11 November 2006

Slanker's di Sidoarjo


Andi Wijaya, pendiri dan ketua SFC Sidoarjo.


Kalau mau jujur, dibandingkan partai-partai politik, Slanker's Sidoarjo ini jauh lebih solid. Kalau partai politik belum tentu menggelar rapat sebulan sekali, Slanker's bisa berkomunikasi kapan saja. Kalau pengurus partai--misalnya DPC, PAC, pengurus ranting--banyak yang papan nama Slanker's Club benar-benar riil.

Menurut ANDI WIJAYA, ketua SFC Sidoarjo, organisasi Slanker's di seluruh Indonesia tidak bisa asal berdiri. 'Markas besar' Slank di Gang Potlot, Pancoran, Jakarta Selatan, harus mendapat laporan dan memberi rekomendasi. Tanpa rekomendasi, SFC itu tak akan diakui pengurus pusat. Organisasi mereka, meski informal, sangat rapi dan tertib.

"Ini juga pembelajaran bagi kawan-kawan muda dalam berorganisasi," ujar Andi Wijaya. Mahasiswa UPN Veteran, Surabaya, juga pemain band, ini bilang anggota SFC Sidoarjo yang aktif 700-an orang.

Ditambah penggemar Slank, tapi belum ikut SFC, jumlah mereka bisa ribuan orang alias satu stadion. Bandingkan dengan parpol kita, yang masih sulit mengumpulkan ribuan massa di lapangan jika tidak dikasih uang bensin. Di Slanker's, semuanya serba sukarela. Keluar uang sendiri, tidak dapat uang bensin.

"Uang dari mana?" kata Andi.

Nah, sebelum mendirikan SFC di Sidoarjo, Andi Wijaya dan beberapa kawannya menghadap ke Gang Potlot, Jakarta Selatan. Rumah BIMBIM, drumer sekaligus motor Slank itu, memang buka 24 jam bagi siapa saja yang ingin mendirikan SFC, diskusi, atau sekadar bermalam karena tak punya tempat menumpang di Jakarta.

"Kami diterima oleh semua personel Slank. Kami sampaikan rencana mendirikan Slanker's Club Sidoarjo sekaligus meminta pengarahan," kenang Andi Wijaya yang melakukan audiensi di Gang Potlot pada tahun 2004. Sejak itulah, SFC Sidoarjo eksis, diakui Gang Potlot.

Menurut cerita Andi, ketika bertemu dengan personel Slank (BIMBIM, KAKA, IVANKA, RIDHO, ABDEE), rombongan dari Sidoarjo bahkan diajak main bola bersama personel Slank serta Slanker's di Jakarta dan sekitarnya.

Manajemen Slanker's, kata Andi Wijaya, sudah eksis lebih dulu, bikin kegiatan, sebelum ditahbiskan oleh Gang Potlot. Eksistensi Slanker's inilah yang dilaporkan ke sana. "Jadi, sebelum disahkan di Gang Potlot, cikal-bakal SFC Sidoarjo sudah ada," ujar Andi, gitaris BONBIN. Band yang mangkal di Wisma Tropodo, Waru, Sidoarjo, ini spesialis membawakan hits Slank.

Apa saja kegiatan Sidoarjo yang dilaporkan ke Gang Potlot?

Banyak. Di antaranya, konser antinarkoba di GOR, kafe lesehan biru (CAFE LESBI), aksi simpatik menjelang kampanye pemilu, pawai antinarkoba, cari dana untuk gempa di Aceh, dan sebagainya. Laporan Andi dkk dari Sidoarjo ini kemudian dimuat di KORAN2AN SLANK, media resmi Slank yang terbit di Gang Potlot.

Tak lama setelah bencana alam gempa bumi dan tsunami menerjang Nanggroe Aceh Darussalam (26/12/2004), para Slanker's langsung bergerak. Tanpa basa-basi, ANDI WIJAYA dan kawan-kawan membuka posko kemanusian di depan Gelora Delta, tepatnya Jl Pahlawan Sidoarjo. Sebuah tenda sederhana berdiri dan anak-anak Slanker's mengetuk rasa kemanusiaan warga yang melintas di jalan.

Tidak ketinggalan, sebuah spanduk besar dipajang di jalan raya untuk menyampaikan simpati kepada ribuan korban yang meninggal dunia. Bagaimana Slanker's Club Sidoarjo (SFC) begitu cepat bergerak, sementara ormas atau parpol masih dalam tidur? Di sinilah, kata Andi, kelebihan Slanker's. Tanpa perlu formalitas, cukup dengan SMS berantai, mereka bergerak.

"LO HARUS GERAK! LO HARUS GRAK!
OH TEMANKU, LO HARUS GRAK!
JIKA TUHAN MENGIZINKAN, PASTI MENANG!"

Begitu salah satu syair lagu Slank yang menginspirasi anak-anak Slanker's.

Lumayan, aksi kemanusiaan Slanker's menghasilkan uang cukup banyak, pakaian layak pakai, serta makanan. "Hasilnya langsung kita salurkan lewat PMI Sidoarjo," ujar Andi Wijaya, ketua SFC Sidoarjo.

Selain aksi spontan, para Slanker's juga kerap bikin kegiatan atas dasar 'instruksi' atau meniru idolanya di Gang Potlot. Misalnya, pada bulan puasa (Ramadan) tahun 2004 mereka memasang bendera setengah tiang di depan markas SFC Sidoarjo. Mereka tiru Bimbim dkk yang memasang bendera setengah tiang di Potlot.

Sebuah simbol keprihatinan, solidaritas pada masyarakat yang menjadi korban penggusuran, korban ketidakadilan. Saat Lebaran, bendera dinaikkan satu tiang penuh. Simbol kemenangan.

Saat Slank dan Iwan Fals konser bersama di Stadion Jenggolo, Sidoarjo (19/2/2005) Slanker's Sidoarjo menggelar AKSI DAMAI ANTINARKOBA di kawasan Gelora Delta dan alun-alun Sidoarjo. Ramai sekali. Aksi ini diikuti para Slanker's kota-kota tetangga macam Surabaya, Pasuruan, Malang, Gresik.

Menurut Andi, komitmen yang selalu disuarakan anak-anak Slanker's adalah antinarkoba dan PLUR (PEACE, LOVE, UNITY, RESPECT).

"Yang jelas, organisasi kami masih dalam proses. Kami berusaha agar selalu ada kegiatan-kegiatan positif di Sidoarjo," tekad Andi Wijaya.

1 comment:

  1. slanker's emang oke!!! Pisss!! PissssIII

    ReplyDelete