20 November 2006

PPLH Seloliman 15 Tahun


Saya di depan pintu gerbang PPLH Seloliman, Trawas, Mojokerto.
Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, pada tahun 2006 genap 15 tahun. Usia yang cukup hijau, di tengah tantangan yang makin berat.



DUA bus pariwisata tampak terparkir rapi di depan pintu gerbang PPLH Seloliman. Tak lama kemudian, para penumpang bus pun turun. Ternyata, mereka bukan wisatawan biasa, melainkan bocah taman kanak-kanak dari Sidoarjo. Wisata di kompleks PPLH yang berada di kaki Gunung Penanggungan?

"Yah, ekowisata merupakan salah satu program kami di sini," ujar Direktur PPLH Seloliman, SUROSO, kepada saya. Kami menikmati makanan dan minuman organik, hasil produksi rekanan PPLH di desa-desa sekitar.

Tak hanya anak-anak, sejumlah perusahaan besar di Surabaya, Malang, Sidoarjo, dan beberapa daerah di Jawa (bukan hanya Jawa Timur) pun bertandang ke PPLH untuk belajar bagaimana bersahabat dengan lingkungan. Suroso mengaku gembira karena beberapa bulan terakhir animo kalangan pelajar (TK hingga SLTA) yang belajar lingkungan hidup meningkat pesat.

PPLH diresmikan oleh PANGERAN BERNHARD dari Belanda 15 tahun lalu. Di sini ada penginapan sederhana, namun bersih dan eksotik. Dua restoran khusus menyediakan makanan organik hasil produksi para petani di Seloliman dan sekitarnya. Saking banyaknya peminat, grup ekowisata harus memesan tempat (booking) beberapa pekan sebelumnya.

"Kalau mendadak, kami yang kewalahan," tutur Suroso.

Berapa pengunjung PPLH dalam setahun? Suroso menyebutkan, selama tahun 2005 pengunjung resmi mencapai 16.500 orang. Ini belum termasuk pengunjung tidak resmi macam saya. Warga yang hanya sekadar mampir, lalu pulang... jumlahnya sangat banyak. PPLH di dekat Cagar Budaya Jolotundo ini selalu menjadi tempat singgah para aktivis lingkungan, budayawan, seniman, wartawan, dari berbagai kota. Nama-nama turis beginian biasanya tidak pernah tercatat di buku tamu.

Dari 16.500 pengunjung itu, kata Suroso, 70 persen pelajar. Kota Surabaya, sejak PPLH dibuka sampai sekarang, tercatat sebagai penyumbang wisatawan terbanyak. Para duta wisata Surabaya (Cak dan Ning) serta Putri Lingkungan Hidup dari Kota Surabaya beberapa kali memilih PPLH sebagai ajang karantina.

Banyak hal yang bisa dipelajari di PPLH, khususnya untuk anak-anak dan remaja. Sederhana saja. Cara daur ulang sampah. Mengenal ekosistem hutan. Mengenal tanaman obat. Energi alternatif. Teknologi tepat lingkungan. Suvenir dari bahan-bahan sisa. Analisis dampak lingkungan. Pertanian ekologis. Pembangkit listrik mikrohidro. Menjelajah alam. Seni lingkungan atawa green art.

PPLH pun bekerja sama dengan biro perjalanan (travel) internasional macam INTERPAD. Karena itu, hampir setiap pekan selalu ada turis Eropa yang mampir ke PPLH. Program ke PPLH bahkan menjadi salah satu agenda resmi para pelancong Eropa itu sebelum ke Bali atau Bromo. Karena itu, ada guyonan: PPLH di Seloliman ini ternyata lebih dikenal turis Eropa ketimbang warga Indonesia sendiri.

"Saya senang bisa menikmati alam yang begitu indah seperti di PPLH. Suasana seperti ini jarang saya rasakan di Eropa," kata MENEER JOOST, warga Belanda, kepada saya.

Ucapan senada disampaikan Christine Rod, perempuan 50-an tahun asal Swiss.

Christine bahkan selalu menyempatkan diri datang ke PPLH (dan Jolotundo) saat cuti panjang di Indonesia. Di kawasan PPLH pulalah, Christine jatuh cinta pada pelukis asal Sidoarjo, NASRULLAH, dan akhirnya menjadi pasangan suami-istri. Christine bilang, PPLH ini bisa menjadi tempat yang ideal bagi anak-anak muda untuk belajar bagaimana bersahabat dan mencintai lingkungan hidup.

