29 November 2006

Lina Mencari Ayahnya di Danau Lumpur




GADIS kecil ini duduk termenung didampingi saudara sepupu dan bibinya. Sabtu (25/11, Lina yang bernama lengkap Perina Dilanti datang ke lokasi ledakan pipa gas sekitar pukul 16.00 WIB. Mata gadis kecil ini berkaca-kaca.

Dia dengan cermat memandang isi danau lumpur panas tersebut. Seperti diketahui, ayahanda Lina, Rudi Tri Hariadi, tewas akibat ledakan dahsyat di Kilometer 38 Tol Gempol-Porong bersama 14 korban lainnya.

Kalau 13 mayat korban lain sudah ditemukan oleh tim Search and Rescue (SAR), dan sudah pula dikebumikan oleh keluarga masing-masing, mayat Rudi Tri Hariadi masih tak jelas rimbanya. Diduga kuat, masih berada di dalam kubangan lumpur panas.

"Saya mau menunggu Papa di sini," kata Lina, siswi sebuah taman kanak-kanak di Surabaya.

Saya pun terenyuh mendengar pengakuan polos Lina. Apalagi, tampak sekali kalau Lina baru saja menangis setelah ditinggal pergi sang ayah tercinta sejak Rabu malam. "Pokoknya, saya menunggu Papa," tambahnya.

Sekitar lima menit kemudian, Lina memerhatikan sebuah mobil yang parkir tak jauh dari situ. Mobil itu biasa dipakai petugas lapangan Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo. Rupanya, Lina hafal benar kendaraan kerja almarhum ayahnya.

"Lho, itu kan mobilnya Papa! Itu kan mobilnya Papa!" ujar Lina. "Tapi kenapa Papa kok belum ketemu ya?" tambah putri pasangan Rudi Tri Hariadi (alm) dan Yulinawati.

Mendengar komentar Lina, saya dan beberapa petugas yang mendengarnya nyaris tak mampu menahan linangan air mata. "Bagaimanapun juga kita perlu mencari jasad Rudi sampai ketemu. Insya Allah, dalam waktu dekat sudah bisa ditemukan," bisik seorang petugas Timnas.

Si gadis kecil, Lina, tetap terpaku pada mobil yang biasa dipakai ayahnya di kawasan semburan lumpur panas Lapindo.

Lalu, dia berkata dengan suara keras, "Mama... aku sudah ketemu mobilnya Papa. Tapi Papa belum pulang, Ma."

Mendengar ucapan Lina, sang bibi kemudian meminta penjelasan dari petugas tentang alasan penghentian pencarian jenazah korban ledakan pipa gas, Rabu malam lalu. Petugas mengatakan bahwa upaya pencarian akan terus dilakukan sampai mayat Rudi Tri Hariadi, pegawai Pemkot Surabaya, itu ditemukan. Itu sudah menjadi tekad dan komitmen petugas di lapangan.

"Mohon bersabar. Kalau peralatannya sudah normal, kita akan mencari lagi sampai ketemu," ujar si petugas. Lalu, sejurus kemudian si kecil Lina bersama bibi dan kakak sepupunya (15 tahun) meninggalkan lokasi tewasnya Rudi Tri Hariadi.

"Saya tidak tegas melihat anaknya almarhum Rudi di atas tanggul. Benar-benar pemandangan yang membuat perasaan siapa pun teriris-iris," kata Abdullah.

Almarhum Rudi Tri Hariadi tinggal di Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perum TAS) Blok B2 Nomor 35, Tanggulangin, Sidoarjo. Yulinawati, istri pegawai Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemkot Surabaya, saat ini sedang hamil tiga bulan. Kemarin, Yuli tidak menemani Lina ke danau lumpur panas karena masih dilanda kesediahan mendalam.

Yuli mengaku pasrah atas nasib nahas yang menimpa suami tercinta. "Sekarang ini saya tidak bisa mikir apa-apa. Saya hanya bisa pasrah. Mudah-mudahan suami saya segera ditemukan," katanya.

Seperti jeritan anaknya, Lina, Yulinawati meminta tim SAR, Timnas, Lapindo Brantas Inc, Pemkab Sidoarjo, serta para relawan untuk segera menemukan jenazah suaminya. "Biar jelas langkah saya. Tidak seperti sekarang ini, mau melangkah masih bimbang," katanya.

2 comments:

  1. kasihan banget. gara2 lapindo

    ReplyDelete
  2. tragis. sampe kapan ya kasus lapindo ini? bosaaaaaan

    ReplyDelete