24 November 2006

Pura Baru di dekat Bandara Juanda




Umat Hindu di Kabupaten Sidoarjo layak berbahagia. Sebab, kini ada Pura Jala Siddhi Amartha di Jl Raya Bandara Juanda, Kecamatan Sedati, sebagai pura kedua di Kabupaten Sidoarjo. Pura di kompleks TNI Angkatan Laut ini juga berstatus 'pura provinsi'.

"Jadi, Pura Juanda itu dipakai untuk berbagai kegiatan umat Hindu di Jawa Timur," kata Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jawa Timur I Wayan Suwarna kepada saya. Karena itu, walaupun berlokasi di Sidoarjo, Pura Juanda (nama populernya) tak hanya dipakai oleh umat Hindu yang tinggal di Kabupaten Sidoarjo.

Pembangunannya pun ditangani langsung oleh PHDI Jawa Timur.

Menurut Wayan Suwarna, Pura Juanda tak hanya digunakan untuk ritual keagamaan rutin, tapi juga aktivitas lain yang berkaitan dengan agama Hindu. Ada fasilitas Pasraman Jala Siddhi Amartha untuk pelajaran agama bagi anak-anak SD hingga SMA, kemudian aula pertemuan, perpustakaan, dan sebagainya.

"Kita bersyukur karena pura ini terletak di lokasi yang sangat trategis," ujar Wayan Suwarna.

Berjarak hanya sekitar dua kilometer dari Bandara Juanda, pura baru ini tentu mudah dijangkau umat Hindu dari luar Jawa Timur. Masyarakat dari luar kota, misalnya, bisa langsung mampir untuk beribadah di tempat ibadah umat Hindu Dharma tersebut. Ini berbeda dengan Pura Jagat Natha Margo Wening di Desa Balonggarut, Kecamatan Krembung, yang lokasinya jauh di balik perkebunan tebu rakyat.

Brigjen (Pur) Gusti Nyoman Adnya, ketua pembangunan Pura Juanda, menjelaskan, pura ini berdiri di atas lahan seluas 3.000 meter persegi, dilengkapi lahan parkir 2.000 meter persegi. Tanah ini merupakan pemberian TNI Angkatan Laut. Dibangun sejak tahun lalu, Pura Juanda masih dalam tahap awal pembangunan.

Gubernur Bali I Dewa Brata memberikan perhatian khusus kepada Pura Juanda. Beberapa waktu lalu Dewa Brata melakukan peninjauan ke lokasi, sekaligus memberikan sedikit bantuan. Gubernur Bali itu menawarkan bantuan 'padmasana' jadi dari Pulau Dewata.
Tapi, rupanya PHDI Jatim Dan PHDI Sidoarjo lebih memilih 'mentahannya' saja, berupa uang Rp 80 juta.

Dana sumbangan Gubernur Bali itu, kata Wayan Suwarna, akan digunakan panitia untuk membangun padmasana bergaya Jawa alias Kerajaan Majapahit. Bukan itu saja. Gubernur Dewa Brata menyumbang satu set gamelan Bali. Dewa Brata jugalah yang datang meresmikan.

Hari Raya Nyepi tahun 2005 menjadi tahun bersejarah bagi Pura Juanda. Inilah kali pertama pura di pinggir jalan raya itu menggelar ritual Nyepi untuk umat Hindu di Sidoarjo dan sekitarnya. Sebelumnya, umat Hindu di Sidoarjo mengikuti ritual di dua tempat, yakni Pura Krembung Dan Pura Tanjung Perak, Surabaya.

No comments:

Post a Comment