15 November 2006

Ki Toro Seniman Sidoarjo


SUBIYANTORO, YANG AKRAB DISAPA KI TORO, BERSAMA GRUP PANJI KELANA, DESA BLURU, SIDOARJO, BARU SAJA MANGGUNG DI NEGERI BELANDA. SELAMA 35 HARI KI TORO CS BERKELANA DARI KOTA KE KOTA DI NEGERI KINCIR ANGIN ITU.

Puas! Itulah kesan umum KI TORO dan SRI MULYANI, istrinya, sepulang dari Negeri Belanda. Ternyata, apresiasi warga Belanda terhadap kesenian tradisional Indonesia sangat tinggi. Setiap malam penonton selalu memenuhi gedung kesenian (semacam teater) di kota-kota Belanda.

Asal tahu saja, di Belanda sana selalu ada gedung kesenian dengan fasilitas komplet di semua kota. Concert hall ini sifatnya permanen sehingga bisa dipakai oleh berbagai grup kesenian. "Main di sana cukup menyenangkan meskipun suhu udaranya benar-benar dingin. Sekitar 3-4 derajat Celcius," ujar pria yang tinggal di PERUMAHAN BLURU PERMAI BH/2, SIDOARJO, itu.

Tampil sebagai duta kesenian Indonesia, Grup Panji Kelana Sidoarjo berkolaborasi dengan Grup Kahanan, pimpinan INISISRI. Mereka membawakan komposisi tradisional Jawa Timur, jaranan. Tentu saja, komposisi asli ini diolah sedemikian rupa menjadi karya seni yang bisa diapresiasi khalayak internasional.

Mereka juga menampilkan 'kucingan', nomor yang sengaja dibuat untuk mengocok perut penonton. Semacam musical joke atau lawakan dengan musik. "Dan, rupanya orang-orang Belanda itu senang menikmati permainan kami. Apresiasi seni mereka memang luar biasa," puji Ki Toro, yang juga dalang wayang kulit.

Orang Belanda--dan orang Barat umumnya--dikenal sangat apresiatif menikmati sajian musik, khususnya klasik, kontemporer, tradisi, atau jazz. Inilah yang dirasakan Ki Toro dan kawan-kawan saat mengamen keliling negara yang lengkapnya bernama Het Koninkrijk Der Nederlanden itu. Bunyi sepelan apa pun mereka nikmati.

Tak ada yang gaduh, bicara sendiri, memaikan telepon seluluer, mengirim atau menerima SMS, apalagi menyalakan HP saat konser. Mereka tahu kapan harus menggunakan HP, kapan harus di-off-kan.

Dukungan penonton yang apresiatif ini menantang Ki Toro, Panji Kelana, dan Kahanan. Mereka harus bisa tampil maksimal, habis-habisan, agar durasi pertujukkan selama 1,5 jam membawa kenangan mendalam bagi penonton. "Dan ternyata sambutan penonton sangat bagus," cerita Ki Toro seraya tersenyum. Penoton rela bertahan di tempat duduknya hingga pergelaran usai.

Bukan itu saja. Usai memaikan semua komposisi 'jaranan', semua pemusik berdiri berjajar di panggung dan memberikan tabik pada penonton. Tepuk tangan membahana, hingga standing ovation. Masuk ke kamar ganti, para meneer, mevrouw, om, dan tante-tante Belanda itu enggan pulang dan terus bertepuk tangan. Ini semacam pesan bahwa mereka sangat puas, dan minta diberi lagu bonus (encore).

"Akhirnya, kita mainkan beberapa lagu lagi. Ada lagu yang diulang, juga ada tambahan," tutur Ki Toro, yang juga staf Taman Budaya Jawa Timur itu. Di sinilah bedanya dengan penonton kita yang umumnya kurang antusias, menyalakan HP di ruang konser, bahkan kadang-kadang berteriak, "Muduuuun! Mudun!"

Menurut Ki Toro, Panji Kelana dan Kahanan beberapa kali harus main di sebuah kota yang sama atas permintaan panitia dan warga setempat. Sayang, permintaan ini tidak semuanya dipenuhi karena 'masa kontrak' di Belanda yang hanya satu bulan lebih. Padahal, 15 kota harus disinggahi Ki Toro dan kawan-kawan untuk program diplomasi budaya di Negeri Belanda.

