24 November 2006

Hindu di Sidoarjo



Pada 1980 umat Hindu asli Sidoarjo, yang tinggal di kawasan Krembung, Prambon, Tulangan, dan sekitarnya, memiliki tempat ibadah. Namanya Pura Jagat Natha Marga Wening di Desa Balonggarut, Kecamatan Krembung.

Sikap low profile, nrimo, tak banyak menuntut, khas Jawa, memang sangat melekat di hati umat Hindu asli Sidoarjo. Karena itu, sejak dulu kala mereka ‘enjoy aja’ meskipun tidak punya tempat ibadah yang layak.

Bagi mereka, kalau bisa beribadah sendiri di rumah sendiri, buat apa capek-capek mengurus pembangunan pura. Toh, ratusan tahun mereka bisa bersembahyang, bersekutu dengan sesama umat Hindu, di mana saja dan kapan saja. Tapi, lama-kelamaan jumlah umat Hindu kian banyak, dan semangat untuk menggelar ritual bersama pun kian tinggi.

Sejak itulah Karyo, pemangku alias pendeta asli Krembung, dan umat lain mulai memikirkan secara serius sebuah tempat ibadah yang layak.

Akhirnya, rumah seorang umat di kawasan Balonggarut, Kecamatan Krembung--yang sebelumnya sudah jadi pura keluarga--dijadikan cikal bakal pura bersama.

Lokasinya strategis, dekat perkebunan tebu, agak jauh dari perkampungan warga. Ini penting dalam proses pengurusan IMB kelak. Sebab, dengan begitu, diharapkan tak ada penolakan atau resistensi dari warga sekitar seperti yang kerap terjadi dalam proses pendirian rumah ibadah.

Berkat doa-doa dan ketekunan umat setempat, perluasan pura pribadi sebagai pura bersama pun berlangsung mulus. Dan, pada 1980 Bupati Sidoarjo datang ke sana untuk meresmikan Pura Jagat Natha Marga Wening, yang luasnya hanya 480 meter persegi. Sangat bersejarah karena baru sejak itulah di Kabupaten Sidoarjo berdiri tempat ibadah umat Hindu (pura).

Di pihak lain, sejak 1980-an itu Kabupaten Sidoarjo semakin berkembang, menjadi buffer zone atau kawasan penyangga Kota Surabaya. Berbagai perumahan baru didirikan di Sidoarjo, sehingga datang puluhan ribu orang baru yang berdomisili di 18 kecamatan Sidoarjo.

Perubahan demografi Sidoarjo ini sedikit banyak punya implikasi terhadap komposisi umat Hindu. Sebab, warga keturunan Bali pun tidak sedikit yang membeli rumah, kontrak rumah, alias menjadi warga Kabupaten Sidoarjo.

Dari sinilah orang-orang Bali itu kemudian tahu bahwa di kawasan Krembung, Prambon, dan sekitarnya ternyata ada umat Hindu asli Jawa yang sudah menganut agama itu sejak ratusan tahun lalu. Mirip umat Hindu di kawasan Tengger, Probolinggo. Maka, tau solidaritas sesama umat Hindu pun muncul. Orang Bali yang semula mengikuti acara-acara ritual di Surabaya akhirnya berpaling ke Pura Jagat Natha, Krembung.

“Sejak 1987 terjadi pembauran antara umat Hindu dari suku Jawa dan Bali serta pendatang,” jelas I Nyoman Simpen, salah satu tokoh Hindu di Sidoarjo.

Menurut dia, umat Hindu di 18 kecamatan Sidoarjo sepakat untuk bergabung dengan saudara-saudaranya Hindu asli Jawa di Krembung dan sekitarnya. Pembauran ini membuat pura lama yang sempit itu (480 meter persegi) terasa sangat kecil, apalagi kalau ada even-event besar semacam arak-arakan ogoh-ogoh atau tawur kesanga (menjelang hari Nyepi).

Setelah pembauran Jawa-Bali ini, terbentuk pula Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sidoarjo dipimpin Ngakan Putu Tagel, almarhum. Ngakan tinggal di kawasan Waru ini berhasil menghidupkan kegiatan-kegiatan agama Hindu di Sidoarjo, sekaligus aktif berdialog dengan pemuka agama lain dan Pemkab Sidoarjo.

Hasilnya, pemerintah merestui renovasi sekaligus perluasan Pura Jagat Natha di dekat kompleks pura yang lama.

Usai menghadiri pelantikan 44 anggota DPRD Sidoarjo, 21 Agustus 2004, Bupati Win Hendrarso datang ke Krembung untuk meresmikan Pura Jagat Natha Marga Wening. Dibangun dengan dana sekitar Rp 2,1 miliar, pura ini sangat artistik sehingga pantas menjadi salah satu ikon budaya di Kabupaten Sidoarjo.

Sementara itu, proses pembauran antara Hindu asli Sidoarjo dan para pendatang semakin mendekati sempurna.

No comments:

Post a Comment