16 November 2006

Mengenang Romo Jan Heijne SVD (1921-2004)


*Pembangun Beberapa Gereja Megah di Surabaya

Romo JOHANNES MARIA HEIJNE SVD terakhir menjabat Pastor Paroki Gembala yang Baik, Surabaya, meninggal dunia pada 30 Mei 2004, pukul 13:45 di Negeri Belanda. Jenazahnya disemayamkan di Kapel Zorgcentrum Zuiderhout, Teteringen, Belanda, tempat beliau menikmati pensiun dan menghabiskan masa tuanya.

Selain ramah, akrab, dan penuh perhatian terhadap 'domba-dombanya', Romo Heijne dikenal sebagai penggagas dan pembangun beberapa gereja di Surabaya. Di antaranya, Gereja Katolik Gembala yang Baik, Jln Jemur Andayani X/14, Surabaya (14 September 1982), Gereja Salib Suci di Tropodo, Waru, Sidoarjo, (14 September 1988), Gereja Sakramen Maha Kudus di Pagesangan, Surabaya, (14 September 1995), serta mempersiapkan pembangunan Gereja Katolik Roh Kudus Surabaya (1997).

JOHANNES MARIA HEIJNE lahir di Leiden (Negeri Belanda) pada 18 Mei 1921. Ia anak ketiga dari tujuh bersaudara, putra pasangan suami-istri HENRICUS HEIJNE dan THEODORA MARIA ESMAN. Ia mempunyai seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan serta empat adik perempuan. Seminggu kemudian, atau 25 Mei 1921, si mungil Jan, demikian nama panggilannya, dipermandikan dengan nama permandian JOHANNES. Sejak kecil, Jan sudah bercita-cita menjadi misionaris.

Maka, ia meminta dibelikan perlengkapan misa. Dan kemudian bersama adik-adiknya, si Jan kecil bermain misa-misaan. Perilaku dan keinginan Jan untuk menjadi imam, diketahui juga oleh sang ibu tercinta. Dan sang ibu mendukung cita-cita sucinya dengan doa-doa yang tekun. Ayahnya, meninggal 1978, seorang pekerja di sebuah koperasi.

Sedangkan ibunya (wafat 1980) seorang ibu rumah tangga yang baik. Berkat doa-doa sang ibu, akhirnya pada 18 Agustus 1946 Johannes Maria Heijne ditahbiskan menjadi pastor di Teteringen bersama 15 orang lainnya.

Sejak kecil Jan Heijne gemar sekali bermain bola. Begitu kuatnya kegemarannya akan sepak bola, ketika orang tuanya hendak mengantar ke Seminari Menengah, demi memenuhi keinginan Jan menjadi imam, ia bertanya: apakah di seminari itu ada lapangan bola? "Kalau tidak ada, ya, tidak usah masuk saja!" ceritanya di Surabaya.

Syukur, Seminari Menengah di Soesterberg pada 1933 itu memang punya lapangan bola. Kalau tidak, barangkali kita tidak akan kenal Pastor Heijne. Unik juga.

Dan memang, hampir semua aktivis paroki di Surabaya tahu bahwa Romo Heijne sangat gila bola. Beliau tak pernah melewatkan kesempatan untuk menyaksikan pertandingan di televisi, sekalipun itu berlangsung lewat tengah malam. Terutama pertandingan Liga Italia, Liga Inggris, Lia Champion, atau Piala Dunia. Apalagi, bila yang bertanding itu tim nasional Belanda.

Selain bola kaki, Romo Jan Heijne SVD penggemar berat tinju dan balap sepeda. Seperti sepak bola, beliau juga tidak mau melewatkan kesempatan untuk menyaksikan pertandingan tinju maupun lomba balap sepeda, terutama Tour de France.

