16 November 2006

John Paul II Foundation dan Sahabatnya



Saya sedang wawancara dengan dua bos Yayasan Yohanes Paulus II di Surabaya. Pater Glinka (kanan) jadi penerjemah.

MGR STEFAN WYLEZEK dan MGR SZCZEPAN WESOLY, dua tokoh Yayasan Yohanes Paulus II (John Paul II Foundation), belum lama ini berkunjung ke Surabaya. Kedua uskup di Vatican City itu bercerita panjang lebar kepada saya tentang seluk beluk yayasan yang digagas almarhum Paus Yohanes Paulus II itu.

John Paul II Foundation (JP2F) berdiri segera setelah Kardinal KAROL WOJTYLA terpilih sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia pada 1978. Kardinal asal Polandia ini kemudian dikenal sebagai PAUS YOHANES PAULUS II, menggantikan PAUS YOHANES PAULUS I (Kardinal Albino Luciano) yang bertakhta kurang dari dua bulan.

Mgr Stefan Wylezek, Direktur JP2F, menjelaskan, Paus Yohanes Paulus II ingin agar ajarannya disebarluaskan ke seluruh dunia. Mula-mula JP2F diarahkan sebagai yayasan kebudayaan yang bertugas mengumpulkan dokumentasi kegiatan Sri Paus. Sampai sekarang, meski JP2F sudah sangat berkembang, misi awal tetap dipertahankan.

Setelah bertakhta di Vatikan, lanjut Mgr Stefan yang didampingi Mgr Szczepan Wesoly, situasi dunia mengalami perubahan drastis. Perang dingin berakhir, dan negara-negara Blok Timur ramai-ramai menjadi negara demokrasi. "Tapi itu dibarengi dengan kemiskinan yang parah," tutur Mgr Stefan.

Tak heran, pada tahap awal JP2F lebih banyak menggalang dana untuk beasiswa anak-anak muda di negara-negara eks Eropa Timur. Beasiswa itu berlangsung minimal selama lima tahun dan khusus untuk kaum awam.

"Jadi, tidak berlaku untuk pastor atau kaum biarawan dan biarawati. Juga tidak berlaku untuk negara Polandia," tegasnya dalam bahasa Polandia, yang diterjemahkan oleh PROF DR JOSEF GLINKA SVD, pastor Katolik yang juga guru besar antropologi Universitas Airlangga Surabaya.

Di luar perkiraan, yayasan yang memulai usaha dari 'nol' ini berkembang pesat. Dalam waktu singkat, JP2F berkembang ke 16 negara, termasuk Indonesia. Sedikitnya ada 38 organisasi yang ikut mendukung penyebaran visi dan misi Paus Yohanes Paulus II ke seluruh dunia.

"Di Indonesia perkembangannya cukup bagus," puji Mgr Stefan Wylesek.

Salah satu yang menonjol dari Paus Yohanes Paulus II, papar dua uskup yang sama-sama berasal dari Polandia, adalah ajaran tentang DIALOG ANTARUMAT BERAGAMA. Tak kenal lelah Sri Paus berusaha menjalin kerja sama dengan pemuka agama mana pun. Misalnya, pada 1988 lalu Paus Yohanes Paulus II mengundang semua pemuka agama untuk berdoa bersama di Asisi, Italia.

"Temanya tentang perdamaian dunia dan toleransi di antara umat beragama," kata Mgr Stefan. Nah, visi dialog lintas agama tersebut dinilai sangat cocok dengan situasi Indonesia yang majemuk.

Umat Katolik (Kristiani umumnya) di Indonesia, kata Mgr Stefan, adalah minoritas yang hidup di tengah mayoritas Muslim. Belum lagi komunitas agama lain seperti Hindu dan Budha. "Saya rasa, penekanan JP2F di Indonesia adalah dialog antarumat beragama," tegas Mgr Stefan, yang dibenarkan STANISLAUS PIKOR SVD, pastor senior asal Polandia yang bertugas di Surabaya.

Kedua pejabat penting dari Vatikan ini sempat pula mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh agama di Jakarta. Kiai Abdurrahman Wahid (Gus) ikut hadir. Mgr Stefan mengaku terkesan dengan kehidupan umat beragama di Indonesia. "Indonesia bisa menjadi teladan bagi negara-negara lain," katanya.

Yayasan Yohanes Paulus II (John Paul II Foundation, JP2F) berkembang di Indonesia sejak 1997. Mirip 'organisasi tanpa bentuk', pengurusnya pun tidak tahu berapa anggotanya saat ini.

