10 November 2006

Ludruk Karya Baru Tetap Eksis


LUDRUK KARYA BARU, YANG BERMARKAS DI DUSUN GIRANG, DESA WONO KUPANG, BALONGBENDO, TETAP BERKIBAR KETIKA BANYAK GRUP SENI TRADISIONAL GULUNG TIKAR. TAMPIL TIAP MALAM, KECUALI BULAN PUASA.

Ludruk Karya Baru, yang dipimpin Hadipuro, merupakan fenomena langka grup seni tradisional di Jawa Timur. Hiburan televisi, dangdut, musik pop, dan berbagai seni moderen sama sekali tak mengganggu kinerjanya. Sampai sekarang Ludruk Karya Baru tak pernah kering tanggapan.

"Kita sampai nolak-nolak karena jadwalnya memang sudah penuh. Terus terang, dalam tahun ini saja kita tolak 20 sampai 30 tanggapan," jelas Hajah MARLIYAH, wakil ketua Ludruk Karya Baru, dalam percakapan santai dengan saya.

Marliyah--lahir 22 April 1955--kemudian memperlihatkan daftar 'tanggapan' (order) selama setahun. Wow, 160 kali. Praktis, ludruk berkekuatan 70 pemain ini hanya bisa istirahat penuh pada bulan puasa.

"Kalau nggak puasa, saya nggak akan bisa wawancara dengan sampeyan. Wong, kita setiap malam main terus," kata MARLIYAH HADI WIJAYA (nama lengkap Ning Marliyah). Dia memang layak bangga, karena mungkin inilah satu-satunya grup ludruk di Jawa Timur yang laris kayak pisang goreng.

Berdiri pada 1987, Ludruk Karya Baru selama ini tampil di kampung-kampung sekitar Balongbendo, Krian, Mojosari, Bangil, Gresik, Mojokerto, Surabaya pinggiran. Selama ini, kata Marliyah, Ludruk Karya Baru banyak diorder untuk hajatan keluarga seperti mantenan, sunatan, ruwat desa, ulang tahun, dan sejenisnya. Sekali-sekali saja mereka menghibur masyarakat di ruang publik seperti lapangan atau stadion.

Saking banyak tanggapan di Balongbendo, Krian, dan sekitarnya, praktis Marliyah dan anak buahnya tidak bisa manggung di tempat-tempat jauh macam Jakarta, Madiun, Jember, Banyuwangi. Padahal, banyak permintaan tampil di Jakarta, termasuk syuting di televisi. "Saya pikir, di sini saja kami nggak pernah libur. Mengapa harus ke Jakarta. Bagi saya, main di mana saja sama selama ludruk itu diminati masyarakat," kata Marliyah.

Dalam percakapan dengan saya, Marliyah yang mulai main ludruk sejak 15 tahun itu menggunakan banyak waktu untuk menjelaskan bahwa ludruk belum mati. Salah besar kalau ada anggapan seakan-akan grup ludruk hidup senen-kemis karena tidak laku.

Belum lama ini Marliyah mengaku didatangi sejumlah mahasiswa, antara lain dari Universitas Airlangga dan Universitas Kristen Petra, yang meneliti ludruk. Asumsi para mahasiswa: usia ludruk sudah tinggal menghitung hari, tidak laku, sulit bersaing dengan hiburan moderen. Marliyah, ibu dua anak dan nenek dua cucu ini, kontan marah besar.

"Sopo sing ngomong ludruk gak payu? Wong aku iki saben dino main," tandasnya.

Marliyah punya toko di Jalan Simo Magersari 80 Surabaya. Dia mulai ikut Ludruk RRI Surabaya bersam Ning Kastini, istri Cak Kartolo. Umi Kalsum, empu ludruk, juga bergabung di sana. Akhirnya, Marliyah bertemu Cak Hadi Wijaya, sesama pemain ludruk pada 1975, dan mereka menikah.

Menurut dia, anggapan umum bahwa ludruk sudah tergilas seni dan hiburan modern jelas tidak valid. Sampelnya terlalu sedikit. Kebetulan sampelnya, ya, ludruk-ludruk di Kota Surabaya yang memang makin tergusur.

"Makanya, pengamat dan wartawan jangan cari berita di kota saja. Datanglah ke pinggiran untuk melihat Ludruk Karya Baru," ujarnya serius.

*******

FOTO: Ning Marliyah

MENGIKUTI PERKEMBANGAN ZAMAN, MEMBACA SELERA PASAR! ITULAH JURUS MARLIYAH HADI WIJAYA MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI LUDRUK KARYA BARU.

KATA kuncinya, kreatif! Sebagai pemain senior dan pengelola Ludruk Karya Baru, Marliyah sangat sadar bahwa orang datang menonton ludruk untuk mencari hiburan. Karena itu, sisi hiburan harus sangat diperhatikan oleh pengelola ludruk.
Agar bisa menghibur, kata Marliyah, jangan ragu-ragu membuat improvisasi meski itu tidak lazim dalam pakem ludruk.

Merusak pakem? Marliyah tertawa kecil.

"Bukan merusak pakem, tapi sedikit menyalahi pakem. Kita ingin ludruknya tetap jalan, tapi penonton pulang dengan rasa puas karena keinginannya terpenuhi."

Usaha Marliyah dan kawan-kawan untuk tetap memikat penonton itu, antara lain, dengan memasukan elemen-elemen kasidah, campursari, tarian, dangdut, dan lawakan modern. Ketika goyang Inul Daratista lagi ngetop, beberapa pemain Ludruk Karya Baru tak segan-segan memeragakan goyangan itu. Juga ada goyangan lain yang tak kalah dahsyat.

