resmi dari Dinas Pendidikan untuk siap-siap tampil di Jakarta bulan Agustus mendatang. Sekarang sudah mulai persiapan," ujar wanita kelahiran 24 November 1975 ini.

Di saat mempersiapkan timnya ke Jakarta, Sri Mulyani dipercaya manajemen Taman Budaya Jatim untuk menampilkan karya tari terbarunya. Persiapan jelas singat, sangat singkat, karena ia berkonsentrasi juga ke Gelar Tari Jatim. Tapi, bagi Sri Mulyani, yang menghabiskan sebagian besar usianya untuk seni tari, tenang-tenang saja.

Didukung Ki Toro, suaminya, sang komposer musik tradisional, Sri menerima tantangan berat itu.

Dalam waktu singkat, kurang dari sepekan, tari bertajuk 'Payah' pun rampung. Pekan lalu karya ini ditampilkan anak-anak asuhan Sri. "Saya koreografer, jadi hanya di belakang saja. Sudah saatnya memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak-anak muda," tutur Sri yang sempat ikut sebuah festival seni di Sydney, Australia, tahun lalu itu.

Tarian 'Payah' sarat interpretasi, tergantung sudut pandang kita. Seorang pria memikul beban berat, payah, dua wanita mengapit dirinya. Pikulan khas petani (pria pakai caping) mengingatkan kita akan para petani yang sangat payah memikul beban sangat berat. Jalannya tertatih-tatih, nyaris tak sampai finis.

Dari sudut lain, Sri Mulyani juga memperlihatkan simbol keadilan (timbangan) yang berat sebelah. Quo vadis keadilan? Mau dikemanakan keadilan, penegakkan hukum? "Silakan Anda tafsirkan sendiri karena kami hanya menawarkan gerak dan bentuk," tutur alumnus sebuah sekolah seni di Surabaya itu.

Bagi Sri, seni tari harus bisa berkembang dalam kondisi apa pun. Kurangnya fasilitas, tak ada gedung kesenian, bukan alasan untuk mandek berkarya. Kalau tunggu gedung kesenian di Sidoarjo jadi, kapan ada karya? Karena itulah, Sri Mulyani (juga Ki Toro, suaminya) tetap bekerja keras, membuat kreasi-kreasi baru untuk gelar seni, pekan koreografer, atau festival-festival seni.

Sri Mulyani ini tipe seniman pekerja, seniman yang enggan larut dalam polemik yang tak jelas juntrungannya. Sri bukan tipe penari dan koreografer yang senang sesumbar. Ia lebih banyak bicara lewat karya nyata ketimbang kata-kata.

"Sekarang kita sudah menggarap beberapa tarian lagi," ujar Sri.

Usai tampil di TBJ Surabaya--sebagai pemanasan Festival Cak Durasim--Sri Mulyani dan anak buahnya, juga Ki Toro, fokus ke persiapan tampil mewakili provinsi Jawa Timur di Gelar Seni Nasional di Jakarta, Agustus 2005.

Untuk itu, Sri akan bekerja sama dengan beberapa pentara tari (koreografer) Jawa Timur lain agar penampilan anak-anak muda dari Sanggar Tari Sri Production, Bluru, itu lebih kinclong.

"Mudah-mudahan anak-anak tampil bagus di Jakarta," harapnya. Ini juga harapan kita semua, khususnya warga Sidoarjo.

2 comments:

  1. mas bok ditampilin foto orangnya juga dong..biar bisa kenal wajah sang penata tarinya....

    ReplyDelete
  2. hehehe.. iya nih. ntar lagi aq posting. terima kasih.

    ReplyDelete