27 November 2006

Olahraga Jarang, Makin Gemuk


Sejak tiga tahun terakhir ini badan saya menggemuk. Bobot naik terus, kata pakar-pakar, kurang bagus untuk kesehatan. Orang gemuk pun kurang sedap dipandang mata. Kata orang, laki-laki sebetulnya tak perlu panik dengan badan gemuk. Lain dengan cewek yang memang membutuhkan penampilan lebih langsing dan proporsional.

Terus terang, badan saya yang menggemuk ini tak lepas dari gaya hidup dan pola kerja. Sebagai penyunting surat kabar, saya mau tak mau pulang kantor tengah malam. Paling cepat 23:30 WIB cabut dari kantor.

Di jalan raya saya selalu tergoda untuk cangkrukan di pinggir jalan raya--biasanya kawasan Aloha, Urip Sumoharjo, Kedungdoro--untuk 'memantau situasi'. Ngobrol sama pedagang kaki lima, plus pelanggannya, memang asyik. Ada-ada saja info yang diutarakan, dan itu bagus untuk bahan berita. Paling tidak bumbu-bumbu berita.

Nah, tentu saja, cangkrukan ini diselingi dengan minum kopi, jajan pisang goreng, ketela rebus, donat, hingga mi atau nasi goreng. Saat Piala Dunia 2006 lalu cangkrukan lebih meriah karena ada pertandingan bola kelas dunia yang ditunggu-tunggu. Nontong barenglah!

Kebiasaan makan malam-malam ini jelas menyumbang gumpalan lemak di badan saya. Habis, pulang, tidur, tak ada aktivitas. Kalori yang tidak dibakar niscaya menumpuk jadi lemak. Ujung-ujungnya badan menjadi gemuk. Berat badan saya sekarang berkisar 73-76 kg, tinggi tetap saja 170 cm. Idealnya sih jauh di bawah angka itu.

Sebetulnya sudah banyak usaha untuk mengurangi berat badan. Mengurangi daging, gorengan, hingga menjajaki produk pelangsing badan. "Hurek, coba deh produk saya, pasti efektif. Kalau tidak berhasil, uang kembali," kata Fefe alias Fenny, teman saya yang vegetarian sejati.

Fefe lalu menawarkan Herbalife, produk andalannya, dengan harga sangat miring. "Kalau untuk orang lain, mahal lho," tambah wanita Tionghoa Surabaya itu.
Saya pun membawa oleh-oleh Herbalife rasa strawberry.

Produk ini pada dasarnya susu rendah kalori sebagai pengganti makan nasi. "Anda silakan pilih makan sepuas-puasnya satu kali sehari, entah pagi, siang, atau malam. Tidak perlu pantang makanan apa pun," begitu tips si Fefe.

Namun--ini yang penting, sekaligus sangat BERAT--dua kali jam makan diganti dengan mengonsumsi herbalife satu gelas. Kesimpulannya: makan satu kali sehari, yang dua kali lagi hanya boleh minum 'susu' Herbalife.

Karena ingin kurus, saya pun mencoba resep Herbalife ala Fefe, bekas model lulusan Unika Widya Mandala Surabaya itu. Waduh, rasanya berat sekali. Beraaat! Bayangkan, nafsu makan saya yang selalu tinggi, tiba-tiba harus ditekan secara drastis ala Herbalife. Makan satu kali, dua kali minum susu, tak boleh jajan lagi.

"Anda kan mau sehat? Kalau punya niat, insya Allah, sukses," begitu pesan Fefe dalam beberapa kesempatan. "Oke, oke," jawab saya, lemas.

Beberapa hari saya terpaksa menahan lapar... demi mengurangi berat badan. Belum sebulan, saya diajak ke sebuah hotel bintang lima di Surabaya untuk mengikuti diskusi penting. Makan enak, tentu saja. Godaan makanan lezat kelas hotel sungguh menggoda. Makan... tidak... makan... tidak... makan... tidak... makan...