Adalah JONGKY F JANUAR, pengusaha asal Jakarta, yang mula pertama menyebarkan JP2F di Indonesia. Semuanya, menurut Jongky, terjadi 'begitu saja' sehingga ia sulit menceritakan secara kronologis sejarah JP2F di Tanah Air.

"Saya seperti tidak percaya setelah diundang ke Vatikan tahun 1997," ujar Jongky F Januar, presiden Friends of JP2F Indonesia, ketika mendampingi Mgr Szczepan Wesoly, direktur JP2F, di Ballroom Imperial Family Club, Pakuwon Indah, Surabaya.

Usai bertemu Paus Yohanes Paulus II, 1997, Jongky yang waktu itu lumpuh, pakai kursi roda, beroleh mukjizat. Ia sembuh. "Saya tidak percaya dengan kenyataan yang saya alami. Pengalaman yang sangat indah dan membuat saya sangat bersyukur kepada Tuhan," ujarnya.

Nah, sejak itulah Jongky F Januar getol mengembangkan sahabat yayasan itu. "Kurang pas kalau disebut organisasi. Anggotanya saja nggak jelas berapa orang. Saya menjabat 'presiden', tapi kekuasaan saya pun nggak jelas juga," kata Jongky lalu tertawa kecil.

Langkah awal yang dilakukan Jongky F Januar adalah menggalang dana untuk membantu biaya pendidikan anak-anak muda di Eropa Timur yang eks komunis itu. Tak dinyana, respons orang Indonesia cukup bagus. Indonesia akhirnya masuk dalam jaringan Sahabat JP2F, FRIENDS OF JOHN PAUL II. Yayasan ini pun banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, pendidikan, dan kerohanian di Indonesia.

Bagaimana dengan dialog antariman, yang digagas Mgr Wesoly dan Mgr Stefan Wylezek? Bidang ini, kata Jongky, sangat penting, namun belum disentuh JP2F Indonesia. Kenapa?

"Kardinal (Julius Darmaatmadja SJ, ketua Konferensi Waligereja Indonesia dan Uskup Agung Jakarta) sudah sangat intesif dalam bidang ini. Kita bagi-bagi tugaslah. Yang penting, yayasan ini terbuka bagi siapa saja, apa pun agamanya," katanya.

Banyak nama beken yang aktif di JP2F Indonesia. Di antaranya, DENNY KAILIMANG, pengacara terkemuka di Jakarta. Seperti Jongky, sang presiden, Denny mengaku tidak ingat lagi bagaimana proses ia masuk ke yayasan. "Tahu-tahu saja saya sudah di sini. Sepertinya sudah ada yang ngatur," kata Denny Kailimang kepada saya.

Ungkapan senada disampaikan NANY WIJAYA, direktur Grup Jawa Pos, serta pasangan suami-istri ALEX TEDJA dan MELINDA TEDJA, bos Pakuwon Group Surabaya. "Waduh, saya nggak tahu (ceritanya). Jangan tanya soal itulah. Semua ini karena berkat Tuhan," kata Melinda Tedja.

Yang pasti, kekaguman dan kecintaan pada Paus Yohanes Paulus II (meninggal 3 April 2005) itulah yang mengikat mereka. Paus yang tak henti-hentinya bicara tentang perdamaian, toleransi, keadilan, hak asasi manusia, cinta kasih. Yohanes Paulus II, mengutip khotbah Mgr Wesoly, uskup agung yang bekerja di kantor Kepausan, Vatikan, MAMPU MENGUBAH HUJAN LEBAT MENJADI TERANG-BENDERANG MENJELANG SEBUAH ACARA ANAK MUDA DI TORONTO.

1 comment:

  1. "KEBANGKITAN ISA AL-MASIH", saya sebagai seorang Muslim percaya "prophetic" ini, maka saya kaji dengan serius, karena pesan-pesannya jelas dalam Al Qur'an. Yang saya tanggapi adalah pesan simboliknya, yang analog dengan "Kebangkitan Spiritualisme" pondasi "Peradaban Milenium".
    Di antara mukjizat Nabi Isa a.s. adalah "hidangan makanan", maka saya melihat kebangkitan itu sedang bersemi di Bumi Pertiwi, negeri agraris.
    Saya berharap ini menjadi kajian serius bagi kalangan agamawan pada umumnya, terutama dari kalangan Katholik. Dan ini cocok dengan latar studi Anda dalam bidang pertanian.

    Salam hormat,
    The Sunset Generation.

    ReplyDelete