SEBELUM tahun 1994, warga kampung Seloliman tidak bisa menikmati listik. Kampung gelap gulita, warga hanya mengandalkan lampu minyak tanah untuk penerangan. Mirip kampung-kampung sederhana di pelosok nusantara.

Lokasinya yang terlalu jauh di kaki Gunung Penanggungan, sementara jumlah penduduk sedikit dan terpencar-pencar, membuat PT (Perser) Perusahaan Listrik Negara bepikir tujuh kali untuk mengembangkan sambungan lisrik ke sana. Tak heran, kampung Seloliman terkesan 'primitif'.

Melihat kondisi ini para pengelola PPLH berpikir keras, bagaimana menghadirkan listrik desa, berdaya kecil, untuk kebutuhan warga kampung. Paling tidak untuk penerangan, setrika, atau sekadar menikmati televisi. Setelah dikaji secara akademis, ternyata KALI MARON, sungai kecil yang melintas di persawahan Dusun Jinjing, sangat memadai untuk menggerakkan turbin mini.

Gayung bersambut. Donatur asal Jerman bersedia membiayai. Maka, PPLH bersama warga Dusun Jinjing, Desa Seliliman, bergotong-royong membangun pembangkit sederhana dengan memanfaatkan tenaga air. Jadilah sebuah pembangkit listrik tenaga air sekala kecil (mikrohidro). Dusun yang tadinya gelap gulita akhirnya bisa menikmati listrik dengan biaya sangat murah. Sedikitnya 55 rumah dilayani pembangkit listrik tersebut.

"Yang mengelola, ya, warga sendiri melalui PAGUYUBAN KALIMARON," cerita Direktur PPLH Suroso kepada saya.

Menurut Suroso, pelibatan warga dusun ini agar mereka punya rasa memiliki (handarbeni), merawat aset berharga tersebut, sehingga ujung-ujungnya menjaga kelestarian hutan. Warga sangat marah bila hutan dirusak karena takut PLTA mininya mati. Mereka tak ingin kembali ke 'zaman kegelapan' pra-1994.

Keberadaan PLTA mini mendapat respons positif Pemkab Mojokerto, PT PLN, bahkan pemerintah pusat. Ini dianggap sebagai proyek pilot, yang perlu ditiru kampung-kampung pelosok lain di Indonesia. Dalam kenyataan, pembangkit listrik desa berkapasitas 25 kilowatt ini banyak nganggurnya. Sebab, pemakaian siang hari hanya 5 kW, sedangkan malam 12 kW. Artinya, hampir separuh kapasitasnya tidak terpakai.

PT PLN pun tertarik membeli sebagian daya milik Paguyuban Kalimaron itu. Daripada membuka jaringan sendiri ke dusun itu, padahal skala ekonominya sangat rendah. Proyek rugi, bukan? Maka, setelah bernegosiasi ke sana ke mari, akhirnya pada 5 Desember 2003 disepakati kerja sama antara Paguyuban Kalimaron (PPLH plus Dusun Jinjing) dengan PT PLN.

"Dirjen sendiri yang datang ke sini untuk meresmikan," kata Suroso, bangga. Dirjen yang dimaksud DR IR LULUK SUMARSO MSC, dirjen pengembangan energi Depatemen Energi dan Sumber Daya Mineral. "Sekali-sekalilah Pak Dirjen jalan kaki ke tengah sawah lah," tambah Suroso lalu tertawa kecil.

Kerja sama ini sangat menguntungkan, karena setiap bulan PT PLN harus menyetor Rp 6 juta ke kas Paguyuban Kalimaron. Ditambah rekening bulanan para pelanggan (besarnya separuh harga rekening PLN), masyarakat bisa menikmati listrik 24 jam sehari.

Kata Suroso, hubungan antara PPLH dan masyarakat setempat kini ibarat ikan dan air. Sangat lengket! Keberadaan PPLH dirasakan manfaat langsungnya oleh warga. Belum lama ini PPLH membuka restoran megah. Restoran ini khusus menampung bahan-bahan makanan seperti sayur-mayur, buah-buahan, ikan, daging, dari warga setempat.

"Masyarakat lokal memang menjadi target utama kami," tegas bos PPLH ini.

1 comment:

  1. kapan2 aq mo ke pplh. kayaknya asyik tuh.

    ReplyDelete