12 November 2006

Pater Lambert P. Seran SVD




Di Jalan Polisi Istimewa Surabaya, persis berdampingan dengan kompleks SMAK St Louis I, berdiri megah gedung SOVERDI. Ini akronim dari SOCIETAS VERBI DIVINI (juga disingkat SVD), biasa diindonesiakan dengan SERIKAT SABDA ALLAH. Sebuah kongregasi atau tarekat Katolik yang sangat terkenal di tanah air.

Asal tahu saja, misionaris SVD yang mulai masuk ke Indonesia pada 1913 itu menyumbang pastor atau imam terbanyak di Indonesia Raya, bahkan dunia.

Saya sering betandang ke SOVERDI karena banyak orang Floresnya. Juga ada gudang buku NUSA INDAH, yang menyediakan buku-buku murah (dan bagus) terbitan Nusa Indah, Ende Flores. “Sejak dulu di sini memang jadi tempat mangkal orang Flores. Apalagi, waktu Kapal Ratu (Rosari) masih ada,” kata LAMBERT RESI (almarhum, orang Ende), bekas manajer Gudang Buku Nusa Indah.

Bagi saya, yang jauh lebih penting, di SOVERDI ini ada Pater LAMBERTUS PADJI SERAN SVD, pastor kelahiran Hinga, Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, pada 16 Oktober 1930. Pater Lambert, sapaan akrabnya, sudah pensiun, dan kini menghabiskan masa tuanya di SOVERDI: Bikin misa. Berkebun. Merawat tanaman. Menyiram. Omong-omong. Terima tamu, karena romo ini banyak relasi. Melayani konsultasi umat.

Pater Lambert kerap berkomunikasi dengan tamu dalam bahasa asing (Barat). Bahasa apa saja, monggo, karena dia poliglot alias menguasai banyak bahasa (Latin, Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Belanda, Inggris). Kefasihannya berbahasa asing tak kalah dengan penutur asli. Selancar dia berbahasa Indonesia atau daerah (Lamaholot).

“Orang yang sudah pensiun macam saya harus aktif. Tidak boleh santai, tidur-tidur saja,” ujar Pater Lambert kepada saya. Sang Pater (PATER = FATHER = ROMO = BAPAK) ini makin semangat bicara manakala ada tersedia minuman khas Flores Timur, plus jagung titi. Bicaranya meledak-ledak, khas Adonara Timur.

Nah, bagi saya, bertemu dengan Pater Lambert Padji Seran berarti bicara dalam Bahasa Lamaholot, bahasa utama di Kabupaten Flores Timur. Dia pakai dialek Adonara Timur, saya pakai dialek Ile Ape. Seru! “Wah, pokoknya kalau Pater Lambert ketemu Lambert (maksudnya, saya: LAMBERTUS LUSI HUREK) pasti seru,” komentar Lambert Resi, almarhum, teman diskusi Pater Lambert, lalu tertawa kecil.

Pater Lambert punya posisi penting bagi keluarga kami.

Beliaulah yang memberi nama LAMBERTUS alias LAMBERT kepada saya. Nama permandian yang sama dengan dirinya. Saya pun dipermandikan di kampung, Ile Ape, Lembata oleh Pater Lambert Padji Seran SVD. Kebetulan pada 1970-an Pater Lambert menjabat pastor paroki Ile Ape, Flores Timur. Dia juga sering menginap di rumah saya, karena dulu kondisi pastoran sangat buruk.

Pater Lambert kenal baik kedua orang tua saya, NIKOLAUS N HUREK dan MARIA YULIANA (wafat 1998). Makanya, setiap kali cuti ke Flores Timur, Pater Lambert menyempatkan diri nyekar dan berdoa di makam almarhumah ibunda saya. Kalau ada pemberkatan apa-apa, menurut tradisi Katolik, keluarga kami ‘memprioritaskan’ Pater Lambert Padji Seran. Beliau yang berkati salib di kamar saya.

Yah, romo sepuh ini sudah jadi pastor keluarga kami.

*******
DI kalangan umat Katolik, setidaknya yang pernah mengenal dia, Pater Lambert Padji Seran SVD punya ciri khas yang sangat unik. Apa itu? Pastor ini senantiasa pakai songkok alias kopiah. Itu lho sejenis topi yang lazim dipakai jemaat muslim untuk salat. Juga lazim dipakai pejabat kita di acara-acara resmi.

“Lha, romo kok pake kopiah? Kayak kiai wae,” begitu guyonan beberapa umat. [Romo kok pakai kopiah? Kayak kiai saja.]