Yah, teman-teman saya makan dengan lahap, sehingga saya pun akhirnya jatuh dalam godaan. Puasa ala Herbalife batal. Saya makan seperti tak pernah ikut program diet yang ketat itu. Apa boleh buat, produk si Fefe itu pun mubazir. Saya biarkan beberapa hari, kemudian isinya dibuang di tempat sampah. Saya belum mampu ikut program diet seketat itu.

Sampai sekarang tekad untuk menguruskan badan tetap ada, namun saya tak ingin ikut program ala Herbalife lagi. Berat!

"Lebih baik olahraga saja yang teratur. Kalau bisa jangan makan di atas jam enam petang. Sarapan buah saja," usul teman saya, wartawan senior.

Yah... saya sekarang mulai membiasakan diri olahraga lompat tali (skipping) di halaman. Namun, repornya, saya ini belum bisa menjadikan olahraga sebagai gaya hidup sehari-hari. Masih musiman. Kadang-kadang begitu semangat, kadang-kadang tak pernah olahraga. Sementara itu, malam hari godaan mi goreng, nasi goreng, camilan kecil... di pinggir jalan masih sulit dilawan.

Ada kata-kata bijak yang sering dikutip Gus Ali, kiai terkenal di Tulangan, Sidoarjo. "Makanlah kalau Anda lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang!" ujar pengasuh Ponpes Bumi Shalawat, yang beberapa kali saya liput pengajiannya.

Ternyata, ini merupakan kata-kata hikmah dari Nabi Muhammad SAW. Berhenti makan sebelum kenyang! Saya selalu ingat mantra bijak ini:

Berhenti makan sebelum kenyang!
Berhenti makan sebelum kenyang!
Berhenti makan sebelum kenyang!
Berhenti makan sebelum kenyang!
Berhenti makan sebelum kenyang!


Kata-kata ini gampang diucapkan, namun tak mudah dilaksanakan, setidaknya bagi saya. Kenapa? Di kampung saya, Flores Timur, mama-mama di rumah selalu bilang:

"Makan sampai kenyang! Tambah lagi! Ayo, nasinya dihabiskan!"

Jika makanan tidak dihabiskan, apalagi makan sedikit, dikira kita kurang menghargai mereka yang sudah capek-capek memasak dan menyiapkan makanan. Tapi kalau makan sampai kenyang -- ikat pinggang dikendorkan -- risikonya badan kita akan dijejali bantalan lemak.

Susah!!!

9 comments:

  1. bung, gak usah diet2an, gak akan efektif. sangat menyiksa pakai herbalife. menurut saya, harus olahraga, latihan fisik keras. pasti deh kurus lagi. kita di kota gak bisa kurus krn jarang gerak, kerja di depan komputer. setuju gak????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Latihan fisik keras itu seperti apa ya? Jika ada cara mudah dan cepat, mengapa pakai cara keras?
      Bahkan cara yg disebut 'menyiksa' tadi pun dapat memberikan efek samping yaitu badan menjadi lebih sehat, tidak sekedar berorientasi dietnya.
      Yang terpenting adalah menjaga pola makan kita.

      Delete
    2. Yang benar bukan latihan fisik (olahraga) keras, tapi teratur dalam tempo minimal 30 menit per hari. Olahraga yang baik, kata beberapa dokter yang saya kenal, itu adalah JALAN KAKI dengan cepat, nonstop, terus-menerus, tidak pakai berhenti minimal 30 menit. Efeknya paling bagus.

      Olahraga keras, kayak atlet profesional, malah tidak dianjurkan karena manfaat jangka panjangnya tidak ada. Kira2 begitulah ilmu yang saya peroleh setelah aktif mengikuti rombongan baksos kesehatan warga Tionghoa di Surabaya.

      Salam sehat!

      Delete
  2. Bung Hurek great article! been there..done that:)
    Prinsipnya akan sukses jika input = output. Cara alamiah OR, min. 20 menit - max. 1 jam (kombinasi antara cardio + weight training). Teknik olahraga dan asupan sebelum OR dipelajari agar ketemu mana yg lebih efektif. Misal, weight training diperlukan utk pembentukan muscle, krn muscle dibutuhkan utk percepat pembakaran lemak sebetulnya. Selebihnya BB tidak lagi patokan, tapi BMI-Body Mass Index (bisa digoogle). Sarapan malah bisa jadi jadwal terpenting, dan perbanyak protein dan serat spy tidak mudah terasa lapar tapi tetap 'alert' di siang/sore hari (bedakan rasanya kalo sudah kekenyangan karbohidrat). Usaha ini pasti butuh waktu. Jangan kaget jika hari2 pertama lihat BB malah tambah (krn muscle yg lebih berat dari lemak). Tapi seterusnya jika rutin akan lancar progress pengurangan lingkar pinggang demi kesehatan dan panjang umur. Good luck!