"Kita sih mau saja main lebih lama di sana, tapi sumber daya dan sumber dananya terbatas," ujar suami penari Sri Mulyani itu.

*******

SETIAP kali manggung di kota tertentu, selalu ada dialog atau workshop dengan anak-anak muda di sekolah. Sistem persekolahan di Belanda menggunakan 'kelas terusan'--SD sampai SMA disambung terus--sehingga sangat efektif. Nah, Ki Toro dan kawan-kawan (Panji Kelana) dan Inisisri dan kawan-kawan (Kahanan, Solo) diminta memberikan workshop pada jam-jam khusus.

Dalam workshop itu, Ki Toro mengaku tak hanya sekadar bicara, tapi lebih banyak mengajak anak-anak muda Belanda untuk bermain musik ramai-ramai. Toh, konsep musik yang ditawarkan Ki Toro dan Inisisri adalah musik tradisi-kontemporer yang pada dasarnya bisa dimainkan siapa saja. Anak-anak diminta mengetuk-ngetuk benda tertentu, bertepuk tangan, hingga membuat bunyi-bunyian. Asyik sekali!

Yang menarik, tutur Ki Toro, dalam dialog dari kota ke kota selalu saja muncul pandangan yang agak keliru soal Indonesia. Namanya juga belum pernah ke Indonesia, mereka umumnya membayangkan negara kita sebagai sebuah negara terbelakang. Barangkali mirip Inlander pada masa penjajahan nenek-moyang mereka dulu.

"Kesannya, kita ini dianggap negara yang tidak maju," ujar Ki Toro seraya tertawa kecil.

Selain itu, mereka umumnya menganggap Indonesia sebagai negara yang tidak aman, sering terjadi bentrokan antarpenduduk, sewaktu-waktu bisa meledak bom. Apa boleh buat, Ki Toro dan kawan-kawan terpaksa banyak menghabiskan waktu untuk menjelaskan hal-hal di luar urusan musik. Sebagai duta bangsa yang baik, tentu saja, Ki Toro mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya aman-aman saja.

Kalau tidak aman, bagaimana mungkin orang bisa berkesenian seperti Panji Kelana dan Kahanan? Tapi, bagaimanapun juga, di mata Ki Toro, pertanyaan-pertanyaan spontan seputar kondisi keamanan dan kenyamanan di Indonesia menunjukkan bahwa promosi Indonesia di luar negeri perlu lebih ditingkatkan lagi.

"Salah satu cara, ya, dengan diplomasi kebudayaan. Diplomasi kebudayaan ternyata lebih efektif karena jangkauannya sangat luas," ujar Ki Toro, yang beberapa tahun lalu juga sempat ngamen di kota-kota kecil Prancis itu.

Image bahwa Indonesia 'masih terbelakang', papar Ki Toro, terkait erat dengan fasilitas akomodasi manakala mereka datang ke sini. Standar hidup yang tinggi membuat rumah orang Belanda rata-rata setara dengan hotel berbintang di Indonesia. Mereka khawatir jika berkunjung ke Indonesia tidak menemukan fasilitas akomodasi yang memadai. Ini juga patut menjadi bahan pelajaran bagi pemerintah, khususnya pengelola pariwisata dan perhotelan.

Namun, yang paling menarik bagi Ki Toro adalah kedekatan hubungan antara masyarakat Belanda dan Indonesia. Praktis, orang Belanda, khususnya yang berusia di atas 50 tahun, sangat tahu tentang Indonesia. "Apalagi, mereka yang tergolong Indo. Wah, yang namanya Indo di Belanda itu banyak sekali, dan itu merupakan pasar potensial untuk kesenian Indonesia," ujar Ki Toro.

Karena itu, Ki Toro berharap misi budaya yang sudah dirintis Panji Kelana dan Kahanan bisa lebih dikembangkan oleh pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Jangan lupa, para Indo merupakan turis paling potensial untuk Republik ini. Apa pun kejadian di Indonesia, ikatan darah dan sejarah dengan Indonesia tak akan hilang.

No comments:

Post a Comment