Melihat pria sepuh ini pakai kopi di kebun, mencangkul tanah, tak sedikit orang menyangka bahwa Pater Lambert itu tukang kebun atau petani. “Oh... maaf Romo, saya nggak nyangka kalau panjenengan itu pastor,” kata Sisilia, mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Surabaya suatu ketika. Pater Lambert sih tenang-tenang saja.

Petani, tukang kebun, pegawai negeri, pastor... sama-sama manusia, bukan?

Bagi Pater Lambert, songkok hitam itu sudah jadi bagian dari hidupnya. Dus, tak perlu dijelaskan lagi kenapa dia harus pakai penutup kepala macam itu. Kita juga tak perlu menjelaskan kenapa kita harus pakai baju, celana, kemeja, sarung, bukan?

Saat memimpin misa di gereja pun Pater Lambert pakai songkok. Jubah putih, kasula, alba... plus songkok – sebuah kombinasi unik. Secara fisik, Pater Lambert itu romo berpenampilan kiai. Hehehe....

Ada kesaksian menarik dari Dr. DANIEL DHAKIDAE, kini kepala penelitian dan pengembangan harian KOMPAS di Jakarta. Daniel bekas murid Pater Lambert di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi alias Seminari Tinggi Ritapiret di Flores. Dia keluar dari seminari dan melanjutkan karier sebagai sosiolog ternama.

Pada 1967 Pater Lambert menjabat praefectus, semacam kepala unit para seminaris. Menurut Daniel Dhakidae, sebagai hadiah Paskah tahun itu Pater Lambert membelikan songkok (kopiah) berwarna hitam untuk semua frater alias calon pastor. Songkok itu harus dipakai para frater untuk kuliah dan acara-acara resmi lainnya. Ketika para frater di Ritapiret, tempat studi calon imam praja, kuliah di Ledalero pakai kopiah, kontan saja, menjadi bahan tontonan warga setempat.

Warga yang umumnya Katolik heran melihat semua frater, calon pastor, pakai songkok kayak kaum muslimin yang mau salat jumat di masjid. “Kontras sekali dengan jubah putih para frater, sehingga begitu menarik perhatian,” kata Daniel.

Apa yang hendak disasar Pater Lambert Padji Seran SVD dengan ‘gerakan songkok’ 1967? Rupanya, dia bertekad ‘mengindonesikan’ Gereja Katolik dengan caranya sendiri. Membuat gereja lebih berwajah pribumi. Gereja yang tidak berwajah Eropa atau Barat. Kebetulan, waktu itu, Presiden Soekarno dikenal sebagai pemimpin besar yang selalu pakai songkok di acara resmi mana pun.

“Jangan-jangan Pater Lambert ini orangnya Bung Karno,” begitu komentar beberapa pihak yang mencoba mempolitisasikan ‘gerakan songkok’ ala Pater Lambert.


KINI, 40 tahun telah berlalu. ‘Gerakan songkok’ Pater Lambert mulai jarang dibicarakan di lingkungan gereja. Diingat saja pun tak. Namun, jejaknya masih terasa sampai sekarang.

Kalau tuan datang ke Flores, atau Nusa Tenggara Timur umumnya, tuan akan menemukan banyak frater atau pastor yang selalu pakai songkok. Paling banyak, songkok khas Manggarai (Flores Barat) dengan motif anyaman.

Saya kira, sedikit banyak berhubungan dengan ‘rekayasa sosial’ yang dirintis Pater Lambert sejak 1967 lalu. Bagaimanapun juga, Pater Lambert guru yang baik. Dia harus kasih contoh. Karena itu, hingga hari ini Pater Lambert tak pernah melepaskan songkok dari kepalanya. Di mana pun ia berada songkok selalu menemani. Pater Lambert memang layak menyandang gelar PASTOR SONGKOK.

1 comment:

  1. Dear Bernie,

    I just saw the article you wrote two weeks ago on Father Lambert Padji Seran SVD. Unfortunately I am not able to read Indonesian, but I still managed to recognize some words. Anyway: the fact that I am writing an biography on Father Theodor Verhoeven SVD, who spent a big part of his life as a missionary on the island Flores. In his personal correspondence I find the name of Father Padji once or twice, so I think they must have known each other. Do you think it is possible to find Father Padji's address of E-mail adress for me, so I can write to him? You would help me enormously with that.

    Thank you very much in advance,

    Sincerely,

    Gert M. Knepper


    dr. Gert M. Knepper
    Weidelaan 31 3956 EH Leersum

    ReplyDelete