    ReplyDelete
  3. Hehehe.... Terima kasih banyak atas nasihat bagus ini. Gak nyangka tulisan iseng2 ini dibaca dan direspons.

    Saya juga doakan semoga Anda sukses dan panjang umur. Yang jelas, melawan berat badan itu selalu saya anggap senbagai JIHAD yang sulit. JIHAD melawan nafsu makan dan diri sendiri. Good luck!

    ReplyDelete
  4. Sebenarnya bung Hurek hanya 'Lapar Mata' yaitu tidak kuat menahan makan makanan enak. Rata-rata orang seperti itu. Sehingga melupakan kemampuan organ tubuh yg tidak bisa sembarang menerima makanan.
    Ibaratnya kendaraan bermotor yg diberi bahan bakar Premium oplosan maka suatu hari (dan wkt berdekatan) pasti kendaraan menjadi mogok.
    Produk yg bung Hurek sebutkan itu bukanlah produk sembarangan. Karena tidak sekedar bertujuan menstabilkan berat badan, tetapi bisa memperbaiki kesehatan tubuh. Karena konsep produk Herbalife adalah memperbaiki sel-sel tubuh. Bukankah seluruh organ tubuh manusia terdiri dari sel-sel??
    Intinya adalah pengendalian diri dari nafsu makan yg tidak sehat. Ibaratnya kita diperintahkan berpuasa oleh Tuhan, tentu kita sulit menahan godaan. Tetapi disanalah tantangannya.

    ReplyDelete
  5. Sebenernya bung Hurek hanya 'Lapar Mata' yaitu tidak kuat menahan makan makanan enak. Dan rata-rata hampir semua orang seperti itu. Akan tetapi tubuh kita tidak bisa menerima sembarang makanan.
    Organ tubuh kita ibarat mesin kendaraan. Jika kendaraan diberi bahan bakar Premium oplosan maka suatu saat nanti (wkt singkat) pasti mengalami kerusakan. Terlebih lagi jika sering terlambat ganti oli.
    Produk yg bung Hurek sebutkan itu, sebenernya bukan produk sembarangan. Karena produk Herbalife tidak sekedar untuk menstabilkan berat badan, tetapi juga untuk memperbaiki kesehatan (bukan mengobati). Karena konsep produk Herbalife adalah memperbaiki sel-sel tubuh. Bukan organ tubuh didasari oleh sel-sel?? Misalnya saja produk stroberi yg bung Hurek sebutkan (nama produknya adalah Nutrition Shake Mix alias Shake), adalah makanan kualitas PERTAMAX yg mampu meregenerasi sel-sel. Tidak sekedar kualitas Solar, Premium apalagi Premium oplosan. Hehehe..
    Intinya adalah pengendalian diri dari nafsu makan yg tidak menyehatkan. Ibaratnya kita diperintahkan berpuasa oleh Tuhan, maka tentu berat godaan saat menjalaninya. Tapi kita harus tetap sabar dan ikhlas menjalaninya.
    Sukses selalu untuk bung Hurek.
    Salam,
    Zain - Independent Distributor Herbalife

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... mantap!!! Sukses juga untuk Zain, yang aktif kampanye hidup sehat. Saya sudah tiga tahun ini sudah lebih insaf, tidak lapar mata, sehingga berat badan lebih stabil. Juga olahraga sepeda sehat 10 km tiga kali seminggu, lumayan untuk bakar lemak.

      Ilmu dari Herbalife tentu sangat berguna. Semoga jualan Mas Zain laku keras. Dan makin banyak orang Indonesia yang sehat dan langsing. Selamat kerja!!!

      Delete