"Tapi busananya tetap khas ludruk sehingga lebih sopan. Kita itu luwes saja, nggak perlu kaku. Buat apa ada kesenian kalau masyarakat tidak bisa menikmati?" katanya.

Main di atas pukul 21:00, gelar Ludruk Karya Baru dimulai dengan nyanyian bersama (kor). Kemudian lagu-lagu bernuansa Islam seperti qasidah atau gambus, remo massal wanita, campursari, remo pria, atraksi tari. Acara demi acara harus berakhir pada pukul 24:00. Setelah itu Marliyah dan pemain-pemain muda melanjutkan dengan lawak selama setengah jam.

Marliyah, yang memang jago lawak ini, menjadi komandan banyolan-banyolan segar. Tema lawak, bahasa tubuh, diusahakan selalu baru karena bisa saja penonton sudah pernah menyaksikan di tempat lain. Begitu ada pengulangan, gagallah grup ludruk.

"Saya paling tersiksa kalau saat lawak ada penonton yang teriak, wis ngerti! Lawas! Gak ono sing anyar tha? Dan seterusnya. Makanya, ini menjadi tantangan paling berat bagi kami karena dituntut menampilkan lawakan-lawakan baru," ujar perempuan kelahiran 28 April 1955 itu.

Tantangan Karya Baru semakin berat karena lokasi main mereka rata-rata sangat berdekatan: Krian, Balongbendo, Tarik, Mojokerto, Mojosari, Gresik, Sidoarjo, Surabaya. Lokasi ini boleh dikata berdempetan sehingga kemungkinan besar masyarakat kerap melihat atraksi Karya Baru. Lawakan di Krian, bila diulang di Mojokerto, bisa menjadi bumerang bagi grup. "Malu kalau ada penonton yang mencemooh," kata Marliyah.
Terobosan lain adalah tema cerita yang variatif. Cerita-cerita khas macam Minak Jonggo, Sawunggaling, Joko Sembung, dan semacamnya tetap perlu, tapi dikurangi.

Alasannya, ya, itu tadi, masyarakat sudah hafal kisah-kisah klasik tersebut. "Makanya, kita buat cerita sendiri dengan mengambil peristiwa di masyarakat sehari-hari. Kan ada kasus-kasus nyata yang bisa diangkat."

Yang pasti, grup pimpinan Hadi Puro ini enggan mengambil tema-tema politik, apalagi bertendensi mendukung partai politik tertentu. Ketika membawa misi politik, Marliyah yakin grup kesenian akan kehilangan sebagian penontonnya. Padahal, Karya Baru sejak dulu bertekad merangkul semua komponen masyarakat.

*******

KADERISASI ATAU REGENERASI PEMAIN MERUPAKAN KIAT LAIN LUDRUK KARYA BARU. JUJUR SAJA, DI MANA PENONTON LEBIH SENANG MENYAKSIKAN GADIS-GADIS CANTIK YANG MASIH SEGAR.

SEBAGAI orang panggung, Marliyah Hadi Wijaya sangat memahami psikologi penonton (laki-laki). Akan lebih memikat kalau gadis-gadis muda mendominasi panggung. Karena itu, ia secara teratur memperkuat grupnya dengan memasukkan remaja ABG (cewek) sebagai pemain inti.

"Anak-anak saya itu banyak yang masih SMA, ada yang SMP. Jadi, benar-benar berangkat dari nol. Awalnya, ya, mereka itu anak desa yang nggak bisa apa-apa. Tapi, setelah dilatih, ternyata mereka bisa menjadi pemain ludruk yang bagus," kata Marliyah.

Meski pengalaman nihil, Marliyah melihat anak-anak muda asal Krian, Balongbendo, Tarik, Mojokerto, dan sekitarnya ini sangat potensial. Nah, di Karya Baru gadis-gadis muda bisa memainkan banyak peran sekaligus. Menyanyi, menari, main musik, melawak, dan tentu saja main ludruk.

Dirias dan berbusana panggung yang wah, Marliyah membuat 'terobosan' dengan melibatkan gadis-gadis muda ini saat adegan remo. Di ludruk konvensional, remo ditarikan seorang diri alias tarian tunggal. Di Karya Baru Marliyah melibatkan minimal lima penari cantik untuk mendampingi sang arjuna. Apalagi, di ludruk ini ada SUKIS INDRA KUSUMA, juara satu lomba remo Jawa Timur.

"Tariannya dibuat banyak variasi biar nggak membosankan penonton," ujarnya. Karena itu, adegan remo selalu ditunggu-tunggu penonton. Jika perlu, anak buah Marliyah memperlihatkan gerakan modern dance sesuai dengan selera sekarang.

"Kalau tidak orang malas lihat ludruk. Mendingan di rumah saja, lihat televisi."

Marliyah dan kawan-kawan juga kerap melakukan pengambilan gambar Ludruk Karya Baru. Rekaman. Untuk apa? "Saya ingin ada syuting yang terencana, pakai skenario, sehingga hasilnya lebih halus," tegas Marliyah.

Manakala ada adegan, gerakan, ucapan, pemain kurang pas, dalam syuting terbaru nanti bisa diulang hingga menemukan performa terbaik. Mirip syuting sinetron lah! Marliyah berencana menjadikan hasil syuting di Balongbendo ini sebagai dokumentasi dan bahan promosi Ludruk Karya Baru.

"Terus terang, selama ini kita belum punya dokumentasi yang baik karena terlalu asyik main. Habis, tanggapan tidak pernah berhenti," katanya.

2 comments:

  1. Videonya mana mas ??
    nyari nyari gak ketemu

    ReplyDelete
  2. minta file ludruk karya baru yang judulnya makaelar jodoh kalau boleh

    ReplyDelete