DUA tahun dua bulan setelah ditahbiskan menjadi imam, 18 Desember 1948, dengan menumpang kapal 'Madura', Jan Heijne SVD yang berusia 27 tahun berlayar menuju Indonesia. Sejak meninggalkan pelabuhan Ijmuiden di Negeri Belanda, hingga tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 28 Januari 1949, selama 40 hari mereka berada di laut tanpa melihat daratan.

Hal ini disebabkan kapal harus berputar lewat sebelah barat benua Afrika, tidak boleh berlayar masuk melewati Terusan Suez, karena situasi di sana sedang gawat. Bayangkan, betapa jenuh dan meletihkan!

Jan Heijne SVD seorang yang rendah hati dan mencintai umatnya. Ada banyak contoh yang bisa disebut. Kalau kita memerhatikan boks riwayat hidup singkatnya tentang karya-karya pastoral disebutkan: 'TURUT MELAKSANAKAN', 'TURUT MEMBANGUNAN' GEREJA.
Bukankah Romo yang bangun gereja-gereja di Surabaya?

"Bukan! Bukan saya yang membangun!" katanya tegas.

"Jangan bilang saya yang bangun. Saya tidak bisa membangun sendiri tanpa umat, tanpa panitia pembangunan, para penyumbang, dan juga tidak boleh lupa, itu para tukang."

Contoh lain. Ketika ditanya tentang suka dukanya selama 50 tahun menjadi imam, Jan Heijne SVD merasa senang dan bahagia boleh turut bekerja untuk Kerajaan Allah di dunia ini. Dukanya: merasa dirinya tidak berhasil menjadi seorang imam yang saleh, suci.

Karena itu, beliau memohon maaf kepada Tuhan Yang Maharahim, dan juga kepada seluruh umat untuk segala kelemahan, kemalasan, cinta diri dan keduniawian selama 50 tahun imamat. Begitu ungkapan polosnya saat Pesta Emas imamatnya di Surabaya.

Lho, bukankah kharisma Romo begitu kuat, lagi pula sangat dicintai umat? "Ya, tetapi saya merasa diri tidak saleh, banyak kelemahan dan kekurangan, malas dan suka cinta diri. Jadi, saya tidak boleh menyombongkan diri. Apalagi di hadapan Allah, kita sama sekali tidak boleh menyombongkan diri!" jawabnya.

Tentang perhatian dan cintanya kepada umat, dapat disebutkan antara lain beliau mengenali satu per satu, siapa saja yang rajin menghadiri misa harian. Bagaimana keadaan umatnya, terutama kaum lemah dan kecil, selalu menjadi perhatiannya.
Cintanya kepada umat beroleh sambutan dari umat. Boleh dikata, seluruh umat paroki yang pernah dia layani juga sangat mencintai dan menyayangi Heijne.

Ketika Romo Jan Heijne SVD menderita sakit, banyak umat meneteskan air mata haru bercampur prihatin. Dan ketika beliau menjalani cuti sakit, mulai awal Juni 1993 hingga akhir Januari 1994, banyak umat yang tidak henti-hentinya mendoakan Romo Heijne SVD. Pada 14 September 1993, Romo Jan Heijne SVD menjalani operasi jantung di sebuah rumah sakit di Breda, Negeri Belanda.

Meski dengan enam by pass, operasi berjalan baik dan sukses. Usia tua membuat fisiknya terus melemah. Namun, dia sempat titip salam saat Presiden KH Abdurrahman Wahid meresmikan gereja buatannya, Gereja Sakramen Mahakudus, pada 10 November 2001. Gereja ini 'berdempetan' dengan Masjid Al-Akbar alias Masjid Agung Surabaya.

Pada 2004, Romo Jan Heijne telah menyatu bersama Sang Gembala Baik, Yesus Kristus! Dia tak ada lagi di antara kita, di Surabaya, tapi beberapa gereja megah, yang ia bangun, menjadi simbol keberadaannya. Pater Heijne, terima kasih!

(Ditulis berdasarkan data dari Putroadi dan bahan-bahan dari Paroki Gembala yang Baik, Surabaya)

No comments:

Post a Comment