04 November 2006

Musik Keroncong Mati



Musik keroncong di Kabupaten Sidoarjo mati suri. Orkes keroncong hampir tak ada lagi. Orkes dangdut sangat marak, ibarat jamur di musim hujan.

Harus diakui, selera musik generasi muda, bahkan generasi tua, sekarang sudah berubah jauh dibandingkan tahun 1960-an hingga awal 1980-an. Industri musik tumbuh pesat melahirkan musik pop, dangdut, rock, dan sejenisnya.
Nah, keroncong sampai sekarang belum bisa masuk industri musik. Inilah yang membuat

Prapto MD resah. Pria berusia 66 tahun ini khawatir suatu ketika tidak ada lagi jenis musik melodius yang merdu merayu ala keroncong.

“Makanya, kita harus melakukan sesuatu, termasuk kalian dari media massa. Bagaimanapun juga keroncong itu termasuk salah satu jenis musik berkualitas yang pernah disukai di Indonesia,” ujar Prapto MD kepada saya di Sidoarjo.

Begitu diajak bicara keroncong, Prapto yang tadinya diam, banyak merenung, agak mengantuk, langsung bersemangat. Ia kemudian mengenang musik keroncong yang katanya pernah berjaya di radio dan televisi dulu.

Saking populernya, keroncong dilombakan di Bintang Radio dan Televisi (BRTV), kontes menyanyi ala AFI, KDI, atau Indonesia Idol sekarang. Tak sedikit remaja yang mengikuti BRTV dan akhirnya sukses sebagai penyanyi terkenal.

Lha, kenapa keroncong tidak digemari lagi, bahkan dianggap sebagai musik kaum lansia?

Selain faktor industri musik itu tadi, Prapto menyebut para pemusik keroncong sendiri terlena. Lagu keroncong yang mendayu-dayu, mengalun tenang, membuat praktisi keroncong tertidur. Tidak sadar kalau dunia terus berubah, selera musik generasi muda pun berbeda dengan ayah-ibu atau kakek-neneknya.

Selera musik, kata Prapto, merupakan proses dan tidak bisa diwariskan begitu saja. Ketika zaman terus berubah, buaya-buaya keroncong alpa melakukan inovasi. Tak heran sejak dulu irama keroncong begitu-begitu saja, datar, tanpa greget.

Di pihak lain, orkes melayu (dangdut) melakukan inovasi terus-menerus menjadi dangdut yang kaya warna. Dangdut rock, dangdut jaipongan, campursari, serta varias-variasi lain. Akhirnya, dangdut kini mendominasi selera masyarakat.

“Musik keroncong juga harus seperti itu. Kalau kita hanya membawakan Bengawan Solo, Keroncong Moritsku, ya, nggak ada anak muda yang dengar. Apa itu musiknya lansia,” ujar Prapto yang lahir pada 12 Mei 1940 itu.

Menurut dia, inovasi dengan memasukan unsur rock, pop, reggae, dangdut sah-sah saja dalam bermusik. Sebab, di mana pun musik selalu terbuka pada pengaruh apa saja. Dulu, keroncong mengadopsi unsur langgam Jawa sehingga muncullan keroncong bernuansa Jawa seperti yang kerap dibawakan Waljinah. Inovasi seperti itu, kata Prapto MD, hampir tidak dilakukan lagi oleh buaya-buaya keroncong.

“Akhirnya, anak-anak muda malas main keroncong. Kenapa? Karena gejolak jiwa mereka tidak bisa disalurkan lewat musik keroncong,” ujar Prapto.

Pria yang pernah memimpin Orkes Keroncong BP7 Sidoarjo selama empat tahun (1985-1989) itu tak hanya bicara.

Berbeda dengan musik hiburan (industri), Prapto menegaskan bahwa kesenian macam keroncong atau musik etnik tidak bisa hidup tanpa bantuan pemerintah. Mengharapkan sponsor jelas susah karena keroncong bukanlah musik yang bisa dijual. Mau tidak mau pemerintah jualah yang harus turun tangan. Kalau tidak, suatu ketika keroncong menjadi barang antik penghuni museum.

Menurut Prapto, orkes keroncong punya pakem yang ketat. Ada tujuh instrumen akustik: violin, cello, flute, gitar, ukulele, cak (banjo), serta bas betot (contra bass). Musisi pun dituntut bisa membaca partitur mengingat komposisi musik keroncong ditulis layaknya musik klasik.

“Jadi, main keroncong itu butuh wawasan musik yang tinggi," katanya.

6 comments:

  1. yah.. memang perlu metode khusus untuk melestarikan keroncong. gak gampang memang. mungkin gak jamannya lagi.

    zaenal, surabaya

    ReplyDelete
  2. sayang banget kalo kroncong sampe mati. soalnya itu termasuk aset kesenian kita di indonesia.

    ReplyDelete
  3. Okey,
    kami selaku Penyanyi Keroncong dan juga Bintang Keroncong, dan juga Generasi Kedua dari Tokoh keroncong (Alm.bpk.Sugiono-Pencipta lagu diantaranya Kr.Dirgahayu Indonesia-Pemain Biola-Pemimpin OK.Duta Ibukota-pengiring Pemilihan Bintang Radio) siap meningkatkan Prestasi nama Keroncong.

    silahkan kunjungi website kami di www.ika-keroncong.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. Terima kasih Bung Stevie. Semoga musik keroncong bisa lestari di tanah air.

    ReplyDelete
  5. Salam katur Pak Prapto

    saya penggemar berat musik keroncong, mempunyai seperangkat alat musik keroncong. Walaupun sangat terbatas skill sy, tetapi sy hampir bisa memainkan instrumernt keroncong. masalahnya sama, sekarang sudah susah menemukan pemain musik keroncong. saya belajar musik keroncong scr otodidak. Memang kita perlu inovasi baru untuk menggiatkan musik keroncong, tetapi mm tdak mudah.

    Salam

    aditris, bogor

    ReplyDelete
  6. terima kasih infonya......
    sangat menarik dan bermamfaat......
    mantap.

    ReplyDelete